Wanita Yang Kau Siakan

Wanita Yang Kau Siakan

​Bab 1 Sup yang Dingin dan Hati yang Patah

   ​Malam itu, hujan deras mengguyur kota Bandung tanpa ampun. Gemuruh petir sesekali menyambar, memecah kegelapan dan mempertegas suasana dingin di dalam rumah megah berarsitektur modern milik keluarga Ziko.

   Di dapur yang luas dan berlantai marmer dingin, Mahira masih berdiri berkutat dengan apron lusuhnya. Jemarinya yang halus tampak kemerahan dan kaku karena terlalu lama berhadapan dengan air es, pisau dapur, dan hawa panas dari kompor yang menyala sejak sore.

   ​Mahira mengusap sedikit keringat di dahinya menggunakan lengan baju yang tergulung. Rasa lelah yang menggelayut di tubuhnya seolah tak dihiraukan. Baginya, tiga tahun pernikahan ini adalah ujian kesabaran yang tak pernah usai.

   Ia menatap panci sup yang masih menggelembungkan uap panas di atas kompor. Sup daging kesukaan Ziko yang ia racik dengan ketelitian ekstra, berharap racikan hangat itu bisa sedikit mencairkan kebekuan di antara mereka.

   ​Namun, ketenangan singkat di dapur itu seketika sirna. Langkah kaki yang tergesa dan kentara ditekan penuh amarah terdengar dari arah tangga.

   Ibu mertuanya, Ibu Rani, berjalan mendekat dengan dagu terangkat penuh kesombongan. Pakaian rumah berbahan sutra mewahnya berkilat di bawah lampu kristal dapur. Tatapannya yang tajam menatap Mahira dari ujung kepala hingga ujung kaki, memancarkan rasa jijik dan nada menghina yang tak pernah berusaha ia sembunyikan.

   ​"Hira! Jam berapa ini? Kenapa sup untuk Ziko belum selesai juga?" Suara Bu Rani melengking keras, menggelegar mengalahkan suara deburan hujan di luar sana.

   ​Hira terperanjat kecil, segera mematikan kompor lalu memutar tubuhnya. Ia menyunggingkan senyum setenang dan selembut mungkin, meski di dalam dadanya ada rasa perih yang teriris. "Sedikit lagi, Bu. Supnya baru saja matang. Saya mendidihkannya agak lama agar dagingnya benar-benar empuk untuk Mas Ziko...."

   ​"Alasan terus! Alasan!" potong Bu Rani seraya melangkah makin dekat dan menggebrak meja dapur dengan kasar.

   Brak!

   ​Hira terperanjat mundur setengah langkah.

   ​"Kamu itu memang wanita tidak bisa diandalkan!" bentak Bu Rani dengan mata mendelik lebar. "Mengurus hal sepele seperti memasak sup saja butuh waktu berjam-jam. Sudah tiga tahun kamu menikah dengan Ziko, tidak bisa memberi keluarga ini keturunan, mengurus rumah saja leletnya minta ampun. Kalau bukan karena Ziko yang terlalu kasihan dan bermurah hati padamu, sudah sejak lama kamu saya tendang keluar dari rumah ini!"

   ​Mahira menunduk dalam-dalam. Kepala dan bahunya bergetar pelan. Setiap kata yang keluar dari mulut mertuanya tidak ubahnya sembilu yang menyayat hatinya tanpa belas kasihan. Kata-kata pedas itu sudah menjadi makanan sehari-harinya.

   Mahira memilih diam dan menahan semuanya bukan karena ia bodoh, tidak berdaya, atau tidak punya taring untuk membalas. Ia memilih bertahan semata-mata demi menjaga kehormatan pernikahan dan janji setia yang pernah ia ucapkan di hadapan Tuhan.

   ​Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah terdengar memasuki garasi rumah. Tak lama kemudian, pintu depan kayu jati yang tebal terbuka.

   Ziko melangkah masuk. Setelan jas mewahnya sedikit basah oleh bintik-bintik air hujan. Wajahnya yang tampan terlihat sangat lelah, namun sapuan garis rahangnya menampilkan ekspresi yang dingin dan keras.

   ​Melihat kehadiran putranya, raut wajah Bu Rani berubah drastis dalam sekejap mata. Raut galak dan penuh amarah itu lenyap, berganti menjadi senyuman manis dan raut penuh keprihatinan yang dibuat-buat.

   ​"Ziko, sayang... Kamu baru pulang, Nak?" ujar Bu Rani tergesa menghampiri Ziko, menyambut jas basah putranya dengan nada suara yang dimanja-manjakan. "Lihatlah istrimu ini. Jam segini sup untukmu belum juga dihidangkan. Padahal dia seharian hanya diam di rumah, tidak bekerja, tidak menghasilkan uang sepeser pun untukmu, tapi mengurus hal sepele begini saja selalu gagal!"

   ​Ziko tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam dan pekat menatap Hira yang berdiri kaku memegang kain lap di sudut dapur. Pandangan mata Ziko begitu dingin, begitu asing, tanpa ada sedikit pun menyisakan kehangatan atau rasa empati seorang suami terhadap istrinya.

   ​"Hira, benar apa yang dikatakan Ibu?" tanya Ziko. Suaranya berat, datar, dan penuh tekanan yang menuntut.

   ​"Aku sudah menyiapkannya, Mas. Ini tinggal dihidangkan ke meja...."

   ​"Cukup, Hira!" potong Ziko cepat, melambaikan tangannya di udara dengan nada frustrasi yang teramat sangat. "Aku pulang ke rumah dalam keadaan lelah setengah mati setelah rapat seharian di kantor. Masalah pekerjaan di luar sudah menumpuk, dan kamu di rumah selalu saja membuat masalah kecil menjadi rumit. Bisakah sekali saja dalam sehari kamu tidak membuat Ibu kesal?"

   ​"Tapi aku tidak membuat masalah, Mas...." lirih Mahira. Matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke dalam manik mata suaminya, mencari sisa-sisa cinta yang mungkin masih tertinggal di sana. "Aku hanya berusaha memasak sup ini sebaik mungkin...."

   ​"Lalu apa? Kamu mau menyalahkan Ibu? Mau bilang Ibu yang berbohong?" Suara Ziko mendadak meninggi, bergema keras di sudut-sudut ruangan dan membuat suasana dapur terasa makin mencekam.

"Harusnya kamu sadar diri, Hira! Kamu itu beruntung bisa tinggal di rumah mewah ini. Dulu kamu datang ke hidupku tanpa membawa apa-apa, dan sampai detik ini pun kamu tidak memberikan kontribusi apa pun untuk keluarga ini selain membuat suasana rumah jadi tidak tenang!"

   ​Dug.

   ​Kalimat itu menancap sangat dalam, menghantam tepat di pusat dada Mahira hingga napasnya terasa sesak. Tidak membawa apa-apa? Tidak berkontribusi apa-apa?

   ​Mahira mengepalkan kedua tangannya erat-erat di balik apron lusuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ziko tidak pernah tahu, atau mungkin tidak mau tahu, bahwa berkas analisis bisnis rumit yang berhasil membuat perusahaannya memenangkan tender bernilai puluhan miliar bulan lalu adalah hasil pemikiran jenius Mahira yang secara diam-diam ia selipkan di dalam tas kerja Ziko.

Ziko juga tidak pernah tahu bahwa relasi bisnis internasional yang tiba-tiba bersedia menanamkan investasi besar di perusahaannya adalah kenalan lama Mahira yang sengaja ia hubungi demi menyelamatkan karier suaminya.

   ​Mahira sengaja menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri pengusaha terpandang dan lulusan terbaik bisnis. Ia memilih menjadi wanita biasa yang mengabdi sepenuhnya di balik layar, rela merendahkan dirinya demi mengangkat derajat dan nama besar suaminya. Namun, apa yang ia dapatkan sebagai balasan? Hanya hinaan, dan tuduhan tak berguna yang tak pernah usai.

   ​"Kenapa diam? Kamu merasa paling tersakiti sekarang?" kekeh Ziko dengan senyuman sinis yang terukir di bibirnya. "Ibu benar. Mungkin selama ini aku yang terlalu memanjakanmu, sampai kamu lupa di mana posisi dirimu yang sebenarnya di rumah ini."

   ​Ziko berpaling dingin, membelakangi Mahira begitu saja tanpa sedikit pun niat untuk mendengarkan pembelaan istrinya. Ia melangkah menuju ruang makan bersama Ibunya yang menyunggingkan senyum kemenangan penuh kepuasan di belakang punggung Ziko.

   ​Di dapur yang kini kembali sunyi dan mencekam, Mahira berdiri sendirian dalam hening. Setetes air mata yang hangat akhirnya lolos menetes, membasahi pipinya yang pucat. Dengan cepat, ia mengusap air mata itu menggunakan punggung tangannya.

   ​Rasa sakit malam ini terasa sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ada sesuatu yang tak berwujud namun terasa sangat jelas telah patah di dalam dadanya, sebuah kesabaran dan cinta tulus yang selama ini ia jaga rapat-rapat, kini runtuh menjadi serpihan tak berharga. Rasa sakit itu tidak lagi menyisakan kesedihan, melainkan berubah menjadi keputusasaan yang berubah bentuk menjadi rasa muak yang teramat sangat.

   ​Mahira berjalan mendekati jendela dapur. Ia menatap pantulan bayangannya sendiri di kaca gelap yang tertutup bintik-bintik air hujan. Wajahnya pucat, tapi matanya kini memancarkan kilatan ketegasan yang belum pernah ada sebelumnya.

   "​Sebetulnya, aku sudah lelah menjadi wanita lemah yang selalu kau rendahkan, Mas Ziko. Tunggu saja," bisik Mahira dingin dalam hatinya.

Hai, karya baru nih setelah beberapa hari semedi nyari ide... Mari melipir di mari ya, Sayang2nya Author..jangan lupa beri dukungan, semoga karya ini tidak gagal lagi.

Terpopuler

Comments

Ai Oncom

Ai Oncom

baru baca.. mampir lg di karya kakak..

2026-08-20

1

Nasir

Nasir

Jangan lupa likenya ya.... 🙏🙏🙏

2026-08-05

1

Sri Rahayu

Sri Rahayu

uda mampir Thorr😘😘😘

2026-08-05

1

lihat semua
Episodes
1 ​Bab 1 Sup yang Dingin dan Hati yang Patah
2 Bab 2 Jus yang Kemanisan
3 Bab 3 Solusi Rahasia di Tengah Krisis
4 Bab 4 Arisan Sosialita dan Penghinaan di Depan Tamu
5 Bab 5 Kemenangan Palsu
6 Bab 6 Kedatangan Clarissa
7 Bab 7 Hinaan Pahit dan Pembalasan yang Tertunda
8 Bab 8 Ulang Tahun Pernikahan yang Hampa
9 Bab 9 Rasa Sakit yang Diabaikan
10 Bab 10: Tamu Kehormatan dan Kamar yang Dingin
11 Bab 11 Provokasi Halus dan Perangkap Anggun
12 ​Bab 12 Telepon Rahasia di Balik Pintu Kamar
13 Bab 13 Senyum Licik Ibu Mertua
14 Bab 14 Terlambat Pulang
15 Bab 15 Tuduhan Palsu dan Harga Diri yang Diinjak
16 Bab 16 Dituntut Minta Maaf Tapi Mahira Tidak Mau
17 Bab 17 Angin Segar yang Dinantikan
18 Bab 18 Sandiwara Tingkat Tinggi
19 Bab 19 Gaun Murah dan Celemek
20 Bab 20 Noda Merah di Gaun Mewah
21 Bab 21 Puncak dari Segala Pengabaian
22 Bab 22 Lembaran Baru di Atas Meja Kerja
23 Bab 23 Langkah Ringan Tanpa Penyesalan
24 Bab 24 Anggapan yang Salah
25 Bab 25 Sorak Kemenangan Semu
26 Bab 26 Kembali ke Tempat yang Seharusnya
27 Bab 27 Kembalinya Sang Komisaris Utama
28 Bab 28 Kehampaan yang Mulai Bicara
29 Bab 29 Kekacauan di Ruang Kerja
30 Bab 30 Kendali Mutlak di Tangan Sang Ratu
31 Bab 31 Panggilan yang Terputus
32 Bab 32 Pertemuan di Puncak Menara
33 Bab 33 Pesona Sang Penguasa
34 Bab 34 Penolakan Tanpa Ampun
35 Bab 35 Topeng yang Mulai Retak
36 Bab 36 Benteng yang Tak Tertembus
37 Bab 37 Kehancuran di Balik Tembok Rumah
38 Bab 38 Lembaran Kebebasan
39 Bab 39 Runtuhnya Fondasi di Tangan yang Salah
40 Bab 40 Catatan Mahira
41 Bab 41 Dinding yang Runtuh dari Dalam
42 Bab 42 Mahkota Baru Sang Ratu
43 Bab 43 Akal Bulus Bu Rani
44 Bab 44 Kelopak yang Layu di Tempat Sampah
45 Bab 45 Topeng yang Retak di Rumah Tua
46 Bab 46 Kemarahan Ziko
47 Bab 47 Clarissa Menggondol Uang Perusahaan Adhi Jaya Perkasa
48 Bab 48 Kilau di Antara Para Penguasa
49 Bab 49 Sudah Tidak Ada Sisa Rasa
50 Bab 50 Badai Krisis di Ujung Tanduk
51 Bab 51 Pelarian Clarissa dan Bayang-Bayang Audit
52 Bab 51 Kilau Palsu di Atas Meja Pegadaian
Episodes

Updated 52 Episodes

1
​Bab 1 Sup yang Dingin dan Hati yang Patah
2
Bab 2 Jus yang Kemanisan
3
Bab 3 Solusi Rahasia di Tengah Krisis
4
Bab 4 Arisan Sosialita dan Penghinaan di Depan Tamu
5
Bab 5 Kemenangan Palsu
6
Bab 6 Kedatangan Clarissa
7
Bab 7 Hinaan Pahit dan Pembalasan yang Tertunda
8
Bab 8 Ulang Tahun Pernikahan yang Hampa
9
Bab 9 Rasa Sakit yang Diabaikan
10
Bab 10: Tamu Kehormatan dan Kamar yang Dingin
11
Bab 11 Provokasi Halus dan Perangkap Anggun
12
​Bab 12 Telepon Rahasia di Balik Pintu Kamar
13
Bab 13 Senyum Licik Ibu Mertua
14
Bab 14 Terlambat Pulang
15
Bab 15 Tuduhan Palsu dan Harga Diri yang Diinjak
16
Bab 16 Dituntut Minta Maaf Tapi Mahira Tidak Mau
17
Bab 17 Angin Segar yang Dinantikan
18
Bab 18 Sandiwara Tingkat Tinggi
19
Bab 19 Gaun Murah dan Celemek
20
Bab 20 Noda Merah di Gaun Mewah
21
Bab 21 Puncak dari Segala Pengabaian
22
Bab 22 Lembaran Baru di Atas Meja Kerja
23
Bab 23 Langkah Ringan Tanpa Penyesalan
24
Bab 24 Anggapan yang Salah
25
Bab 25 Sorak Kemenangan Semu
26
Bab 26 Kembali ke Tempat yang Seharusnya
27
Bab 27 Kembalinya Sang Komisaris Utama
28
Bab 28 Kehampaan yang Mulai Bicara
29
Bab 29 Kekacauan di Ruang Kerja
30
Bab 30 Kendali Mutlak di Tangan Sang Ratu
31
Bab 31 Panggilan yang Terputus
32
Bab 32 Pertemuan di Puncak Menara
33
Bab 33 Pesona Sang Penguasa
34
Bab 34 Penolakan Tanpa Ampun
35
Bab 35 Topeng yang Mulai Retak
36
Bab 36 Benteng yang Tak Tertembus
37
Bab 37 Kehancuran di Balik Tembok Rumah
38
Bab 38 Lembaran Kebebasan
39
Bab 39 Runtuhnya Fondasi di Tangan yang Salah
40
Bab 40 Catatan Mahira
41
Bab 41 Dinding yang Runtuh dari Dalam
42
Bab 42 Mahkota Baru Sang Ratu
43
Bab 43 Akal Bulus Bu Rani
44
Bab 44 Kelopak yang Layu di Tempat Sampah
45
Bab 45 Topeng yang Retak di Rumah Tua
46
Bab 46 Kemarahan Ziko
47
Bab 47 Clarissa Menggondol Uang Perusahaan Adhi Jaya Perkasa
48
Bab 48 Kilau di Antara Para Penguasa
49
Bab 49 Sudah Tidak Ada Sisa Rasa
50
Bab 50 Badai Krisis di Ujung Tanduk
51
Bab 51 Pelarian Clarissa dan Bayang-Bayang Audit
52
Bab 51 Kilau Palsu di Atas Meja Pegadaian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!