Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuatnya Menangis
BAB 23 - ISTRI POLOS TUAN GARRA
"GUK!! GUK!!!"
Elisa panik, di belakang ada an jing besar mengejar. Napasnya tersengal. Perutnya yang masih hamil muda terasa nyeri karena terlalu kencang berlari.
"Nona Elisa! Berhenti!!! Jangan lari!"
Suara penjaga yang memandikan anjay itu ikut panik. Dia berusaha menarik rantai an jing nya, tapi anjay jenis Doberman itu tenaganya terlalu kuat.
Elisa yang panik, kakinya akhirnya terpeleset di tepi kolam dengan patung besar di tengah-tengahnya.
BRUK!
Ia jatuh terduduk. Tidak ada darah, tapi telapak tangannya lecet karena lantai kasar. Tangannya tadi sempat menumpu badannya ketika jatuh.
An jing itu sudah tepat di depannya, hanya berjarak satu meter. Menggonggong keras, menunjukkan taringnya. Air liurnya pun menetes dan Elisa masih panik dan ketakutan.
Elisa memejamkan mata, tidak berani melihat. Mungkin sebentar lagi tubuhnya akan digigit monster bergigi tajam itu.
DOR!!!!
Detik itu juga... binatang itu langsung diam. Pawang atau penjaga si Doberman memasukkan lagi pis tol belakang bajunya.
Tembakan tepat di samping Doberman, membuat guk-guk itu tak menggonggong lagi. Ia kembali tenang, patuh dan melet-melet.
"Kenapa bisa lepas!!!! Tuan Garra pasti akan marah!"
Satu suara berat dan dingin membentak dari arah belakang. Kepala keamanan langsung datang dan menolong Elisa yang masih shock.
Sementara itu, si anjay Doberman itu langsung tunduk, ekornya turun, lalu mundur pelan-pelan dan duduk. Penurut. Padahal tadi, galaknya bukan main. Mengejar Elisa seperti mengejar tulang yang mau digigitnya.
"Kurung dia, rantai di kandang!" titah kepala keamanan. Dia yang bertanggung jawab atas keamanan di sana. Sampai terjadi sesuatu pada Elisa, dia tahu akibatkan apa. Kehilangan pekerjaan dan juga karirnya.
Di sisi lain, Elisa membuka mata dengan air mata masih mengalir.
"Nona Elisa, anda baik-baik saja?" tanya pria itu.
Elisa tak menjawab, tangisnya pecah. Dia menangis sampai sesenggukan. Benar-benar trauma. Bukan karena sakit jatuh, tapi ketakutan setengah mati dikejar Doberman itu.
"Mari, saya bantu masuk ke dalam!"
Elisa cuma menangis, mau berdiri saja kakinya masih gemetaran.
"Nona Elisa ... Maaf, ijinkan saya membawa anda masuk ke dalam," ucap pria berbadan tegap tersebut.
"Saya mau pulang ... tolong ... tolong biarkan saya lewat," suara Elisa bergetar. Memohon dalam tangisnya.
"Maaf, Nona ... itu bukan kuasa saya."
Di luar gerbang, teriakan Susan masih terdengar.
"ELISA! KAMI DI SINI! ELISA! KELUARLAH!!!!"
Kepala keamanan langsung melirik penjaga lain, dengan satu kali tatapan dan anggukan, penjaga rumah langsung membawa tiga Doberman keluar menuju gerbang.
Elisa panik, dia takut Susan dan Mas Dimas celaka. Ia pun langsung menarik lengan kepala keamanan.
"Tolong jangan lakukan!!! Tolong!!! Biarkan mereka pergi, jangan lepaskan an jing-anjing itu!!!"
Hening sesaat.
"Kalau begitu, mari masuk lagi ke dalam," kata kepala keamanan.
Elisa kalah, ia nyerah. Tidak jadi kabur untuk saat ini. Daripada Doberman mengigit sahabat baiknya dan mas Dimas. Ia akhirnya pasrah.
Dengan dipapah oleh pria itu, Elisa pun masuk ke dalam. Sementara security langsung diperintah untuk mengusir tamu-tamu tak diundang tersebut. Ancaman Doberman berhasil.
Susan dan dua orang lainnya juga tak mau ambil resiko. Mungkin sebaiknya mereka langsung saja lapor polisi. Susan cs pergi dengan tangan kosong.
---
Satu jam kemudian. Mobil sport berhenti tepat di halaman yang luas. Penumpangnya bergegas turun dan langsung naik ke lantai atas.
Di dalam kamar.
Elisa masih sesenggukan sambil memeluk lututnya di atas ranjang yang empuk.
Brakkk!
Pintu dibuka kasar, Anggara jalan cepat menuju ranjang. Ia langsung menarik paksa kaki Elisa yang berdarah, tapi sudah diperban.
"Apa yang kau lakukan? Berani sekali kau membahayakan nyawa anakku!!! sentak Anggara kasar. Dia marah, dia juga panik. Setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya, dia langsung menghentikan meeting penting.
Pulang ke rumah langsung memastikan kondisi Elisa yang katanya sempat jatuh. Bukannya bertanya lembut penuh rasa khawatir, Anggara justru membentak dengan suara keras dan kasar.
Alhasil, Elisa yang belum sepenuhnya tenang, kembali emosinya terguncang. Barangkali karena hormon kehamilan juga. Jadi sangat sensitif sekali saat itu.
Mendengar bentakan Anggara saja, tangisnya kembali pecah. Elisa menangis di depan Anggara tanpa peduli malu ataupun apa itu. Ia hanya ingin melupakan emosi saja.
Anggara langsung terdiam, mendadak jadi bodoh. Tidak tahu harus berbuat apa.
'Sialll!'
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,