Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:269
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Baju Ganti untuk Nadia

Hari ketiga di rumah sakit, Nadia merobek daster yang dipakainya sendiri.

Rencana pindah ke Surabaya ditunda karena demamnya sempat naik lagi malam sebelumnya. Dokter ingin menunggu sampai kondisinya benar-benar aman untuk perjalanan.

Bukan pakaian dari malam kejadian. Semua barang itu masih tersimpan dalam kantong tertutup milik rumah sakit. Yang ia sobek adalah daster pinjaman yang diberikan setelah mandi pagi.

Perawat menemukannya duduk di lantai kamar mandi, mencengkeram kain yang terbelah sambil menangis tanpa suara.

Ketika Laras datang siang itu, ia membawa satu kantong besar yang dikirim Rayhan lewat ojol malam sebelumnya. Isinya daster baru berwarna polos, pakaian dalam, pembalut, sabun tanpa pewangi, dan sandal kamar.

Tidak ada warna mencolok. Tidak ada model yang memancing komentar.

"Rayhan yang pilih?" tanya Laras saat membuka kantong.

Nadia berbaring membelakangi jendela. Matanya tertutup, tetapi Laras tahu ia tidak tidur.

"Anak itu bahkan nanya ke apotek sabun mana yang baunya paling sedikit," lanjut Laras. "Kasirnya mungkin mengira dia baru punya bayi."

Tidak ada jawaban.

Laras menaruh semua barang di lemari kecil tanpa mendekat ke ranjang. Ia menahan amarah yang terus mencari sasaran. Setiap kali melihat Nadia diam, ia ingin keluar, menemukan orang yang melakukan ini, lalu menghancurkan sesuatu.

Namun Nadia tidak membutuhkan kemarahan Laras memenuhi kamar.

"Kalau lo mau cerita, gue dengar," katanya. "Kalau nggak mau, gue juga nggak tanya."

Kelopak mata Nadia bergerak.

"Mau gue keluar?"

Nadia menggeleng kecil.

Laras duduk di kursi, cukup jauh agar tidak terasa mengurung. Selama hampir setengah jam, suara mereka hanya berasal dari pendingin ruangan dan roda troli di lorong.

"Jangan bilang siapa-siapa," bisik Nadia akhirnya.

"Gue nggak bilang."

"Kalau orang tahu, nanti semua tanya gue pakai baju apa, kenapa minum, kenapa jalan sendiri. Mereka bikin video, masuk grup, jadi bahan omongan."

Napasnya terputus. "Gue takut, Ras."

Laras menggigit bagian dalam pipi. Ia sudah melihat Gang Mawar mengubah perkara tali jemuran menjadi perang keluarga. Ia bisa membayangkan betapa kejam cerita tentang Nadia akan berubah dari satu mulut ke mulut lain.

"Takut itu bukan berarti lo salah," katanya. "Dan lo nggak harus putuskan semuanya hari ini."

Nadia menatap langit-langit. "Waktu sekolah dulu, ada anak yang fotonya disebar. Semua orang pura-pura kasihan, tapi tetap buka fotonya. Mereka bilang kasihan sambil kirim ke grup lain."

"Gue ingat."

"Gue nggak mau jadi begitu."

"Lo bukan cerita buat orang-orang."

"Tapi mereka nggak akan lihat bedanya."

Laras tidak menawarkan janji kosong bahwa semua orang akan baik. Ia tahu ketakutan Nadia punya dasar. Yang bisa ia lakukan hanya menjaga agar pilihan berikutnya tetap berada di tangan Nadia, bukan tetangga, bukan Bima, dan bukan kemarahan Laras sendiri.

"Kalau suatu hari lo mau bicara ke pendamping atau dokter, gue ikut," katanya. "Kalau hari ini lo cuma mau pakai daster baru dan tidur, kita lakukan itu."

Nadia mengangguk ke arah kantong. "Yang warna abu-abu."

Laras mengambil daster itu dan menyerahkannya kepada perawat, lalu keluar selama Nadia berganti. Permintaan sederhana tentang warna pakaian terasa seperti kemenangan kecil pertama setelah tiga hari.

"Jangan sebut polisi."

"Oke."

"Jangan paksa gue ingat."

"Gue nggak paksa."

Untuk pertama kalinya sejak ditemukan, Nadia membuka mata dan menatap Laras. "Lo bakal benci gue kalau gue diam?"

"Nggak. Gue benci orang yang bikin lo takut. Bukan lo."

Nadia menutup wajah dengan tangan. Tangisnya pelan, tetapi kali ini ia membiarkan Laras duduk di dekat ranjang, meski belum mengizinkan tangannya disentuh.

Menjelang sore, Rayhan tiba setelah mendapat izin setengah hari dari sekolah. Ia tidak masuk kamar. Dari ambang pintu, ia melihat Nadia sedang berbaring dan langsung mundur ke lorong.

"Ini buat biaya," katanya sambil menyerahkan amplop kepada Laras.

Di dalamnya ada uang tunai yang cukup tebal.

"Dari mana?"

"Tabunganku."

"Tabungan yang mana?"

"Hadiah lomba sudah cair. Ada sebagian uang lain juga."

"Saham?"

Rayhan menatap pintu kamar. "Nanti aku jelasin. Bayar dulu yang perlu dibayar. Jangan bilang Bima uangnya dari aku, nanti dia makin curiga."

"Berapa dari hadiah lomba?"

Rayhan menyebut jumlahnya. Sisanya berasal dari tabungan biasa dan keuntungan kecil pertama yang belum ia tarik seluruhnya dari rekening Kelvin.

"Gue bilang jangan pertaruhkan uang penting," kata Laras.

"Yang masuk investasi bukan uang obat atau sekolah. Om Hendra awasi."

"Tetap saja lo pakai uang lo buat masalah orang dewasa."

"Masalah ini sudah menyentuh rumah kita."

Laras tidak suka kata kita membuat penolakannya terdengar seperti meninggalkan Rayhan di luar pagar. Namun menerima uang anak sekolah juga membuatnya merasa gagal sebagai orang yang lebih tua.

"Ini utang resmi," putusnya. "Ada kuitansi, ada tanggal."

"Boleh. Yang penting Nadia nggak ditahan rumah sakit karena tagihan."

Laras mendorong amplop itu kembali. "Gue bisa urus."

"Kamu sudah keluar uang buat obat Mbah. Bengkel juga sepi karena Pak Darto bolak-balik. Pakai dulu. Catat kalau mau dianggap utang."

"Lo anak sekolah."

"Uangnya tetap uang."

Laras akhirnya menerima amplop, tetapi menulis jumlahnya pada bagian belakang kuitansi. "Satu rupiah pun gue catat."

"Terserah."

Rayhan duduk di bangku lorong, lalu berkata seolah baru teringat, "Nilai ujian terpadu keluar. Kata sekolah, jalur prestasiku ke ITB hampir pasti."

"Oh. Bagus."

Laras masih menghitung uang dan daftar tagihan. Ketika mengangkat kepala, ia melihat wajah Rayhan sudah kembali datar.

"Gue serius. Bagus banget. Selamat."

"Iya."

"Kok malah bete?"

"Nggak."

Ia jelas kecewa. Di tengah semua kekacauan, Rayhan masih berharap Laras melihat pencapaiannya sebagai sesuatu yang besar. Laras ingin menghibur, tetapi pintu kamar terbuka dan perawat memanggilnya untuk membantu Nadia berganti pakaian.

Rayhan tetap di luar.

Menjelang petang, Bima kembali dari kontrakan membawa bubur dan termos air hangat. Ia tidak bertanya kenapa Rayhan ada di sana. Rayhan juga tidak menjelaskan.

Mereka bertiga duduk di bangku ujung lorong, membagi bubur dari wadah yang sama karena tak seorang pun benar-benar lapar. Bima mengambil satu suap, lalu meletakkan sendok.

Rayhan menyobek tiga sachet kecap dan membaginya tanpa bertanya. Bima memperhatikan kebiasaan kecil itu, lalu berkata, "Lo bolos sekolah lagi?"

"Izin setengah hari. Ada suratnya."

"Bagus. Jangan semua orang ikut hancur gara-gara satu malam."

Rayhan menatapnya, memahami ada teguran dan rasa bersalah sekaligus. "Aku nggak akan hancur."

"Semua orang bilang begitu sebelum kejadian."

Laras memotong percakapan dengan membagikan sendok baru. Ketiganya kembali diam, masing-masing menjaga sesuatu yang tidak bisa mereka ucapkan.

"Nadia masih nggak mau ketemu gue?"

"Masih," jawab Laras.

"Bajunya sudah dikasih?"

"Sudah."

Bima mengangguk. Tidak ada yang menyebut tamparan, kebohongan, atau pertanyaan yang menggantung sejak kemarin.

Ponsel Nadia yang dititipkan kepada Bima bergetar di saku jaketnya.

Nomor tanpa nama muncul di layar.

Bima menolak panggilan. Beberapa detik kemudian, nomor yang sama menelepon lagi.

Ia memperlihatkan layar kepada Laras.

"Ras," katanya pelan, "kenapa ada nomor asing yang dari tadi nelepon HP Nadia?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!