Bab 2 Jus yang Kemanisan

   ​Udara dingin khas Bandung yang menusuk hingga ke tulang tidak pernah sedikit pun menyurutkan beban yang menumpuk di pundak Mahira.

   Sebelum jam dinding menunjukkan pukul empat pagi, saat seluruh isi rumah megah itu masih terlelap nyaman di balik selimut tebal, Mahira sudah harus berdiri kaku di dapur. Bagi wanita berusia dua puluh lima tahun itu, subuh bukanlah tanda dimulainya hari baru yang penuh harapan, melainkan awal dari siklus kelelahan yang seolah tak pernah berujung.

   Tanpa sempat memanjakan diri atau sekedar menikmati secangkir teh hangat dalam ketenangan, jemarinya yang dingin sudah harus bergelut dengan tumpukan bahan makanan untuk sarapan seluruh kebutuhan keluarga Ziko.

   ​Rumah dua lantai berarsitektur modern minimalis itu berdiri gagah di kawasan elit. Dindingnya didominasi warna putih bersih dengan lantai marmer yang selalu berkilauan. Namun bagi Mahira, kemewahan itu tak ubahnya sangkar emas yang dingin. Tidak ada sudut di rumah ini yang terasa ramah baginya.

Sebagai seorang istri dari pemilik perusahaan yang tengah berkembang pesat, Mahira tidak memiliki asisten rumah tangga satu pun. Bukan karena Ziko tidak mampu menyewa jasa pembantu, melainkan karena Bu Rani, ibu mertuanya, secara tegas melarangnya.

​"Untuk apa menyewa pembantu kalau di rumah ini ada kamu?" Kalimat Bu Rani dua tahun lalu masih terngiang jelas di ingatan Mahira. "Kamu itu tidak bekerja, Hira. Tidak menghasilkan uang sepeser pun untuk Ziko. Jadi sudah sepatutnya kamu membalas kebaikan anak saya dengan mengurus rumah ini sampai tuntas. Anggap saja itu bentuk tahu diri."

​Mahira menghela napas panjang, mengusap peluh halus di dahi dengan punggung tangannya yang terasa kasar. Jemari yang dulu dikenal sangat lihai menari di atas papan ketik laptop untuk menganalisis data finansial tingkat tinggi, kini dihiasi bekas luka kapalan tipis akibat terlalu sering mengupas bumbu, mencuci piring, dan memegang gagang sapu.

​"Hira! Mana jus jeruk saya?" Suara lengkingan Bu Rani memecah kesunyian pagi dari arah ruang makan.

​Mahira terperanjat kecil. Dengan cekatan, ia mengelap tangannya pada apron kain yang sudah agak melar di bagian pinggangnya. Ia dengan sigap mengambil gelas berisi jus jeruk murni yang baru saja disaringnya, lalu melangkah tergesa menuju ruang makan.

​Di sana, Bu Rani sudah duduk anggun dengan pakaian sutra berwarna merah marun. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dipoles riasan tipis meski hari masih sangat pagi.

Di sampingnya, Ziko duduk mengamati layar tablet premiumnya, tampil rapi dalam balutan kemeja putih yang disetrika licin, tentu saja oleh tangan Mahira sejam yang lalu.

​"Ini jus jeruknya, Bu," ucap Mahira lembut sambil meletakkan gelas kaca itu perlahan di samping piring Bu Rani.

​Bu Rani meraih gelas tersebut, menyesapnya sedikit, lalu seketika dahinya berkerut dalam. Wajahnya menampilkan ekspresi jijik yang dibuat-buat sebelum menghempaskan gelas itu kembali ke meja hingga airnya terciprat ke atas taplak meja putih.

​"Manis sekali! Kamu mau membuat saya kena gula darah, ya?" bentak Bu Rani seraya menatap Mahira penuh permusuhan. "Sudah berapa kali saya bilang, saya tidak mau pakai gula sama sekali. Kenapa otakmu ini sulit sekali diberi tahu, sih?"

​Mahira menunduk. "Maaf, Bu. Saya tadi hanya menambahkan sedikit madu murni agar tidak terlalu asam untuk lambung Ibu...."

​"Alasan! Jangan sok pintar di depan saya!" potong Bu Rani keras. "Ziko, lihat istrimu ini. Diajari hal sepele seperti membuat jus saja tidak pernah becus. Selalu saja membantah kalau dikasih tahu!"

​Mahira menatap suaminya dengan tatapan berharap. Ia ingin Ziko menyahut, membela bahwa niatnya baik demi kesehatan sang ibu. Namun Ziko bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar tablet. Pria itu menghembuskan napas jengkel, tampak terganggu oleh kegaduhan di meja makan.

​"Hira, kalau Ibu minta A, lakukan A. Tidak usah sok tahu menambah madu segala," ujar Ziko dingin tanpa menatap wajah istrinya. "Ganti jusnya sekarang. Jangan buang-buang waktu, aku ada rapat penting jam delapan."

​Nada suara Ziko begitu datar, tanpa emosi, tanpa menyisakan sedikit pun celah kepedulian. Bagi Ziko, Mahira hanyalah elemen pelengkap di rumahnya, seorang wanita sederhana yang kebetulan berstatus istri, namun lebih sering diperlakukan sebagai pengurus rumah tangga yang tak digaji.

​"Baik, Mas," lirih Mahira. Ia mengambil kembali gelas itu dan melangkah mundur menuju dapur.

​Ziko kemudian beranjak dari kursi setelah menghabiskan sarapan tanpa pernah mengajak Mahira duduk bersama. "Bu, Ziko berangkat dulu."

​"Iya, Nak. Hati-hati di jalan," jawab Bu Rani manis.

​Ziko berjalan menuju pintu depan. Mahira bergegas menghampirinya, membawa tas kerja kulit dan jas suaminya. "Mas, jasnya," kata Mahira.

​Ziko mengambil jas itu tanpa mengucap terima kasih. Saat Mahira mengulurkan tangan untuk menyalami tangannya seperti yang biasa dilakukan seorang istri, Ziko justru berbalik begitu saja dan melangkah keluar rumah. Tangan Mahira tergantung di udara, hampa dan dingin.

​"Ingat Hira." Suara Bu Rani terdengar dari belakang. "Setelah ini, bersihkan seluruh kaca jendela lantai atas dan cuci sprei kamar tamu. Jangan malas-malasan!"

​Mahira berdiri mematung di ambang pintu yang terbuka. Pandangannya menatap mobil Ziko yang perlahan menghilang di balik pagar besi. Mahira menatap jemarinya sendiri. Dulu, jemari ini dipuji oleh para kolega bisnis karena ketajamannya menyusun strategi investasi jutaan dolar. Kini, ia tak ubahnya bayangan tak berharga yang hanya dipanggil saat butuh dilayani, dan dihina saat dianggap tak berguna.

Jangan lupa dukungannya ya... 🥰🥰🥰

Episodes
1 ​Bab 1 Sup yang Dingin dan Hati yang Patah
2 Bab 2 Jus yang Kemanisan
3 Bab 3 Solusi Rahasia di Tengah Krisis
4 Bab 4 Arisan Sosialita dan Penghinaan di Depan Tamu
5 Bab 5 Kemenangan Palsu
6 Bab 6 Kedatangan Clarissa
7 Bab 7 Hinaan Pahit dan Pembalasan yang Tertunda
8 Bab 8 Ulang Tahun Pernikahan yang Hampa
9 Bab 9 Rasa Sakit yang Diabaikan
10 Bab 10: Tamu Kehormatan dan Kamar yang Dingin
11 Bab 11 Provokasi Halus dan Perangkap Anggun
12 ​Bab 12 Telepon Rahasia di Balik Pintu Kamar
13 Bab 13 Senyum Licik Ibu Mertua
14 Bab 14 Terlambat Pulang
15 Bab 15 Tuduhan Palsu dan Harga Diri yang Diinjak
16 Bab 16 Dituntut Minta Maaf Tapi Mahira Tidak Mau
17 Bab 17 Angin Segar yang Dinantikan
18 Bab 18 Sandiwara Tingkat Tinggi
19 Bab 19 Gaun Murah dan Celemek
20 Bab 20 Noda Merah di Gaun Mewah
21 Bab 21 Puncak dari Segala Pengabaian
22 Bab 22 Lembaran Baru di Atas Meja Kerja
23 Bab 23 Langkah Ringan Tanpa Penyesalan
24 Bab 24 Anggapan yang Salah
25 Bab 25 Sorak Kemenangan Semu
26 Bab 26 Kembali ke Tempat yang Seharusnya
27 Bab 27 Kembalinya Sang Komisaris Utama
28 Bab 28 Kehampaan yang Mulai Bicara
29 Bab 29 Kekacauan di Ruang Kerja
30 Bab 30 Kendali Mutlak di Tangan Sang Ratu
31 Bab 31 Panggilan yang Terputus
32 Bab 32 Pertemuan di Puncak Menara
33 Bab 33 Pesona Sang Penguasa
34 Bab 34 Penolakan Tanpa Ampun
35 Bab 35 Topeng yang Mulai Retak
36 Bab 36 Benteng yang Tak Tertembus
37 Bab 37 Kehancuran di Balik Tembok Rumah
38 Bab 38 Lembaran Kebebasan
39 Bab 39 Runtuhnya Fondasi di Tangan yang Salah
40 Bab 40 Catatan Mahira
41 Bab 41 Dinding yang Runtuh dari Dalam
42 Bab 42 Mahkota Baru Sang Ratu
43 Bab 43 Akal Bulus Bu Rani
44 Bab 44 Kelopak yang Layu di Tempat Sampah
45 Bab 45 Topeng yang Retak di Rumah Tua
46 Bab 46 Kemarahan Ziko
47 Bab 47 Clarissa Menggondol Uang Perusahaan Adhi Jaya Perkasa
48 Bab 48 Kilau di Antara Para Penguasa
49 Bab 49 Sudah Tidak Ada Sisa Rasa
50 Bab 50 Badai Krisis di Ujung Tanduk
51 Bab 51 Pelarian Clarissa dan Bayang-Bayang Audit
52 Bab 51 Kilau Palsu di Atas Meja Pegadaian
Episodes

Updated 52 Episodes

1
​Bab 1 Sup yang Dingin dan Hati yang Patah
2
Bab 2 Jus yang Kemanisan
3
Bab 3 Solusi Rahasia di Tengah Krisis
4
Bab 4 Arisan Sosialita dan Penghinaan di Depan Tamu
5
Bab 5 Kemenangan Palsu
6
Bab 6 Kedatangan Clarissa
7
Bab 7 Hinaan Pahit dan Pembalasan yang Tertunda
8
Bab 8 Ulang Tahun Pernikahan yang Hampa
9
Bab 9 Rasa Sakit yang Diabaikan
10
Bab 10: Tamu Kehormatan dan Kamar yang Dingin
11
Bab 11 Provokasi Halus dan Perangkap Anggun
12
​Bab 12 Telepon Rahasia di Balik Pintu Kamar
13
Bab 13 Senyum Licik Ibu Mertua
14
Bab 14 Terlambat Pulang
15
Bab 15 Tuduhan Palsu dan Harga Diri yang Diinjak
16
Bab 16 Dituntut Minta Maaf Tapi Mahira Tidak Mau
17
Bab 17 Angin Segar yang Dinantikan
18
Bab 18 Sandiwara Tingkat Tinggi
19
Bab 19 Gaun Murah dan Celemek
20
Bab 20 Noda Merah di Gaun Mewah
21
Bab 21 Puncak dari Segala Pengabaian
22
Bab 22 Lembaran Baru di Atas Meja Kerja
23
Bab 23 Langkah Ringan Tanpa Penyesalan
24
Bab 24 Anggapan yang Salah
25
Bab 25 Sorak Kemenangan Semu
26
Bab 26 Kembali ke Tempat yang Seharusnya
27
Bab 27 Kembalinya Sang Komisaris Utama
28
Bab 28 Kehampaan yang Mulai Bicara
29
Bab 29 Kekacauan di Ruang Kerja
30
Bab 30 Kendali Mutlak di Tangan Sang Ratu
31
Bab 31 Panggilan yang Terputus
32
Bab 32 Pertemuan di Puncak Menara
33
Bab 33 Pesona Sang Penguasa
34
Bab 34 Penolakan Tanpa Ampun
35
Bab 35 Topeng yang Mulai Retak
36
Bab 36 Benteng yang Tak Tertembus
37
Bab 37 Kehancuran di Balik Tembok Rumah
38
Bab 38 Lembaran Kebebasan
39
Bab 39 Runtuhnya Fondasi di Tangan yang Salah
40
Bab 40 Catatan Mahira
41
Bab 41 Dinding yang Runtuh dari Dalam
42
Bab 42 Mahkota Baru Sang Ratu
43
Bab 43 Akal Bulus Bu Rani
44
Bab 44 Kelopak yang Layu di Tempat Sampah
45
Bab 45 Topeng yang Retak di Rumah Tua
46
Bab 46 Kemarahan Ziko
47
Bab 47 Clarissa Menggondol Uang Perusahaan Adhi Jaya Perkasa
48
Bab 48 Kilau di Antara Para Penguasa
49
Bab 49 Sudah Tidak Ada Sisa Rasa
50
Bab 50 Badai Krisis di Ujung Tanduk
51
Bab 51 Pelarian Clarissa dan Bayang-Bayang Audit
52
Bab 51 Kilau Palsu di Atas Meja Pegadaian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!