Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.
Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan dari Masa Lalu
Sepasang tangan bersarung tangan sutra putih meluncur dari balik asap, dengan perlahan mencabut sang bayi yang menangis dari dekapan dada Adrian...
"Jangan... sentuh... anakku..." desis Adrian dengan sisa tenaga di tenggorokannya, namun racun pelumpuh saraf membuat seluruh otot tubuhnya membeku bagaikan batu.
"Kasihan sekali, Cucuku..." suara wanita itu mengalun begitu lembut, namun menyimpan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. "Seharusnya kau menyerahkan bayi ini sejak awal tanpa perlu menumpahkan begitu banyak darah."
"Ibu...?" suara Anindya melengking serak di tengah kesadarannya yang samar. Dari sudut matanya yang bersimbah air mata, ia menatap sosok wanita anggun bergaun malam serba hitam dengan perhiasan berlian di dadanya. "Ibu... Kau... Kau masih hidup...?"
Wanita itu melirik Anindya dengan pandangan penuh belas kasih yang palsu. "Tentu saja, Anindya sayang. Ibumu tidak pernah benar-benar mati dalam kecelakaan laboratorium dua puluh tahun lalu.
Semua itu hanyalah sandiwara kecil agar aku bisa mengawasi perkembangan Proyek Genesis dari balik layar.
"Kau... gila, Eleanor!" bentak Baskara dari atas tanah, giginya berkerotakan menahan efek racun pelumpuh saraf. "Kau memalsukan kematianmu sendiri dan membiarkan putri kandungmu menderita sepanjang hidupnya?!"
Eleanor—ibu kandung Anindya—terkekeh pelan seraya membuai bayi yang menangis di pelukannya dengan gerakan yang amat tenang. "Menderita, Baskara? Anindya adalah mahakarya terbaikku. Jika aku tidak meninggalkannya di dunia luar, rahimnya tidak akan pernah matang untuk melahirkan penciptaan sempurna ini."
"Dia anakku! Bukan eksperimenmu!" teriak Anindya seraya mencoba menggerakkan jarinya, namun racun emas itu terlalu kuat menahan sistem sarafnya.
"Anak ini milik Konsorsium, Anindya," ujar Eleanor dingin. Ia membalikkan badannya, menatap dua prajurit bertopeng baja yang berdiri siaga di belakangnya. "Amankan sampel biologis utama ini. Kita berangkat menuju pangkalan udara sekarang."
"Tunggu, Eleanor!" teriak Julian. Urat-urat di lehernya menegang hebat, mata merahnya memancar keperkasaan mutakhir dari sisa kekuatan genetika dalam tubuhnya. "Kau tidak akan pernah membawa bayi itu keluar dari gedung ini hidup-hidup!"
Bzzzt.
Julian memaksakan tubuhnya berdiri, menembus efek racun pelumpuh saraf dengan daya tahan mutasinya. Ia mencabut pisau taktis di pinggangnya dan menerjang lurus ke arah Eleanor!
"Pengawal! Tahan dia!" perintah Eleanor tanpa sedikit pun menoleh.
Dua prajurit bertopeng baja serentak melangkah maju, mencabut tongkat gelombang magnetik dan menghantamkannya tepat ke dada Julian!
BZZZZZT! DUAARR!
"AAAGHHH!" Julian meletupkan teriakan kesakitan saat gelombang listrik bertenaga ribuan volt menghantam inti mutasinya, melontarkan tubuhnya menabrak pilar beton hingga tergeletak tak berkutik.
"Julian!" jerit Adrian panik, namun matanya hanya bisa menyaksikan keterpurukan saudaranya.
"Usaha yang sangat gigih dari seorang produk gagal," cibir Eleanor seraya melangkah santai menuju helipad bawah tanah. "Bawa Nyonya Anindya juga. Rahimnya masih memiliki nilai riset yang tinggi untuk pengembangan generasi berikutnya."
"Lepaskan istriku, Iblis!" seru Adrian, matanya memerah penuh amarah dan keputusasaan.
Seorang prajurit merenggut Anindya dari tanah, mengikat kedua tangannya dengan rantai kabel baja dan menyeretnya mengikuti langkah Eleanor.
"Adrian! Tolong aku! Adrian! Bayi kita!" jerit Anindya melengking membelah asap tebal, tangisnya pecah memenuhi seluruh lorong reruntuhan.
"ANINDYA!" Adrian meraung, menatap Anindya dan bayinya yang dibawa makin jauh ke dalam kegelapan lorong evakuasi.
Klik.
Pintu baja tahan ledakan menuju helipad bawah tanah tertutup rapat, mengunci Eleanor, Anindya, dan sang bayi di dalam ruang tertutup.
Suasana lorong seketika kembali hening, hanya diselimuti oleh uap racun emas yang perlahan-lahan menipis dan deru sirene yang makin lemah di kejauhan.
"Adrian..." suara Maya terdengar terengah-engah dari sudut dinding. Dengan sisa tenaganya, Maya mencabut sebuah tabung penawar racun kecil dari saku taktisnya dan menancapkannya tepat ke paha Adrian!
Ctek!
"AAAKH!" Adrian menggeram saat cairan penawar merembes masuk ke dalam pembuluh darahnya. Rasa panas yang membakar seketika menetralkan efek pelumpuh saraf pada otot-otot tubuhnya.
"Cepat... Suntikkan juga pada Baskara dan Julian!" perintah Adrian cepat seraya memegang matanya yang memanas oleh air mata frustrasi.
Maya menyuntikkan penawar itu ke leher Baskara dan paha Julian yang tak sadarkan diri. Dalam hitungan detik, Baskara terbatuk-batuk hebat dan perlahan mulai bisa menggerakkan jemarinya kembali.
"Tuan Adrian..." Dokter Kenzie merangkak mendekat dengan wajah penuh penyesalan. "Saya gagal menjaga penawar mikrochip... Eleanor telah memegang kendali penuh atas jaringan sistem saraf bayi Anda!"
Adrian berdiri dengan tubuh bergetar hebat. Ia mengambil pistol taktisnya yang tergeletak di atas beton basah, menyapu darah murni dari dahinya yang melepuh. "Baskara! Berapa lama waktu yang dibutuhkan kapal udara Eleanor untuk lepas landas?!"
Baskara memeriksa layar terminal kecil di pergelangan tangannya dengan jari-jemari gemetar.
"Lima menit! Kapal udara stealth milik Konsorsium menggunakan mesin pendorong ionik! Sekali mereka terbang menembus awan, radar mana pun di bumi ini tidak akan bisa melacak mereka!"
"Lima menit..." desis Adrian. "Julian! Kau masih bisa bertarung?!"
Julian membuka matanya pelan, menyapu darah hitam yang keluar dari hidungnya seraya berdiri tegak dengan tatapan membunuh yang makin pekat. "Selama nyawaku belum dicabut, aku tidak akan biarkan Eleanor membawa darah murni itu."
"Maya, Kenzie, amankan jalur bawah tanah ini," perintah Adrian penuh ketegasan mutlak. "Baskara, Julian... ikut denganku mendobrak helipad!"
Ketiganya berlari kencang menuju pintu baja tahan ledakan di ujung lorong. Adrian menarik sebuah granat termis berdaya ledak tinggi dari saku jas Julian dan menempelkannya tepat pada engsel pintu baja tersebut.
"Mundur!" teriak Adrian seraya menekan tombol pemicu.
BOOOOMMM!
Ledakan dahsyat menghancurkan engsel pintu baja, melempar daun pintu seberat satu ton itu ke dalam. Udara malam yang dingin menyergap wajah mereka saat mereka melangkah masuk ke dalam helipad bawah tanah yang raksasa.
Di tengah helipad, sebuah kapal udara siluman berukuran raksasa berwarna hitam legam sedang menyalakan mesin pendorong utamanya. Pusaran angin kencang berhembus hebat memutarkan debu di sekeliling mereka.
"Lihat! Tangga evakuasi kapal udara itu belum sepenuhnya tertutup!" tunjuk Baskara seraya menahan tubuhnya dari hembusan angin mesin jet.
Di atas tangga evakuasi kapal udara yang perlahan terangkat naik, Eleanor berdiri seraya memeluk sang bayi erat-erat, menatap dingin ke arah Adrian yang berlari kencang di bawahnya.
"Kalian terlalu lambat, Cucuku!" seru Eleanor menembus deru mesin jet. "Dunia ini milik Konsorsium sekarang!"
"ANINDYA!" teriak Adrian seraya melompat melepaskan seluruh sisa tenaganya dari pinggir landasan helipad!
Tangan Adrian berhasil mencengkeram besi paling bawah dari tangga evakuasi kapal udara tepat ketika kendaraan siluman itu meluncur deras menembus kegelapan langit malam!
"Adrian!" jerit Anindya dari balik jendela kaca rapat kapal udara.
DOR! DOR! DOR!
Tiba-tiba, dari dalam bagian bawah kapal udara yang melayang ratusan meter di udara, dua pilar penembak otomatis keluar secara mekanis dan mengarahkan moncong senjata gatling bertenaga tinggi tepat ke posisi Adrian yang bergelantungan bebas di udara!