Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Naga

Kontrak Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.

Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.

Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.

Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7 Tanah Yang Menolak

Kael berdiri tegak, memasang kuda-kuda sempurna. Kedua tangannya lurus di samping tubuh dengan jemari yang terbuka. Angin bergemuruh di sekitar dirinya, debu-debu mengepul ke udara. Bilah-bilah pedang berbentuk sabit bermunculan mengelilinginya. Kali ini lebih banyak dari pada sebelumnya.

Swoosh!

Ia mulai menggerakkan tangan hendak menyerang tanpa peduli situasi. Tanah bergetar hebat, bebatuan berjatuhan dari atas pegunungan, longsor kecil memicu longsor besar. Eliya melirik bukit retak di atas kepala Kael. Ia tersenyum, menunggu momen pemuda itu dikalahkan oleh sihirnya sendiri.

"Matilah kau!" Untuk kedua kalinya Kael berteriak sembari mengeluarkan sihirnya.

Lalu ....

Deboom!

Bukit retak itu runtuh, menghantam tubuh Kael sebelum ia sempat melempar sihir kepada Eliya. Tanah mengubur tubuhnya, debu mengepul memenuhi udara. Keempat bawahan Kael, panik karenanya. Mereka menghindar serentak, menjauhi lokasi reruntuhan.

Debu tebal sisa reruntuhan tebing terus menggantung di udara, membumbung tinggi ke langit, membuat tenggorokan perih. Di depan Eliya, kepulan asap itu perlahan menipis, menampakkan sosok yang sedari tadi merepotkannya.

Kael kalah. Bukan karena sihir Eliya lebih kuat. Tapi karena ia meruntuhkan tebing tepat di atas kepala Kael

"Curang!" geramnya dari balik gundukan batu. Tubuhnya terkubur hingga sepinggang, jubah tempurnya yang semula gagah kini kotor penuh tanah.

"Bukan curang. Tapi, efisiensi," jawab Eliya datar sambil mengibaskan debu dari lengan bajunya.

"Di dunia kerjaku yang dulu, ini namanya manajemen risiko. Mengapa harus membuang mana untuk adu jotos kalau gravitasi bisa melakukan tugasnya?" katanya lagi sembari mengangkat bahu.

Kael terdiam. Matanya yang tajam menatap Eliya seolah ia adalah makhluk asing dari planet lain. Detik berikutnya, ketegangan itu pecah. Dia tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggema di sepanjang celah lembah.

"Tuan Muda!" Keempat bawahan Kael hendak menolong, tapi urung saat tangan pemuda itu terangkat menghentikan mereka.

"Menarik. Kau sangat berbeda. Tidak seperti penyihir arogan lain yang kukenal," ucapnya sambil mulai menyalurkan energi untuk mendorong bebatuan yang menghimpitnya. Ia mencoba untuk keluar dari reruntuhan.

Namun, sebelum Kael sempat membebaskan diri, bumi di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar hebat. Rasa hangat yang pekat mendadak menjalar dari kedalaman tanah. Sesuatu mencoba keluar, sebuah kekuatan yang dahsyat.

Boom!

Tanah yang mereka pijak tiba-tiba retak. Dari celah-celah tersebut, memancar cahaya coklat zamrud yang sangat pekat dan berkilauan, keluar langsung dari jantung gunung Stoneheart. Suasana mendadak magis sekaligus mencekam.

"Jantung Tanah. Sumber murni dari seluruh elemen Bumi di wilayah ini." Suara salah satu bawahan Kael.

Di dalam kepala Eliya, suara berat dan bergema milik Zharvion berbisik, 'Ini dia, El. Wadahmu butuh ini. Ambil. Tapi ada masalah sedikit. Tanah ini menolak manusia. Kecuali yang dianggap "layak".'

Eliya menatap jantung tanah itu dengan hati yang berdebar. Mahkota kedua setelah sihir air. Sihir tanah.

Namun, teori tidak pernah semudah praktiknya. Ada masalah besar seperti yang diucapkan Zharvion, jantung tanah suci ini menolak keberadaan manusia. Energi murninya akan menghancurkan siapa pun yang dianggap egois dan tidak "layak". Ia hanya akan tunduk pada dia yang dianggap layak memilikinya.

Kael berhasil keluar dari reruntuhan, ia berdiri sambil membersihkan sisa tanah di pundaknya. Lalu, menghampiri Eliya yang mematung sambil menatap jantung tanah itu.

"Aku sudah mencoba mendekatinya tiga kali. Semuanya gagal, menyisakan tulang rusukku yang hampir patah. Sekarang giliranmu. Kau mau coba?" ucap Kael tidak ada yang bertanya kepadanya.

Eliya tidak menjawab, ia mengunci bibirnya rapat. Kakinya mulai melangkah perlahan mendekati pusat pancaran cahaya coklat zamrud tersebut. Setiap langkah terasa berat, seolah gravitasi di sekitar tempat itu melonjak berkali-kali lipat.

Eliya menarik napas panjang, lalu menutup mata. Bersiap merasakan sensasi yang ia sendiri tak dapat membayangkannya.

Pikirannya melayang kembali pada baris-baris rumah kayu di Desa Elora. Wajah-wajah cemas para warga, anak-anak yang kelaparan, dan tanggung jawab yang kini seolah-olah berada di pundaknya. Ia tidak datang ke pegunungan Stonheart untuk mencari kekuasaan. Ia datang untuk memastikan semua yang lemah punya hari esok. Memenuhi panggilan jiwa, mengisi kekosongan wadah mahkota.

Elemen Tanah adalah tentang pertahanan. Kekokohan. Keinginan mutlak untuk melindungi yang lemah. Kael memperhatikan dalam diam, bibirnya mencibir berpikir bahwa Eliya tidak akan berhasil. Sama seperti dirinya.

Eliya mulai berlutut, lalu menempelkan kedua telapak tangannya langsung ke atas tanah yang merekah itu.

"Argh!"

Rasa sakit instan langsung menghantam sarafnya. Rasanya mengerikan, seperti ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk masuk dari telapak tangan, kemudian menjalar cepat ke seluruh aliran darah. Tanah ini menguji kehendaknya, menguliti motif terdalam di jiwanya. Kael ikut menegang, tanpa sadar kedua tangannya mengepal menunggu kemungkinan apa yang akan terjadi pada gadis itu.

Eliya mengertakkan gigi, menolak untuk menarik tangannya meski rasa sakit semakin nyata terasa.

"Aku tidak akan hancur di sini," tekadnya keras kepala.

Ia bertahan melawan rasa sakit yang menghancurkan tulang belulangnya. Kilatan petir coklat bercampur zamrud memenuhi seluruh tubuhnya. Seandainya itu orang biasa, maka ia pasti sudah terbakar oleh rasa panasnya.

DING!

Sebuah suara berdenting jernih di dalam kesadarannya, diikuti oleh sebuah teks melayang yang hanya bisa kulihat:

[MAHKOTA TANAH: TIGA DARI TUJUH ELEMEN TELAH TERISI]

"Berhasil?" Kael bergumam tak percaya. Matanya melebar melihat Eliya yang diterima oleh tanah itu.

"Barhasil!" Eliya berguman senang.

Seketika itu juga, rasa sakitnya lenyap, digantikan oleh kehangatan yang luar biasa terasa nyaman. Aura di pergelangan tangannya kini berubah. Pola aliran sihirnya yang semula berwarna Biru Perak dari elemen air, kini mengalir berdampingan secara harmonis dengan warna Coklat Zamrud.

Kael menatapnya tanpa berkedip untuk waktu yang lama. Mulutnya sedikit terbuka, setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.

"Ck. Menyebalkan. Kau mendapatkannya pada percobaan pertama," gerutunya sambil memalingkan muka, mencoba menyembunyikan rasa iri yang sangat jelas terlihat.

Eliya tersenyum, bangkit dari tanah dengan kekuatan baru. Ia mematap pergelangan tangannya, menatap kedua telapak tangannya. Ia bisa merasakan kekuatan saat mengepalkan jemari. Lalu, Eliya mematap Kael dengan wajahnya yang masam.

"Emosi negatif hanya akan menghambat perkembangan potensimu," katanya santai, mengutip salah satu bab dari buku self-help yang sering ia baca di kehidupan lampau untuk mengatasi stres karena pekerjaan.

"Lain kali kalau mau mencoba, coba dengan hati yang rela dan pasrah," lanjutnya seperti sebuah ejekan untuk putra jenius angin itu.

Kael melotot tajam, merasa tersindir. Namun, sedetik kemudian dia menghela napas panjang dan mendengus geli.

"Hah. Oke. Aku KAEL. Ingat baik-baik nama itu, Penyihir Aneh. Suatu hari nanti, aku akan mengalahkanmu dalam duel yang adil," katanya mengakui kekalahan untuk pertarungan pertama mereka.

"Deal!" sambut Eliya sambil membersihkan lututnya yang kotor.

"Tapi untuk sekarang, daripada memikirkan duel masa depan, mau bantu aku mengantarkan sekeranjang obat ini ke desa di bawah?" katanya sembari menunjukkan satu keranjang daun obat yang ia temukan di sepanjang jalan.

Kael tertegun sejenak, melihat keranjang obat di dekat tebing, lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Petualangan aneh ini tampaknya baru saja dimulai. Ia meminta bawahannya untuk mengantarkan keranjang obat tersebut.

"Selanjutnya?" Suara Zharvion terdengar berbisik.

"Mahkota keempat!"

1
beybi T.Halim
kok yaa kasihan,kan ada 4 kerajaan apakah tak ikut bertempur?? atau malah sdh mati semua🙈
Aisy Hilyah: nah itu, udah ngilang semua itu
total 1 replies
beybi T.Halim
ceritanya sungguh bagus,sepanjang episode nahan nafas terus,karakter eliya sang badai benar2 tangguh,kuat dan tentunya ada sisi melow nya ,dikelilingi pangeran tampan dari 4 kerajaan, tak sabar untuk episode berikutnya👍👍👍👍👍semangat
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 😍😍
total 1 replies
beybi T.Halim
keren👍
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Pena Quality
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!