Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

​Pukul 06:35 WIB, terdengar suara langkah kaki yang diseret dan tawa cengengesan dari arah gerbang belakang. Tono dan Bono, dua anggota geng tingkat bawah, berjalan santai sambil memegang es teh plastik dan sebungkus camilan. Seragam mereka dikeluarkan, kancing kerah terbuka tiga, dan rambut mereka acak-acakan.

​"Woy, Bos! Bang Dion! Sori telat, tadi kita mampir beli sarapan dulu di depan," sapa Tono tanpa rasa bersalah. Ia bahkan mengangkat kantong plastiknya ke udara. "Bos mau es teh nggak?"

​Bella tidak menjawab, ia membuka buku catatan hitamnya, mencabut tutup penanya, dan mulai menulis dengan kecepatan tinggi. ​Dion yang melihat itu menelan ludah, ia tidak pernah melihat Bella memegang pulpen selain untuk mencorat-coret meja kelas. ​Setelah selesai menulis, Bella merobek dua lembar kertas dari buku catatannya. Ia berjalan menghampiri Tono dan Bono dengan langkah tegap berirama, begitu ia berdiri di hadapan mereka, Tono dan Budi akhirnya menyadari perubahan drastis pada bos mereka.Tawa mereka langsung mati di tenggorokan.

​"B-Bos... lo... lo sakit?" gagap Bono.

​"Saya dalam kondisi sangat sehat, Budi," kata Bella, ia menyodorkan satu lembar kertas ke dada Budi, dan satu lagi ke dada Tono. "Ambil ini."

​Dengan tangan gemetar, Tono dan Bono mengambil kertas tersebut. Di kertas itu, terdapat tulisan tegak bersambung yang sangat rapi, terbaca seperti sebuah dokumen legal resmi:

...​SURAT PERINGATAN PERTAMA (SP-1)...

...Nama: Tono / Budi...

...Jabatan: Anggota Lapangan...

...Pelanggaran:...

...​Keterlambatan melebihi batas toleransi SLA (20 menit)....

...​Ketidakpatuhan terhadap instruksi pimpinan (Insubordinasi)....

...Sanksi Administratif: Teguran Tertulis Tahap 1....

​"Apaan nih, Bos? Surat Peringatan? Kayak anak SD aja main surat-suratan!" Tono mencoba tertawa, namun tawanya terdengar sumbang karena ditatap oleh mata Bella yang segelap obsidian.

​"Itu bukan lelucon, Tono," suara Bella membelah udara pagi seperti cambuk. "Dalam struktur organisasi yang baru, kita menerapkan sistem poin pelanggaran. Dokumen yang kalian pegang adalah Surat Peringatan Pertama, atau dalam istilah manajemen disebut SP-1." ​Bella memutar tubuhnya, menghadap ke keempat anggota geng tersebut. Ia berbicara layaknya seorang CEO di depan rapat dewan direksi.

​"Dengar baik-baik, karena saya tidak akan mengulanginya. Mulai detik ini, Geng Bone Breakerz tidak lagi beroperasi sebagai kumpulan preman kampungan tanpa arah. Kalian adalah staf saya. Saya adalah pimpinan eksekutif kalian. Aturan mainnya telah berubah."

​Bella mengangkat satu jari. "Satu. Jika kalian melakukan pelanggaran indisipliner ringan, seperti terlambat atau membolos tanpa surat sakit, kalian akan menerima SP-1. Jika diulangi, SP-2."

​Ia mengangkat dua jari. "Dua. Jika kalian mencapai SP-3, atau melakukan pelanggaran berat seperti memalak siswa lain, mencuri, atau memicu tawuran tanpa analisis risiko dari saya, kalian akan menghadapi proses Terminasi."

​"Terminasi? Dibunuh maksud lo?!" Rindi berteriak panik, memeluk tas ranselnya erat-erat.

​Sarah menghela napas panjang dalam tubuh Bella. Minimnya literasi kosakata anak-anak ini adalah tantangan komunikasi yang serius.

​"Terminasi artinya Pemutusan Hubungan Kerja, Riko. Dipecat dari organisasi ini. Dikeluarkan." Bella menatap mereka satu per satu. "Dan jika kalian dikeluarkan, kalian kehilangan segala bentuk fasilitas dari saya. Tidak ada lagi uang nongkrong, tidak ada lagi dana talangan untuk rokok kalian, tidak ada lagi perlindungan dari geng lain, dan tidak ada lagi yang membayar tagihan kalian di warung Mang Asep. Akses kapital kalian akan saya bekukan secara permanen."

​Kalimat terakhir itu menghantam Dion, Rindi, Tono, dan Budi seperti pukulan telak di ulu hati. Loyalitas mereka selama ini memang dibangun di atas fondasi uang saku Bella yang tak berseri. Tanpa dana dari Bella, mereka tidak bisa nongkrong, tidak bisa bergaya, dan yang paling parah, mereka akan menjadi sasaran empuk geng-geng lain karena kehilangan pelindung finansial mereka.

​"Bos, lo nggak bisa gitu dong!" protes Dion maju selangkah. Wajahnya memerah. "Kita ini keluarga! Brotherhood! Lo nggak bisa mecat kita pakai sistem poin kayak guru BP (Bimbingan Penyuluhan)!"

​"Keluarga adalah orang-orang yang saling meningkatkan value (nilai), Dion, bukan parasit yang menyedot sumber daya satu sama lain," balas Bella tanpa berkedip, mematahkan argumen Dion dalam hitungan detik. "Kalian bergantung pada saya secara finansial. Itu adalah fakta empiris. Jika kalian ingin tetap menerima aliran dana dari kas saya, kalian harus bekerja sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) yang saya tetapkan. Ini adalah transaksi bisnis. Apakah itu cukup jelas?"

​Keempat remaja itu terdiam, hati nurani pemberontak mereka ingin marah dan pergi, namun logika perut dan dompet mereka memaksa kaki mereka tetap terpaku di aspal. Bella benar. Tanpa subsidi dari Bella, geng ini akan runtuh dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

​"Jelas atau tidak?!" bentak Bella, kali ini menyuntikkan otoritas dan proyeksi suara maksimal dari diafragma, teknik yang biasa ia gunakan untuk menundukkan manajer serikat buruh yang membandel.

​"J-Jelas, Bos!" sahut Tono dan Bono serempak, otomatis berdiri tegak layaknya prajurit. Dion dan Riko hanya bisa mengangguk pasrah sambil mengatupkan rahang.

​"Bagus. Sekarang, simpan SP-1 kalian sebagai pengingat. Kita masuk ke agenda utama Morning Briefing hari ini, Pembagian Job Description dan restrukturisasi organisasi."

​_____

Jangan lupa like, komen, dan nilai ya guys. Kritikan dan saran juga di terima asal menggunakan bahasa yg sopan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!