Indonesia
NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Capo

Tawanan Sang Capo

Status: tamat
Genre:Mafia / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Yesenia Stefany Bello González

Di dunia mafia Italia, putri seorang Capo tidak pernah berhak memilih.

Di hari pernikahannya—dengan pria yang belum pernah ia lihat—Alessia Castelli justru diculik. Bukan oleh perampok jalanan, melainkan oleh Fabiano Conti, Capo La Corona yang paling ditakuti di seluruh negeri. Bagi Fabiano, Alessia hanyalah kartu tawar: satu-satunya cara merebut kembali saudari kembarnya dari tangan kakak Alessia yang kejam.

Tapi ada yang salah dengan penculikan ini.

Pintu kamarnya tak dikunci. Tak ada yang memaksanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berkata bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri—keputusannya sendiri. Lelaki paling berbahaya yang pernah ia temui ternyata memperlakukannya jauh lebih lembut daripada keluarganya sendiri.

Alessia tahu ia seharusnya membenci penculiknya. Ia tahu ia seharusnya melarikan diri. Jadi kenapa, di wilayah musuh, untuk pertama kalinya ia justru merasa aman?

Namun perang antar-klan tak mengenal cinta. Ketika pertukaran tak terhindarkan dan darah mulai tumpah, Alessia harus memilih antara keluarga tempatnya dilahirkan dan pria yang mengajarinya arti kebebasan—sementara Fabiano bersumpah akan membakar seluruh Italia sebelum membiarkan seorang pun merenggutnya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencabut Jantungku

Fabiano

Aku tidak turun untuk makan malam. Mattheo pun tidak memaksa.

Kami makan di ruang kerja tanpa benar-benar menyentuh makanan.

Pukul sebelas malam kami masih memeriksa foto-foto udara San Fruttuoso.

"Pergantian penjaga terjadi di sini," kata Mattheo sambil menunjuk salah satu jalan. "Selama tujuh menit, pintu masuk utara hanya dijaga dua orang."

"Tidak cukup," kataku.

"Bisa jadi cukup."

"Aku tak akan mempertaruhkan Cloe."

"Aku tidak menyuruhmu begitu."

"Kalau begitu tidak cukup."

Mattheo bersandar di kursinya.

"Kamu mencarinya."

"Siapa?"

"Alessia."

"Tidak."

"Setiap kali kamu mendengar langkah kaki di koridor, kamu berhenti bernapas."

"Kamu cuma mengada-ada."

"Tentu saja."

Ketukan pelan menggema di pintu. Sekujur tubuhku menegang.

Mattheo menatapku. Aku diam.

Ketukan lagi.

"Fabiano?"

Suaranya menembus kayu. Mattheo menjatuhkan kepalanya ke belakang dan memandang langit-langit.

"Aku mau ambil kopi," katanya.

"Tetap di sini."

"Tidak." Ia berdiri. "Ini sama sekali bukan urusanku."

Ia membuka pintu samping yang terhubung ke perpustakaan lalu menghilang.

Pengecut… tapi aku tidak adil. Satu-satunya pengecut di sini adalah aku.

"Fabiano?" Alessia memanggil lagi. Aku tetap bungkam. "Aku tahu kamu di dalam."

Jari-jariku mencengkeram tepi meja.

"Aku cuma mau tahu apakah… apakah aku berbuat salah," bisiknya.

Dadaku berdenyut sesak.

Seharusnya aku membuka pintu. Seharusnya kukatakan bahwa ia tak berbuat salah apa pun.

Seharusnya kukatakan yang sebenarnya, tapi aku tidak bisa.

"Aku membuat roti lagi," lanjutnya. "Kata Viola hasilnya lebih bagus, walau ia juga bilang roti itu bisa dipakai sebagai senjata kalau ada yang coba masuk ke rumah." Aku tersenyum. "Kupikir mungkin kamu mau mencobanya."

Gagang pintu bergerak. Untung aku sudah menguncinya, jadi pintu tak terbuka.

Ia diam beberapa detik. Lalu mencoba lagi.

"Fabiano."

Kali ini suaranya lebih pelan.

Terluka.

Kutumpukan kedua tanganku di meja dan kupejamkan mata.

Pergi, Less. Kumohon, pergi sebelum aku membuka pintu.

"Aku mengerti," bisiknya.

Kudengar sesuatu bergesek dengan lantai, lalu langkah kakinya menjauh.

Aku menunggu beberapa menit sebelum bangkit.

Kubuka pintu dan kutemukan sebuah piring kecil di depannya, tertutup serbet putih.

Kuambil piring itu.

Di bawahnya ada sepotong roti yang agak gosong dan secarik kertas terlipat.

Untuk saat kamu sudah tidak sibuk lagi.

Kuremas kertas itu dalam genggaman.

Sial.

* * *

Aku mencoba tidur. Sungguh mencoba.

Kubaringkan tubuh. Kupejamkan mata dan bernapas dalam-dalam, tapi tak ada gunanya.

Kubalikkan badan ke satu sisi, lalu ke sisi lain.

Kutendang seprai. Kutarik lagi ke atas.

Kucoba posisi lain, lalu memandangi langit-langit.

Setiap kali kupejamkan mata, kulihat wajah Alessia tadi pagi.

Senyum yang memudar.

Tubuhnya yang mengerut kecil saat kubentak dengan kasar.

Caranya bertanya apakah ia berbuat salah.

Ia tak berbuat apa pun. Justru itu masalahnya.

Ia tak berbuat apa pun yang membuatnya pantas menerima perlakuan ini.

Aku bangkit dan berjalan ke jendela.

Taman gelap. Lampu-lampu di jalan setapak nyaris tak menerangi pohon-pohon zaitun.

Aku bisa terus bertahan. Seharusnya begitu.

Yang benar adalah menjauh darinya.

Yang benar adalah memikirkan Cloe.

Yang benar adalah mengingat bahwa Alessia hanyalah harga dari pertukaran itu.

Tapi aku lelah melakukan hal yang benar.

Lelah berpura-pura tidak peduli.

Lelah mendengarnya di balik pintu dan memaksa diri untuk tetap diam.

Persetan dengan Lucio.

Persetan dengan Greco.

Persetan dengan masa depan.

Aku hanya perlu melihatnya.

Aku keluar dari kamar sebelum berubah pikiran. Kususuri koridor-koridor gelap tanpa suara. Tak berpapasan dengan siapa pun.

Aku berhenti di depan pintu kamar Alessia.

Aku tidak mengetuk, hanya memutar gagangnya.

Kamar itu gelap, kecuali cahaya redup dari lampu di samping tempat tidur.

Alessia masih terjaga. Duduk bersandar di kepala ranjang. Ia memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajah di antara lutut sementara bahunya bergetar.

Ia menangis… Karena ulahku.

"Less."

Ia mengangkat kepala, terkejut.

Matanya merah.

Ia buru-buru menyeka pipinya.

"Sedang apa kamu di sini?"

Aku tak tahu harus menjawab apa.

Aku mendekat dan ia memalingkan wajah.

"Kupikir kamu sibuk."

Setiap kata seperti pukulan.

"Maaf."

"Tak apa."

"Justru penting."

"Kamu tak perlu berpura-pura ingin bersamaku," katanya, suaranya pecah. "Aku mengerti kamu punya hal-hal yang lebih penting untuk dilakukan."

"Alessia…"

"Aku cuma mengira…" Ia menarik napas dalam. "Kupikir kita berteman."

Sial.

Aku melintasi kamar dan duduk di hadapannya.

"Memang."

"Tadi tak terlihat begitu."

"Aku berusaha melindungimu."

Alisnya berkerut.

"Dari apa?"

Dari diriku.

Dari apa yang kurasakan.

Dari apa yang akan terjadi saat aku harus menyerahkanmu.

"Dari sesuatu yang tak bisa kuberikan padamu."

"Aku tidak meminta apa pun darimu."

"Aku tahu."

"Kalau begitu berhenti memutuskan segalanya untukku."

Jawabannya membuatku tak berdaya.

Alessia melepas pelukan pada lututnya dan menatapku lurus.

"Semua orang memutuskan segalanya untukku. Lucio. Ayahku saat masih hidup. Adriano, padahal aku bahkan tak mengenalnya. Dan sekarang kamu."

"Aku tak mau seperti mereka."

"Kalau begitu jangan."

Keheningan di antara kami terasa terlalu berat.

Kubelai pipinya. Ia memejamkan mata dan menyandarkan wajah ke telapak tanganku.

Gerakan kecil itu menghancurkan sisa-sisa terakhir kehendakku.

"Maaf," ulangku.

"Aku juga."

"Kenapa?"

"Karena aku merindukanmu."

Kata-kata itu nyaris tak keluar, tapi aku mendengarnya. Aku merasakannya.

Ada sesuatu di dalam diriku yang runtuh.

Aku menunduk dan mencium keningnya.

Seharusnya aku berhenti sampai di situ.

Aku tidak berhenti.

Bibirku turun ke pelipisnya, ke pipinya… ke sudut mulutnya.

Alessia mengembuskan napas bergetar.

"Fabiano…"

Itu saja sudah cukup.

Namaku dan kerinduan dalam suaranya meruntuhkan pertahanan terakhir dalam tubuhku.

Kucium ia dengan keras, dengan segala yang berhari-hari kutahan.

Alessia langsung membalas.

Tangannya naik ke leherku dan menarikku mendekat.

Kucium ia lagi. Dan lagi. Seolah dalam beberapa menit aku bisa merebut kembali seluruh waktu yang kusia-siakan dengan menghindarinya.

Punggungnya menyentuh kasur.

Aku mencondongkan tubuh di atasnya tanpa berhenti menciumnya.

Salah satu tangannya menyusup ke rambutku. Tangan yang lain mencengkeram pinggang bawahku.

"Jangan pernah mengabaikanku lagi," bisiknya di antara ciuman.

"Tidak akan."

Itu janji yang mungkin tak bisa kutepati.

Aku tidak peduli.

Saat ini aku tidak peduli apa pun.

Tidak Cloe.

Tidak Lucio.

Tidak Greco.

Tidak pertukaran itu.

Hanya dia.

Alessia.

Napasnya. Tangannya… Caranya mengucapkan namaku.

Bibirku menyusuri garis rahang dan lehernya.

Ia bergetar di bawahku, tapi bukan karena takut.

"Fabi…"

Aku berhenti sejenak.

"Suruh aku berhenti," pintaku.

Matanya menatap tajam mataku.

"Aku tak mau kamu berhenti."

Kucium ia lagi.

Tanganku turun menyusuri sisi tubuhnya.

Alessia melengkungkan tubuh ke arahku dan kendaliku hancur berkeping.

Aku hampir melewati batas yang bersumpah tak akan kulewati.

Hampir melupakan semua alasan mengapa aku harus berhenti.

Hampir menjelma menjadi lelaki yang berhari-hari kucoba kurung rapat.

Tiga ketukan tajam mengguncang pintu.

Kuabaikan. Alessia juga.

Kucium ia lagi.

Tiga ketukan lain, lebih keras.

"Fano," Mattheo memanggil dari koridor. "Buka."

Kupejamkan mata.

Tidak.

Jangan sekarang.

"Pergi," geramku tanpa menjauh dari Alessia.

"Aku tidak bisa."

Nada suaranya membuatku mengangkat kepala.

Tak ada canda.

Tak ada ejekan. Hanya desakan.

"Fabiano, buka pintu sialan itu."

Dengan susah payah aku menjauh dari Alessia.

Ia bangkit duduk, memeluk dirinya sendiri.

Napasnya masih terengah. Napasku juga.

Kuhampiri pintu dan kubuka dengan kasar.

Mattheo berdiri di seberang. Matanya berpindah dari wajahku ke wajah Alessia. Ia paham semuanya, tapi tak berkata apa-apa.

"Apa?" desakku.

Mattheo menarik napas dalam.

"Lucio menerima pertukaran itu."

Dunia berhenti.

Seharusnya aku merasa lega.

Bahagia.

Penuh harapan.

Cloe akan kembali.

Saudariku akan pulang.

Lalu aku menoleh ke belakang bahuku.

Alessia masih berdiri, menatapku tanpa sepatah kata pun. Bibirnya membengkak oleh ciumanku dan matanya terbuka lebar.

Ia pun paham.

Mendapatkan Cloe kembali berarti menyerahkannya.

Berhari-hari aku memohon agar saat ini tiba.

Dan kini saat itu akhirnya datang… rasanya seperti ada seseorang yang baru saja mencabut jantungku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!