"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANGGILAN PANIK DAN HAK MILIK
Isma melangkah pelan memintasi ruang utama. Gemerlap lampu gantung minimalis membiaskan cahaya hangat, menerangi setiap sudut rumah yang beraroma kayu segar dan cat baru. Di ruang tengah, sebuah sofa kain berwarna abu-abu elegan sudah terpasang rapi, dipadu dengan meja kaca simpel dan karpet tebal yang empuk di bawah pijakan kakinya.
Pak Danu dan tim dekorasi rupanya telah menyelesaikan penataan interior dasar sesuai instruksi yang Isma berikan minggu lalu. Di area dapur bersih, kabinet bermotif marmer putih tampil berkilau, lengkap dengan kompor tanam dan kulkas dua pintu yang siap digunakan. Semuanya tertata sempurna, mencerminkan ketenangan dan kelas yang selama ini terenggut saat ia berada di bawah atap rumah mertuanya.
Isma menyusuri tangga menuju lantai dua, tempat kamar utamanya berada. Kasur king-size bertutup seprai linen putih bersih menyambutnya. Tanpa beban, Isma menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu. Tidak ada lagi bentakan Ibu Lestari, tidak ada sindiran Aini, dan tidak ada lagi sosok Yoga yang sibuk memanipulasi dan membohonginya.
Ia mengambil ponsel sekundernya dari tas, menatap layar yang menampilkan berkas-berkas rekaman perselingkuhan yang sudah tersusun rapi dalam format digital. Isma mengusap layar itu pelan.
"Semua sudah selesai, Yoga," bisik Isma pada keheningan kamar barunya.
Di rumah tua itu, Yoga mungkin sedang beranggapan bahwa Isma akan kembali dalam keadaan menyerah dan memohon ampun. Pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa malam ini adalah malam terakhir Isma berstatus sebagai pelengkap di hidupnya. Besok pagi, saat matahari terbit, lembaran gugatan hukum dan bukti perselingkuhan akan melayang tepat ke tangannya, meruntuhkan seluruh kesombongan yang selama ini ia banggakan.
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar lantai dua, membiaskan cahaya hangat di atas ranjang empuk Isma. Isma terbangun dengan perasaan amat ringan. Tidak ada alunan bentakan dari luar kamar, tidak ada omelan soal sarapan, dan tidak ada lagi wajah berpura-pura dari pria yang selama ini menjadi suaminya.
Di atas meja samping tempat tidur, ponsel utama Isma tak berhenti bergetar dan menyala. Layarnya menampilkan puluhan panggilan tak terjawab dari Yoga, disusul belasan notifikasi pesan WhatsApp yang masuk bertubi-tubi.
“Isma, kamu di mana?! Kenapa semalam tidak pulang?!”
“Isma, angkat telepon aku!”
“Isma, kunci mobil baru ada di kamu kan? Aku ada rapat penting pagi ini jam 9, aku butuh mobil itu! Buruan pulang atau kasih tahu kamu ada di mana!”
Isma duduk bersandar di kepala ranjang seraya menyesap secangkir teh hangat yang baru ia seduh di dapur barunya. Ia membaca setiap pesan itu dengan senyum sinis yang mengembang di bibirnya.
Enak saja, batin Isma dingin. Aku yang beli pakai uangku sendiri, kamu yang mau pakai buat pamer dan jemput selingkuhanmu.
Tanpa berniat membalas sepatah kata pun, Isma menekan tombol mute pada panggilan Yoga dan mengabaikan seluruh pesan tersebut. Ia membiarkan suaminya kewalahan dan panik mencari kendaraan untuk pergi ke kantor.
Tepat pukul sembilan pagi, pintu gerbang rumah baru Isma ketuk pelan. Isma melangkah turun dan membukanya. Di sana sudah berdiri pengacaranya, Pak Lukman, membawa sebuah map tebal berisi berkas gugatan perceraian resmi serta seluruh lampiran bukti perselingkuhan yang telah dicetak rapi.
"Semua berkas gugatan sudah terdaftar di Pengadilan Agama pagi ini, Bu Isma," ujar Pak Lukman tegas seraya menyerahkan salinan berkas tersebut. "Surat panggilan sidang beserta salinan bukti video dan percakapan akan diantarkan langsung oleh jurusita ke alamat rumah suami Ibu siang ini."
Isma menerima map itu, menatap nama Yoga Pratama sebagai pihak tergugat di lembar pertama.
"Terima kasih banyak, Pak Lukman," balas Isma tenang. "Mari kita lihat, bagaimana Mas Yoga dan keluarganya menghadapi kejutan siang nanti."