Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Tak Disengaja
Beberapa hari berlalu sejak Zevanna mengetahui lowongan kerja di Verion Group.
Ujian kelulusan semakin dekat, tapi Zevanna tetap menjalani aktivitas sekolah seperti biasa.
Siang ini Zevanna dan Tisha sedang berada di rumah Zevanna. Orang tuanya sedang pergi bekerja di perusahaan mereka masing-masing.
"Zev, lo beneran mau kerja di Verion Group?" tanya Tisha memecah keheningan di dalam kamar.
Zevanna menoleh, menatap sahabatnya itu lekat-lekat. "Beneran lah, masa gue bohong! Gue mau cari tahu soal kematian Kak Zoyya di sana."
Tisha menghela napas, wajahnya terlihat cemas. "Tapi... gue takut, Zev."
"Takut apa sih lo?" tanya Zevanna mengernyit.
"Takut nanti kita ketahuan kalau kita masuk ke sana cuma mau cari-cari sesuatu doang," jawab Tisha jujur.
"Ya makanya jangan sampai ketahuan lah! Pokoknya lo harus tetep bantuin gue buat cari buktinya nanti," kata Zevanna menyakinkan.
"Kalau misalnya kita nggak nemuin buktinya sama sekali gimana, Zev?"
Zevanna terdiam sejenak. Sorot matanya menajam. "Pasti ada bukti di sana. Sekecil apa pun, pasti ada."
Tisha mengangguk pasrah. "Terus... nanti kita melamar dan interview-nya barengan kan?"
"Iya, barengan aja biar cepet selesai. Gue udah nggak sabar mau masuk ke sana," jawab Zevanna mantap.
"Oke, kalau gitu."
Zevanna tersenyum tipis lalu kembali fokus menatap buku pelajarannya. Namun di kepalanya, tumpukan pertanyaan tentang Kak Zoyya masih berputar hebat.
Setelah beberapa menit hening.
"Tis," panggil Zevanna.
Tisha mendongak. "Apa?"
"Gue masih kepikiran banget soal Kak Zoyya."
Tisha mengernyitkan kening. "Lo kepikiran apa lagi emangnya?"
"Kak Zoyya waktu berangkat kerja masih sehat. Tapi malamnya tiba-tiba dikabarin meninggal karena jatuh di toilet." Zevanna berhenti sebentar. "Terus gue lihat ada luka goresan di lengannya. HP-nya juga hilang.”
"Lo udah pernah nanya hal ini ke ortu lo?" tanya Tisha.
"Udah, tapi ortu gue cuma tahu cerita mentah dari pihak kantor." jawabnya sambil menghela napas.
Tisha terdiam sejenak, memikirkan ucapan Zevanna. "Bentar, Zev. Kalau Kak Zoyya cuma jatuh di toilet, terus luka di tangannya dari mana?”
Zevanna seketika terdiam. Firasatnya makin yakin kalau tebakannya selama ini tidak salah.
***
Suasana kelas 12 IPS 2 cukup ramai. Bu Ayu selaku wali kelas berdiri di depan kelas menatap para muridnya.
"Oke anak-anak, karena minggu depan kalian sudah mulai ujian kelulusan terakhir, Ibu berharap kalian belajar dengan rajin biar bisa dapet nilai yang bagus dan lulus dengan memuaskan," ujar Bu Ayu tegas.
"Baik, Bu!" sahut para murid serempak.
Tak lama bel berganti jam berbunyi, Bu Ayu mengangguk lalu keluar dari kelas.
Begitu guru keluar, suasana kelas 12 IPS 2 langsung riuh. Beberapa siswa membicarakan rencana mereka setelah lulus. Ada yang mau kuliah, ada juga yang memilih langsung kerja.
Fiona memutar kursinya menghadap Tisha. "Tis, lo beneran yakin mau langsung kerja di Verion Group?"
Tisha mengangguk yakin. "Iya, gue yakin seratus persen."
"Gue juga. Begitu lulus dan dapet ijazah, gue langsung daftar ke Verion Group," timpal Zevanna ikut bersuara.
Kanita menopang dagunya lemas. "Gue kira kita berempat bakal tetep barengan terus setelah lulus..."
Zevanna menatap Kanita datar. "Kan kita masih bisa nongkrong bareng ege!"
"Bukan itu maksud gue! Gue sama Fiona kuliah, sementara lo sama Tisha kerja. Nanti kita susah nongkrong bareng gimana?” rengek Kanita.
Zevanna memutar bola matanya malas. "Nggak usah lebay lo! Gue ngambil posisi staf biasa di sana, bukan jadi sekretaris atau manajer yang sibuknya minta ampun!"
"Tapi pasti ada jam lemburan, Zevanna!" ujar Kanita makin memanasi.
Zevanna mengepalkan tangannya, rasanya ingin mencekik Kanita saat itu juga. "Terserah lo, setan!"
Fiona dan Tisha seketika tertawa geli melihat dua temannya yang selalu ribut itu.
***
Di sisi lain, Ravenzo mendapatkan jadwal untuk meninjau sebuah sekolah swasta di bawah naungan yayasan pendidikan milik keluarga Ganendra.
"Rav, besok lo jadi dateng ke sekolah itu kan?" tanya Arvin sambil memeriksa dokumen di mejanya.
Ravenzo mengangguk singkat. "Jadi. Kenapa?"
Arvin menggeleng pelan. "Nggak apa-apa sih. Aneh aja. Biasanya lo paling males kalau disuruh dateng ke sekolah.”
Ravenzo menoleh dingin. "Terserah gue mau dateng apa nggak. Lo banyak omong banget."
Arvin mendengus kasar. "Ya masih mending gue banyak omong, daripada lo irit omongan kayak patung!"
Ravenzo menyipitkan matanya tajam. "Apa lo bilang tadi?"
"Eng-enggak ada! G-gue keluar ruangan dulu ya!" cerocos Arvin cepat-cepat melangkah keluar sebelum diseret Ravenzo.
Ravenzo menghembuskan napas kasar lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
***
Keesokan harinya, Zevanna berangkat sekolah dengan terburu-buru. Ia bangun kesiangan dan takut terlambat.
Saat sampai di sebuah persimpangan, Zevanna hendak berbelok. Di saat yang sama, sebuah Alphard hitam melintas dari arah samping.
BRUK!
Stang motor Zevanna tanpa sengaja menyerempet keras bagian samping mobil itu.
Mobil Alphard itu mendadak berhenti di tepi jalan.
"Ada apa ini?" tanya Ravenzo dari kursi belakang.
Arvin menoleh ke belakang lantas mengintip dari kaca spion. "Kayaknya ada motor yang baru aja nyerempet mobil lo, Rav."
Zevanna langsung menepi dan turun dari motornya.
“Sialan!” Sentak Zevanna. Bukannya panik, dia malah berjalan menghampiri mobil tersebut dengan wajah kesal. Ia memukul-mukul kaca jendela mobil Ravenzo dengan kencang.
Brak! Brak! Brak!
"Woi! Turun lo!"
Pintu mobil terbuka. Ravenzo turun dengan tubuh tingginya yang tegap, menatap Zevanna.
Zevanna sempat terpaku sesaat melihat ketampanan pria di hadapannya. Namun emosinya dengan cepat menguasai dirinya lagi.
Ravenzo melirik sekilas goresan panjang di bodi mobil mewahnya, lalu menatap Zevanna datar. "Kamu yang nyerempet mobil saya?"
"Ya... tapi mobil lo juga tiba-tiba lewat pas gue mau belok!" semprot Zevanna tak mau kalah.
Ravenzo mengangkat sebelah alisnya. "Tiba-tiba?"
Zevanna membalas tatapan tajam Ravenzo. "Iya! Mobil lo tadi main lewat aja pas gue mau ambil belokan! Seharusnya kalau mau lewat tuh liat-liat dulu, ada motor di belakang apa enggak!"
Ravenzo tersentak kecil mendengar bentakan gadis SMA itu. "Kamu yang menyerempet mobil saya. Kenapa malah menyalahkan saya?”
"Orang gue nggak salah kok! Yang salah mobil lo yang nggak liat jalanan!" ketus Zevanna berkacak pinggang.
"Jadi kamu beneran nggak mau ngaku salah dan ganti rugi?" tegas Ravenzo dingin.
"Kan gue udah bilang, gue nggak salah!"
"Oke kalau gitu, saya laporin kamu ke polisi sekarang atas kasus perusakan," sahut Ravenzo tenang seraya merogoh ponselnya.
Zevanna seketika tersentak panik. "Eh... tunggu dulu! Maksud lo apa main lapor polisi segala?!"
"Kalau nggak mau dilaporkan ke polisi, kamu harus tanggung jawab," kata Ravenzo menatapnya menusuk.
"Tanggung jawab apa?!"
Ravenzo melirik bagian mobil yang lecet, lalu kembali menatap Zevanna.
"Ganti rugi lima miliar."
Zevanna langsung melotot. "Lima miliar?! Lo gila?! Masa cuma gara-gara nyerempet dikit harus ganti rugi lima miliar?! Lo begal berjas ya?!"
"Oh, jadi kamu nggak mau tanggung jawab?"
"Gue mau tanggung jawab! Tapi lima miliar dari mana, setan?!” cerocos Zevanna frustasi.
Ravenzo menatapnya dari atas ke bawah. "Lain kali jangan kebut-kebutan.”
Zevanna mendecak kasar. "Iya! Sorry!"
Ravenzo menghela napas pendek, lalu balik badan dan kembali masuk ke dalam mobilnya tanpa berkata apa-apa lagi.
Zevanna menghentakkan kakinya kesal, naik ke atas motornya, lalu menggenggam gasnya pergi dengan kecepatan tinggi.
Ravenzo hanya melihat motor Zevanna pergi dari kaca mobil. Setelah itu, ia kembali menghadap ke depan.
"Rav, lo kenal cewek tadi?” tanya Arvin penasaran.
Ravenzo menggeleng cepat. "Enggak. Jalan, Pak."
"Baik, Tuan," sahut Pak Surya lalu melajukan mobilnya kembali.
***
Beberapa saat kemudian, Zevanna akhirnya sampai di sekolah. Ia memarkirkan motornya dan berjalan cepat menuju kelas dengan napas memburu.
"Pagi, Zevanna!" sapa Jayden yang tiba-tiba muncul di koridor sambil tersenyum manis.
Zevanna mendengus malas. "Minggir! Gue mau lewat!"
Jayden justru sengaja merentangkan tangannya menghalangi jalan. "Santai dong, Zev. Buru-buru amat mau ke mana sih? Bel masuk juga masih lama."
Zevanna mendongak, menatap Jayden dengan tatapan membunuh. "Minggir atau gue patahin leher lo sekarang?!"
Jayden malah tertawa melihat Zevanna yang kesal. "Galak banget sih lo."
Ia hendak menyentuh Zevanna, tapi gadis itu langsung menepis tangannya.
"Jangan sentuh gue. Jijik tau nggak!”
Jayden mengangkat kedua tangannya. "Iya, iya. Jangan marah-marah nanti cantiknya ilang.”
Zevanna mendengus lalu berjalan masuk ke kelasnya.
Reon, Kevan, dan Alan yang melihat kejadian itu dari jauh hanya bisa melotot ngeri.
Reon menghampiri Jayden. "Lo nggak apa-apa, Jay?"
Jayden menoleh. "Nggak apa-apa kok, aman."
"Galak banget gila si Zevanna," ringis Reon.
"Iya, ngeri banget gue liatnya, kayak macan." tambah Alan.
Kevan menepuk bahu Jayden. "Lagian lo udah tau dia alergi sama cowok, masih aja disentuh-sentuh."
"Mau segalak apa pun, gue tetep suka sama Zevanna,” celetuk Jayden sambil tersenyum.
"Dasar bucin!" seru ketiga temannya kompak.
***
Di dalam kelas 12 IPS 2, Zevanna menghempaskan tubuhnya kasar di kursi.
"Kalian tahu nggak?!" seru Zevanna pada teman-temannya.
"Ya nggak tahu lah, orang lo belum cerita!" sahut Fiona. Yang sedang bercermin.
"Tadi di jalan gue buru-buru, terus nggak sengaja nyerempet mobil orang," cerita Zevanna berapi-api. "Gue keseeel banget sama tuh cowok! Masa gue disuruh ganti rugi lima miliar coba?!"
"HAH?! GANTI RUGI LIMA MILIAR?!" pekik Tisha, Fiona, dan Kanita bersamaan.
"Iya! Gue tadi sempet ribut hebat sama tuh orang aneh!" kata Zevanna melipat tangan di dada.
"Terus lo ganti rugi nggak, Zev?" tanya Tisha panik.
"Ya enggak lah! Orang gue nggak punya uang sebanyak itu! Kalau gue minta sama Bokap gue lima miliar cuma buat ganti rugi mobil, bisa-bisa gue diusir dari rumah!"
Fiona menggeleng-gelengkan kepala. "Lagian lo yang nyerempet mobil orang, kenapa lo yang marah-marah coba?"
"Ya kan gue nggak sengaja, ege! Gue mau belok, tiba-tiba mobil dia main lewat aja!" bela Zevanna tak mau kalah.
Kanita menepuk jidatnya. "Zevanna, Zevanna... Lo tuh ya kebiasaan banget nggak pernah mau ngaku salah. Harusnya lo minta maaf yang bener, bukannya malah ngajak perang!"
"Gue udah minta maaf kok tadi!" ketus Zevanna. "Udah ah, gue mau ke toilet dulu. Makin pusing gue!"
Sementara itu, mobil Alphard hitam milik Ravenzo baru saja tiba di SMA Negeri 3. Ravenzo melangkah keluar bersama Arvin.
"Selamat datang, Pak Ravenzo," sapa Pak Zaki selaku kepala sekolah dengan membungkuk hormat.
Ravenzo menatapnya datar lalu mengangguk tipis. "Bagaimana? Apakah fasilitas di sekolah ini sudah lengkap dan memadai?"
"Sudah sangat lengkap, Pak. Di sini sudah ada dua puluh ruang kelas, dan setiap tahunnya peminat yang mendaftar ke sekolah ini sangat banyak," terang Pak Zaki memandu jalan.
Ravenzo berjalan bersama Arvin dan kepala sekolah untuk melihat kondisi sekolah serta beberapa fasilitas yang ada.
Sesekali Ravenzo berhenti untuk memeriksa beberapa ruangan sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
Di saat yang sama, Zevanna sedang berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju arah toilet. Tiba-tiba langkahnya diadang oleh tiga siswi.
"Mau apa kalian bertiga?" tanya Zevanna dingin, menatap ketiga siswi tersebut tajam.
Bella—siswi yang berdiri di tengah—menatap Zevanna sinis. "Lo kan yang jalan sama cowok gue kemarin?!"
Zevanna mengernyit dan mendecih jijik. "Dih, fitnah! Sejak kapan gue jalan sama cowok lo? Muka cowok lo aja gue nggak tahu!"
"Alah! Nggak usah bohong lo, Zev! Mentang-mentang lo ngerasa cantik, lo malah embat cowok gue!" tuduh Bella membentak.
Zevanna bersedekap dada. "Lah, gue emang cantik. Kenapa? Lo iri karena kalah saing sama gue?"
Wajah Bella memerah padam. "Banyak bacot lo!"
Bella mengangkat tangannya hendak menjambak rambut Zevanna. Tapi dengan cepat Zevanna mencengkeram pergelangan tangan Bella hingga siswi itu meringis.
"Lo mau mati, hah?!" bentak Zevanna dengan tatapan membunuh. "Gue udah bilang, gue nggak pernah sudi jalan sama cowok lo!"
Melihat mata Zevanna yang menyala marah, Bella dan dua temannya mendadak gemetar ketakutan.
"Pergi lo semua sebelum gue habisi kalian!" gertak Zevanna.
Tanpa membuang waktu, Bella dan teman-temannya langsung balik badan dan kabur terbirit-birit.
Zevanna mengembuskan napas kasar. "Ck! Kenapa sih hari ini bikin mood gue ancur banget?! Tadi di jalan ketemu cowok nyebelin, sekarang di sekolah ketemu cewek-cewek stres! Semoga gue nggak pernah ketemu lagi sama cowok nyebelin yang minta lima miliar itu!" gerutu Zevanna lalu balik badan menuju kelasnya.
Tepat di bawah koridor lantai satu, Ravenzo yang sedang berjalan mendadak menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke atas dan sempat melihat bayangan punggung seorang siswi berambut panjang yang baru saja berjalan pergi.
Kening Ravenzo berkerut samar.
Arvin yang menyadarinya langsung menyenggol lengan Ravenzo. "Woi, Rav! Lo kenapa?"
Ravenzo tersentak kaget, lalu menggeleng pelan. "Nggak apa-apa."
Arvin hanya mengangguk heran.
Sebelum pulang, Arvin menyerahkan tablet berisi data sekolah yang diperlukan untuk laporan yayasan.
Ravenzo melihat beberapa informasi di dalamnya sambil berjalan menuju mobil. Sampai akhirnya matanya berhenti pada daftar siswa kelas 12.
Zevanna Lyana Oliver.
Ravenzo mengernyit kecil.
“Oliver?”
Ia melihat nama itu beberapa detik, lalu menggeser layar tablet dan melanjutkan melihat data siswa lainnya.
“Udah beres kan?” tanya Ravenzo sambil menyerahkan tablet kepada Arvin.
“Udah. Kita bisa balik sekarang.” jawab Arvin.
Ravenzo mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.
Ia tidak terlalu memikirkan nama tersebut. Baginya, itu hanya salah satu dari banyak nama siswa yang tercantum dalam data sekolah.
Ravenzo juga belum menyadari kalau gadis yang tadi menyerempet mobilnya adalah salah satu siswi di sekolah tersebut.
Sementara itu, Zevanna juga belum tahu siapa pria yang tadi hampir membuatnya pusing gara-gara permintaan ganti rugi lima miliar.
Mereka belum tahu identitas masing-masing.
Dan pertemuan singkat di jalan tadi ternyata bukan pertemuan terakhir mereka.
Bersambung…