Bab 4 Arisan Sosialita dan Penghinaan di Depan Tamu

   ​Paginya, saat udara dingin menyelimuti kediaman megah keluarga Ziko. Tanpa menyadari tiga lembar kertas analisis rahasia yang telah diselipkan Mahira di dalam tas kerjanya, Ziko berangkat ke kantor dengan tergesa-gesa. Pria itu menyambar tasnya begitu saja tanpa sepatah kata pun menyapa sang istri. Sementara itu, rumah megah berarsitektur modern tersebut sudah disibukkan oleh rentetan perintah Bu Rani yang tak berhati nurani.

​"Mahira! Cepat tata buah-buahan ini di piring kristal! Jam sepuluh teman-teman arisan sosialita saya mau datang!" perintah Bu Rani dengan suara melengking keras dari lorong dapur. "Awas ya kalau ada makanan yang tidak enak atau sajian yang terlambat. Kamu bikin malu saya di depan teman-teman, saya coret nama kamu dari rumah ini dan saya suruh Ziko ceraikan kamu sekalian!"

​Mahira menurut tanpa membantah. Sejak pukul lima pagi, tatkala mentari belum sepenuhnya terbit, ia sudah bergulat di dapur. Jemarinya yang halus telah membuat puluhan kue basah tradisional hingga pastry modern, menyeduh teh melati berkualitas tinggi, serta menata ruang tamu utama agar terlihat mengkilap dan sempurna. Semua tugas berat itu ia selesaikan sendirian tanpa bantuan asisten rumah tangga satu pun.

​Pukul sepuluh tepat, deru mobil-mobil mewah terdengar berhenti di halaman depan. Gelak tawa nyaring dan riuh merambat masuk saat pintu jati terbuka. Bu Rani menyambut lima orang wanita paruh baya berpenampilan mencolok dengan pakaian branded, tas kulit impor puluhan juta, serta perhiasan emas dan berlian yang menyilaukan mata.

​"Duh, Rani... Rumahmu bagus sekali ya. Bersih sekali lantainya, kinclong seperti marmer istana," puji salah satu temannya, Bu Siska, seraya menghempaskan tubuhnya yang berbalut gaun sutra ke sofa empuk.

​"Tentu saja, rumah harus selalu mengkilap," sahut Bu Rani bangga, menepuk dada dengan angkuh. Lalu ia berbalik dan berteriak ke arah dapur dengan nada persis seperti memanggil seorang pelayan murah. "Hira! Keluarkan minumannya! Lambat sekali kamu. Dasar lelet!"

​Mahira keluar dari dapur membawa nampan kayu besar berisi cangkir-cangkir porselen dan piring kue yang disusun rapi. Ia mengenakan pakaian yang sangat sederhana, atasan kaos polos yang sedikit melar dan rok kain yang agak kusam karena memang tak pernah dibelikan pakaian baru oleh Ziko maupun Bu Rani. Penampilannya sangat kontras dengan kemewahan ruang tamu itu.

​Saat Mahira membungkuk dan menyajikan teh satu per satu di meja kaca, teman-teman Bu Rani memperhatikan penampilan Mahira dari atas sampai bawah dengan pandangan aneh dan tatapan merendahkan.

​"Rani, ini... pembantu barumu ya? Kok tidak pakai seragam khusus?" tanya Bu Siska polos, memicu senyum penuh ejekan di wajah tamu lainnya.

​Bu Rani tertawa sinis, menyilangkan kakinya dengan angkuh di atas sofa. "Pembantu? Bukan, Jeng. Ini istrinya Ziko."

​Sontak para wanita sosialita itu saling berpandangan dengan wajah terkejut, lalu tertawa kecil sembari menutupi mulut mereka menggunakan kipas tangan dan jemari berhias cincin.

​"Astaga, Rani! Ini mantumu?" timpal Bu Yanti terheran-heran. "Kok penampilannya kusam dan dekil sekali? Beda jauh sama Ziko yang rapi, tampan, dan necis. Katanya Ziko pengusaha sukses yang wara-wiri di koran bisnis, kok istrinya seperti orang baru pulang dari pasar begini?"

​"Ya mau bagaimana lagi, Jeng Yanti," ujar Bu Rani dengan suara yang sengaja dikencangkan agar terdengar jelas oleh Mahira yang masih berlutut menata cangkir. "Dulu Ziko itu salah pilih. Dia cuma kasihan saja sama wanita ini. Dulu dibawa dari kampung, tidak punya latar belakang keluarga terpandang, tidak berpendidikan tinggi, dan yang paling parah... sampai sekarang pun tidak bisa kasih Ziko keturunan. Jadi ya di rumah ini tugasnya memang cuma mengurus rumah dan melayani kita. Hitung-hitung tahu diri karena sudah dibiayai hidupnya!"

​Hati Mahira rasanya seperti dihantam batu besar yang hancur berkeping-keping. Tangan Mahira yang memegang nampan gemetar pelan, menahan dentum amarah dan rasa perih yang begitu menikam. Ia berdiri kaku di samping meja, dipermalukan secara terang-terangan di hadapan orang luar oleh ibu mertuanya sendiri demi memuaskan rasa gengsi sosialita palsu.

​"Hira! Kenapa malah berdiri melamun seperti patung di situ?" tegur Bu Rani galak, menatap menantunya dengan mata mendelik. "Pijit kaki saya! Tadi pagi saya pegal-pegal gara-gara mengawasi kamu kerja yang lelet itu!"

​Bu Siska dan teman-temannya saling berbisik sambil tersenyum mengejek, menikmati pemandangan Mahira yang diperlakukan tak lebih dari seorang budak di rumah suaminya sendiri.

​Mahira menarik napas panjang. Tatapan matanya yang biasa teduh kini memancarkan aura dingin yang membekukan. Ia meletakkan nampan kayu di atas meja kecil dengan sedikit hentakan yang tegas.

​"Bu, tugas saya menyajikan teh dan kue sudah selesai. Saya mau permisi ke belakang," ucap Mahira mencoba mempertahankan sisa harga dirinya. Suaranya terdengar bergetar, namun menyimpan ketegasan dan martabat yang tak bisa digoyahkan.

​"Kurang ajar kamu ya! Berani melawan dan menolak perintah di depan teman-teman saya." Bu Rani berdiri murka dengan wajah memerah padam, tangannya terangkat tinggi di udara hendak melayangkan tamparan keras ke wajah Mahira.

​Namun, tepat sebelum telapak tangan Bu Rani mendarat di pipi Mahira, suara nada dering telepon genggam di atas meja membahana nyaring. Nama Ziko tertera jelas di layarnya. Bu Rani seketika menghentikan tangannya. Ia menghembuskan napas gusar, lalu segera mengangkat panggilan itu dan memasang mode speaker agar bisa memamerkan kehebatan putranya di depan rombongan arisan.

​"Halo, Ziko sayang! Bagaimana rapat lima puluh miliarmu? Lancar, Nak? Sudah kamu marahi tim tidak becusmu itu?" tanya Bu Rani dengan nada penuh percaya diri.

​Dari balik speaker telepon, suara Ziko terdengar sangat gemetar, campur aduk antara kaget, takjub, dan kelegaan yang luar biasa hingga suaranya serak.

​"Bu... Perusahaan Ziko selamat! Rapat direksi sukses besar!" teriak Ziko dari seberang telepon, hampir menangis karena kegirangan. "Tadi pagi ada dokumen analisis ajaib yang terselip rapi di tas Ziko. Analisisnya sangat jenius, Bu. Pemetaan risikonya sempurna sampai investor asing langsung menandatangani kontrak investasi seratus miliar rupiah seketika."

​Bu Rani melotot kaget, disusul sorak-sorai gembira dari para tamu sosialitanya. "Luar biasa! Seratus miliar, Ziko? Siapa yang kasih dokumen ajaib itu, Nak? Pasti kenalan pengusaha kaya atau kolega hebat kamu, kan?"

​"Ziko belum tahu pasti, Bu. Tapi tulisan tangan di kertas itu sangat berkelas dan profesional sekali. Nanti malam Ziko pulang untuk syukuran," jawab Ziko dengan nada congkak dan euforia yang membumbung tinggi.

​Di sudut ruang tamu, Mahira berdiri mematung dalam hening. Senyum tipis yang amat dingin, misterius, dan penuh kepahitan terukir di bibirnya yang pucat. Ia menatap ibu mertua dan para tamu yang sedang bersorak-sorai mengagumi "kemenangan ajaib" Ziko.

Mereka sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa wanita yang baru saja mereka injak-injak, mereka sebut dekil, dan mereka permalukan sebagai "pelayan tak berguna" itulah sosok jenius di balik layar yang baru saja menyelamatkan hidup anak kebanggaan mereka dengan nilai seratus miliar rupiah.

Episodes
1 ​Bab 1 Sup yang Dingin dan Hati yang Patah
2 Bab 2 Jus yang Kemanisan
3 Bab 3 Solusi Rahasia di Tengah Krisis
4 Bab 4 Arisan Sosialita dan Penghinaan di Depan Tamu
5 Bab 5 Kemenangan Palsu
6 Bab 6 Kedatangan Clarissa
7 Bab 7 Hinaan Pahit dan Pembalasan yang Tertunda
8 Bab 8 Ulang Tahun Pernikahan yang Hampa
9 Bab 9 Rasa Sakit yang Diabaikan
10 Bab 10: Tamu Kehormatan dan Kamar yang Dingin
11 Bab 11 Provokasi Halus dan Perangkap Anggun
12 ​Bab 12 Telepon Rahasia di Balik Pintu Kamar
13 Bab 13 Senyum Licik Ibu Mertua
14 Bab 14 Terlambat Pulang
15 Bab 15 Tuduhan Palsu dan Harga Diri yang Diinjak
16 Bab 16 Dituntut Minta Maaf Tapi Mahira Tidak Mau
17 Bab 17 Angin Segar yang Dinantikan
18 Bab 18 Sandiwara Tingkat Tinggi
19 Bab 19 Gaun Murah dan Celemek
20 Bab 20 Noda Merah di Gaun Mewah
21 Bab 21 Puncak dari Segala Pengabaian
22 Bab 22 Lembaran Baru di Atas Meja Kerja
23 Bab 23 Langkah Ringan Tanpa Penyesalan
24 Bab 24 Anggapan yang Salah
25 Bab 25 Sorak Kemenangan Semu
26 Bab 26 Kembali ke Tempat yang Seharusnya
27 Bab 27 Kembalinya Sang Komisaris Utama
28 Bab 28 Kehampaan yang Mulai Bicara
29 Bab 29 Kekacauan di Ruang Kerja
30 Bab 30 Kendali Mutlak di Tangan Sang Ratu
31 Bab 31 Panggilan yang Terputus
32 Bab 32 Pertemuan di Puncak Menara
33 Bab 33 Pesona Sang Penguasa
34 Bab 34 Penolakan Tanpa Ampun
35 Bab 35 Topeng yang Mulai Retak
36 Bab 36 Benteng yang Tak Tertembus
37 Bab 37 Kehancuran di Balik Tembok Rumah
38 Bab 38 Lembaran Kebebasan
39 Bab 39 Runtuhnya Fondasi di Tangan yang Salah
40 Bab 40 Catatan Mahira
41 Bab 41 Dinding yang Runtuh dari Dalam
42 Bab 42 Mahkota Baru Sang Ratu
43 Bab 43 Akal Bulus Bu Rani
44 Bab 44 Kelopak yang Layu di Tempat Sampah
45 Bab 45 Topeng yang Retak di Rumah Tua
46 Bab 46 Kemarahan Ziko
47 Bab 47 Clarissa Menggondol Uang Perusahaan Adhi Jaya Perkasa
48 Bab 48 Kilau di Antara Para Penguasa
49 Bab 49 Sudah Tidak Ada Sisa Rasa
50 Bab 50 Badai Krisis di Ujung Tanduk
51 Bab 51 Pelarian Clarissa dan Bayang-Bayang Audit
52 Bab 51 Kilau Palsu di Atas Meja Pegadaian
Episodes

Updated 52 Episodes

1
​Bab 1 Sup yang Dingin dan Hati yang Patah
2
Bab 2 Jus yang Kemanisan
3
Bab 3 Solusi Rahasia di Tengah Krisis
4
Bab 4 Arisan Sosialita dan Penghinaan di Depan Tamu
5
Bab 5 Kemenangan Palsu
6
Bab 6 Kedatangan Clarissa
7
Bab 7 Hinaan Pahit dan Pembalasan yang Tertunda
8
Bab 8 Ulang Tahun Pernikahan yang Hampa
9
Bab 9 Rasa Sakit yang Diabaikan
10
Bab 10: Tamu Kehormatan dan Kamar yang Dingin
11
Bab 11 Provokasi Halus dan Perangkap Anggun
12
​Bab 12 Telepon Rahasia di Balik Pintu Kamar
13
Bab 13 Senyum Licik Ibu Mertua
14
Bab 14 Terlambat Pulang
15
Bab 15 Tuduhan Palsu dan Harga Diri yang Diinjak
16
Bab 16 Dituntut Minta Maaf Tapi Mahira Tidak Mau
17
Bab 17 Angin Segar yang Dinantikan
18
Bab 18 Sandiwara Tingkat Tinggi
19
Bab 19 Gaun Murah dan Celemek
20
Bab 20 Noda Merah di Gaun Mewah
21
Bab 21 Puncak dari Segala Pengabaian
22
Bab 22 Lembaran Baru di Atas Meja Kerja
23
Bab 23 Langkah Ringan Tanpa Penyesalan
24
Bab 24 Anggapan yang Salah
25
Bab 25 Sorak Kemenangan Semu
26
Bab 26 Kembali ke Tempat yang Seharusnya
27
Bab 27 Kembalinya Sang Komisaris Utama
28
Bab 28 Kehampaan yang Mulai Bicara
29
Bab 29 Kekacauan di Ruang Kerja
30
Bab 30 Kendali Mutlak di Tangan Sang Ratu
31
Bab 31 Panggilan yang Terputus
32
Bab 32 Pertemuan di Puncak Menara
33
Bab 33 Pesona Sang Penguasa
34
Bab 34 Penolakan Tanpa Ampun
35
Bab 35 Topeng yang Mulai Retak
36
Bab 36 Benteng yang Tak Tertembus
37
Bab 37 Kehancuran di Balik Tembok Rumah
38
Bab 38 Lembaran Kebebasan
39
Bab 39 Runtuhnya Fondasi di Tangan yang Salah
40
Bab 40 Catatan Mahira
41
Bab 41 Dinding yang Runtuh dari Dalam
42
Bab 42 Mahkota Baru Sang Ratu
43
Bab 43 Akal Bulus Bu Rani
44
Bab 44 Kelopak yang Layu di Tempat Sampah
45
Bab 45 Topeng yang Retak di Rumah Tua
46
Bab 46 Kemarahan Ziko
47
Bab 47 Clarissa Menggondol Uang Perusahaan Adhi Jaya Perkasa
48
Bab 48 Kilau di Antara Para Penguasa
49
Bab 49 Sudah Tidak Ada Sisa Rasa
50
Bab 50 Badai Krisis di Ujung Tanduk
51
Bab 51 Pelarian Clarissa dan Bayang-Bayang Audit
52
Bab 51 Kilau Palsu di Atas Meja Pegadaian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!