Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Siapa Dia?
Livia sengaja menghindari Keenan dan tidak pergi bekerja selama beberapa hari.
Setiap malam, Keke mengirim pesan WhatsApp kepadanya. Isinya selalu sebuah stiker lucu dan foto mawar biru.
"Via, malam ini juga mawar biru. Aku sudah bertanya kepada kurir. Tuan Keenan memesan bunga untukmu selama enam bulan! Kalau kau terus tidak datang, rumahku bisa berubah menjadi toko bunga."
Livia mengetik balasan.
"Beberapa hari ini dia datang ke klub?"
"Tidak. Memangnya Tuan Keenan orang biasa? Dia selalu sulit ditemukan. Dengan kedudukannya, mana mungkin dia punya waktu mengelilingi gadis kecil sepertimu setiap hari?"
"Baik, aku mengerti."
Livia mematikan ponsel.
Ia mengambil bros kupu-kupu dari kotak rias dan mengamatinya di bawah cahaya lampu.
Kejernihan serta kilau batu tersebut berada di tingkat terbaik. Bintik cahaya kecil dan pantulan alami tampak di bagian dalamnya.
Safir itu benar-benar alami.
Tiga ratus ribu dolar Amerika, hampir empat miliar delapan ratus juta rupiah.
Dengan uang sebesar itu, jaraknya menuju target lima juta dolar akan berkurang cukup banyak.
Hati Livia dipenuhi kegembiraan. Ia menggenggam bros dan berjalan cepat ke luar kamar, berniat langsung menukarnya menjadi uang.
Saat memasuki ruang tamu, ia kebetulan melihat Nathan baru pulang.
Pria itu melepas jas dan melemparkannya ke sofa. Anya, yang sudah menunggu, segera maju membawa baskom air untuk membantunya membersihkan tangan.
Nathan mencuci tangan tanpa tergesa. Dari sudut mata, ia melihat Livia di dekat tangga.
"Melompat-lompat kegirangan seperti itu, kau hendak ke mana?"
Livia berhenti.
"Pergi bekerja."
Nathan mendengus.
"Beberapa hari kau tidak masuk. Begitu aku kembali, kau langsung ingin bekerja. Sedang menghindariku?"
Tuduhan yang tidak adil.
Livia mengerucutkan bibir, lalu berjalan cepat menghampirinya. Ia memiringkan kepala dan mengernyitkan hidung dengan nakal.
"Om Nathan pergi tanpa jadwal yang jelas. Katanya hanya keluar sebentar, tetapi ternyata baru kembali setelah tiga hari. Selama itu Om pergi ke mana dan melakukan apa, aku tidak tahu. Kapan Om pulang pun aku tidak diberi tahu. Sebenarnya siapa yang menghindari siapa?"
Nathan mengeringkan tangan dengan handuk putih. Ia memberi isyarat agar Anya pergi, kemudian mencubit pipi Livia pelan.
"Cemburu?"
Pipi Livia langsung panas. Ia mendorong tangan Nathan dengan canggung.
"Kenapa aku harus cemburu? Om dan Kak Jolene sedang mesra-mesranya. Aku bahkan ikut bahagia!"
"Mulutmu tidak jujur..."
Nathan tertawa pelan.
Livia tidak mendengar jelas. Ia mendekat sedikit.
"Om mengatakan apa?"
"Aku bilang..."
Suasana hati Nathan terlihat semakin baik. Ia sengaja memperlambat suara dan membungkuk mendekati Livia. Mata hitamnya berkilau samar di balik bingkai emas.
Entah mengapa, semakin dekat hubungannya dengan Jolene, semakin kuat pula perasaan bahwa ia akan segera memiliki Livia sepenuhnya.
Setiap kali bersama Jolene, wajah Livia justru muncul dalam pikirannya.
Ia membayangkan gadis itu menatapnya dengan wajah memerah dan mata berkabut, memanggil namanya dalam suara yang gemetar. Mungkin Livia juga akan menangis.
Livia selalu terlihat sangat rapuh ketika menangis. Air mata menempel di ujung bulu mata sebelum jatuh satu demi satu.
Nathan menyukai pemandangan itu, tetapi hampir tidak pernah sengaja membuatnya menangis karena perasaan iba yang masih dimilikinya.
Namun khayalan tersebut tetap menunjukkan sesuatu yang lebih gelap: di dalam benaknya, keinginan Nathan telah lama melampaui hubungan seorang wali dan anak yang dibesarkan.
Jarak mereka semakin dekat. Suara pria itu menjadi rendah dan serak.
"Malam ini jangan pergi bekerja. Temani aku."
Livia langsung menolak tanpa berpikir.
"Aku sudah berjanji pergi ke Jalan Pamelo bersama Keke setelah selesai bekerja. Besok ulang tahun Pak Hadi. Om sebaiknya beristirahat lebih awal."
Ia berbalik hendak pergi, tetapi Nathan menangkap tangannya dengan sangat cepat.
"Aduh!"
Genggamannya terlalu kuat. Jarum bros menusuk kulit lembut telapak Livia dan membuatnya mengerang kesakitan.
"Apa ini?"
Nathan membuka jemari Livia satu per satu. Ketika melihat bros safir biru di telapak tangannya, sorot mata pria itu berubah dan sudut bibirnya turun.
"Dari mana kau mendapatkan bros ini?"
Ia menyangga punggung tangan Livia. Jemarinya menggantung tepat di atas cahaya batu biru tersebut. Nada suaranya menyimpan bahaya yang sulit diabaikan.
"Pemberian... seorang tamu."
Livia bahkan belum selesai berbicara ketika wajah Nathan sudah berubah gelap.
Ia mengusap bros tersebut. Dingin di bawah ujung jarinya seolah menembus kulit dan masuk ke hati.
"Pemberian tamu? Menjual satu botol minuman saja sulit bagimu. Tamu macam apa yang cukup murah hati untuk memberikan safir alami?"
Suara Nathan rendah dan menekan.
Livia tanpa sadar mundur setengah langkah. Untuk sesaat, ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Om Nathan..."
Nathan mencibir dan terus maju sampai tubuh Livia terjepit di sudut dinding.
Tangannya terangkat. Dengan satu tarikan kasar, kain di bahu kiri Livia robek.
Ia menggenggam tangan gadis itu dan membandingkan bros tersebut dengan tato kupu-kupu di dekat tulang selangkanya.
Sama persis.
Napas Nathan menjadi berat.
Berbagai kemungkinan melintas di kepalanya. Dugaan yang paling kuat adalah pria pemberi bros bukan hanya pernah melihat tato itu, tetapi mungkin juga telah menyentuh Livia.
Jadi, alasan gadis ini bersikeras pergi bekerja adalah untuk bertemu pria tersebut?
"Livia Prameswari!"
Setiap kali benar-benar marah, Nathan selalu memanggil nama lengkapnya.
Tubuh Livia langsung gemetar karena refleks. Dengan takut, ia mengangkat mata dan menyaksikan mata Nathan yang biasanya tenang perlahan memerah.
Pria itu membungkuk ke telinganya. Napas panasnya dipenuhi rasa memiliki yang keras dan berbahaya.
"Katakan siapa dia."
Livia tidak berani menyembunyikannya.
"Ke... Keenan Adiprana."
Nathan tertawa karena marah.
"Livia, sudah berapa kali kuajarkan bahwa kebohongan harus masuk akal? Kalau kau menyebut Jordan, mungkin aku masih percaya. Tapi kau memilih nama Keenan Adiprana? Semua orang tahu dia tidak pernah dekat dengan perempuan. Bagaimana mungkin dia tertarik kepadamu?"
Tidak dekat dengan perempuan?
Pria itu jelas sangat kurang ajar!
Livia mengatupkan bibir. Ia belum pernah bertemu pria yang lebih suka mencium, mengendus, dan menyentuh tanpa izin seperti Keenan.
Ketika menyadari pikiran Livia melayang, wajah Nathan menjadi semakin buruk.
Tangannya menekan kuat. Ujung tajam bros langsung menusuk telapak Livia.
"Aaah!"
Jeritannya membelah ruangan.
Kali ini Nathan tidak melepaskan tangan. Ia justru menambah tekanan. Darah perlahan keluar dari telapak Livia dan membasahi permukaan bros.
Setetes cairan merah jatuh ke lantai.
Nathan menatap tanpa belas kasihan. Amarahnya malah semakin dalam.
Dalam pikirannya, anak yang tidak patuh memang harus dihukum. Dengan begitu, Livia tidak akan menggunakan penyamaran untuk keluar dan menarik perhatian pria lain.
"Sakit... Om Nathan, sakit!"
Livia merasa jarum itu hampir menembus tulangnya. Tangisnya langsung pecah. Ia tidak lagi berani menyembunyikan apa pun dan menceritakan semuanya.
"Aku tidak berbohong. Benar-benar Keenan Adiprana! Bros ini pemberiannya. Dia ingin aku menjadi perempuannya, tapi aku tidak setuju. Aku tidak pernah setuju! Om Nathan, aku hanya ingin menjual bros ini. Harganya tiga ratus ribu dolar. Semua uangnya akan kuserahkan kepadamu. Tolong jangan marah..."
Setiap kata keluar bersama isakan. Kejujurannya akhirnya membuat Nathan sedikit melonggarkan tangan.
Bros yang telah berlumuran darah terlepas dari telapak Livia dan jatuh ke lantai dengan bunyi kecil.
Nathan terdiam lama dengan mata gelap.
Udara menjadi begitu berat hingga sulit dihirup. Nathan tidak berbicara, dan Livia pun tidak berani mengeluarkan suara.
Baru pada saat itu Livia sadar bahwa selama ini ia meremehkan kekejaman serta kecenderungan Nathan menggunakan kekerasan.
Tak ada pria yang mampu berdiri kokoh di Kota Kayan dengan tangan sepenuhnya bersih.
Hanya saja, bertahun-tahun Livia terbuai oleh kelembutan di permukaan dan menolak mengakuinya.
"Maaf, Om Nathan."
Livia sendiri tidak tahu mengapa ia harus meminta maaf. Namun membiarkan Nathan terus marah hanya akan membuat dirinya semakin terluka.
Benar saja, ketegangan di wajah pria itu akhirnya sedikit mereda.
Nathan mengangkat tangan Livia dan menggenggam telapak yang berlumuran darah, lalu membawanya menuju kamar di lantai dua.
"Dengan kesombongan Keenan, cepat atau lambat dia akan jatuh jika terus bermain di Kota Kayan. Jauhi dia."
Livia mengangguk patuh.
Nathan melanjutkan, "Karena bros ini pemberiannya, kau tidak boleh menjualnya. Siapa pun yang berani menguangkannya bisa kehilangan kepala. Simpan baik-baik. Bros ini..."
Ia berhenti sejenak.
Ujung jarinya mengusap darah hangat di telapak Livia. Kelicikan samar melintas di dasar matanya, disusul senyum yang terasa gelap.
"Kelak akan sangat berguna."
"Baik."