Bab 5 Kemenangan Palsu

   ​Sorak-sorai kepuasan masih membahana di ruang rapat lantai teratas gedung pencakar langit milik perusahaannya. Ziko berdiri di ujung meja konferensi kayu mahoni, menyilangkan kedua lengan di dada dengan dagu terangkat penuh keangkuhan.

   Di hadapannya, para jajaran direksi senior dan perwakilan investor asing bertepuk tangan meriah. Kontrak investasi bernilai seratus miliar rupiah baru saja ditandatangani, menandai titik balik terbesar dalam sejarah karier bisnisnya.

   ​"Luar biasa, Pak Ziko! Strategi pemetaan risiko dan efisiensi anggaran yang Anda sajikan di lembar analisis tadi benar-benar mahakarya bisnis," puji Mr. Henderson, perwakilan investor utama, seraya menjabat tangan Ziko erat-erat. "Jarang sekali saya melihat perhitungan risiko yang begitu presisi dan visioner dalam waktu sesingkat ini."

   ​Ziko tersenyum lebar, membusungkan dadanya dengan binar mata kepuasan yang membuncah. Rasa panik dan ketakutan yang semalam meremukkan jiwanya kini menguap tanpa bekas, berganti menjadi euforia kebanggaan diri yang melambung tinggi.

   ​"Terima kasih, Mr. Henderson," sahut Ziko dengan nada percaya diri yang dibuat-buat anggun. "Sebagai pimpinan, sudah menjadi kewajiban saya untuk selalu berpikir sepuluh langkah di depan. Saat tim saya menemui jalan buntu, sayalah yang harus turun tangan menyusun seluruh formula ini hingga larut malam. Pengalaman dan intuisi bisnis saya yang mengarahkan setiap angka di kertas itu."

​Ziko tertawa kecil, menerima begitu saja seluruh decak kagum dan pujian yang mengalir deras ke arahnya. Ia secara penuh mengklaim bahwa tiga lembar kertas bergaris bertinta hitam itu adalah buah dari kepintaran jeniusnya sendiri.

Pikiran Ziko sama sekali tidak sudi melirik ingatan malam tadi, tentang bagaimana ia tertidur lelap akibat keputusasaan, dan tentang siapa sosok sebenarnya yang memegang pena di atas meja kerjanya. Baginya, Mahira hanyalah wanita kampung yang bahkan tidak paham cara membaca laporan keuangan sederhana, apalagi meracik strategi investasi internasional.

​Pukul tujuh malam, Ziko pulang ke rumahnya dengan langkah gagah. Pintu jati dihempas pelan, menampilkan sosoknya yang tampak seperti pahlawan kemenangan.

Bau harum masakan mewah semerbak memenuhi ruang tengah. Bu Rani sudah menunggu di sofa dengan gaun terbaiknya, menyambut putra kebanggaannya dengan pelukan hangat dan wajah penuh senyum yang merekah lebar.

​"Anak Ibu yang hebat! Pahlawan keluarga," seru Bu Rani penuh kebanggaan seraya menepuk-nepuk bahu Ziko. "Ibu sudah dengar semuanya dari telepon tadi siang. Seratus miliar, Ziko. Ibu bangga sekali punya anak secerdas dan sejago kamu dalam berbisnis!"

​"Tentu saja, Bu," kekeh Ziko seraya melepas jas mewahnya. Ia berjalan menuju meja makan yang sudah tertata rapi. "Dunia bisnis itu butuh taktik dan insting tajam. Kalau bukan karena Ziko yang memeras otak semalaman menyusun strategi ajaib itu, perusahaan Ziko pasti sudah hancur hari ini."

​Dari arah dapur, Mahira melangkah pelan membawa mangkuk sup panas. Pakaian sederhananya masih sama seperti tadi siang, bersih namun bersahaja. Langkah kakinya tanpa suara, namun tatapan matanya tetap tenang dan dingin. Ia meletakkan mangkuk itu di tengah meja makan tanpa menyela percakapan ibu dan anak tersebut.

​Ziko melirik Mahira sekilas. Pandangannya tetap penuh superioritas yang mengakar kuat.

​"Hira, kamu dengar tidak?" ujar Ziko dengan nada menggurui yang kental. Ia mendudukkan dirinya di kursi utama meja makan, memandang Mahira dari atas ke bawah. "Hari ini Mas berhasil menyelamatkan perusahaan dan mendapat investasi seratus miliar rupiah. Itu semua karena kerja keras dan insting bisnis Mas yang jauh di atas rata-rata orang biasa."

​Mahira berdiri mematung di samping meja. Jemarinya terlipat rapi di depan tubuhnya. "Selamat untuk keberhasilan Mas Ziko," ucap Mahira pelan, suaranya datar tanpa ada sedikit pun riak kejutan atau kekaguman.

​Bu Rani mendengus keras mendengar respon Mahira yang dinilainya terlampau dingin. "Cuma 'selamat? Dasar wanita tidak tahu berekspresi. Suamimu ini baru saja melakukan hal spektakuler, Hira! Harusnya kamu sujud syukur punya suami sehebat Ziko. Coba kalau Ziko tidak pintar, mau makan apa kamu di rumah ini?"

​Ziko tersenyum sinis, mengibaskan tangannya seolah menenangkan ibunya, padahal ia sangat menikmati penghinaan tersebut.

​"Sudahlah, Bu. Hira kan memang tidak paham dunia bisnis tingkat tinggi," kata Ziko seraya menuangkan air ke gelasnya. "Dia mana mengerti seberapa rumitnya rumusan risiko yang Ziko buat semalam di kertas bergaris itu. Istilah-istilah finansial di dalamnya saja pasti membuat kepalanya pusing. Beda kelas."

​Mahira menatap suaminya lurus-lurus. Di dalam dadanya, ada rasa miris yang bercampur dengan keheranan yang mendalam. Dibuat semalam? Mas Ziko benar-benar percaya bahwa keajaiban itu datang dari pikirannya sendiri? Atau ego tingginya yang menolak mengakui bahwa kebenaran ada di depan matanya?

​"Mas Ziko yakin... tulisan tangan di tiga lembar kertas bergaris itu milik Mas sendiri?" tanya Mahira tiba-tiba. Pertanyaan itu meluncur dengan tenang, namun mengandung tekanan misterius yang membekukan udara di ruang makan sejenak.

​Ziko tertegun. Dahinya berkerut rapat, ada sedikit desiran asing yang menyenggol kesadarannya. Namun dengan cepat, rasa gengsi dan kesombongan membakar desiran itu hingga hangus. Ziko menggebrak meja makan dengan pelan namun tegas.

​"Maksudmu apa bertanya begitu, Hira?" tegur Ziko dengan nada tersinggung. "Kamu mau meragukan kerja keras suamimu sendiri? Tentu saja itu konsep dan ide dari otakku. Siapa lagi kalau bukan aku? Kamu mau bilang itu buatanmu, begitu? Ha! Jangan bermimpi!"

​Bu Rani tertawa melengking mendengarkan ucapan putranya, mengejek Mahira tanpa ampun. "Astaga, Ziko. Lihat istrimu ini, makin hari makin berhalusinasi. Mungkin dia iri karena tidak punya kepintaran seperti kamu. Hira, kamu itu mengurus rumah saja tidak becus, tidak usah sok bertingkah seolah kamu paham isi tas kerja Ziko."

​Mahira tidak membalas gelak tawa mengejek dari mertua dan suaminya. Senyum tipis yang sangat dingin dan penuh kepahitan kembali terukir di bibirnya yang pucat. Ia menatap Ziko dengan pandangan yang membuat Ziko merasa tidak nyaman, sebuah tatapan kasihan dari seorang pemenang kepada sosok yang sedang merayakan kemenangan palsu.

​"Saya tidak bilang itu buatan saya, Mas," sahut Mahira berbisik halus, suaranya seperti angin malam yang dingin. "Saya hanya berharap... Mas Ziko selalu bisa membuat '*rumusan ajaib*' seperti itu sendirian, ketika krisis berikutnya datang menghampiri."

​"Kamu mengutuk perusahaanku, hah?" bentak Ziko, mukanya memerah padam karena merasa harga dirinya dicolek oleh wanita yang paling ia rendahkan. "Cukup, Hira! Jangan merusak suasana syukurnya keluarga ini dengan mulut pembawa sialmu itu. Pergi ke belakang!"

​"Baik, Mas. Permisi," jawab Mahira tenang.

​Mahira berbalik dan melangkah pergi meninggalkan meja makan mewah tersebut. Di belakangnya, Ziko dan Bu Rani kembali melanjutkan santap malam mereka seraya membanggakan diri, menyuapkan makanan lezat yang dimasak oleh jemari Mahira.

​Di dalam kamarnya yang sepi, Mahira berjalan mendekati meja rias kecilnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Tidak ada lagi rasa sakit hati, tidak ada lagi air mata yang menetes. Pengorbanan yang telah ia berikan, dan balasan yang ia terima adalah kesombongan yang makin membutakan mata suaminya.

​Mahira menarik laci meja, mengeluarkan ponsel khususnya yang selama tiga tahun ini tersimpan rapat dalam keadaan mati. Ia menekan tombol daya. Layar ponsel itu menyala, menampilkan puluhan notifikasi dan pesan yang tertunda dari orang-orang terpenting di dunia bisnis tanah air.

Tapi, Mahira kembali meletakkan ponsel itu ke dalam laci, dia menggeleng, sebab belum waktunya ia menghubungi orang-orangnya.

"Belum sekarang, hanya tinggal menunggu waktu," gumamnya.

Episodes
1 ​Bab 1 Sup yang Dingin dan Hati yang Patah
2 Bab 2 Jus yang Kemanisan
3 Bab 3 Solusi Rahasia di Tengah Krisis
4 Bab 4 Arisan Sosialita dan Penghinaan di Depan Tamu
5 Bab 5 Kemenangan Palsu
6 Bab 6 Kedatangan Clarissa
7 Bab 7 Hinaan Pahit dan Pembalasan yang Tertunda
8 Bab 8 Ulang Tahun Pernikahan yang Hampa
9 Bab 9 Rasa Sakit yang Diabaikan
10 Bab 10: Tamu Kehormatan dan Kamar yang Dingin
11 Bab 11 Provokasi Halus dan Perangkap Anggun
12 ​Bab 12 Telepon Rahasia di Balik Pintu Kamar
13 Bab 13 Senyum Licik Ibu Mertua
14 Bab 14 Terlambat Pulang
15 Bab 15 Tuduhan Palsu dan Harga Diri yang Diinjak
16 Bab 16 Dituntut Minta Maaf Tapi Mahira Tidak Mau
17 Bab 17 Angin Segar yang Dinantikan
18 Bab 18 Sandiwara Tingkat Tinggi
19 Bab 19 Gaun Murah dan Celemek
20 Bab 20 Noda Merah di Gaun Mewah
21 Bab 21 Puncak dari Segala Pengabaian
22 Bab 22 Lembaran Baru di Atas Meja Kerja
23 Bab 23 Langkah Ringan Tanpa Penyesalan
24 Bab 24 Anggapan yang Salah
25 Bab 25 Sorak Kemenangan Semu
26 Bab 26 Kembali ke Tempat yang Seharusnya
27 Bab 27 Kembalinya Sang Komisaris Utama
28 Bab 28 Kehampaan yang Mulai Bicara
29 Bab 29 Kekacauan di Ruang Kerja
30 Bab 30 Kendali Mutlak di Tangan Sang Ratu
31 Bab 31 Panggilan yang Terputus
32 Bab 32 Pertemuan di Puncak Menara
33 Bab 33 Pesona Sang Penguasa
34 Bab 34 Penolakan Tanpa Ampun
35 Bab 35 Topeng yang Mulai Retak
36 Bab 36 Benteng yang Tak Tertembus
37 Bab 37 Kehancuran di Balik Tembok Rumah
38 Bab 38 Lembaran Kebebasan
39 Bab 39 Runtuhnya Fondasi di Tangan yang Salah
40 Bab 40 Catatan Mahira
41 Bab 41 Dinding yang Runtuh dari Dalam
42 Bab 42 Mahkota Baru Sang Ratu
43 Bab 43 Akal Bulus Bu Rani
44 Bab 44 Kelopak yang Layu di Tempat Sampah
45 Bab 45 Topeng yang Retak di Rumah Tua
46 Bab 46 Kemarahan Ziko
47 Bab 47 Clarissa Menggondol Uang Perusahaan Adhi Jaya Perkasa
48 Bab 48 Kilau di Antara Para Penguasa
49 Bab 49 Sudah Tidak Ada Sisa Rasa
50 Bab 50 Badai Krisis di Ujung Tanduk
51 Bab 51 Pelarian Clarissa dan Bayang-Bayang Audit
52 Bab 51 Kilau Palsu di Atas Meja Pegadaian
Episodes

Updated 52 Episodes

1
​Bab 1 Sup yang Dingin dan Hati yang Patah
2
Bab 2 Jus yang Kemanisan
3
Bab 3 Solusi Rahasia di Tengah Krisis
4
Bab 4 Arisan Sosialita dan Penghinaan di Depan Tamu
5
Bab 5 Kemenangan Palsu
6
Bab 6 Kedatangan Clarissa
7
Bab 7 Hinaan Pahit dan Pembalasan yang Tertunda
8
Bab 8 Ulang Tahun Pernikahan yang Hampa
9
Bab 9 Rasa Sakit yang Diabaikan
10
Bab 10: Tamu Kehormatan dan Kamar yang Dingin
11
Bab 11 Provokasi Halus dan Perangkap Anggun
12
​Bab 12 Telepon Rahasia di Balik Pintu Kamar
13
Bab 13 Senyum Licik Ibu Mertua
14
Bab 14 Terlambat Pulang
15
Bab 15 Tuduhan Palsu dan Harga Diri yang Diinjak
16
Bab 16 Dituntut Minta Maaf Tapi Mahira Tidak Mau
17
Bab 17 Angin Segar yang Dinantikan
18
Bab 18 Sandiwara Tingkat Tinggi
19
Bab 19 Gaun Murah dan Celemek
20
Bab 20 Noda Merah di Gaun Mewah
21
Bab 21 Puncak dari Segala Pengabaian
22
Bab 22 Lembaran Baru di Atas Meja Kerja
23
Bab 23 Langkah Ringan Tanpa Penyesalan
24
Bab 24 Anggapan yang Salah
25
Bab 25 Sorak Kemenangan Semu
26
Bab 26 Kembali ke Tempat yang Seharusnya
27
Bab 27 Kembalinya Sang Komisaris Utama
28
Bab 28 Kehampaan yang Mulai Bicara
29
Bab 29 Kekacauan di Ruang Kerja
30
Bab 30 Kendali Mutlak di Tangan Sang Ratu
31
Bab 31 Panggilan yang Terputus
32
Bab 32 Pertemuan di Puncak Menara
33
Bab 33 Pesona Sang Penguasa
34
Bab 34 Penolakan Tanpa Ampun
35
Bab 35 Topeng yang Mulai Retak
36
Bab 36 Benteng yang Tak Tertembus
37
Bab 37 Kehancuran di Balik Tembok Rumah
38
Bab 38 Lembaran Kebebasan
39
Bab 39 Runtuhnya Fondasi di Tangan yang Salah
40
Bab 40 Catatan Mahira
41
Bab 41 Dinding yang Runtuh dari Dalam
42
Bab 42 Mahkota Baru Sang Ratu
43
Bab 43 Akal Bulus Bu Rani
44
Bab 44 Kelopak yang Layu di Tempat Sampah
45
Bab 45 Topeng yang Retak di Rumah Tua
46
Bab 46 Kemarahan Ziko
47
Bab 47 Clarissa Menggondol Uang Perusahaan Adhi Jaya Perkasa
48
Bab 48 Kilau di Antara Para Penguasa
49
Bab 49 Sudah Tidak Ada Sisa Rasa
50
Bab 50 Badai Krisis di Ujung Tanduk
51
Bab 51 Pelarian Clarissa dan Bayang-Bayang Audit
52
Bab 51 Kilau Palsu di Atas Meja Pegadaian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!