Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fahmishodiq Abdullah

Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Proyek percobaan

Skema kerja sama "proyek per proyek" yang diusulkan Dimas resmi disetujui dalam rapat internal Cahaya Abadi Investama minggu itu, meski tidak tanpa perdebatan kecil.

"Ini bakal lebih ribet secara administrasi, Dimas," kata salah satu manajer keuangan senior, menatap proposal yang diajukan Dimas dengan alis berkerut. "Kalau tiap proyek harus dievaluasi ulang satu-satu, kita butuh sumber daya lebih besar buat pantau progresnya."

"Saya paham risikonya, Pak," jawab Dimas, tetap tenang meski dihadapkan pada skeptisisme dari orang yang jauh lebih senior. "Tapi kalau kita paksa skema investasi standar ke klien seperti Alinea, kemungkinan besar kerja sama ini nggak akan pernah terjadi. Mereka butuh rasa aman dulu, baru bisa buka diri ke skema yang lebih besar."

Kirana, yang duduk di ujung meja rapat, mendengarkan perdebatan itu dengan saksama sebelum akhirnya angkat bicara. "Saya setuju sama Dimas. Kadang, fleksibilitas di awal itu investasi jangka panjang buat kepercayaan. Kita coba dulu skema ini untuk tiga bulan pertama. Kalau memang terbukti berhasil, kita jadikan standar baru untuk klien-klien kreatif serupa."

Keputusan itu membuat Dimas menghela napas lega, sekaligus merasakan beban tanggung jawab baru—karena kalau proyek percobaan ini gagal, ia yang harus mempertanggungjawabkannya langsung ke Kirana.

Proyek pertama yang disepakati bersama Alya cukup sederhana: pendanaan terbatas untuk memperluas tim desain Alinea agar bisa menangani proyek klien luar negeri yang sebelumnya terpaksa mereka tolak karena keterbatasan sumber daya.

Dimas mulai rutin mengunjungi studio itu setiap minggu, bukan lagi sebagai tamu formal, melainkan sebagai bagian dari tim yang ikut memantau progres dari dekat—duduk di sudut ruangan, mendengarkan diskusi kreatif tim Alya, sesekali memberi masukan dari sisi bisnis tanpa mengganggu proses kreatif mereka.

"Kamu nggak kayak investor pada umumnya," komentar Alya suatu sore, saat mereka berdua duduk di meja kerja sambil meninjau laporan keuangan bulanan studio. "Biasanya orang finance itu maunya lihat angka doang, nggak peduli proses di baliknya."

"Saya suka tahu konteksnya," jawab Dimas, sambil menunjuk grafik di layar laptop. "Angka itu penting, tapi angka nggak akan masuk akal kalau saya nggak paham kenapa tim desain butuh waktu lebih lama buat satu proyek tertentu, misalnya."

Alya tersenyum kecil, menatap Dimas dengan ekspresi yang mulai berbeda dari kewaspadaan pertemuan pertama mereka. "Kamu beda, Dimas."

Kalimat sederhana itu membuat Dimas merasakan sesuatu yang aneh—bukan sekadar rasa bangga profesional, tapi sesuatu yang lebih personal, yang ia coba abaikan dengan cepat kembali fokus ke laporan di depannya.

Namun, tidak semua orang di tim Alya menyambut kehadiran Dimas dengan hangat. Reza, salah satu desainer senior di Alinea yang sudah bekerja bersama Alya sejak studio pertama kali berdiri, terang-terangan menunjukkan sikap skeptis setiap kali Dimas berkunjung.

"Kita udah pernah kena masalah gara-gara investor sebelumnya," kata Reza suatu hari, sengaja bicara cukup keras agar terdengar oleh Dimas yang sedang duduk tidak jauh dari mereka. "Sekarang kita mau ulangi kesalahan yang sama?"

"Reza," tegur Alya, sedikit kesal dengan komentar terbuka itu. "Dimas udah tunjukkin dia beda. Kasih kesempatan dulu."

"Aku cuma nggak mau kamu kecewa lagi kayak dulu," jawab Reza, nadanya melunak sedikit, meski tatapannya ke arah Dimas masih penuh kewaspadaan.

Dimas memilih tidak membalas komentar itu secara langsung, memahami bahwa kekhawatiran Reza cukup beralasan mengingat pengalaman buruk studio ini di masa lalu. Sebagai gantinya, ia berusaha membuktikan komitmennya lewat tindakan, bukan kata-kata—memastikan setiap laporan yang ia berikan transparan, setiap keputusan investasi didiskusikan dulu dengan Alya sebelum dieksekusi, tanpa sekali pun mencoba mengintervensi arah kreatif studio.

Tiga minggu berjalan, proyek ekspansi tim desain Alinea mulai menunjukkan hasil positif. Mereka berhasil menerima dua proyek internasional baru yang sebelumnya harus mereka tolak karena keterbatasan tim, dan pendapatan studio meningkat signifikan tanpa harus mengorbankan gaya desain khas yang selama ini jadi identitas Alinea.

Dalam rapat evaluasi bulanan di kantor Cahaya Abadi Investama, Dimas mempresentasikan hasil kerja sama itu dengan bangga di depan Kirana dan jajaran manajemen lainnya.

"Pendapatan naik 40 persen dalam tiga minggu, tanpa mengubah struktur kreatif mereka sama sekali," kata Dimas, menunjuk grafik pertumbuhan di layar proyektor. "Ini membuktikan skema fleksibel yang kita coba benar-benar bekerja untuk klien tipe kreatif seperti ini."

Kirana mengangguk puas, tersenyum kecil melihat presentasi Dimas yang jauh lebih percaya diri dibanding tiga tahun lalu, saat pertama kali ia direkrut sebagai analis magang yang gugup di ruko kecil berdebu.

"Bagus sekali, Dimas," katanya. "Saya rasa kita bisa jadikan skema ini standar baru untuk klien-klien industri kreatif ke depannya. Kamu yang pimpin tim khusus untuk itu."

Kabar promosi tidak resmi itu membuat Dimas merasa campur aduk antara bangga dan sedikit gugup—tanggung jawab baru berarti waktu yang lebih banyak dihabiskan mengembangkan skema ini, yang secara tidak langsung berarti lebih sering berhubungan dengan Alya dan timnya.

Sepulang rapat, Dimas mengirim pesan singkat ke Alya, mengabarkan hasil evaluasi yang positif itu.

"Bu Kirana setuju jadikan skema kita standar baru. Makasih udah kasih kesempatan, Alya."

Balasan Alya datang beberapa menit kemudian, disertai emoji senyum kecil yang jarang ia gunakan dalam percakapan formal sebelumnya.

"Harusnya aku yang makasih. Kamu buktiin nggak semua investor sama. Mau rayain kabar baik ini? Kebetulan aku lagi di kafe deket kantor kamu."

Dimas menatap pesan itu lama, merasakan sesuatu yang berdebar berbeda dari biasanya. Ia mengetik balasan singkat, mencoba terdengar santai meski jantungnya sendiri terasa lebih cepat dari biasanya:

"Boleh. Aku ke sana sekarang."

Ia meraih jaketnya, berjalan keluar kantor dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya, tanpa sepenuhnya menyadari bahwa hubungan profesional yang ia bangun dengan hati-hati selama tiga minggu terakhir ini, perlahan mulai bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih personal dari sekadar urusan investasi dan laporan keuangan.

1
sunaryati jarum
Semoga segera dapat cari solusi atau pilihan
sunaryati jarum
Pinter Kirana , sesuai dengan cara kerjamu berinvestasi, pemikiran Alya
sunaryati jarum
Selamat sudah sukses Kirana
sunaryati jarum
Bagus Kirana,kamu tidak menyimpan dendam,Itu membuat.langkah kamu meniti karir lebih ringan
sunaryati jarum
Belum.bisa menguasai Rangga sudah jatuh. Tanpa melakukan apapun sudah ada yang membahas Kirana.Yang bukan Kam atau perubahan kamu yang membuatnya
sunaryati jarum
Baru bertunangan kok sudah satu rumah dan ada rekening bersama
sunaryati jarum
Cara kotor yang kamu gunakan untuk menjatuhkan Kirana yang tetap berdiri kokoh akan menghancurkan dirimu sendiri, Vania
sunaryati jarum
Semoga segera ketahuan jika Vania pelakunya
sunaryati jarum
Perkataan telak menghunjam hati Rangga jika merasa, diceraikan malah berterimakasih.Dulu di keluarga kamu meremehkan Kirana orang biasa tidak bisa apa- apa tidak selevel dengan Vania.
sunaryati jarum
Ikutilah hasil pengalaman ayahmu, semoga merupakan langkah menuju keberhasilan,Kirana
sunaryati jarum
Selalu berkembang dan merambah ke usaha lain yang butuh suntikan dana dan pengembangan pemasaran,semoga semua berhasil.Untuk Rangga siap- siap perusahaan kamu ditinggalkan investor karena mengikuti Vania yang tidak tahu apa- apa.
A-iwak
ok akan di lanjutkan
sunaryati jarum
Kamu jeli Kirana, pertahankan walau perusahaan sudah besar nanti tetep teliti
sunaryati jarum
Sukses Kirana
sunaryati jarum
Mungkin yang memiliki masalah kesuburan Rangga.Emak baru mampir Thoor /Heart//Heart//Heart/
Kumbang di taman
Kirana, sebuah nama yang indah
Kumbang di taman
semangat selalu 😍
A-iwak: terimakasih atas kunjungannya
total 1 replies
Kumbang di taman
sukses selalu Author 👍
Kumbang di taman
sangat menarik
Adinda
toko utamanya Kirana atau dimas Dan alya,kalau bisa libatkan toko pemeran utamanya Dan tokoh yang jadi pendamping hidup Kirana,jadi ceritanya makin seru.
A-iwak: ok kak masukan saya terima kak,makasih atas masukan dan sarannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!