Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Topeng yang Mulai Retak
Langkah kaki Clarissa terdengar tergesa-gesa dan tak beraturan menyusuri koridor megah berkulit karpet tebal di lantai empat puluh dua. Tumit sepatu hak tingginya mengetuk lantai dengan bunyi ketukan yang tidak stabil, mencerminkan kepanikan yang tengah menggemuruh liar di dalam dadanya. Di belakangnya, Ziko berjalan bagaikan sosok tanpa jiwa. Matanya menatap kosong ke arah lantai, sementara kedua tangannya mengepal erat di dalam saku celana.
Begitu pintu lift eksekutif tertutup rapat dan meluncur turun membelah ketinggian gedung, Clarissa seketika menyandarkan punggungnya ke dinding kaca lift. Pria dan wanita yang beberapa saat lalu berdiri penuh rasa percaya diri di lobi bawah kini berganti menjadi dua sosok yang hancur berantakan.
"Ziko... ini gila! Ini benar-benar gila!" Clarissa memecah keheningan dengan suara gemetar, napasnya memburu cepat. Jemari tangannya yang mengenakan cincin bermerek mencengkeram tas kulitnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Bagaimana mungkin mantan istrimu yang katamu cuma perempuan desa kusam itu bisa jadi Komisaris Utama Grand Wijaya Group? Kamu bilang dia cuma pelayan gratisan di rumahmu!"
Ziko tidak menjawab. Suara Clarissa bagaikan dengungan lebah yang menusuk-nusuk telinganya. Di dalam pikiran Ziko, bayangan Mahira yang duduk di kursi kebesaran dengan blazer sutra biru tua, menatapnya dengan pandangan dingin dan penuh wibawa, terus berputar tanpa henti. Setiap kata kritikan tajam yang dilontarkan Mahira di depan jajaran direksi tadi bagaikan sembilu yang menguliti seluruh harga dirinya sebagai seorang pria dan pemilik perusahaan.
"Jawab aku, Ziko!" jerit Clarissa frustrasi, memukul lengan Ziko dengan tasnya. "Kamu menjebakku, ya? Kamu tahu tidak, Papaku menyuruhku ikut ke sini karena aku sesumbar kalau perusahaannmu punya hubungan erat dengan orang dalam Grand Wijaya Group! Papaku sudah meminjamkan dana awal karena percaya pada bualanku soal koneksi itu!"
Ziko memutar badannya lambat, menatap Clarissa dengan mata yang memerah penuh amarah dan keletihan. "Aku mana tahu, Clarissa! Kamu pikir aku tahu kalau Mahira itu putri tunggal keluarga Wijaya? Selama tiga tahun dia tinggal di rumahku, dia tidak pernah cerita apa pun. Dia cuma pakai baju katun murah dan mencuci piring setiap hari di dapur."
"Lalu sekarang bagaimana?" bentak Clarissa, wajahnya yang penuh riasan mahal kini tampak memerah oleh ketakutan yang membuncah. "Papaku bukan pengusaha bodoh, Ziko! Begitu Papa tahu proposalmu ditolak mentah-mentah dan distempel merah oleh Mahira, Papa pasti akan langsung membatalkan rencana investasi keluarga kami ke perusahaannmu. Bahkan modal awal yang sudah ditransfer kemarin bisa ditarik paksa secara hukum."
Pernyataan Clarissa menghantam kesadaran Ziko bagaikan petir menyambar di siang bolong. Tumpuan terakhir yang diandalkan Ziko untuk menyelamatkan Adhi Jaya Perkasa kini terancam sirna total. Pria itu mencengkeram kedua bahu Clarissa dengan kasar.
"Clarissa, kamu harus bicara pada papamu. Katakan kalau ini cuma masalah salah paham teknis," bisik Ziko dengan nada memohon yang menyedihkan, kepanikannya sudah membubung tinggi. "Papamu bilang punya kenalan direksi di Grand Wijaya Group, kan? Minta papamu menghubungi mereka untuk menekan Mahira!"
Clarissa tertawa sumbang, sebuah tawa panik yang menyiratkan keputusasaan. Ia menghempaskan tangan Ziko dari bahunya dengan kasar.
"Kamu tadi tidak dengar apa yang dikatakan Mahira?" bentak Clarissa dengan suara melengking. "'Di ruang rapat Grand Wijaya Group, nama atau jabatan ayah Anda tidak punya nilai tawar sedikit pun!' Kamu pikir Papaku punya kekuatan melawan keluarga Wijaya? Kenalan yang dibanggakan Papaku itu cuma seorang manajer divisi semen yang bahkan tadi berdiri membungkuk di belakang Mahira."
Clarissa memegang kepalanya sendiri, berjalan bolak-balik di dalam ruang lift yang sempit. Kebohongan yang selama ini ia bangun di depan Ziko dan Bu Rani, soal betapa hebatnya jaringan koneksi keluarganya di pimpinan Grand Wijaya Group, kini hancur berkeping-keping.
Selama ini, Clarissa memanfaatkan celah tersebut agar Ziko segera menceraikan Mahira dan menikahinya, berharap bisa merebut posisi sebagai nyonya besar di perusahaan Ziko yang ia sangka akan makin meroket.
Namun kini, kenyataan pahit berbalik menyerangnya. Tidak ada jaringan koneksi sakti. Tidak ada bantuan investasi raksasa dari ayahnya jika perusahaan Ziko terbukti bangkrut. Kebohongannya terancam terbongkar tidak hanya di depan Ziko, melainkan di depan ayahnya sendiri yang sangat keras dan tidak mengenal ampun dalam urusan bisnis.
Ponsel di dalam tas Clarissa mendadak berdering nyaring. Nama ayahnya tertera di layar.
Clarissa menatap layar ponsel itu dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat. Tangannya bergetar hebat saat memegang ponsel tersebut, tak berani menggeser tombol hijau.
"Angkat, Clarissa! Bilang pada papamu kita butuh bantuan!" desak Ziko setengah berteriak.
"Kamu gila?" sahut Clarissa histeris. "Kalau Papaku tahu proposalmu ditolak dan perusahaannmu diputus pasokannya per jam dua siang ini, Papaku akan langsung membekukan semua rekening kerja sama kita. Papaku tidak mau membuang uang untuk perusahaan mati seperti Adhi Jaya Perkasa. Namaku bisa dicoret dari silsilah keluarga."
Clarissa langsung mematikan ponselnya secara paksa, napasnya tersengal-sengal oleh rasa panik yang tak tertahankan. Bayangan kemarahan ayahnya dan kehancuran reputasinya sosialita-nya di Bandung kini menari-nari menakutkan di ruang matanya.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai lobi utama. Beberapa staf perbankan dan tamu VIP yang berdiri di depan lift sempat tertegun melihat pertengkaran dua orang berbusana mahal di dalam kabin lift tersebut.
Clarissa buru-buru menutupi wajahnya dengan tas, lalu melangkah keluar dengan tergesa-gesa menuju pintu keluar gedung tanpa menunggu Ziko. Pria itu mencoba mengejar Clarissa dari belakang, namun langkah kakinya terasa berat bagaikan diikat rantai besi.
Di lobi megah berlantai marmer itu, Ziko mendadak merasa seluruh mata staf dan pengawal sedang memperhatikan dirinya, menyeringai menertawakan kehancurannya. Rasa percaya diri dan ego tinggi yang selama tiga tahun ini ia pamerkan di hadapan Mahira kini telah musnah tanpa sisa.
Ia menyadari bahwa bukan hanya bisnisnya yang berada di ambang kehancuran, melainkan wanita kaya dan berpengaruh yang ia kira bisa menyelamatkannya, Clarissa, hanyalah sebuah topeng omong kosong yang hancur seketika saat berhadapan dengan kekuasaan mutlak Mahira.