Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Ternyata Dia yang Menghidupi
Aku duduk di samping Sari. Dari bawah pohon, dapur terlihat seperti kotak cahaya di seberang lapangan.
"Di kompleks ini ada tiga jenis perempuan," katanya. "Yang berdiri karena pangkat suami, yang berdiri karena kelompoknya, dan yang berdiri dengan kemampuan sendiri. Kamu jenis ketiga."
"Kedengarannya seperti pujian sebelum kabar buruk."
"Memang." Ia menatap lurus. "Semakin kamu terlihat, semakin banyak orang ingin membuktikan keberhasilanmu cuma karena Pak Bram. Jadi urusan di luar dapur harus lebih hati-hati daripada urusan bumbu."
Aku menceritakan tawaran Sukandar dan peringatan Endah. Sari tidak memotong.
"Simpan tanggal, tempat, dan kata-katanya. Jangan paksa Endah bersaksi sebelum siap. Tapi jangan pernah masuk rumah itu sendirian lagi."
"Bram bilang hal yang sama."
"Untuk sekali ini, Komandan benar."
Kami tertawa pelan. Sari lalu mengulurkan tangan.
"Aku nggak mau cuma jadi orang yang kamu panggil saat darurat. Aku mau berteman."
Aku menggenggamnya. "Saya juga."
"Kalau teman, berhenti pakai `saya` saat cuma berdua."
"Baik. Aku coba."
Ketika kembali ke kamar, Adi menunggu membawa rincian gaji dan penyesuaian tunjangan.
"Mulai bulan ini gaji tetap masuk rekening. Honor per sesi berhenti. Ini juga rekonsiliasi biaya masa ibu susuan."
Aku membaca tabel. Tunjangan resmi ternyata hanya menutup kamar, makan dasar, dan sebagian kecil uang bulanan. Tambahan lauk, peralatan kamar, kunjungan Nala, susu formula, obat Mbah, bahkan selisih honor awal tercatat sebagai pembayaran pribadi tanpa nama pemberi.
"Ini uang Bram semua?"
Adi menatap langit-langit. "Saya disuruh mengarahkan pertanyaan ke Pak Hendra."
"Kalau kamu bohong, telingamu merah."
Ia menutup telinga. "Iya."
Ada bagian yang belum pernah ia ceritakan. Setiap bulan, warung Sumberejo menerima saldo untuk kebutuhan Nala. Mbah diberi tahu itu sisa bantuan desa agar tidak menolak. Sumbernya rekening pribadi Bram.
"Sejak kapan?"
"Sejak minggu pertama Mbak datang."
Kertas di tanganku bergetar.
Aku sudah tahu Bram membeli susu dan obat. Aku belum tahu bahwa hampir setiap piring tambahan yang membuat tubuhku tetap menghasilkan susu, setiap kunjungan kesehatan, dan setiap kaleng di rumah Mbah berasal dari gajinya.
Dia bukan hanya menolong saat keadaan buruk.
Selama berminggu-minggu, dia yang menghidupi kami.
"Kenapa baru sekarang ada rinciannya?"
"Karena gaji tetap harus memisahkan semua komponen. Pak Hendra bilang mulai bulan depan kebutuhan kerja ditanggung pos resmi sesuai aturan. Bantuan kampung yang pribadi tetap terpisah."
Aku menghitung total. Jumlahnya terlalu besar untuk segera kuganti.
"Mbak jangan marah pada Komandan," kata Adi. "Beliau cuma nggak mau Mbak merasa berutang."
"Justru karena disembunyikan, saya baru tahu utangnya sebesar ini."
"Beliau bilang itu bukan utang."
Aku menutup mata. Bram selalu memutuskan bagian mana yang boleh kutahu demi menjaga harga diriku. Niatnya baik, tetapi kebaikan yang terlalu diam juga bisa mengambil hakku untuk memilih.
Aku menyimpan rincian itu. Kami perlu bicara, tetapi bukan di depan Adi.
"Ada satu hal lagi," kata Adi sebelum pergi. "Pak Hendra meminta Mbak menandatangani penerimaan rincian. Bukan pengakuan utang. Hanya bukti bahwa sejak sekarang semua aliran dana sudah terbuka."
Aku membubuhkan nama di kolom paling bawah. Tanganku masih berat, tetapi garis tanda tanganku lurus.
"Kalau kebutuhan Nala bulan depan?"
"Yang termasuk hak keluarga prajurit gugur diajukan lewat jalur resmi. Yang tidak termasuk, Pak Bram bilang keputusan ada pada Mbak. Beliau tidak akan mengirim tanpa sepengetahuan Mbak lagi."
Kalimat itu sedikit melonggarkan simpul di dadaku. Setidaknya Bram mendengar bahkan sebelum aku sempat memprotes. Ia mengubah cara menolong, bukan menghentikan pertolongan.
Setelah Adi pergi, aku membuka kaleng bekas biskuit tempat kusimpan uang. Gaji pertamaku belum banyak terpakai. Aku memisahkan biaya obat Mbah, kebutuhan Nala, dan sedikit uang untuk membeli bahan latihan lomba. Sisanya kutulis sebagai cicilan, meskipun Bram mungkin akan menolak menyebutnya begitu.
Aku tidak ingin membalas kebaikannya dengan menjauh. Aku hanya ingin suatu hari bisa berdiri di sampingnya tanpa merasa seluruh berat tubuhku ditopang oleh satu orang.
Sore hari, kerumunan muncul di papan pengumuman. Selembar tulisan tanpa nama ditempel di bawah jadwal Persit: `Kalau hubungan pribadi dibayar fasilitas, masih bisa disebut prestasi?`
Tak ada nama, tetapi semua kepala menoleh kepadaku.
Tuti merobek kertas itu. "Pengecut. Berani nulis, nggak berani tanda tangan."
"Jangan dibuang," kataku. "Foto dulu, serahkan ke Hendra."
Sari berlari mengambil kamera inventaris kantor. Darman berdiri di depan papan agar tak ada orang menyentuh sisa perekat atau tulisan. Hendra datang beberapa menit kemudian, memasukkan kertas itu ke map bening, lalu mencatat nama orang yang pertama melihatnya.
"Papan ini area fasilitas resmi," katanya kepada kerumunan. "Menempel tuduhan tanpa identitas bukan gosip biasa. Ini pelanggaran tata tertib."
Beberapa perempuan yang tadi berbisik segera berpencar. Ratna tidak terlihat, tetapi seorang anggota kelompoknya berdiri paling belakang dengan wajah terlalu tenang.
"Mau saya minta klarifikasi terbuka?" tanya Hendra.
Aku menggeleng. "Periksa dulu siapa yang punya akses. Kalau saya menjawab sekarang, mereka akan mengubah ini jadi pertengkaran perempuan."
Darman mengangguk. "Besok daftar keluar-masuk dapur dan kantor saya cocokkan. Tulisan ini pakai kertas stok administrasi, bukan kertas warung."
Detail kecil itu membuat tengkukku menegang. Pelakunya bukan sekadar orang iseng yang lewat. Ia tahu letak papan, tahu jadwal sepi, dan punya akses ke gedung.
Aku tidak membela diri di depan kerumunan. Dokumen gaji dan kendaraan sudah jelas. Namun kalimat itu berhasil menemukan celah paling sakit: bantuan Bram memang nyata, dan aku baru mengetahui seluruh besarnya hari ini.
Di kamar, Sena merangkak mengejarku saat aku mondar-mandir menyiapkan air mandi. Ia jatuh terduduk, menepuk lantai, lalu mengangkat kedua tangan.
"Mama lagi pusing," bisikku.
"Ma."
Aku mengangkatnya. Tubuh kecilnya langsung menempel, hangat dan percaya. Tidak ada pertanyaan tentang dari mana datangnya susu, siapa membayar bubur, atau berapa harga tempat aman. Baginya, orang yang datang ketika ia menangis adalah rumah.
Aku mencium rambutnya. "Mama akan tetap jadi rumahmu. Tapi Mama juga harus belajar membangun pintu sendiri."
Seusai mandi, aku memasukkan salinan rincian gaji dan catatan anonim ke dalam map yang sama. Kalau orang lain ingin mengubah hidupku menjadi tuduhan, aku akan menjawab dengan urutan tanggal, angka, dan hasil kerja.
Malamnya, aku berjalan ke tempat cuci untuk membilas popok. Di ujung koridor klinik, seorang perempuan berjas dokter keluar membawa kardus.
Usianya sekitar akhir dua puluhan. Rambutnya tertutup jilbab abu-abu, langkahnya cepat, wajahnya tampak lelah setelah perjalanan.
Kami hampir bertabrakan.
"Maaf," kataku.
Kardusnya miring. Aku membantu menahan.
"Terima kasih. Saya baru pindah, belum hafal belokan," katanya.
Sena yang kugendong terbangun dan menatap perempuan itu.
Dokter tersebut ikut menatapnya.
Wajahnya kehilangan warna.
"Sena?"
Aku berhenti.
Belum ada yang memperkenalkan kami, tetapi perempuan asing itu mengenal anak dalam pelukanku.