Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara Bayangan dan Keraguan
Aku sampai lebih dulu di depan pagar rumah, disusul Adrian yang mengekor di belakang. Aku turun dari motor dan membukakan pagar besi rumahku.
"Masuk dulu yuk, Mas," tawarku padanya.
"Boleh," jawabnya.
Aku kembali menaiki motor dan melajukannya masuk ke halaman. Setelah memarkirkan motor di garasi, aku merogoh tas untuk mencari kunci rumah.
"Kok dikunci? Rumah lagi enggak ada orang?" tanya Adrian memperhatikan gerak-gerikku.
"Kalau masih dikunci gini, biasanya Ibu belum pulang, Mas," jawabku seraya memutar kunci pintu.
"Ibu kamu kerja?"
Aku mendorong pintu kayu yang mulai terbuka, lalu mempersilakan Adrian masuk. "Masuk, Mas. Ibu punya toko grosir ruko di pasar. Biasa berangkat subuh dan pulang malam, atau kadang malah enggak pulang."
"Ayah kamu?" tanyanya lagi penasaran.
"Ayah di Bandung, Mas. Dia kontraktor di sana. Beberapa tahun belakangan Ayah jarang pulang, paling cepat tiga bulan sekali. Kadang Sera yang nyusul ke Bandung kalau lagi libur sekolah," terangku santai.
Adrian menatapku cermat. "Maaf, Sera... Orang tua kamu bercerai?" tanyanya berhati-hati.
Aku menghela napas panjang. "Maunya Sera juga begitu, Mas. Tapi enggak tahu lah... Yang pasti status mereka masih suami istri. Duduk, Mas," ajakku mengalihkan pembicaraan.
Adrian duduk di sofa ruang tamu, matanya menyapu sekeliling ruangan yang tergolong sepi. "Sera punya kakak?"
"Punya, dua, cewek semua. Tapi udah diboyong suami-suaminya."
"Kamu anak bungsu?"
"Bisa dibilang begitu," jawabku terkekeh pelan. "Mas mau minum apa? Biar Sera buatin."
"Air putih aja, Ser."
Aku berjalan ke dapur, mengambil gelas, lalu membuka kulkas untuk mengambil satu botol air dingin. Aku menyajikannya di atas meja tamu.
"Makasih, Sera."
Aku membalasnya dengan senyuman tipis.
"Setiap hari kamu sendirian di rumah?" tanyanya lagi.
"Iya, Mas."
Adrian mengangguk-angguk pelan, seolah mulai memahami kesendirian yang kerap kubawa.
Tiba-tiba ia bangkit dan menghampiri bufet kayu di belakang sofa ruang tamu. Matanya meneliti beberapa foto lama yang terbingkai rapi di sana, sebelum jemarinya terulur mengambil satu bingkai foto hitam-putih berukuran kecil.
"Ini... kamu?" tanyanya menunjuk sosok anak kecil di foto itu.
"Iya, itu Sera waktu umur lima atau enam tahun, Mas," jawabku mendekat.
Adrian terdiam cukup lama menatap foto itu. Kemudian, ia merogoh kantong celananya, mengambil ponsel, dan mengarahkan kameranya untuk memotret foto kecilku tersebut.
"Ih, Mas! Kok difoto, sih?" tanyaku heran.
"Fotonya lucu, hehe," jawabnya terkekeh pelan.
Adrian memasukkan kembali ponselnya ke kantong, sementara tangannya masih menggenggam bingkai foto masa kecilku. Matanya kembali menelisik gambarku dengan tatapan yang sulit diartikan.
Setelah puas mengamati, ia mengembalikan foto itu ke tempat semula. Ia kembali duduk di sofa dan mendadak menghening.
"Sera, Mas mau tanya sesuatu boleh?" tanyanya memecah keheningan.
"Tanya aja, Mas."
"Sera pernah tinggal di Bandung?"
Aku menatapnya bingung. "Pernah, Sera lahir di Bandung. Pas mau masuk SD baru pindah ke sini."
"Sera waktu kecil sekolah TK di TK Mentari Ilmu?" tanyanya lagi menuntut.
"Emmm... Lupa, Mas, hehe," jawabku menggaruk kepala yang tidak gatal. "Kenapa sih, Mas? Mas pernah ketemu Sera dulu?"
Adrian menatapku sejenak dengan pandangan dalam, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Enggak... Mas cuma merasa kayak pernah lihat kamu aja."
"Emang Mas pernah tinggal di Bandung?" tanyanya penasaran.
"Pernah. Waktu Ibu Mas meninggal, Ayah memutuskan merantau ke Bandung. Mas ikut, lumayan lama Mas di sana," jawabnya tersenyum tipis.
"Sera..." panggilan itu terdengar sangat lirih. Tiba-tiba jemari hangatnya terulur dan menggenggam tanganku erat.
"Kenapa, Mas?" tanyaku berdebar.
"Assalamualaikum..."
Suara ibuku dari arah pintu depan seketika membuyarkan fokus kami. Kami berdua tersentak kaget, dan Adrian buru-buru melepaskan genggaman tangannya.
"Waalaikumsalam," jawab kami kompak.
"Eh, ada tamu," sapa Ibu ramah menyadari keberadaan Adrian.
"Malam, Tante," sapa Adrian sopan berdiri dari duduknya.
"Bu, kenalin, ini Mas Adrian. Teman Sera," ucapku menengahi.
"Adrian, Tante..." Adrian memperkenalkan diri dengan sangat santun, menyalami dan mencium tangan ibuku.
"Salam kenal ya, Adrian," balas Ibu tersenyum hangat. "Kamu udah makan, Sera?"
"Udah, Bu."
"Syukur kalau begitu. Ibu masuk kamar dulu ya, mau istirahat, capek banget," kata Ibu lalu melangkah pergi menuju kamarnya.
Aku mendapati Adrian masih menatap punggung ibuku yang menghilang di balik pintu kamar dengan raut bingung. Aku menyenggol bahunya pelan. "Mas? Kenapa?"
"Eh? Enggak, Sera. Enggak apa-apa," jawab Adrian terbata-bata. "Sera, Mas pamit pulang ya. Udah malam, enggak enak sama Ibu kamu."
"Yaudah. Mau pamit dulu sama Ibu?" tawarku.
"Jangan, enggak usah. Titip salam aja buat Ibu ya," cegahnya cepat.
Aku mengantar Adrian berjalan menuju halaman rumah. Ia menaiki motor besarnya dan mengenakan helm *full face* hitamnya. Setelah melambaikan tangan singkat padaku, ia memutar gas dan melaju membelah malam. Aku tetap berdiri di depan pagar sampai bayangan motornya benar-benar hilang dari pandangan.
Aku kembali masuk, mengunci pintu, merapikan sisa gelas minum Adrian, lalu menuju kamar. Aku merebahkan tubuh di atas kasur yang empuk.
Hari Sabtu yang sangat menyenangkan... gumamku dalam hati.
Hampir saja aku tertidur karena kelelahan, sampai aku memaksa diri untuk bangun, membersihkan diri, dan berganti pakaian. Selesai mandi, aku meraih ponsel di meja. Layarku penuh dengan notifikasi menyukai dan komentar dari unggahan Naura.
Sialan, dia upload video gue sama Mas Adrian di medsos! batinku menjerit panik.
Aku mengklik video itu dan memperhatikannya kembali. Tampak sosok Adrian yang bernyanyi begitu tenang bersamaku.
"Mas Adrian..." panggilku lirih pada nama itu di dalam hati. Entah apa artinya rasa ini, tapi semuanya terasa di luar kendaliku. Malam itu, aku tertidur lelap membawa bayangnya.
---
Keesokan harinya,
*Tok! Tok! Tok!*
"Sera... Sera..." Ketukan di pintu kamar membangunkan tidur nyenyakku.
"Iya, Bu... Sebentar," jawabku dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ibu berangkat ya. Ibu masakin kamu nasi goreng buat sarapan, dimakan ya, Nak," ujar Ibu dari balik pintu.
"Iya, Bu."
*Tumben Ibu sempat masak,* batinku heran. Karena hari Minggu ini aku tidak memiliki janji dengan siapa pun, aku memutuskan untuk melanjutkan tidur.
Cukup lama aku terlelap kembali, hingga suara ketukan pintu depan rumah kembali terdengar nyaring.
"Duh, siapa sih..." gumamku gusar sambil menutup telinga dengan bantal.
Namun, ketukan itu terus berulang tanpa henti.
"Iya, iyaa! Sebentar!" seruku beranjak keluar kamar dengan gontai.
Aku membuka pintu depan sambil mengucek mataku yang masih berat. Betapa terkejutnya aku begitu melihat sosok yang berdiri tegak di ambang pintu.
Ray.
"Ray?!" seruku melotot kaget. "Kamu... ngapain ke sini?"
"Tadi aku kebetulan lewat. Kamu baru bangun ya? Aku ganggu?" tanya Ray merasa tak enak.
"Eh, enggak kok. Masuk, masuk dulu! Aku mandi sebentar ya," ucapku panik membiarkannya masuk.
Ray melangkah masuk dan duduk di sofa ruang tamu, sementara aku berlari kembali ke kamar untuk bergegas mandi.
*Haduh! Lagian males banget sih jam segini baru bangun, mana belum mandi lagi!* omelku pada diri sendiri di dalam kamar mandi.
Selesai mandi dan merapikan rambut di depan cermin, aku segera keluar menemui Ray.
"Jadi, ada apa, Ray?" tanyaku langsung seraya duduk di sofa sebelahnya.
"Hmm, aku cuma pengin ketemu kamu aja, sebetulnya," jawabnya lirih. "Kamu udah makan? Cari sarapan yuk?"
"Ehmm... Tadi Ibu udah masakin nasi goreng sih. Enggak enak kalau enggak dimakan," jawabku canggung menolak ajakannya.
"Oh... Kalau kita makan bareng gimana? Kamu anterin aku beli sarapan di depan kompleks, terus kita makan bareng di sini?" tawar Ray tak menyerah.
Aku berpikir sejenak. *Lagipula tidak ada salahnya.* "Boleh, yuk."
Aku dan Ray keluar rumah. Aku membonceng motor besarnya menuju penjual bakmi ayam langganan di depan kompleks. Ray memang sangat menyukai bakmi ayam.
"Kamu beneran enggak mau pesan, Ra?" tanya Ray di depan rombong.
"Enggak, kamu aja."
Ia memesan satu porsi bakmi untuk dibungkus, sementara aku menunggu santai. Setelahnya, kami kembali ke rumahku.
Sesampainya di rumah, aku menyiapkan mangkok untuk bakmi Ray, lalu membawa piring nasi goreng buatan ibuku untuk dimakan bersama di ruang tamu.
Melihatnya menyantap bakmi, kenangan lama mendadak berputar kembali. Dulu, setiap hari Minggu, Ray selalu datang pagi-pagi untuk mengajakku *jogging*. Selesainya, kami pasti membeli bakmi favoritnya dan menyantapnya di rumahku persis seperti saat ini.
Sebenarnya, hubunganku dan Ray dulu sangat sehat. Kami saling mendukung; ia selalu mengajariku pelajaran yang belum kupahami—bisa dibilang aku lulus SMP pun ada campur tangan jasanya. Dan ia tahu betul betapa aku menyukai gitar. Dulu saat jam istirahat sekolah, aku sering mengendap-endap ke studio musik hanya untuk memetik senar. Ayah yang pertama kali mengajariku main gitar, dan tanpa kutahu, Ray sering diam-diam memperhatikanku dari luar studio.
Memori itu berputar jelas di kepalaku.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Ray tiba-tiba mengejutkanku kala itu.
"Enggak apa-apa kok, cuma pengin main gitar," jawabku ketakutan saat itu lalu buru-buru pergi menyembunyikan rasa malu.
"Ra..." panggilan Ray membuyarkan lamunanku.
"Hah? Iya, kenapa?" jawabku gugup.
"Aku mau minta maaf sama kamu," ucapnya menatapku lurus.
"Soal apa?"
"Soal malam itu. Maaf... aku egois."
Mendengar kata-kata itu terucap dari mulutnya, ada hal aneh yang kurasakan. Dadaku tidak lagi berdenyut nyeri. Tidak ada rasa sakit, tidak ada amarah. Aku benar-benar sudah merelakan dan menerimanya.
"Enggak apa-apa, Ray. Aku ngerti kok," jawabku sangat santai.
"Kamu enggak akan ngerti, Ra," sergahnya.
"Maksudnya?"
"Enggak... Enggak apa-apa, enggak usah dibahas," jawabnya buru-buru memalingkan muka, seakan menutup-nutupi sesuatu.
"Ya udah," sahutku pasrah.
"Indah enggak marah kalau tahu kamu ada di sini?" tanyaku memecah canggung.
Ray menatapku dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab, "Aku pikir kamu udah tahu kalau aku dan dia udah putus."
"Oh, iya..." jawabku singkat. Anehnya, mendengar kabar putusnya pun tidak memberi pengaruh apa-apa pada perasaanku.
"Kamu udah beda ya, Ra," gumam Ray pelan.
"Maksud kamu?"
Ray hanya diam. Melihat sikapnya yang seolah menyalahkanku, emosiku yang sedari tadi tenang mendadak tersulut tipis.
"Kamu enggak bisa seenaknya bilang orang berubah, Ray... tanpa kamu sadari apa yang udah kamu lakukan ke orang itu!" tegasku menatap matanya tajam.