**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 021 - Nama dari Perempuan yang Mati
Kebenaran tiba pada hari ulang tahunku.
Pagi itu Arkana mengirim bunga spider lily merah ke kampus, lengkap dengan kartu pendek yang hanya berisi satu kalimat.
Pulang sebelum pukul tujuh. Ada kejutan.
Aku membaca pesan itu berkali-kali sambil menyentuh cincin di jari manis. Setelah malam di Restoran Lumière, aku sudah memutuskan akan mengatakan semuanya. Tentang rumah yang terbakar. Tentang siapa diriku sebelum dia memberiku nama baru. Tentang pisau yang masih tersembunyi di laci.
Aku ingin menepati janji untuk tidak berbohong lagi.
Sebelum pulang, aku singgah ke rumah Ibu Clara untuk mengambil partitur lama. Guru pianoku itu tinggal di rumah sederhana yang dipenuhi tanaman, foto pertunjukan, dan tumpukan buku musik. Ia memelukku di pintu lalu mengeluh karena aku datang tanpa memberi tahu.
"Kalau tahu hari ini ulang tahunmu, Ibu pasti membuat kue," katanya.
"Di rumah sudah ada kejutan."
"Dari tunanganmu?"
Aku mengangkat tangan, memperlihatkan cincin. Ibu Clara menarik kacamatanya turun, mengamati bentuk bunga merah itu, lalu wajahnya berubah.
"Dari mana kau mendapatkannya?"
"Arkana memberikannya. Kenapa?"
Ia segera melepaskan tanganku. "Tidak apa-apa. Bentuknya hanya mengingatkan Ibu pada sesuatu."
"Pada apa?"
"Murid lama."
Ibu Clara berjalan menuju lemari partitur. Gerakannya terlalu cepat untuk perempuan seusianya. Sebuah map jatuh ketika ia menarik laci, menumpahkan lembaran musik dan satu foto yang telah menguning.
Aku membungkuk untuk membantu.
Dalam foto itu, seorang perempuan muda duduk di depan piano. Rambutnya panjang, senyumnya lembut, dan di atas telinganya terselip bunga spider lily. Di belakang foto tertulis sebuah nama dengan tinta biru yang mulai pudar.
Larasati Puspita.
Napas tertahan di tenggorokanku.
"Namanya Larasati?"
Ibu Clara mengambil foto itu, tetapi sudah terlambat.
"Jawab aku, Bu."
Ia memejamkan mata. "Ya. Dia murid Ibu bertahun-tahun lalu. Sangat berbakat."
"Siapa dia bagi Arkana?"
Keheningan menjadi jawaban pertama.
Aku berdiri. "Siapa dia?"
"Arkana masih muda waktu itu. Dia sering menunggu di luar selama Puspita berlatih. Perempuan itu mencintainya, tetapi hidup mereka tidak pernah sampai pada akhir yang baik."
"May?"
Ibu Clara menatapku tajam. "Kau tahu nama itu?"
Dunia di sekelilingku mulai miring.
Potongan-potongan kecil yang selama ini tampak seperti kasih sayang mendadak berubah menjadi bukti. Nama yang diberikan Arkana kepadaku. Piano pertama. Bunga merah yang selalu muncul pada ulang tahunku. Kisah tentang perempuan yang ingin bermain untuk lelaki yang dicintainya. Cincin yang katanya dibeli bertahun-tahun lalu.
Bukan untukku.
Tidak pernah untukku.
"Dia meninggal?" tanyaku.
Ibu Clara mengangguk perlahan. "Sudah lama. Arkana menyalahkan dirinya sendiri."
Ia menarik satu lembar partitur dari lantai. Di sudut kertas ada gambar dua kupu-kupu yang dibuat dengan pensil, hampir terhapus usia.
"Puspita selalu mengatakan ingin memainkan karya tentang dua orang yang tidak dapat hidup di dunia yang sama," lanjutnya. "Dia ingin merayakan ulang tahun di taman spider lily, makan malam dengan lelaki yang dicintainya, lalu mengenakan bunga itu sebagai cincin. Keinginan-keinginan kecil seorang gadis muda. Tidak ada yang sempat terjadi."
Aku mengambil partitur itu. Tema di baris pertama bukan lagu yang kumainkan di Lumière, tetapi gerak nadanya terasa seperti kerabat jauh. Tiba-tiba setiap pujian Arkana terhadap musikku terdengar seperti perbandingan yang tidak pernah dia ucapkan.
"Apakah dia pernah membawaku kemari saat kecil?"
Ibu Clara mengangguk dengan enggan. "Dia meminta Ibu mengajarimu. Katanya tanganmu memiliki ketekunan yang sama."
"Yang sama dengan Puspita."
"Larasati, dengarkan Ibu. Kesamaan dapat menjadi alasan seseorang membuka pintu, tetapi tidak cukup untuk membuatnya bertahan bertahun-tahun. Ibu melihat cara Arkana menunggumu selesai berlatih. Itu bukan cara dia menunggu murid lama Ibu."
"Tapi dia tetap memilih namanya untukku."
"Ya. Dan dia berutang penjelasan kepadamu."
"Lalu dia menemukan anak perempuan tanpa nama dan memberinya nama Larasati."
"Sayang, mungkin bukan seperti yang kaukira."
"Dia mengajariku piano karena perempuan itu bermain piano. Dia memberiku bunga kesukaannya. Dia memasangkan cincin yang dibeli untuknya."
"Tanyakan kepada Arkana sebelum mengambil kesimpulan."
Aku tertawa, tetapi suara yang keluar pecah. "Aku akan bertanya."
Perjalanan menuju vila hanya dua puluh menit. Hari itu terasa seperti kembali melewati tiga belas tahun hidupku dalam arah terbalik. Setiap kenangan yang dahulu membuatku bertahan kini mengiris saat disentuh.
Pada usia sembilan tahun, aku mengira piano itu hadiah karena aku akhirnya mau bicara. Pada usia sebelas, aku mengira bunga merah di samping ranjang adalah permintaan maaf setelah Arkana menggagalkan seranganku. Pada usia delapan belas, aku mengira cincin itu lahir dari malam ketika dia memilihku.
Tidak satu pun kenangan itu berubah bentuk. Yang berubah hanya nama pemilik pertamanya.
Di lampu merah terakhir, aku membuka pesan Arkana lagi. `Ada kejutan.` Aku mengetik pertanyaan tentang Puspita, lalu menghapusnya. Jika dia masih sanggup berbohong sambil menatapku, aku ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Arkana tidak menyelamatkanku karena melihat diriku.
Dia menyelamatkan bayangan orang mati.
Pintu ruang makan terbuka. Lampu-lampu kecil menggantung di atas meja. Sebuah kue putih berbentuk spider lily menunggu di tengahnya, dikelilingi lilin merah. Bayu berdiri dekat jendela dengan segelas kopi, sedangkan Arkana mengenakan kemeja warna gading yang kusukai.
Keduanya menoleh saat aku masuk.
"Kau lebih cepat," kata Arkana.
Aku melepaskan cincin dari jari dan melemparkannya ke meja. Batu merah itu berputar, menghantam piring, lalu berhenti di samping kue.
Bayu meletakkan gelasnya. "Laras?"
"Siapa Larasati Puspita?"
Wajah Arkana tidak berubah, tetapi Bayu menahan napas.
Aku memandang Bayu. "Kau juga tahu."
"Dengar dulu penjelasan Kana."
"Aku bertanya siapa dia."
Arkana mengambil cincin dari meja. "Dari mana kau mendengar nama itu?"
"Ibu Clara. Dia menunjukkan foto murid lamanya." Aku mendekat. "Perempuan yang bermain piano. Perempuan yang mencintaimu. Perempuan yang menyukai bunga ini. May."
Jemari Arkana menutup cincin begitu erat hingga buku jarinya memutih.
"Nama aslinya Puspita," katanya.
"Dan Larasati?"
"Juga miliknya."
Pengakuan tenangnya lebih menyakitkan daripada penyangkalan apa pun.
"Jadi siapa aku?"
"Kau tahu siapa dirimu."
"Tidak." Air mataku jatuh. "Aku ingin mendengarnya darimu. Ketika kau membawaku pulang, apakah kau melihat seorang anak atau wajah perempuan yang gagal kauselamatkan?"
Arkana diam.
"Ketika kau memberiku piano?"
Diam.
"Ketika kau menciumku? Ketika kau mengatakan mencintaiku? Apakah namaku pernah menjadi milikku sendiri?"
Bayu bergerak mendekat. "Laras, dia tidak pernah menganggapmu benda pengganti."
"Biarkan dia menjawab."
Arkana menaruh cincin di samping kue. Matanya menjadi dingin, begitu dingin hingga aku nyaris tidak mengenali lelaki yang empat malam lalu memelukku dalam tidur.
"Apa jawaban yang kauinginkan?"
"Kebenaran."
"Kebenarannya, aku memberimu nama itu karena dia. Aku mengajarimu piano karena dia pernah meminta musiknya tidak dilupakan. Bunga ini juga miliknya."
Setiap kalimat menghapus sebagian diriku.
"Dan cintamu?"
Bayu berkata pelan, "Kana, cukup."
Arkana tidak memandangnya. "Mungkin aku keliru membedakan kenangan dan cinta."
Aku menamparnya.
Suara tamparan memantul di ruangan yang telah dihias untuk ulang tahunku. Arkana menerima tanpa bergerak.
"Aku membencimu," bisikku.
"Itu bukan hal baru."
"Aku mencintaimu. Itu yang baru. Aku menyerahkan semua yang kupunya karena kukira akhirnya ada seseorang yang memilihku, bukan masa laluku, bukan dosa ayahku, bukan kewajiban. Ternyata bahkan saat kau memelukku, aku masih kalah dari perempuan mati."
Untuk sesaat, rasa sakit muncul di matanya. Kemudian ia membunuhnya.
"Kalau begitu berhenti mencintaiku."
"Semudah itu?"
"Ya."
Bayu mencengkeram bahu Arkana. "Apa yang sedang kaulakukan?"
Arkana menepis tangannya. "Dia sudah menemukan jawabannya. Tidak ada lagi yang perlu dipertahankan."
Aku menunggu dia menarik kata-kata itu. Dia tidak melakukannya.
"Cincin itu?" tanyaku.
"Seharusnya bukan milikmu."
Kakiku hampir kehilangan tenaga, tetapi aku memaksa tetap berdiri. "Lalu mengapa kau melamarku?"
"Karena aku terlalu lama hidup dengan kenangan sampai mengira siapa pun yang membawa namanya dapat mengisi tempat yang sama."
"Kana!" Bayu membentak.
Arkana akhirnya meninggikan suara. "Cukup."
Ruangan membeku.
Dia menatapku seolah kami sedang membatalkan kontrak, bukan membunuh masa depan yang baru empat hari kami bangun.
"Kau ingin kebenaran, Larasati? Ini kebenarannya. Kau bukan Puspita. Kau tidak pernah bisa menjadi dia. Dan perempuan yang datang kepadaku dengan kebohongan, kecemburuan, dan tuntutan seperti ini tidak pantas mendapatkan cintaku."
Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, menjadi pengganti atau diberi tahu bahwa bahkan sebagai pengganti aku gagal.
"Baik," kataku. "Kalau aku tidak pantas, kita selesai."
Arkana mengangguk. "Selesai."
Bayu memandangnya dengan marah, lalu berbalik kepadaku. "Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu."
Aku berjalan ke meja. Lilin pada kue belum dinyalakan. Di atas krim putih, kelopak merah dibentuk begitu teliti. Arkana pasti memilihnya sendiri. Atau mungkin dia hanya mengulang ulang tahun perempuan lain.
Aku mengambil pisau kue.
Tubuh Bayu menegang, tetapi aku hanya memotong satu bagian kecil dan meletakkannya di piring.
"Apa yang kaulakukan?" tanyanya.
"Merayakan ulang tahunku."
Aku makan satu suap. Rasanya manis dan sedikit asam, persis rasa yang kusukai. Air mata jatuh ke piring. Aku terus makan sampai potongan itu habis, karena setidaknya selera itu benar-benar milikku.
Arkana berdiri tanpa suara. Aku tidak berani melihat wajahnya.
"Selamat ulang tahun untukku," kataku.
Aku meletakkan garpu, berbalik, dan berjalan menuju pintu. Tiga langkah kemudian, lampu-lampu berubah menjadi garis panjang. Suara Bayu memanggil namaku terdengar jauh.
Lututku menyerah.
Sebelum tubuhku menyentuh lantai, sepasang lengan menangkapku. Aroma kayu yang kukenal memenuhi napas terakhirku sebelum gelap.
Arkana memelukku terlalu erat untuk lelaki yang baru saja mengatakan aku tidak pantas dicintai.