Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Dengan Bos Mafia

Cinta Terlarang Dengan Bos Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.

​Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.

​DOR!

​Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANGGILAN DI TENGAH PERJALANAN

Setelah Haidar berpamitan dengan alasan harus menyelesaikan beberapa urusan bisnis mendesak, Elara melangkah turun menuju ruang makan. Meja makan sudah terhidang rapi dengan pelayan yang menyambutnya penuh hormat. Meski suasana mansion terasa tenang, perasaan janggal dan gelisah yang sempat hinggap di dadanya sejak terbangun tadi tak kunjung sirna.

​Elara menyelesaikan sarapannya dengan perlahan, berusaha mengusir prasangka buruk yang terus berputar di kepalanya. Selesai makan, ia berdiri dan melangkah ke meja bar dapur untuk mengambil segelas air putih dingin guna menenangkan pikirannya.

​Namun, saat tangannya meraih gelas kaca tersebut, mendadak jemarinya terasa lemas dan gemetar hebat.

​PRANG!

​Gelas kaca tebal itu terlepas dari genggamannya, menghantam lantai marmer yang keras dan hancur berkeping-keping. Pecahan kaca tajam berserakan ke segala arah.

​"Nyonya!" seru salah seorang pelayan yang langsung berlari mendekat dengan wajah panik.

​"Aww!" Elara meringis kesakitan, refleks mundur satu langkah.

​Ia menduduk dan melihat pecahan kaca yang tajam telah menggores bagian atas jari kakinya. Darah segar berwarna merah pekat mulai merembes keluar, menetes dan menodai lantai marmer putih di bawahnya.

​"Nyonya Elara, Anda terluka! Astaga, mari saya bantu duduk dahulu!" ucap pelayan itu tegang, segera mengambil kotak P3K.

​Elara menatap tetesan darahnya sendiri dengan pandangan kosong. Rasa sakit di jari kakinya tak sebanding dengan rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Menurut kepercayaan yang sering diucapkan ibunya, gelas yang pecah tanpa alasan hingga melukai diri sendiri adalah pertanda buruk bagi orang terdekat.

​"Ibu... Ayah..." bisik Elara lirih dengan bibir yang mendadak memucat, firasat buruk seketika menguasai seluruh pikiran dan hatinya.

​"Kenapa perasaanku gelisah seperti ini?" bisik Elara pada dirinya sendiri, meremas jarinya yang sudah terbalut perban tipis. Dada yang terasa makin sesak dan firasat buruk yang menggebu memaksanya untuk segera bertindak.

​Tanpa memedulikan rasa nyeri yang masih berdenyut di kaki kanannya, Elara bergegas melangkah naik menuju lantai dua. Ia setengah berlari memasuki kamar utama, mengabaikan seruan cemas dari para pelayan yang memperhatikannya di lorong.

​Dengan tangan yang gemetar, Elara menyambar ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Nama "Ibu" langsung ia tekan. Ia menempelkan ponsel itu rapat-rapat ke telinganya, menanti dengan dada berombak cepat.

​Tut... Tut... Tut...

​Nada sambung berdering berulang kali, namun tak ada satu pun suara yang menyapa di seberang sana. Panggilan pertama terputus otomatis.

​"Ayo, Bu... Angkat..." gumam Elara dengan bibir yang makin memucat.

​Ia mencoba menelpon ponsel ayahnya, namun hasilnya sama saja—hanya dering panjang yang berakhir dingin tanpa jawaban. Rasa cemas yang tadinya hanya sebatas firasat kini menjelma menjadi kepanikan yang nyata. Orang tuanya tak pernah mengabaikan telepon darinya, terlebih di pagi hari seperti ini.

​Elara menggenggam ponselnya erat-erat, air mata kecemasan mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia sadar, ketenangan mansion dan senyuman Haidar pagi ini menyimpan sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya.

​Di dalam iring-iringan mobil hitam yang melaju cepat membelah jalanan pinggiran kota, aura di dalam SUV utama terasa amat dingin dan menekan. Haidar duduk di kursi belakang dengan rompi anti-peluru melingkupi dadanya. Tangannya sibuk memeriksa magazin senjata api, sementara pandangannya terkunci pada peta lokasi penyekapan yang terpampang di tablet milik anak buahnya.

​"Satu kilometer lagi kita sampai di lokasi, Bos. Musuh menyiagakan sekitar dua puluh personel berkulit baja di luar gudang," lapor kepala keamanan dari kursi depan.

​"Tumpas mereka tanpa sisa. Jangan beri celah sedikit pun," perintah Haidar dingin tanpa keraguan.

​Namun, ketegangan di dalam mobil mendadak pecah saat ponsel pribadi Haidar di saku jasnya bergetar nyaring. Nama "Elara" tertera di layarnya. Haidar memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk menetralkan nada suaranya yang penuh intimidasi menjadi selunak mungkin.

​Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Ya, Sayang? Ada apa? Kau baik-baik saja di rumah?"

​"Haidar..." suara Elara di seberang sana terdengar bergetar hebat, diiringi isakan tangis yang berusaha ditahan. "Perasaanku tidak enak sekali... Tadi gelas pecah dan kakiku tergores. Aku menelpon Ibu dan Ayah berkali-kali tapi sama sekali tidak diangkat..."

​Haidar mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah pada musuhnya sekaligus rasa bersalah karena harus menyembunyikan kenyataan ini dari sang istri.

​"Haidar, jujur padaku... Apa terjadi sesuatu pada orang tuaku?" bisik Elara penuh keputusasaan.

​Haidar memandang keluar jendela, melihat bangunan gudang tua yang sudah mulai tampak di kejauhan. Waktunya sudah makin mendesak.

​"Dengar denganku, Elara," ucap Haidar dengan nada rendah, penuh wibawa dan ketegasan yang menghanyutkan. "Jangan berpikiran buruk. Orang tuamu baik-baik saja, mungkin ponsel mereka tertinggal saat keluar rumah. Percayalah padaku. Sekarang, tunggu aku di rumah dan biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku, paham?"

​Tanpa menunggu balasan istrinya yang makin panik, Haidar memutus panggilan secara sepihak. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu menatap lurus ke depan dengan kilatan mata pembunuh yang telah sepenuhnya menyala.

​"Serbu tempat itu sekarang," titah Haidar mutlak.

1
Ira safitri
sangat bagus 🥰🥰
Waaaaaa_: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!