Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 20 - Siapa Wanita Itu?
Saat makan malam berlangsung, Ethan memastikan Ashlyn benar-benar menghabiskan seluruh makanan yang ada di dalam piringnya.
Gadis itu sempat beberapa kali melirik ke arah ruang tengah dimana box es krim berada, tetapi setiap kali tatapannya bertemu dengan Ethan, Ashlyn akan segera kembali memusatkan perhatian pada makanannya. Ashlyn benar-benar berusaha menjadi istri pintar seperti yang dikatakan Ethan.
Begitu selesai, Ashlyn meletakkan sendoknya dan tersenyum puas. "Sudah habis, Suamiku."
Ethan mengangguk. "Bagus."
Ashlyn kemudian menatap pria itu dengan mata penuh harapan. "Sekarang boleh es krim lagi?"
Ethan hampir menghela napas. "Nanti."
Ashlyn mengangguk patuh. "Baik."
Ethan berdiri dari kursinya, lalu berjalan mendekati Ashlyn. Pandangannya turun pada kaki gadis itu yang sejak tadi belum benar-benar mendapatkan perawatan setelah berlari menyambutnya sore tadi.
"Kakimu masih sakit?"
Ashlyn menunduk melihat kakinya sendiri, kemudian menggeleng kecil. "Sedikit."
"Sedikit itu artinya sakit." Ethan memberi isyarat kepada kepala pelayan. "Obati lukanya sebelum tidur."
"Baik, Jenderal."
"Pergilah ke kamar dan obati lukamu, setelah itu boleh makan eskrim dan setelahnya tidur," titah Ethan pada Ashlyn.
"Tidur? Tapi Ashlyn mau menunggu Suami."
Ethan menatapnya beberapa saat. "Tidak perlu. Aku masih punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan."
Wajah Ashlyn sedikit murung, tetapi kali ini ia tidak membantah. Ia sudah belajar bahwa menjadi istri yang pintar berarti harus mendengarkan Ethan.
"Baik," jawab Ashlyn pasrah.
Ethan mengusap puncak kepala Ashlyn sebentar. "Kamu juga harus tidur lebih awal."
"Iya."
"Besok kamu akan mulai belajar."
Mata Ashlyn kembali berbinar. "Dengan guru?"
"Iya."
"Ashlyn akan pintar."
Ethan mengangguk tipis. "Tentu saja."
Ashlyn kemudian berdiri dan mengikuti kepala pelayan menuju kamar. Sebelum benar-benar menghilang dari ruang tengah, ia sempat menoleh pada sang suami.
"Selamat malam, Suamiku."
Ethan menatapnya. "Hm."
Ashlyn tersenyum puas, lalu pergi bersama kepala pelayan. Begitu suara langkah kaki mereka semakin menjauh, Ethan pun menuju ruang kerjanya.
Sander yang sejak tadi menahan banyak hal akhirnya memberanikan diri mendekati Ethan. Ada keraguan yang jelas terlihat di wajahnya, sesuatu yang jarang sekali terjadi pada seorang yang selama ini selalu mampu berdiri tenang di hadapan sang jenderal.
"Jenderal," panggil Sander.
Ethan yang sedang mengambil salah satu dokumen pun menoleh. "Apa?"
Sander menarik napas dalam-dalam. "Saya ingin menyampaikan sesuatu."
"Katakan."
Ingatan Sander sontak tertuju pada perkataan Ashlyn. 'Jika sudah pintar nanti kita bisa mandi bersama.'
Entah kenapa kalimat itu membuat Sander merasa perlu berbicara. Bukan karena ia ingin mencampuri urusan pribadi atasannya, tetapi karena ia benar-benar khawatir Ashlyn justru membuat Ethan terganggu.
"Kalau keberadaan Nona Ashlyn mengganggu Anda..." Sander berhenti sebentar, mencari kata-kata yang tepat. "Mungkin lebih baik Nona Ashlyn ditempatkan di tempat lain."
Tatapan Ethan perlahan berubah, menatap Sander lebih lekat. Sementara Sander segera melanjutkan sebelum keberaniannya hilang. "Tidak harus di mansion. Bisa di tempat yang lebih aman, dengan pengawasan dokter dan perawat. Saya hanya berpikir, selama ini Anda tidak pernah terbiasa tinggal bersama seseorang seperti Nona Ashlyn."
Ethan menatapnya tanpa berkedip.
Sander menelan ludah. "Terutama setelah kejadian tadi. Nona Ashlyn masih belum memahami batasan antara dirinya dan Anda. Saya khawatir itu akan membuat Anda tidak nyaman."
Ruangan kembali sunyi dan Sander sudah siap menerima teguran. Ethan kembali meletakkan dokumennya.
"Dia tidak akan pergi," jawab Ethan.
Sander terdiam sejenak. "Jenderal_"
"Ashlyn tidak akan meninggalkan mansion ini." Nada suara Ethan memang terdengar tenang, tetapi jelas ada ketegasan di dalamnya. "Setidaknya sampai dia sembuh."
Sander mengerutkan kening. "Sembuh?"
"Kamu masih menganggapnya sebagai gadis idiot?" balas Ethan.
Sander terdiam, pertanyaan ini jadi terasa begitu sulit untuk dia jawab. Karena tak dipungkiri memang begitulah penilaian Sander pada Ashlyn, meskipun sebenarnya Sander pun mengetahui dengan jelas bahwa Ashlyn tak seharusnya menderita seperti itu.
"Tidak, Jenderal," jawab Sander akhirnya.
"Dia sakit, bukan tubuhnya tapi cara dia memahami dunia yang salah karena orang-orang di sekitarnya."
Sander perlahan menundukkan kepala.
Ethan masih teringat semua laporan yang dibacanya malam sebelumnya. Ashlyn tidak pernah mendapatkan pendidikan yang layak. Tidak pernah mendapatkan kasih sayang. Bahkan sejak kecil, gadis itu terus dibuat percaya bahwa dirinya adalah pembawa sial. Semua yang dimilikinya direbut begitu saja, bahkan harta peninggalan sang ibu.
Selama dua puluh tahun, tidak ada seorang pun yang berusaha memperbaikinya dan sekarang Ethan tidak berniat menjadi orang yang kembali meninggalkannya.
"Selama satu bulan ini kita masih berada di Servo," lanjut Ethan, ini adalah salah satu keputusan yang di ambil siang tadi, mereka memang tidak akan langsung kembali ke perbatasan.
Sander menatap atasannya. "Saya mengerti."
"Selama satu bulan itu, aku akan memastikan Ashlyn mendapatkan perawatan yang benar."
Tatapan Ethan berubah semakin dalam.
"Dia akan diperiksa oleh dokter dan dibantu psikiater. Aku tidak ingin mendengar siapa pun menyebutnya gadis idiot lagi."
Sander menatap Ethan cukup lama sebelum akhirnya memberikan hormat. "Baik, Jenderal."
Ethan kembali mengambil dokumen di atas meja.
Sander hendak pergi, tetapi sebelum benar-benar berbalik, ia kembali teringat sesuatu. Tentang eskrim yang terlalu banyak itu.
"Jenderal."
"Hm?"
"Untuk masalah es krim..."
Ethan menatapnya datar.
Sander langsung merasa sedikit gugup. "Saya membeli terlalu banyak."
"Tidak apa-apa," balas Ethan.
Sander mengangguk. "Baik." Ia kemudian meninggalkan ruang tersebut, sementara Ethan tetap duduk di kursi kerjanya.
Keesokan Harinya mansion Ethan kembali dipenuhi aktivitas. Para pelayan mulai menjalankan tugas mereka, sementara beberapa orang yang telah diperintahkan Ethan untuk datang juga mulai mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk proses belajar Ashlyn.
Di sisi lain sebuah mobil memasuki area mansion setelah mendapat izin dari penjaga.
Nadine datang dengan pakaian yang terlihat sangat rapi dan elegan. Sejak pagi ia sudah memutuskan untuk datang menemui Ethan secara langsung.
Setelah penolakan yang diterimanya kemarin, Nadine tidak ingin menyerah begitu saja. Ia justru merasa harus mengambil langkah lebih berani.
Jika Ethan tidak mau menemuinya di luar, maka ia akan datang ke tempat Ethan tinggal. Namun baru memasuki halaman, mobilnya tiba-tiba terhenti.
Ada seorang wanita tengah bermain di taman.
Nadine mengangkat wajah.
Di antara hamparan rumput hijau dan bunga-bunga yang tertata rapi, seorang wanita dengan gaun indah sedang berlari kecil, di dampingi beberapa pelayan.
Rambut panjangnya tergerai mengikuti gerakan tubuhnya. Gaun yang dikenakannya membuat sosok itu terlihat sangat berbeda dari bayangan Nadine tentang penghuni mansion seorang jenderal.
Wanita itu berlari mengejar sesuatu yang tidak terlihat dari tempat Nadine berdiri, kemudian tertawa begitu polos.
Nadine mengernyitkan kening, Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya.
Tatapannya semakin tajam.
Mansion ini adalah kediaman pribadi Ethan dan sepanjang pengetahuan Nadine, Ethan adalah pria yang bahkan tidak suka jika wanita mendekatinya terlalu dekat.
Namun sekarang ada seorang wanita asing yang justru berlari bebas di taman mansionnya.
Nadine mengepalkan tangan perlahan. Perasaan tidak enak mulai muncul di dalam dadanya.
"Siapa wanita itu?" gumam Nadine pelan.