Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Beberapa jam kemudian, Zaira terkapar di ranjangnya, mendekap erat bantalnya, tubuh yang baru saja dimandikan masih gemetar dari dalam.
Aroma sabun oat tak mampu menghapus bau busuk kenangan itu. Tak air mata di bawah pancuran, tak pula air panas yang meluncur bagai pisau di kulitnya yang memerah, cukup untuk menyucikannya.
Ia masih beraroma pria itu. Parfum mahal, wiski, seks yang dicuri.
Perutnya bergolak tiap kali ia memejamkan mata dan menghidupkan kembali permohonannya sendiri yang tertahan, erangannya yang berbaur dengan bisikan kotor kata-kata pria itu di telinganya.
Di atas mejanya, tumpukan uang teronggok bagai monster yang bisu, bukti nyata dari aibnya. Tiap lembar seakan menatapnya, menertawakannya, mengingatkannya berulang kali telah menjadi apa dirinya.
Suara ibunya yang mengabari bahwa ia hendak keluar sedikit menyeretnya keluar dari lamunan.
Ketukan kasar di pintu berdentum bagai letusan tembakan dalam keheningan kamar mungil itu.
"Zaira! Buka pintunya!" teriak Tatiana dari luar, tak sabar.
Zaira mengatupkan rahang, napasnya memburu, bantal terkusut dalam pelukannya. Ia tak mau melihatnya. Tak mau mendengarnya. Tak mau mengingat bahwa Tatiana-lah yang menyeretnya ke sana seakan ia seekor ternak.
Tetapi kemarahan lebih kuat. Amarah lengket yang naik ke kerongkongannya dan mendorongnya bangkit dengan sekali lompatan.
Bertelanjang kaki, dengan rambut yang masih basah menempel di wajah dan jantung yang menggedor dadanya, ia membuka pintu dengan kasar.
Tatiana menyeruak masuk bagai sapuan angin, beraroma parfum bunga, sempurna dalam rok mini rancangan desainer dan sepatu hak jarumnya. Tas bermereknya berayun santai di bahunya.
"Akhirnya! Ke mana saja kamu semalam?" katanya dengan senyum lebar berkilau, seolah tak ada yang buruk terjadi. "Gimana malammu? Wajahmu kacau banget, Sob!"
Zaira menatapnya tajam menghunjam, tiap serat tubuhnya bergetar oleh amarah. Tangannya sedikit gemetar, tetapi ia mengepalkannya.
"Kamu senang-senang, Tati?" desisnya, suaranya patah bagai kaca pecah. "Berapa mereka bayar untuk menjualku?"
Tatiana mengerjap, terkejut sesaat, hanya sekejap saat topengnya retak. Tetapi ia segera memulihkan senyum plastiknya, nada ringannya.
"Jangan bicara begitu, Zai..." katanya, berlagak tersinggung. "Aku cuma mau bantu kamu! Kamu pikir kamu bakal maju di sini, mengurung diri belajar kayak biarawati? Hidup nyata nggak begitu! Kamu butuh uang, dan banyak! Aku cuma mengenalkanmu ke orang penting..." Ia mengangkat bahu, seakan baru saja mengajak Zaira minum kopi. "Apa yang terjadi setelah itu, itu keputusanmu sendiri."
Zaira merasa seolah ada yang mengoyak dadanya dengan cakar. Pengkhianatan satu-satunya sahabat itu menyakitinya hingga ke tulang.
"Kamu menjualku, sialan!" jeritnya, suaranya bergema di dinding kamarnya yang lusuh. "Kamu membuatku mabuk! Kamu membawaku ke sana seperti benda sialan, seperti boneka rusak yang bisa dipermainkan siapa saja!"
Air mata mengalir, panas dan putus asa, membanjiri pipinya. Ia tak repot-repot menyekanya.
Tatiana mundur selangkah, tatapannya kini sarat kejengkelan.
"Jangan lebay," dengusnya. "Kamu tidur sama seorang jutawan, Zaira! Jutawan sialan! Yang paling diidamkan semua wanita. Harusnya kamu berterima kasih padaku. Sekarang kamu bisa keluar dari tempat pembuangan sampah ini, dapat apartemen yang layak, belajar dengan tenang, dan siapa tahu! Kalau kamu terus dekat dengannya, kamu bisa jadi kaya raya."
"Kaya?" Kata itu keluar dari bibir Zaira bagai ludah. "Kaya dengan mengorbankan apa, Tati? Dengan kehilangan diriku sendiri? Dengan melacurkan diri?"
"Aduh, lebay banget!" Tatiana tertawa gugup. "Bukalah matamu... Begitulah dunia nyata, sayang! Kamu menjual, atau kamu dijual!"
Bunyi tamparan itu kering, brutal, bagai cambuk memecah udara.
Tatiana menekankan tangan ke pipinya yang memerah, matanya berkilat oleh murka dan keterkejutan.
"Kamu bakal menyesali ini, Zaira," desisnya penuh racun.
Ia berputar di atas sepatu haknya dan keluar sambil membanting pintu begitu keras hingga menggetarkan bangunan kamar yang ringkih itu.
Zaira jatuh berlutut di samping ranjangnya, wajah terbenam di antara kedua tangan, terisak dengan kerongkongan yang tercabik.
Ia telah kehilangan satu-satunya sahabatnya. Ia telah kehilangan martabatnya. Dan yang terburuk dari semuanya, ia telah kehilangan sisa kepercayaan yang masih ia miliki pada dirinya sendiri.
Kamar itu terasa lebih sempit, lebih dingin, lebih muram. Basah air matanya meresap hingga ke jiwa.
Di kejauhan, kota terus berjalan tanpa peduli: klakson mobil, gonggongan anjing, musik yang lolos dari jendela terbuka rumah tetangga. Dunia terus berputar, meski ia merasa hancur lebur seluruhnya.
Di seberang kota, di salah satu menara paling mewah yang menoreh langit bagai bilah baja, Leonardo Santos berada di ruang kerja sang taipan yang tanpa cela.
Cahaya temaram menciptakan bayangan-bayangan panjang di ruangan berdinding pelapis kayu ek gelap dan berkarpet Persia. Wiski keemasan berputar malas di gelas kristalnya sementara ia memandanginya, tenggelam dalam pikiran.
Tetapi minuman keras itu membakar kerongkongannya tanpa memadamkan kebakaran di dalam dirinya.
Perempuan itu.
Zaira.
Namanya, yang bahkan tak ia kenal beberapa jam lalu, kini menancap di dadanya bagai mata kail.
Ia mengingat tiap detail: tubuh gadis itu yang gemetar di bawahnya. Kehangatan kulitnya yang membelit sela-sela jarinya. Erangan manis dan patah yang lolos dari bibirnya sementara ia memiliki gadis itu dengan campuran nafsu dan sesuatu yang lebih gelap yang tak bisa ia namai.
Ia mengernyit, jengkel pada dirinya sendiri.
Gadis itu tak seperti yang lain. Bukan perempuan semalam biasa. Ada sesuatu pada dirinya... Sebuah kepolosan. Kerapuhan yang telah ia cicipi dan yang kini menyiksanya.
Ia meletakkan gelasnya di meja dengan bunyi kering, bernapas dengan susah payah.
"Zaira..." bisiknya lirih menyebut nama itu, seakan takut ada yang bisa mendengarnya.
Ia menyapukan tangan ke rambutnya yang berantakan, kesal.
Ia tak punya waktu untuk gangguan. Tak punya waktu untuk kekonyolan sentimental.
Namun demikian...
Bayangan mata gadis itu yang ketakutan, napasnya yang terputus-putus, telah menyusup ke bawah kulitnya bagai infeksi yang mustahil disembuhkan.
Ia tahu, dengan kepastian brutal yang hanya dimiliki lelaki yang terbiasa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan, bahwa ia takkan melepaskan gadis itu.
Tak akan pernah.
Obsesinya baru saja dimulai. Dan Zaira, suka atau tidak, sebentar lagi akan menjadi kecanduannya yang paling berbahaya.