Indonesia
NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:67.1k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Mobil SUV hitam milik Gema membelah kepadatan lalu lintas sore Jakarta yang merayap pelan. Di jok samping, Tania tak berhenti mengusap kaca jendela, mengamati deretan bangunan dengan binar mata yang dipenuhi antisipasi. Bagi anak berusia enam tahun yang sebentar lagi menginjak tujuh tahun itu, perjalanan menuju Lumiere Bakehouse selalu berarti satu hal aroma harum mentega yang manis, pelukan hangat, dan kue bolu kesukaannya yang baru matang.

​Namun bagi Gema, setiap meter jalan raya yang dilalui terasa seperti lintasan waktu yang menentukan nasib rumah tangganya. Tangannya mencengkeram lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Harapan yang membumbung tinggi sejak Tania melontarkan ide tadi menjadi satu-satunya pegangan yang tersisa setelah badai keputusasaan menghantamnya di rumah utama sore tadi.

​"Ayah, masih jauh ya?" tanya Tania mendongak, jemari mungilnya memoles paha kemeja Gema.

​"Bentar lagi sampai, Sayang. Itu di depan sudah kelihatan plang tokonya," sahut Gema dengan suara yang dipaksakan selantang mungkin, mencoba menyembunyikan getaran kecemasan yang makin menjadi-jadi.

​Mobil meliuk memasuki pelataran parkir Lumiere Bakehouse. Toko kue berkonsep hangat dengan cat pastel itu tampak ramai oleh pengunjung sore.

Lampu-lampu kuning hangat di dalam toko sudah menyala, memancarkan suasana nyaman yang biasanya selalu dihadirkan oleh keberadaan Alana.

​Gema mematikan mesin mobil, lalu bergegas memutari kap untuk membukakan pintu bagi Tania. Begitu kakinya menapak di lantai pelataran, Tania langsung melompat kecil penuh kegembiraan.

​"Bunda! Tania datang!" cicit Tania riang, berjalan mendahului ayahnya menuju pintu kaca toko.

​Kring!

​Bunyi lonceng pintu berdenting menyambut kedatangan mereka. Aroma gurih roti panggang dan vanila langsung menyergap indra penciuman. Beberapa staf kasir yang mengenakan apron cokelat tersenyum menyapa, namun senyum itu mendadak agak kaku saat melihat sosok Gema yang berjalan tepat di belakang Tania dengan wajah tegang.

​Langkah kaki Maya Kepala Koki Lumiere Bakehouse yang sedang membawa nampan berisi wadah bahan baku terhenti di ambang pintu Dapur Utama. Mata Maya menyempit tatkala menangkap sosok Gema. Wanita itu merapikan apronnya, menyerahkan nampan pada staf lain, lalu melangkah maju menghampiri mereka dengan ketenangan yang tertata rapi.

​"Halo, Tania Cantik! Kok sore-sore ke toko sama Ayah?" sapa Maya ramah, berlutut menyamakan tingginya dengan Tania. Tangannya mengusap lembut kuncir rambut Tania.

​"Tante Maya! Bunda mana? Tania mau ketemu Bunda!" seru Tania antusias, matanya mengedar ke sekeliling ruangan toko yang ramai.

​Gema melangkah maju satu pukulan, berdiri menjulang di belakang putri kecilnya. Tatapan matanya yang tajam menatap Maya penuh tekanan, seolah menuntut kepastian yang amat sangat.

​"Maya... Alana ada di lantai atas atau di dapur belakang?" tanya Gema langsung tanpa basa-basi, suaranya dalam dan tergesa-gesa.

​Maya bangkit berdiri tegak. Ekspresi wajahnya berubah sangat formal, dingin, namun penuh ketegasan yang tak tergoyahkan. Tidak ada sedikit pun raut panik, keraguan, atau indikasi berbohong yang bisa dibaca dari gestur tubuhnya.

Sebagai orang yang baru saja membantu Alana mengamankan diri di kosan sederhana sejam yang lalu, Maya sudah menyiapkan mental sepenuhnya untuk menghadapi konfrontasi dari suami sahabatnya ini.

​"Maaf, Pak Gema," jawab Maya tenang, matanya menatap lurus tepat ke manik mata Gema. "Mbak Alana tidak ada di toko sore ini."

​Jantung Gema serasa berhenti berdetak sesaat. "Tidak ada? Maksud kamu dia belum datang dari rumah, atau lagi keluar sebentar?"

​"Mbak Alana sama sekali tidak ke Lumiere Bakehouse hari ini, Pak," sahut Maya tegas, suaranya datar tanpa cela. "Sejak pagi operasional toko berjalan di bawah kendali saya dan Mas Budi. Mbak Alana juga tidak memberi kabar akan datang ke toko sore ini."

​"Gak mungkin, Maya!" sela Gema, kepanikannya mulai menyembur keluar, membuat beberapa pelanggan di dekat kasir menoleh heran. Gema menurunkan volume suaranya, memajukan tubuhnya sedikit. "Alana pergi dari rumah membawa koper jam tiga sore tadi. Ponselnya mati total. Kamu pasti tahu dia ke mana, atau minimal dia menitipkan pesan ke kamu, kan?!"

​Maya menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mempertahankan jarak profesional yang dingin.

​"Pak Gema, jika Mbak Alana mematikan ponselnya dan memilih tidak datang ke toko, itu artinya Mbak Alana memang sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun," balas Maya lugas, kata-katanya menghantam ulu hati Gema tanpa ampun.

"Toko ini adalah tempat kerja, Pak. Kalau Mbak Alana tidak ada di sini, saya sebagai Kepala Koki memang betul-betul tidak tahu Mbak Alana ada di mana. Saya fokus pada pesanan dapur, bukan mengawasi keberadaan pemilik toko."

​Ketegasan Maya yang begitu natural dan berjarak membuat Gema tertegun. Tidak ada celah kecurigaan bahwa Maya sedang menyembunyikan sesuatu. Di mata Gema, Maya tampak betul-betul jujur dan hanya menjalankan tugas profesionalnya.

​Tali harapan terakhir yang dipegang Gema sejak dari sekolah Tania mendadak putus total. Harapan bahwa Alana melarikan diri ke toko kuenya sendiri sirna sudah. Alana benar-benar telah menghilang ke suatu tempat yang tak terjangkau olehnya.

​Gema terpaku, wajahnya kian pucat dan tatapannya meredup dipenuhi kehampaan yang mencekik.

​Di bawah sana, Tania yang sudah makin dewasa dan peka terhadap situasi sekitar mulai merasakan perubahan atmosfer yang tidak nyaman. Binar gembira di mata bulat anak itu perlahan meredup. Ia menatap Maya, lalu beralih menatap wajah ayahnya yang tampak hancur dan kalut.

​"Tante Maya... Bunda beneran enggak ada?" cicit Tania dengan suara yang mulai bergetar.

​Maya kembali berlutut, meraih kedua tangan kecil Tania dengan lembut. Wajah Maya yang tadi dingin kepada Gema seketika melunak penuh kasih sayang saat menatap putri kecil Alana.

​"Bunda lagi ada urusan penting di luar, Tania Sayang," bujug Maya halus. "Bunda butuh waktu buat istirahat dulu."

​Tania mendongak menatap Gema. Pengamatan Tania yang kian kritis menangkap ekspresi panik dan bersalah di raut wajah ayahnya. Ketakutan yang selama ini tak pernah ia bayangkan mendadak menyeruak di dalam benak polosnya.

​"Ayah..." panggil Tania, suaranya mencicit lirih, namun sanggup memecah keheningan yang kaku di antara mereka.

​"Iya, Sayang?" sahut Gema berlutut dengan lemas di samping Tania.

​Air mata mendadak menggenang di pelupuk mata jernih Tania. Bibir mungilnya gemetar menahan tangis yang hendak pecah.

​"Ayah... Ayah sama Bunda lagi berantem, ya?" tanya Tania dengan kepolosan yang menohok lurus ke ulu hati Gema. "Bunda pergi karena Ayah jahat sama Bunda? Bunda enggak mau pulang lagi ya, Yah?"

​Deg!

​Pertanyaan itu meluncur tanpa filter, bagaikan belati tajam yang menghujam jantung Gema hingga tak tersisa. Kata 'jahat' yang keluar dari bibir putrinya sendiri menjadi cermin paling mengerikan atas seluruh keabaian dan dinginnya sikap yang ia tunjukkan pada Alana selama enam tahun terakhir.

​Gema membisu. Lidahnya terasa kelu, tak sanggup menyusun kebohongan baru di hadapan kesedihan putrinya yang jujur.

​"Tania... enggak, Sayang... Ayah..." Gema tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Suaranya pecah di tenggorokan. Air mata yang sejak tadi ditahannya hampir meluncur bebas di hadapan staf toko dan Maya.

​Tania mulai menangis sesenggukan. Bahunya yang mungil berguncang. "Tania mau Bunda... Tania mau pulang sama Bunda..."

​Maya mengelus punggung Tania penuh simpati, namun ia tahu ia harus menjaga batas agar rencana pelarian Alana untuk memulihkan jiwa tetap terlindungi dari manipulasi emosional keluarga ini.

​Gema merengkuh tubuh mungil Tania ke dalam pelukannya. Rasa bersalah yang teramat sangat membakar seluruh nadinya. Ia sadar, memaksa bertahan di toko ini hanya akan mempermalukan dirinya sendiri dan melukai emosi Tania lebih dalam di depan umum. Tempat ini bukan lagi tempat Alana berada.

​Gema menyapu sisa air mata di pipinya, lalu berdiri seraya menggendong Tania ke dalam pelukannya. Tania menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata di bahu kemeja Gema, menangis terisak-isak pelan.

​"Maya... terima kasih," ucap Gema lirih dengan nada suara yang benar-benar telah patah.

​Maya hanya mengangguk singkat tanpa banyak kata. "Sama-sama, Pak. Hati-hati di jalan."

​Gema memutar badannya, menuntun langkah kakinya yang terasa seberat timah keluar dari Lumiere Bakehouse. Denting lonceng pintu yang berbunyi saat ia melangkah keluar terasa seperti salam perpisahan yang dingin dari dunia Alana.

​Sore yang kian temaram menyambut mereka di luar. Angin dingin berembus perlahan membelai wajah Gema saat ia mendudukkan Tania kembali ke dalam jok mobil. Tangisan Tania telah berubah menjadi isakan-isakan kecil yang pasrah dan letih.

​Gema memasangkan sabuk pengaman Tania, lalu mengusap lembut pipi putrinya yang basah.

​"Kita pulang ya, Tania?" bisik Gema dengan suara parau penuh duka. "Kita pulang ke rumah dulu... Ayah janji, Ayah bakal cari cara buat bawa Bunda pulang ke rumah kita lagi."

​Tania hanya mengangguk pelan dalam kepasrahannya, menatap kosong ke arah luar jendela.

​Gema menutup pintu mobil, melangkah ke kursi pengemudi, dan menyalakan mesin SUV hitamnya. Saat mobil melaju meninggalkan pelataran toko kue menuju jalan raya yang kian gelap, Gema menatap bayangan toko roti di spion tengah yang makin lama makin menghilang. Di dalam hatinya yang hancur berkeping-keping, Gema akhirnya menyadari satu hal: rumah mewahnya kini benar-benar telah kehilangan cahayanya, dan perjalanan untuk mendapatkan Alana kembali akan menjadi jalan paling terjal yang harus ia tempuh sendirian.

1
stela aza
kenapa keluarga alanan g di bikin jatuh miskin kalau perlu di hilangkan dari muka bumi ini dua duanya 🤭
stela aza
s gama sakit jiwa
Tini Uje
ya allah tega bgtt kluarga dajjal sama anak sendiri..masukin tuh sianjing gema pnjaraa thorr 😡esmosiii aku pagi2 nih
Sri Widiyarti
pengen getok kepala si Risa biar sadar....
Brown choco
Kalo mau cerita si risa, bikin judul baru aja jangan buat tokoh pendukung jadi pusat cerita
Tini Uje
koq tau sih thor gemanjing itu alana ada disurbay..sapa yg bocorin yah 😏mudahan kecelakaan tuh sigema2 biar langsung mampus
Elina thea
itu anak udah gak ada ibunya~~~katanya bapaknya cinta mati sama istrinya,pas istri dah gak ada malah di lampiaskan ke anak, bukannya kebalik yah... seharusnya saat istri/ibunya dah gak ada anak itu harus di sayang dan jaga baik2,dah stres si gema ini kayaknya...
sutiasih kasih
otak gema nyangkut di mana gitu🤔🤔🤔....
kejam bgt sm ank sndiri....
nnti klo tania smpe kmbali ke alam baka... bru nyesel km....
Mundri Astuti
ealah ternyata 11 12 ma adiknya yak si gema ...
susi ana
nambah jadi 5 bab sehari Thor 💪😂😂😂
falea sezi
biar mati di jalan anak nya 🤣 ttep aja egois ini bangsatt
Sri Widiyarti
lanjut kak ..
falea sezi
🤣🤣🤣 tunggu karma mu risa👍
skyvanita iriani
lho ko bryan kok balik ke jkt bkn nya tinggal di sby..
Eneng Yuliani
Lawan terus Risa,aku suka gayamu
Mundri Astuti
toyor aja bim...toyor 😂😂kelakuan bujang lapuk
susi ana
wah, apa Gema mengejar Alana sampai Surabaya?
adiknya Gema tyt sdh putus urat malunya...
lanjuutttttt
Elina thea
wow...hebat sekali bima sampai bisa sat set nyari latarbelakang Alana,sampai bisa tau juga kalo yg kirim bunga itu dr Maya sahabat alana👍,bima ajarin tuh koh Bryan biar bisa sat set dan gak gengsian buat deketin Alana🤣
Humay Uum
mending sapirin ko takuty Alana dganggu lagi,datang sebagai calon suaminya kereen 🤭💪💪 semngat ko
Lia Anwar
tinggalin ana meninggalkan jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!