Bab 3 Solusi Rahasia di Tengah Krisis

   ​"Kalian semua tidak punya otak! Bagaimana bisa salah menghitung risiko proyek lima puluh miliar?"

   ​Pintu jati berukir di ruang depan dihempas keras oleh Ziko saat ia melangkah masuk ke rumah malam itu. Suara dentumannya bergema melintasi lorong-lorong rumah megah berlantai marmer tersebut, memecah kesunyian malam yang dingin.

   Wajah Ziko pucat pasi, matanya merah memancarkan amarah sekaligus keputusasaan yang membuncah. Dasinya sudah melonggar tidak beraturan, kancing teratas kemejanya terbuka, dan rambut klimisnya kini acak-acakan akibat usapan frustrasi yang tak henti-hentinya ia lakukan sepanjang jalan.

   ​Rasa panik, tertekan, dan amarah menyelimuti seluruh tubuh Ziko. Perusahaan yang ia bangun dan ia bangga-banggakan di depan semua orang, perusahaan tempat ia bertaruh nama besar dan harga dirinya sebagai pria sukses, sedang berada di ujung tanduk. Kesalahan fatal analisis dari tim finansialnya mengancam akan menghancurkan segalanya dalam semalam.

   ​Bu Rani yang sedang duduk di ruang tamu sembari menikmati teh hangat langsung berdiri terkejut. Cangkir porselen di tangannya hampir saja terlepas. "Ziko! Ada apa, Nak? Kenapa pulang-pulang marah-marah begitu? Apa yang terjadi di kantor?"

   ​"Perusahaan Ziko terancam rugi lima puluh miliar besok pagi, Bu." bentak Ziko frustrasi. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit impor, lalu memegangi kepalanya yang terasa seperti mau pecah. Denyut nyeri di pelipisnya kian menusuk. "Rapat direksi jam sembilan pagi besok adalah penentuannya. Kalau Ziko tidak bisa memberikan solusi finansial dan pemetaan risiko yang masuk akal, kontrak dibatalkan dan perusahaan Ziko gulung tikar! Ziko bisa hancur, Bu!"

   ​Bu Rani menutup mulutnya dengan telapak tangan, wajahnya seketika pucat membayangkan kemewahan hidupnya akan sirna. Namun, ketakutan itu dalam sekejap berubah menjadi kilatan amarah yang membara. Matanya yang tajam melirik ke arah lorong dapur, di mana Mahira baru saja keluar membawa nampan berisi segelas air hangat.

   ​"Ini semua pasti gara-gara pembawa sial di rumah ini!" tuduh Bu Rani tanpa ragu, jarinya melayang menunjuk lurus ke wajah Mahira. "Sejak Ziko menikah denganmu, nasib keluarga ini makin banyak masalah. Dasar wanita tidak berguna! Bukannya membantu suami memberi solusi, kamu cuma bisa berdiri planga-plongo seperti patung di situ!"

   ​Mahira tidak membalas tuduhan tak berdasar itu. Hatinya sudah terlalu tebal oleh tumpukan hinaan yang saban hari ia terima. Ia melangkah tenang mendekati sofa, meletakkan gelas air hangat di atas meja kopi dengan gerakan sehalus mungkin, mencoba memberikan sedikit ketenangan di tengah badai.

   ​"Mas Ziko, diminum dulu airnya... Tenangkan pikiran dulu, Mas," ucap Mahira dengan suara pelan dan lembut.

   ​"Diam, Hira! Aku tidak butuh air putihmu!" bentak Ziko keras dengan mata memelotot tajam. Emosinya yang membumbung tinggi dilampiaskan sepenuhnya pada wanita di hadapannya.

   ​Sebelum Mahira sempat menarik tangannya, Ziko menepis tangan istrinya dengan kasar.

   Brak!

   Gelas kaca itu terlempar ke lantai, pecah berkeping-keping dan menyiramkan air hangat yang mengotori celana panjang serta sepatu mahal milik Ziko.

   ​"Aku butuh solusi lima puluh miliar, bukan perhatian murahan dari wanita yang bahkan tidak tahu artinya laporan keuangan!" teriak Ziko lagi, napasnya memburu penuh keputusasaan. "Pergi kamu dari hadapanku! Jangan ganggu aku!"

   ​Mahira menatap suaminya yang dipenuhi emosi buta. Tidak ada rasa marah di mata Mahira, hanya ada kesedihan mendalam dan kekecewaan yang telah mencapai puncaknya. Tanpa mengucap sepatah kata pun untuk membela diri, Mahira berlutut di atas marmer dingin. Dengan jemarinya yang halus, ia memunguti pecahan kaca tajam satu per satu dan mengelap tumpahan air menggunakan sapu tangan kainnya, lalu melangkah kembali ke dalam kamar tanpa berpaling lagi.

   ​Malam makin larut, membawa hawa dingin menusuk yang menyelimuti seluruh sudut rumah. Dentang jam dinding berbunyi satu kali, menandakan waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari. Rumah megah itu akhirnya benar-benar hening, menyisakan deru angin malam di luar.

   ​Di dalam ruang kerja berlantai kayu, Ziko akhirnya terkulai lelap di atas sofa kulit karena kelelahan fisik dan stres berat yang menguras energinya.

   Lampu meja masih menyala temaram, memancarkan cahaya kuning pada lembaran-lembaran kertas proyek yang berserakan di atas meja kerja kayu jati. Berkas-berkas itu dipenuhi angka-angka kerugian dan kalkulasi risiko yang salah, bukti kepanikan yang tak menemukan jalan keluar.

   ​Pintu ruang kerja berderit pelan. Mahira melangkah masuk tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Pakaian sederhananya bergesekan lembut dengan udara malam. Ia berdiri mematung di samping sofa, menatap wajah suaminya yang tertidur lelap dengan dahi yang masih berkerut rapat dan napas yang berat.

   ​Mahira menghela napas panjang. Seberapapun jahatnya perlakuan Ziko padanya, seberapapun pedasnya racun kalimat yang diucapkan Bu Rani setiap hari, nurani Mahira tidak tega melihat pria yang masih berstatus suaminya itu hancur secara mengenaskan. Bagaimanapun, ada kenangan masa lalu dan janji yang pernah ia patuhi.

   ​Mahira mengalihkan pandangannya ke meja kerja. Ia mendekati tumpukan dokumen tersebut. Jemarinya yang lentik meraih beberapa lembar kertas kosong bergaris dan sebuah pena tinta hitam dari dalam tempat pensil.

   ​Mahira menarik kursi kayu di balik meja. Ketika jemarinya menyentuh pena dan matanya meneliti deretan angka di lembar proyek Ziko, aura dalam diri Mahira seketika berubah. Langkahnya yang tadi lesu kini berganti dengan ketegasan seorang analis ulung.

Di balik statusnya yang selalu direndahkan sebagai "wanita kampung tak berpendidikan", Mahira adalah putri tunggal pemilik Grand Wijaya Group, lulusan terbaik manajemen finansial internasional yang kecerdasan analisanya pernah diperebutkan oleh perusahaan-perusahaan raksasa.

   ​Hanya butuh waktu empat puluh lima menit bagi Mahira. Jemarinya menari dengan cepat dan presisi di atas kertas bergaris. Tanpa ragu, ia mencoret seluruh kalkulasi salah yang dibuat oleh tim finansial Ziko yang tidak kompeten.

   ​Dengan pemikiran tingkat tinggi dan intuisi bisnisnya yang tajam, Mahira menyusun ulang seluruh pemetaan risiko. Ia menghitung kembali alokasi modal, memangkas pembengkakan anggaran yang tidak perlu, dan menyelipkan strategi alokasi investasi darurat yang sanggup mengamankan aset perusahaan.

 Kalkulasi yang dikerjakan Mahira bukan sekedar solusi sementara, melainkan sebuah formula bisnis sempurna yang berpotensi mengubah ancaman kerugian lima puluh miliar menjadi keuntungan berlipat ganda.

   ​Setelah menyelesaikan lembar ketiga, Mahira membubuhkan garis bawah di akhir rumusannya, sebuah ciri khas penulisan analisis yang selalu ia gunakan dulu. Ia mengeringkan tinta hitam itu sejenak, lalu merapikan kertas-kertas tersebut.

   ​Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Mahira membuka tas kerja kulit milik Ziko yang tergeletak di atas meja. Ia menyelipkan tiga lembar kertas analisis berharga jutaan dolar itu ke dalam map kerja hitam utama, map yang dipastikan akan dibuka Ziko saat rapat krusial bersama para direksi besok pagi.

   ​Setelah semuanya rapi kembali seperti semula, Mahira melangkah mendekati sofa tempat Ziko tertidur. Ia berdiri menatap paras tampan suaminya dalam keheningan malam yang cengkeram. Senyum tipis yang amat dingin dan penuh kepahitan terukir di bibirnya yang pucat.

   ​"Ini bantuan terakhir dariku untuk kariermu, Mas," bisik Mahira pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam desir angin malam. "Semoga lembaran ini cukup untuk membuktikan padamu dan ibumu, siapa sebenarnya wanita yang selama ini selalu kalian sebut tak berguna."

   ​Mahira berbalik, melangkah keluar dari ruang kerja itu dan menutup pintunya rapat-rapat. Malam itu, Mahira telah menuntaskan kewajibannya sebagai seorang istri untuk yang terakhir kalinya.

Terpopuler

Comments

𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪

𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪

udh sih mahira gk usah dibantuin suami mu yg gk tau diri itu biarin aja perusahaan nya bangkrut sekalian 😏

2026-08-15

1

Sri Rahayu

Sri Rahayu

semoga Ziko tau apa yg sdh dilakukan Mahira utk menyelamatkan perusahaan nya ...lanjut Thorr😘😘😘

2026-08-08

1

lihat semua
Episodes
1 ​Bab 1 Sup yang Dingin dan Hati yang Patah
2 Bab 2 Jus yang Kemanisan
3 Bab 3 Solusi Rahasia di Tengah Krisis
4 Bab 4 Arisan Sosialita dan Penghinaan di Depan Tamu
5 Bab 5 Kemenangan Palsu
6 Bab 6 Kedatangan Clarissa
7 Bab 7 Hinaan Pahit dan Pembalasan yang Tertunda
8 Bab 8 Ulang Tahun Pernikahan yang Hampa
9 Bab 9 Rasa Sakit yang Diabaikan
10 Bab 10: Tamu Kehormatan dan Kamar yang Dingin
11 Bab 11 Provokasi Halus dan Perangkap Anggun
12 ​Bab 12 Telepon Rahasia di Balik Pintu Kamar
13 Bab 13 Senyum Licik Ibu Mertua
14 Bab 14 Terlambat Pulang
15 Bab 15 Tuduhan Palsu dan Harga Diri yang Diinjak
16 Bab 16 Dituntut Minta Maaf Tapi Mahira Tidak Mau
17 Bab 17 Angin Segar yang Dinantikan
18 Bab 18 Sandiwara Tingkat Tinggi
19 Bab 19 Gaun Murah dan Celemek
20 Bab 20 Noda Merah di Gaun Mewah
21 Bab 21 Puncak dari Segala Pengabaian
22 Bab 22 Lembaran Baru di Atas Meja Kerja
23 Bab 23 Langkah Ringan Tanpa Penyesalan
24 Bab 24 Anggapan yang Salah
25 Bab 25 Sorak Kemenangan Semu
26 Bab 26 Kembali ke Tempat yang Seharusnya
27 Bab 27 Kembalinya Sang Komisaris Utama
28 Bab 28 Kehampaan yang Mulai Bicara
29 Bab 29 Kekacauan di Ruang Kerja
30 Bab 30 Kendali Mutlak di Tangan Sang Ratu
31 Bab 31 Panggilan yang Terputus
32 Bab 32 Pertemuan di Puncak Menara
33 Bab 33 Pesona Sang Penguasa
34 Bab 34 Penolakan Tanpa Ampun
35 Bab 35 Topeng yang Mulai Retak
36 Bab 36 Benteng yang Tak Tertembus
37 Bab 37 Kehancuran di Balik Tembok Rumah
38 Bab 38 Lembaran Kebebasan
39 Bab 39 Runtuhnya Fondasi di Tangan yang Salah
40 Bab 40 Catatan Mahira
41 Bab 41 Dinding yang Runtuh dari Dalam
42 Bab 42 Mahkota Baru Sang Ratu
43 Bab 43 Akal Bulus Bu Rani
44 Bab 44 Kelopak yang Layu di Tempat Sampah
45 Bab 45 Topeng yang Retak di Rumah Tua
46 Bab 46 Kemarahan Ziko
47 Bab 47 Clarissa Menggondol Uang Perusahaan Adhi Jaya Perkasa
48 Bab 48 Kilau di Antara Para Penguasa
49 Bab 49 Sudah Tidak Ada Sisa Rasa
50 Bab 50 Badai Krisis di Ujung Tanduk
51 Bab 51 Pelarian Clarissa dan Bayang-Bayang Audit
52 Bab 51 Kilau Palsu di Atas Meja Pegadaian
Episodes

Updated 52 Episodes

1
​Bab 1 Sup yang Dingin dan Hati yang Patah
2
Bab 2 Jus yang Kemanisan
3
Bab 3 Solusi Rahasia di Tengah Krisis
4
Bab 4 Arisan Sosialita dan Penghinaan di Depan Tamu
5
Bab 5 Kemenangan Palsu
6
Bab 6 Kedatangan Clarissa
7
Bab 7 Hinaan Pahit dan Pembalasan yang Tertunda
8
Bab 8 Ulang Tahun Pernikahan yang Hampa
9
Bab 9 Rasa Sakit yang Diabaikan
10
Bab 10: Tamu Kehormatan dan Kamar yang Dingin
11
Bab 11 Provokasi Halus dan Perangkap Anggun
12
​Bab 12 Telepon Rahasia di Balik Pintu Kamar
13
Bab 13 Senyum Licik Ibu Mertua
14
Bab 14 Terlambat Pulang
15
Bab 15 Tuduhan Palsu dan Harga Diri yang Diinjak
16
Bab 16 Dituntut Minta Maaf Tapi Mahira Tidak Mau
17
Bab 17 Angin Segar yang Dinantikan
18
Bab 18 Sandiwara Tingkat Tinggi
19
Bab 19 Gaun Murah dan Celemek
20
Bab 20 Noda Merah di Gaun Mewah
21
Bab 21 Puncak dari Segala Pengabaian
22
Bab 22 Lembaran Baru di Atas Meja Kerja
23
Bab 23 Langkah Ringan Tanpa Penyesalan
24
Bab 24 Anggapan yang Salah
25
Bab 25 Sorak Kemenangan Semu
26
Bab 26 Kembali ke Tempat yang Seharusnya
27
Bab 27 Kembalinya Sang Komisaris Utama
28
Bab 28 Kehampaan yang Mulai Bicara
29
Bab 29 Kekacauan di Ruang Kerja
30
Bab 30 Kendali Mutlak di Tangan Sang Ratu
31
Bab 31 Panggilan yang Terputus
32
Bab 32 Pertemuan di Puncak Menara
33
Bab 33 Pesona Sang Penguasa
34
Bab 34 Penolakan Tanpa Ampun
35
Bab 35 Topeng yang Mulai Retak
36
Bab 36 Benteng yang Tak Tertembus
37
Bab 37 Kehancuran di Balik Tembok Rumah
38
Bab 38 Lembaran Kebebasan
39
Bab 39 Runtuhnya Fondasi di Tangan yang Salah
40
Bab 40 Catatan Mahira
41
Bab 41 Dinding yang Runtuh dari Dalam
42
Bab 42 Mahkota Baru Sang Ratu
43
Bab 43 Akal Bulus Bu Rani
44
Bab 44 Kelopak yang Layu di Tempat Sampah
45
Bab 45 Topeng yang Retak di Rumah Tua
46
Bab 46 Kemarahan Ziko
47
Bab 47 Clarissa Menggondol Uang Perusahaan Adhi Jaya Perkasa
48
Bab 48 Kilau di Antara Para Penguasa
49
Bab 49 Sudah Tidak Ada Sisa Rasa
50
Bab 50 Badai Krisis di Ujung Tanduk
51
Bab 51 Pelarian Clarissa dan Bayang-Bayang Audit
52
Bab 51 Kilau Palsu di Atas Meja Pegadaian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!