H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Pagi hari suasana restoran bernuansa fine dining di kawasan Jakarta Selatan itu terasa begitu tenang dan privat. Alunan musik instrumental mengalir lembut di antara pilar-pilar kayu mahoni dan pencahayaan hangat dari lampu gantung kristal. Di sebuah sudut meja yang terlindung oleh tirai tipis, Kalea Mahika duduk berhadapan dengan wanita paruh baya berpenampilan amat anggun Ibu Aura.
Ibu Aura, CEO Aura Fashion, mengenakan blazer sutra berwarna abu-abu gelap dengan tatanan rambut yang disanggul rapi. Di usia lima puluh tahun, karisma dan ketegasan wanita itu tetap terpancar kuat. Namun siang ini, saat menatap Mahika yang duduk di depannya, binar matanya dipenuhi kehangatan seorang ibu dan mentor.
"Ibu sengaja pilih tempat ini, Mahika," ucap Bu Aura lembut seraya menyesap teh chamomile-nya. "Kalau kita bicara di kantor, pasti banyak staf yang bolak-balik minta tanda tangan. Apalagi kamu sebentar lagi mau menikah, Ibu mau kita bincang-bincang santai tanpa gangguan pekerjaan."
Mahika menyunggingkan senyum tipis senyuman tenang yang menyimpan kelelahan emosional di baliknya. "Terima kasih banyak ya, Bu Aura, sudah meluangkan waktu di tengah kesibukan Ibu."
Ibu Aura meletakkan cangkir porselennya, lalu menatap Mahika lurus-lurus. "Jadi... ada hal penting apa yang mau kamu sampaikan? Di telepon semalam suara kamu terdengar sangat serius."
Mahika menarik napas dalam-dalam. Tangannya merogoh tas kerja, mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam elegan dan melesakkannya perlahan ke tengah meja.
"Ini draf lengkap seluruh hak cipta dan kepemilikan lisensi untuk koleksi utama Aura Fashion musim depan, Bu," ujar Mahika dengan suara jernih dan mantap. "Seluruh rancangan ini sudah saya daftarkan atas nama pribadi saya, murni sebagai pencipta tunggal, tanpa melibatkan nama pabrik konveksi mitra maupun divisi operasional mana pun."
Ibu Aura mengernyit pelan. Jemarinya membuka map tersebut, membolak-balik lembaran sketsa busana yang terinci sangat indah. Sebagai seorang veteran di industri fesyen, Bu Aura tahu betul bahwa karya Mahika ini adalah emas murni yang akan menghasilkan miliaran rupiah bagi perusahaan.
Namun, pengikatan hak cipta secara terpisah seperti ini bukanlah prosedur biasa yang sering dilakukan Mahika.
"Mahika..." Ibu Aura menengadah, menatap anak didiknya dengan pandangan menyelidik. "Bukannya biasanya draf desain kamu dialokasikan melalui divisi operasional tempat Reno bekerja? Kenapa kali ini ditarik murni atas nama kamu pribadi?"
Mahika terdiam sejenak. Sorot matanya yang tadinya lembut perlahan berubah menjadi begitu dingin dan tajam.
"Karena saya tidak akan lagi membiarkan Reno Alamsyah menggunakan hasil keringat saya untuk membangun karier dan namanya di perusahaan Ibu," jawab Mahika datar.
Suasana di meja itu mendadak hening seketika.
Ibu Aura tertegun. Selama lima tahun mengenal Mahika, wanita muda di depannya ini adalah sosok yang sangat penurut, lembut, dan teramat mencintai Reno. Mahika bahkan selalu pasang badan dan memberikan panggung keberhasilan atas draf-draf desain laris kepada Reno, hingga pria itu bisa menduduki posisi Operational Officer dengan mentereng.
Ibu Aura menghembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Sebuah helaan napas yang sarat akan kelegaan yang terpendam lama.
"Akhirnya..." bisik Bu Aura pelan. "Akhirnya mata kamu terbuka juga, Mahika."
Mahika sedikit tersentak. "Maksud Ibu?"
"Sejak awal Reno masuk ke dalam ekosistem Aura Fashion, Ibu sudah curiga," jelas Bu Aura dengan nada suara tenang namun tegas. "Reno itu tidak punya visi desain. Kemampuan analisis pasarnya rata-rata, dan kepemimpinannya di pabrik konveksi murni berjalan karena para staf tahu dia adalah calon suami dari Lead Designer utama kita. Dia cuma memanfaatkan kamu, Mahika. Dia pakai nama besar dan bakat kamu buat menyumbang angka penjualan, lalu dia klaim itu sebagai prestasinya di depan direksi."
Ibu Aura memegang jemari Mahika yang berada di atas meja. "Dulu... Ibu diam saja dan tetap memberikan porsi pekerjaan lewat Reno karena Ibu lihat kamu begitu mencintai dia. Ibu pikir, sebagai calon istri, kamu memang tulus mau membantu mengangkat derajat calon suami kamu. Tapi di dalam hati Ibu, Ibu selalu merasa ganjil. Kamu terlalu polos dan dibutakan oleh rasa cinta sampai rela dimanfaatkan."
Airmata hangat sempat berkaca-kaca di sudut mata Mahika, namun dengan cepat ia usap. Kata-kata Bu Aura bagai cermin yang memantulkan betapa bodohnya dirinya selama bertahun-tahun ini.
"Ibu benar," suara Mahika bergetar tipis. "Saya memang bodoh dan dibutakan oleh rasa cinta selama delapan tahun ini, Bu. Tapi sekarang... topeng itu sudah lepas."
Mahika memajukan tubuhnya sedikit, berbisik lurus menatap manik mata sang CEO.
"Reno bukan cuma memanfaatkan bakat dan finansial saya untuk kariernya, Bu," ungkap Mahika, mengutarakan kebusukan yang selama ini tersimpan rapat. "Dia berselingkuh. Dia menjalin hubungan gelap di belakang saya selama dua tahun ini... bersama Gisel kakak kandung saya sendiri."
Brak!
Cangkir di atas meja sedikit terguncang saat jemari Bu Aura mengepal keras. Wajah anggun sang CEO mendadak memerah padam oleh amarah yang membakar. Matanya membelalak tak percaya.
"Gila!" desis Bu Maya murka, suaranya tertahan namun sarat akan ketegasan yang mengerikan. "Pria tidak tahu diri! Dia membangun kariernya dari keringat kamu, dan dia tega melakukan hal serendah itu bersama kakak kamu sendiri?."
"Iya, Bu," sahut Mahika dingin. "Dan bukan cuma mereka berdua. Orang tua saya... Ibu dan Bapak saya... tahu soal perselingkuhan itu dan ikut melindunginya."
Ibu Aura menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah syok yang amat sangat. Sebagai wanita yang sangat menghormati integritas dan moral, kenyataan yang menimpa Mahika betul-betul di luar batas kemanusiaan.
"Biadab," umpat Bu Aura tegas. "Lalu apa rencana kamu, Mahika? Katakan sama Ibu! Hari ini juga Ibu bisa pecat Reno dari pabrik konveksi dan putus seluruh kontrak kerja sama dengan divisinya! Ibu bisa buat dia hancur detik ini juga."
"Jangan sekarang, Bu," potong Mahika cepat. "Tolong... jangan pecat dia sekarang."
Ibu Aura menatap Mahika bingung. "Kenapa? Pria seperti itu tidak berhak bernapas lega satu hari pun di perusahaan saya."
"Karena saya mau membiarkan dia merasa berada di puncak angin dulu," bisik Mahika dengan senyuman paling dingin yang pernah dilihat Bu Aura. "Pernikahan itu tinggal dua puluh tujuh hari lagi. Reno dan keluarga saya sedang menyusun mimpi indah untuk menguasai aset dan hidup saya. Jika Ibu menjatuhkannya sekarang, drama ini akan selesai terlalu cepat dan mereka bisa mencari alasan untuk melarikan diri."
Mahika merogoh satu amplop putih tebal dari tasnya, lalu menyodorkannya ke hadapan Bu Aura.
"Ini surat pengunduran diri saya dari Aura Fashion, Bu," ucap Mahika mantap.
Ibu Aura terbelalak kaget. "Mahika, Kenapa harus mundur?! Kamu adalah aset terpenting perusahaan ini! Jangan korbankan karier kamu cuma gara-gara pria brengsek itu."
"Saya tidak mengorbankan karier saya, Bu. Saya cuma butuh keluar dari lingkaran beracun ini," jawab Mahika lembut, menatap gurunya dengan pandangan memohon. "Saya tidak bisa lagi tinggal di kota ini setelah semua bom pembalasan saya ledugkan di hari pernikahan nanti. Saya butuh ketenangan. Saya butuh memulai hidup baru di tempat yang jauh, di mana keluarga saya dan Reno tidak akan pernah bisa menemukan saya lagi."
Ibu Aura menggigit bibirnya, menatap surat pengunduran diri itu dengan berat hati. Namun melihat binar keteguhan di mata Mahika, ia sadar bahwa keputusan wanita muda ini sudah bulat.
"Kamu... mau pergi ke mana?" tanya Bu Aura pelan.
"Saya mau pindah dan tinggal di luar kota, Bu," terang Mahika. "Tapi... sebelum hari H pernikahan itu tiba, saya butuh bantuan Ibu."
"Bantuan apa, Mahika? Katakan. Apa pun akan Ibu bantu," sahut Bu Aura tanpa ragu sedikit pun.
"Saya minta tolong Ibu menyiapkan kepindahan saya secara rahasia ke cabang kantor atau studio baru mitra Ibu di luar kota," pinta Mahika teratur. "Tolong bantu atur kepindahan dokumen, tempat tinggal baru, dan proses pengunduran diri saya agar tersimpan rapat tanpa ada satu staf pun yang tahu terutama Reno."
Mahika melanjutkan strateginya dengan tenang. "Saya akan tetap menyelesaikan seluruh draf desain utama untuk Aura Fashion dari tempat baru itu secara independen. Tapi di mata publik dan kantor pusat, saya ingin terlihat seolah-olah masih aktif bekerja di sini sampai hari pernikahan tiba."
Ibu Aura menatap Mahika dengan rasa takjub dan bangga yang membuncah. Di balik ketenangan dan kelembutan adiknya ini, rupanya tersimpan jiwa seorang ahli strategi yang sangat matang dan mematikan.
"Baik," tegas Bu Aura, menyapu surat pengunduran diri itu dan menyimpannya di dalam tas mewahnya. "Ibu setuju. Ibu punya satu studio desain privat di Bandung. Tempatnya sangat asri, aman, dan fasilitasnya lengkap. Ibu akan atur kepindahan kamu ke sana minggu depan secara diam-diam. Seluruh tim di sana adalah orang-orang kepercayaan Ibu, tidak akan ada satu informasi pun yang bocor ke Reno atau keluarga kamu."
Ibu Aura memegang erat kedua tangan Mahika, menatapnya dengan penuh rasa kasih.
"Soal Reno... Ibu janji sama kamu, Mahika," lanjut Bu Aura dengan nada suara sedingin baja. "Di hari pernikahan itu... saat kamu membatalkan semuanya dan membeberkan kebusukan mereka, Ibu sendiri yang akan berdiri di samping kamu. Hari itu juga, Ibu akan serahkan surat pemecatan tidak dengan hormat untuk Reno Alamsyah di depan seluruh tamu undangan."
Air mata haru akhirnya menetes di pipi Mahika. Di tengah pengkhianatan kejam dari darah dagingnya sendiri, Tuhan masih mengirimkan sosok penolong seperti Bu Aura yang berdiri pasang badan membela keadilannya.
"Terima kasih banyak, Bu Aura... terima kasih," bisik Mahika tulus.
"Kamu anak yang kuat, Mahika," ujar Bu Aura tersenyum bangga. "Tunjukkan pada mereka semua, apa akibatnya jika seorang wanita yang tulus dan berbakat dipermainkan secara licik."
Di sudut restoran yang tenang itu, aliansi mematikan telah terbentuk. Reno Alamsyah dan keluarga Pak Bambang boleh saja merasa aman dan berada di atas angin hari ini. Namun mereka tidak tahu, bahwa penghancuran karier, reputasi, dan masa depan mereka sedang dirajut dengan sangat rapi oleh dua wanita paling berpengaruh di industri fesyen kota ini.
ap g cafek km berdarama🤣🤣
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂