Indonesia
NovelToon NovelToon
Monica'S Magic!

Monica'S Magic!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Akademi Sihir
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: Bintang star_nrl22

​Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.

​Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Tiga Cermin

Keberhasilan menguasai Sirkulasi Resonansi tidak membuat Kepala Sekolah Alaric membiarkan Tim Vanguard beristirahat. Justru sebaliknya, ritme latihan dipacu dua kali lebih berat.

Di bawah Menara Bayangan, Alaric membimbing mereka menuju sebuah pintu batu raksasa berukir tiga wajah tanpa mata—gerbang menuju Labyrinth of Reflection.

"Kalian sudah berhasil menyatukan energi sihir," ujar Alaric seraya menyentuh ukiran pintu tersebut hingga mengeluarkan pendaran perak. "Namun, Ordo Umbra tidak hanya menyerang tubuh dan mana kalian. Mereka adalah ahli dalam memanipulasi ketakutan, rasa bersalah, dan celah tergelap di dalam jiwa."

Pintu batu bergeser perlahan, memuntahkan udara dingin beraroma lavender dan besi yang aneh.

"Di dalam labirin ini terdapat Tiga Cermin Jiwa," lanjut Alaric, matanya menatap tajam ke arah Monica.

"Setiap cermin akan memancarkan trauma dan ketakutan terbesar kalian. Jika satu saja dari kalian goyah dan terhisap oleh ilusi cermin, seluruh tim akan terjebak di dalam dimensi hampa selamanya."

"Apakah ini bagian dari syarat untuk menguasai sihir tingkat tinggi?" tanya Kazuma seraya membetulkan letak kacamatanya.

"Ini adalah syarat mutlak," jawab Alaric tegas. "Sihir kegelapan Ordo Umbra mencari retakan di dalam hati kalian. Jika hati kalian utuh, sihir mereka tidak akan mempan."

Monica menoleh ke arah empat rekannya. Reno menyeringai meski ada sedikit rasa tegang di matanya; Elena memegang busurnya erat-erat; Danis mengangguk pelan; sementara Kazuma menarik napas dalam-dalam.

"Kita masuk bersama, kita keluar bersama," tegas Monica, meremas tongkat safirnya yang kini memancarkan pendar emas stabil.

Langkah kaki mereka bergema saat memasuki ruang labirin yang berdinding kristal hitam. Tanpa peringatan, udara di sekitar mereka membeku, dan permukaan kristal di sekeliling berubah menjadi permukaan air yang beriak.

Cermin Pertama: Cermin Masa Lalu.

Seketika, pandangan mereka terpecah. Monica mendapati dirinya berdiri di tengah reruntuhan desa masa kecilnya yang terbakar api hitam—insiden kelam yang pertama kali membangkitkan bakat sihir alaminya. Di hadapannya, sosok bayangan dirinya di masa kecil menangis histeris di samping puing-puing rumah.

"Ini semua salahmu, Monica..." bisik suara gaib dari cermin kristal. "Jika saja kau tidak memiliki sihir ini, mereka semua akan selamat."

Dada Monica terasa sesak. Rasa bersalah yang telah lama ia kubur di dasar hatinya mendadak mencuat, mencoba menarik kesadarannya ke dalam kegelapan kristal. Di sisinya, ia bisa melihat Elena berlutut memegangi kepalanya, sementara Reno mengepalkan tangan dengan wajah penuh penderitaan, terbayang akan kegagalannya melindungi keluarganya di masa lalu.

"Jangan dengarkan!" teriak Monica, suaranya membelah keheningan ilusi.

Ia melangkah mendekati bayangan masa kecilnya. Bukannya berpaling atau menangis, Monica justru merangkul bayangan kecil itu. "Masa lalu adalah alasan aku berdiri di sini hari ini. Aku tidak akan melarikan diri lagi!"

PRANG!

Cermin kristal di depan Monica retak dan hancur berkeping-keping. Cahaya biru murni terpancar dari dada Monica, menjangkau dan memutus rantai ilusi yang mengikat Elena, Reno, Kazuma, dan Danis. Satu per satu dari mereka tersadar dari cengkeraman trauma masa lalu, menyapu keringat dingin di dahi masing-masing.

"Terima kasih, Ketua..." desis Reno, napasnya memburu. "Hampir saja aku tersedot ke dalam ingatan sialan itu."

"Tetap waspada, masih ada dua cermin lagi," peringat Danis, belatinya sudah bersiap di tangan.

Mereka melangkah lebih dalam menuju ruang tengah labirin, tempat dua cermin raksasa berikutnya menanti. Monica membetulkan kuncir kuda rambut hitamnya, merasakan bagaimana setiap hambatan mental yang berhasil ditaklukkannya justru membuat aliran mana dalam tubuhnya terasa makin murni dan tajam. Mereka semakin dekat untuk menjadi benteng pertahanan yang tak tertembus.

1
Al Dede
INI NOVEL MAKIN DI UP MAKIN GACORRRR
Al Dede
novel ini srru bsnget mencrtkn tentsng anak yang pantanv menyerah+akademi sihir,sihir dia terkuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!