Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Hati Berubah Arah

Ketika Hati Berubah Arah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:570
Nilai: 5
Nama Author: Fina Indri

Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.

Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.

Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.

Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?

Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percakapan yang Sederhana

Hari hari Almeera kini berjalan dengan jauh lebih tenang. Ia masih menjalani rutinitas kuliahnya seperti biasa mengerjakan tugas dosen, menghabiskan waktu bersama Eliza, dan sesekali datang ke acara kajian.

Proses perubahan di dalam diri Almeera juga masih berlangsung secara perlahan. Ada hari ketika ia merasa sangat bersemangat, tapi ada juga hari ketika ia kembali merasa lelah. Namun, sekarang dia tidak lagi memaksa dirinya untuk langsung berubah dengan cepat. Ia mulai belajar bahwa menjadi pribadi yang lebih baik adalah sebuah proses yang panjang.

Pagi itu, Almeera sengaja datang lebih awal ke kampus. Udara pagi masih terasa sejuk, dan halaman kampus pun belum terlalu ramai oleh mahasiswa.

Almeera melangkah berjalan menuju taman kecil yang berada di dekat gedung fakultasnya. Ia memilih duduk di salah satu bangku panjang sambil membuka buku catatan kecil miliknya.

Beberapa menit kemudian, ada seorang lelaki yang berjalan melewati taman tersebut. Awalnya, Almeera tidak terlalu memperhatikan orang itu. Sampai akhirnya, sebuah suara berat yang sudah mulai akrab di telinganya terdengar menyapa.

"Pagi."

Almeera langsung mengangkat wajahnya. "Eh, Ka Rafael."

Rafael menghentikan langkah kakinya beberapa langkah dari tempat Almeera duduk. "Kamu tumben datang pagi?"

"Iya, nih," jawab Almeera ramah.

"Biasanya sering datang pagi juga?" tanya Rafael lagi.

Almeera langsung tertawa kecil. "Nggak, kok. Ini termasuk kejadian yang sangat langka."

Rafael ikut tersenyum tipis mendengar kejujuran Almeera. "Bagus kalau begitu."

Almeera langsung memaku pandangannya ke wajah Rafael. "Tuh, kan! Kamu bilang kata 'bagus' lagi."

Rafael langsung tertawa pelan. "Ah, maaf. Sudah jadi kebiasaan, sih."

Almeera menutup buku catatan kecilnya. "Kamu sendiri kenapa tumben datang sepagi ini?"

"Ada beberapa urusan tugas akhir yang harus segera diselesaikan hari ini," jawab Rafael.

"Oh, begitu," ucap Almeera mangut mangut.

Suasana di antara mereka sempat kembali hening selama beberapa detik. Namun uniknya, kali ini Almeera tidak merasa canggung sama sekali. Mungkin karena mereka sudah beberapa kali tidak sengaja bertemu, atau mungkin juga karena obrolan mereka selama ini selalu berjalan santai dan sederhana.

"Kamu tadi lagi sibuk membaca apa?" tanya Rafael sambil melirik buku di tangan Almeera.

Almeera melihat buku catatannya. "Cuma catatan biasa aja, kok."

"Catatan materi kuliah?" tebak Rafael.

"Bukan," jawab Almeera singkat.

Rafael menatap wajah Almeera seolah sedang menunggu penjelasan lebih lanjut. Almeera tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya memilih untuk terbuka.

"Lebih tepatnya ini buku catatan pengingat buat diri saya sendiri," jawab Almeera jujur.

Rafael menganggukkan kepalanya paham. "Oh, seperti kalimat kalimat motivasi pengingat diri ya?"

"Iya, betul," jawab Almeera.

Rafael terlihat berpikir sebentar sebelum menyahut, "Itu bagus banget, Meera."

Almeera langsung tersenyum kecil mendengar kalimat itu. "Oke, khusus kali ini saya nggak akan protes kamu bilang kata 'bagus'."

Rafael langsung tertawa lepas. Untuk pertama kalinya, Almeera bisa melihat Rafael tertawa dengan begitu santai dan lepas, tidak seformal biasanya.

Tidak lama kemudian, Almeera kembali membuka buku kecilnya. Di salah satu lembar halaman, matanya tidak sengaja tertuju pada sebuah kalimat tegas yang pernah ia tulis sendiri:

“Jangan pernah terlalu bergantung kepada manusia.”

Rafael tentu saja tidak ikut membaca tulisan pribadi itu. Namun, Almeera tiba tiba saja langsung teringat kembali pada alasan utama mengapa ia sampai menuliskan kalimat tegar tersebut.

Dulu, dia terlalu menggantungkan seluruh kebahagiaan hidupnya kepada sosok Kaizan. Makanya, ketika Kaizan memilih pergi mencampakkannya, Almeera langsung merasa seolah dunianya telah ikut hancur dan hilang total. Sekarang, dia berjanji tidak mau lagi mengulangi kesalahan bodoh yang sama.

"Meera, kamu kenapa? Kok malah melamun?" tanya Rafael membuyarkan lamunan.

Almeera langsung tersentak sadar dari pikiran masa lalunya. "Eh? Nggak, nggak kenapa kenapa kok."

Rafael mengangguk angguk percaya tanpa mau bertanya lebih dalam lagi.

Beberapa menit berlalu, mahasiswa kampus mulai ramai berdatangan. Suasana taman yang tadinya sepi kini berubah menjadi lebih bising. Rafael melirik ke arah jam tangan di pergelangan kirinya.

"Kelas kamu mulai jam berapa, Meera?" tanya Rafael.

"Sekitar tiga puluh menit lagi, sih," jawab Almeera setelah memeriksa ponselnya.

Rafael berdiri dari posisinya. "Kalau begitu, saya pamit duluan ya."

"Mau langsung pergi ke mana?" tanya Almeera refleks.

"Ada urusan yang harus diurus di ruang fakultas depan," jawab Rafael sopan.

"Oh, ya sudah kalau begitu," ucap Almeera mengerti.

Rafael kemudian membalikkan badannya untuk melangkah pergi. Namun baru berjalan beberapa langkah, dia mendadak menghentikan kakinya, lalu menengok kembali ke arah Almeera.

"Almeera," panggil Rafael lirih.

Almeera menoleh tegak. "Iya, ada apa?"

"Semangat ya kuliahnya hari ini," ucap Rafael tulus sambil tersenyum tipis.

Almeera sempat terdiam terpaku selama beberapa detik mendengar ucapan penyemangat yang simpel itu. Setelah berhasil menguasai dirinya, dia langsung tersenyum kecil. "Iya, terima kasih. Kamu juga semangat ya urusannya."

Rafael mengangguk ramah, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya hingga hilang di tikungan gedung.

Almeera masih memandangi arah kepergian punggung Rafael selama beberapa saat, lalu dia menggeleng gelengkan kepalanya pelan karena heran pada dirinya sendiri. "Eh, kenapa coba aku malah sibuk memperhatikan dia pergi?" gumam Almeera heran.

Ia pun tersenyum kecil menertawakan tingkahnya, lalu kembali fokus membuka buku catatannya.

Aktivitas perkuliahan hari itu berjalan normal seperti biasanya. Almeera fokus mengikuti kelas dosen hingga siang hari selesai. Saat jam istirahat kelas berakhir, Eliza berjalan cepat datang menghampiri meja Almeera.

"Meera, nanti pas pulang kamu mau langsung balik ke rumah?" tanya Eliza.

"Kayaknya iya deh, langsung pulang. Memangnya kenapa, Liz?" tanya Almeera balik.

"Temenin aku pergi ke toko buku yang ada di dekat kampus yuk. Aku mau membeli beberapa alat tulis baru nih," ucap Eliza meminta bantuan.

Almeera tampak berpikir sebentar sebelum mengangguk menyetujui. "Oh, boleh kok. Ayo aku temenin."

Sore harinya, mereka berdua berjalan bersama menuju toko buku tersebut. Suasana di dalam toko buku sore itu tidak terlalu ramai. Eliza langsung sibuk memisahkan diri menuju bagian rak alat tulis untuk memilih barang kebutuhannya.

Sementara itu, Almeera memilih berjalan santai menuju barisan rak yang berisi buku buku pengembangan diri dan buku agama. Ia memperhatikan deretan judul buku yang tersusun rapi di sana.

Tangannya terulur untuk mengambil salah satu buku yang menarik perhatiannya. Namun secara mengejutkan, saat dia baru saja hendak memegang buku tersebut, ada tangan orang lain yang juga terulur di waktu yang hampir bersamaan. Kulit mereka hampir saja bersentuhan.

Almeera yang kaget langsung menarik kembali tangannya dengan cepat. "Eh, maaf!" ucap Almeera spontan karena tidak enak hati.

"Nggak apa apa kok," jawab suara lelaki itu ramah.

Almeera langsung menolehkan wajahnya ke samping untuk melihat siapa orang tersebut. Detik itu juga, matanya langsung membelalak tak percaya.

Ternyata orang itu adalah Rafael.

Almeera spontan langsung tertawa kecil karena merasa situasi ini sangat lucu. "Loh, kita kok bisa ketemu lagi di sini?"

Rafael melirik ke arah buku yang sedang dipegang Almeera, lalu ikut tersenyum. "Iya, nih. Kayaknya takdir kita memang hobi ketemu secara tidak sengaja ya."

Almeera menggeleng gelengkan kepalanya pasrah. "Ini sih namanya sudah terlalu sering ketemunya."

"Ya mungkin karena kita berdua hobi mendatangi tempat tempat yang sama aja, makanya sering berpapasan," jawab Rafael logis dan santai.

Almeera mengangguk angguk setuju. "Iya sih, mungkin aja begitu."

Rafael kemudian memperhatikan genre buku yang sedang dipegang oleh Almeera. "Kamu sekarang lagi suka baca buku buku bertema seperti ini ya?"

"Saya... saya lagi mencoba buat membiasakan diri membaca, sih," jawab Almeera jujur agak malu.

Rafael menganggukkan kepalanya ramah. "Itu bagus banget, Meera."

Mendengar kata itu keluar lagi dari mulut Rafael, Almeera langsung tertawa lepas tanpa bisa ditahan. "Hahaha! Tuh kan, bener. Kamu itu memang kayaknya nggak bisa lepas ya dari kata 'bagus'?"

Rafael ikut tersenyum geli setelah menyadari keteledorannya sendiri. "Iya, nih. Mungkin memang sudah bawaan lahir," jawab Rafael bercanda.

Tidak lama setelah mereka tertawa bersama, Eliza berjalan mendekat sambil membawa keranjang belanjaannya. "Meera, aku sudah selesai memilih alat tulisnya nih," ucap Eliza memberi tahu.

Almeera menoleh lalu mengangguk. "Oh, oke siap."

Eliza kemudian melirik ke samping dan menyadari keberadaan sosok Rafael. "Eh, halo Kak Rafael," sapa Eliza ramah.

"Halo juga," jawab Rafael sopan.

Almeera melihat ke arah jam di dinding toko buku. "Kalau begitu, kita langsung pulang sekarang yuk, Liz?"

"Ayo," jawab Eliza setuju.

Sebelum melangkah berjalan menuju kasir, Almeera menyempatkan diri menengok ke arah Rafael. "Rafael, kalau begitu kita berdua duluan ya."

"Iya, silakan. Hati hati di jalan ya kalian berdua," pesan Rafael ramah.

"Iya, kamu juga ya," sahut Almeera tersenyum. Mereka pun akhirnya kembali berpisah jalan sore itu.

Di sepanjang perjalanan pulang di dalam angkutan umum, Eliza menolehkan wajahnya menatap Almeera dengan senyuman penuh arti. "Meera, dipikir pikir kamu sama Kak Rafael itu kok frekuensi ketemunya sering banget ya belakangan ini. Bahkan sampai di toko buku aja bisa pas pasan."

Almeera hanya bisa tersenyum kecil menanggapi godaan sahabatnya itu. "Iya, bener. Aku sendiri juga baru sadar kalau kita sesering itu ketemu secara tidak sengaja."

Eliza langsung tertawa renyah. "Lucu banget tahu nggak takdir kalian."

Almeera memilih untuk diam tidak membalas lagi ucapan Eliza. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela, menatap ke arah jalanan kota yang padat di depannya.

Ia merenung, ada banyak sekali hal positif yang sudah berubah di dalam lembaran hidupnya selama beberapa bulan belakangan ini. Dulu, dia selalu merasa kalau kehilangan sosok Kaizan adalah akhir dari segala jalan kehidupannya.

Namun sekarang, Almeera akhirnya mulai mengerti satu ilmu kedewasaan hidup yang berharga. Bahwa roda kehidupan ini akan terus berputar maju ke depan. Dan terkadang, di saat kita sudah bisa ikhlas dan berhenti mengejar apa yang telah pergi, Allah justru akan mempertemukan kita dengan banyak sekali hal hal baru yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Hal baru itu datang bukan cuma berbentuk kehadiran seorang manusia baru. Melainkan bisa berwujud sebuah pelajaran hidup yang berharga, proses perbaikan diri menjadi lebih baik, dan tentang bagaimana cara menemukan jalan pulang menuju rida Nya yang sedang ia tempuh saat ini.

Untuk saat ini, Almeera tahu kalau status Rafael di hidupnya masih sebatas seorang kakak tingkat yang beberapa kali tidak sengaja dia temui di kampus. Seseorang baik yang hadir mengisi hari harinya lewat percakapan percakapan sederhana yang santai.

Dan Almeera sendiri sama sekali belum menyadari, bahwa tanpa pernah dia duga sedikit pun, kehadiran yang sederhana dari sosok Rafael itu perlahan lahan mulai melekat dan menjadi bagian penting yang menghiasi hari hari barunya dari sekarang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!