Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Malam-Malam Lembur dan Efek Hormon yang Tak Kompromi
Lantai teratas gedung Dirgantara Group diselimuti oleh aura tegang yang mencekam. Lampu-lampu ruang rapat eksekutif masih menyala benderang meski waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Di tengah ruangan, layar proyektor raksasa menampilkan grafik pergerakan saham yang melonjak tak beraturan serta susunan arus kas anak perusahaan manufaktur.
Exel Dirgantara duduk di ujung meja mahoni. Jas mewahnya sudah ia sampirkan di sandaran kursi, menyisakan kemeja putih dengan lengan tergulung kaku hingga siku dan dasi yang dilonggarkan. Wajah sang CEO tampak dingin bagaikan ukiran es, mata cokelat gelapnya berkilat menembus jajaran direktur dan manajer audit internal yang duduk menunduk kaku di sekeliling meja.
Di sampingnya, Achmad berdiri memegang tablet khusus yang terhubung langsung dengan sistem keamanan server pusat. Topeng jenaka dan sengklek yang biasa melekat pada wajah Achmad sepenuhnya sirna—digantikan oleh raut wajah asisten pribadi berdarah dingin yang siap menerkam targetnya.
"Satu jam yang lalu," suara Exel mengudara rendah, berat, dan menusuk tulang, membuat beberapa manajer audit bergidik ngeri. "Terjadi upaya peretasan berulang di server keuangan sektor tiga. Dan yang membuat saya tertarik... akses peretasan itu menggunakan kunci enkripsi internal milik salah satu dari kalian yang ada di ruangan ini."
Keheningan yang amat sangat mendadak mencekam ruangan. Tak ada satu pun manajer yang berani bernapas keras.
Achmad melangkah maju dua pijakan, menekan tombol di tabletnya. Layar proyektor seketika berganti menampilkan rekaman CCTV koridor server serta jejak transfer data bernilai ratusan miliar yang berusaha dialirkan ke rekening bodong milik jaringan Wijaya Corp.
"Bramantyo Wijaya dan Clara boleh saja mengira mereka bisa membeli orang dalam kita," pangkas Achmad tegas dengan nada intimidasinya yang pekat. "Tapi mereka lupa kalau tim peretas internal Dirgantara Group bekerja 24 jam. Saudara Haryo—Kepualian Divisi Audit Keuangan Tiga—silakan berdiri."
Seorang pria berkacamata paruh baya di ujung meja seketika pucat pasi. Tubuhnya gemetar hebat saat dua petugas keamanan bersetelan hitam melangkah masuk dan mengunci pergerakan lengannya dari belakang.
"P-Pak Exel! Tolong maafkan saya! Saya diancam oleh pihak Wijaya Corp!" ratap Haryo histeris, berlutut di lantai marmer.
Exel bahkan tidak mengedipkan matanya. Tatapannya pada sang pengkhianat internal terasa sangat datar dan tanpa ampun. "Serahkan dia ke markas kepolisian sekarang. Pastikan seluruh aset pribadinya dibekukan malam ini juga untuk menutup celah manipulasi saham besok pagi."
"Siap, Bos," sahut Achmad mantap saat petugas keamanan menyeret Haryo keluar dari ruang rapat.
Exel memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut lelah. Sudah tiga hari berturut-turut ia dan Achmad harus bekerja lembur hingga larut malam demi memberantas sisa-sisa pengkhianat internal dan menstabilkan ancaman manipulasi saham yang digencarkan oleh aliansi kotor Clara dan Bramantyo.
Sementara itu, di kediaman utama keluarga Dirgantara...
Alexa sedang duduk di atas kasur kamar utama lantai dua. Gadis mungil itu mengenakan piyama kartun beruang warna kuning cerah. Di pangkuannya, ada sebuah boneka beruang raksasa yang dari tadi dipukuli pelan oleh jemari mungilnya.
Pipi tembam Alexa mengembung drastis. Bibirnya memayun hingga beberapa sentimeter, memancarkan rasa ngambek dan kejengkelan tingkat tinggi. Tangannya tak pernah lepas memegang ponsel yang menampilkan ruang percakapan dengan Exel.
"Mas Es Batu ngeselin... Ngeselin banget!" racau Alexa heboh sendirian dengan suara cemprengnya yang melengking kusam. "Udah tiga hari lembur terus! Pulang-pulang selalu jam satu malam pas Aca udah tidur! Katanya mau jaga Aca sama dedek bayi, tapi malah pacaran sama kertas kantor!"
Mama Sarah dan Mama Maria yang baru saja melangkah masuk membawa segelas susu hamil hangat terkekeh pelan melihat menantu dan anaknya yang sedang uring-uringan itu.
"Aduh, anak Mama kok cemberut begitu?" goda Maria melangkah mendekat dan meletakkan susu di meja samping kasur.
"Gimana gak cemberut, Ma!" rengek Alexa memindahkan pukulan bonekanya ke paha sendiri. "Mas Exel tuh parah banget! Aca kan kangen... Aca mau omong-omong sama Mas Exel! Tapi tiap hari diisi lembur mulu sama Paman Achmad!"
Sarah tersenyum hangat, mengelus lembut rambut bergelombang putrinya. "Sayang... Mas Exel kan lembur buat membereskan masalah di perusahaannya. Supaya nanti pas dedek bayinya lahir, kehidupan kalian sudah tenang dan aman dari orang-orang jahat."
"Tapi kan tetep aja ngeselin, Ma!" poyong Alexa polos seraya meneguk susunya. "Mana Aca masih gak boleh dekat-dekat bau badannya lagi... Aca kan makin bingung! Mau kangen tapi pas lihat mukanya dari dekat hidung Aca langsung gatal!"
Maria dan Sarah tertawa lepas membayangkan penderitaan Exel yang terusir jarak akibat hormon kehamilan tersebut.
Pukul 00.30 WIB.
Mobil Rolls-Royce hitam milik Exel akhirnya memasuki halaman kediaman utama. Pria bertubuh tegap itu melangkah keluar dari mobil dengan wajah yang dipenuhi keletihan fisik yang teramat sangat. Tiga hari bertarung di meja bursa dan memberantas pengkhianat perusahaan benar-benar menguras tenaganya.
Namun, di dalam dadanya yang paling dalam, rasa rindu yang membakar pada sang istri mungil menjadi satu-satunya alasan baginya untuk segera menginjakkan kaki di rumah.
Exel melangkah perlahan menaiki tangga lantai dua, menuju kamar tidur mereka. Begitu tuas pintu diputar pelan, pria itu menemukan lampu kamar masih menyala temaram.
Di atas kasur, Alexa belum tidur. Gadis mungil itu sedang duduk menyilangkan kaki seraya melipat kedua tangannya di dada, menatap lurus ke arah pintu dengan tatapan melotot yang menggemaskan—mencoba memasang raut wajah paling galak yang ia punya.
Exel membeku di ambang pintu. Begitu melihat istri tercintanya masih terjaga, rasa lelah di wajah sang CEO seketika luntur, digantikan oleh binar kehangatan dan kerinduan yang sangat pekat.
"Aca..." panggil Exel lembut dengan suara beratnya yang serak. "Kenapa belum tidur, Sayang? Ini sudah jam satu malam."
Alexa memayunkan bibirnya kencang-kencang, memalingkan wajahnya ke samping dengan gaya ngambek yang sangat dramatis. "Biarin! Mau tidur jam tiga pagi juga terserah Aca! Mas Exel kan sibuk banget sama kantor! Ngapain pulang?! Tidur aja di atas meja rapat sana!"
Exel terkekeh renyah—sebuah tawa hangat yang melepaskan seluruh penat di dadanya. Pria itu menyadari betul bahwa istri mungilnya sedang ngambek berat karena ditinggal lembur tiga hari.
Exel merogoh saku jasnya yang ia jinjing, mengeluarkan sebuah kotak beludru merah berukuran sedang. Pria bertubuh tegap itu melangkah maju dua pijakan mendekati tempat tidur.
"Mas minta maaf ya, Sayang," ujar Exel sangat halus, mencoba membujuk. "Mas lembur untuk menyelesaikan semua pengkhianat di kantor. Mas bawa hadiah martabak manis keju melimpah dan boneka beruang limited edition dari Swiss buat Aca..."
Mendengar kata 'martabak manis keju melimpah', pertahanan ngambek anak SMA milik Alexa seketika goyah sedikit. Mata bulatnya melirik pelan ke arah kotak di tangan Exel.
Namun...
Saat Exel melangkah dua pijakan lagi—mengikis jarak hingga berdiri hanya berjarak satu setengah meter dari tepi kasur...
Aroma tubuh alami Exel yang bercampur sedikit bau parfum maskulin yang sudah samar-samar mendadak terhirup oleh indra penciuman Alexa yang super sensitif akibat efek maternal rejection to partner scent!
Seketika itu juga, perut Alexa bergolak hebat! Rasa mual yang teramat sangat meluncur kencang dari dalam dadanya!
DUARRR!
Wajah ngambek Alexa seketika berubah pucat pasi! Gadis mungil itu refleks memegangi perut dan lehernya kencang-kencang.
"M-Mas... hoeeekkk!" Alexa kembali mual hebat!
"Sayang?!" Exel panik setengah mati. Rasa rindu dan niat membujuknya seketika sirna digantikan oleh kepanikan luar biasa. "Aca kenapa?! Mas bantu—"
"JANGAAAN! HUEEE! JAUH-JAUH!" jerit Alexa histeris seraya mendorong angin ke arah Exel menggunakan kedua tangan mungilnya! "Tuh kan! Hidung Aca kumat lagi! Baunya kaya minyak tanah bercampur terasi busuk lagi! Hoeeekkk! Mas Exel mundur lima langkah!"
Exel membeku di tempat, refleks melangkah mundur lima langkah hingga punggungnya menabrak pintu kamar mandi dengan raut wajah sangat nelangsa dan frustrasi.
Namun, tidak hanya Alexa yang mual.
Melihat istrinya mual-mual hebat di atas kasur, ditambah oleh kelelahan fisik tiga hari lembur dan empati psikologis yang amat dalam pada penderitaan istrinya... perut Exel sendiri mendadak ikut bergolak kencang!
Couggh! Hoeeekkk!
Exel refleks berbalik cepat, mendobrak pintu kamar mandi di belakangnya, berlutut kaku di depan wastafel, dan muntah-muntah hebat!
Hoeeekkk! Uhuk! Uhuk!
Cairan asam lambung meluncur kencang dari tenggorokan sang CEO berdarah dingin. Wajah tampan Exel yang biasanya selalu kaku dan tegap seketika memucat pasi, keringat dingin merembes deras di pelipis dan lehernya. Pria bertubuh 185 cm itu berguncang hebat di depan wastafel kamar mandi!
Alexa yang sedang menahan mual di atas kasur seketika melotot sempurna. Rasa ngambeknya menguap habis digantikan oleh rasa syok dan cemas luar biasa!
"M-Mas Exel?! Mas Exel kenapa ikut muntah-muntah?!" jerit Alexa heboh seraya turun dari kasur dengan hati-hati.
Mama Maria dan Mama Sarah yang belum tidur nyenyak di kamar sebelah buru-buru berlari masuk ke kamar utama karena mendengar suara mual yang saling bersahut-sahutan.
"Ada apa ini?! Ya Allah, Exel!" seru Maria panik luar biasa melihat putranya sedang berlutut lemas di lantai kamar mandi seraya terus memegang perutnya.
"Dokter! panggil Dokter sekarang!" seru Sarah heboh.
sepuluh menit kemudian...
Dokter keluarga Dirgantara yang baru saja selesai memeriksa kondisi Exel dan Alexa duduk di ruang tengah kamar utama.
Exel terbaring lemas di sofa panjang dengan kayu putih yang ditempelkan di pelipisnya. Wajah sang CEO raksasa bisnis itu sangat pucat, napasnya terengah-engah lelah. Sementara Alexa duduk di sofa seberang dengan selimut melingkupi tubuhnya, memandangi suaminya dengan raut wajah yang sangat merasa bersalah sekaligus ingin menangis.
Dokter terkekeh pelan seraya merapikan stetoskopnya.
"Tidak ada keracunan makanan atau penyakit serius, Ibu-Ibu sekalian," terang Dokter ramah. "Pak Exel mengalami kondisi yang cukup langka dalam dunia medis, yang dinamakan Couvade Syndrome atau biasa dikenal sebagai sympathetic pregnancy."
"M-maksudnya apa, Dok?" tanya Maria kebingungan.
"Artinya, sang suami mengalami gejala kehamilan emosional yang mirip dengan istrinya," jelas Dokter tersenyum hangat. "Karena Pak Exel sangat mencintai Nyonya Alexa, ditambah rasa stres akibat lembur pekerjaan dan empati mendalam saat melihat istrinya mual... tubuh Pak Exel merespons secara psikologis dengan ikut mual, muntah, dan kelelahan hebat. Ini bukti bahwa ikatan batin Pak Exel dan calon buah hatinya sangat kuat."
DEG!
Kata-kata Dokter seketika menghantam dada Alexa dengan gelombang rasa haru dan cinta yang teramat sangat dahsyat!
Air mata keharuan meluncur deras membasahi pipi tembam Alexa. Gadis mungil itu memandangi suaminya yang terkulai lemas di sofa. Rasa ngambek karena ditinggal lembur seketika hancur berkeping-keping, digantikan oleh rasa cinta mati pada pria kaku yang rela ikut merasakan sakit demi dirinya.
"Mas Exeeeelll..." tangis Alexa pecah dengan suara cemprengnya, lupa akan bau dan efek mualnya. Gadis mungil itu berlari dan langsung duduk berlutut di samping sofa tempat Exel terbaring!
Exel membuka mata cokelat gelapnya yang layu, menatap istri mungilnya yang sedang menangis haru di sampingnya. Dengan sisa tenaganya, Exel mengangkat tangan tegapnya yang lemas, mengelus pelan pipi tembam Alexa yang basah oleh air mata.
"Jangan menangis, Sayang..." bisik Exel sangat serak dan rendah. "Mas tidak apa-apa... Mas cuma kecapekan sedikit..."
"Mas Exel bodoh! Mas Exel ngeselin!" racau Alexa di balik tangis harunya, meremas jemari tegap suaminya kencang-kencang. "Kenapa harus ikut muntah-muntah segala sih?! Aca kan jadi makin sayang sama Mas Es Batu!"
Exel menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman paling manis, jujur, dan hangat yang terpancar dari wajah pucatnya. Meskipun ia harus menderita mual, dikencangkan oleh hukuman jarak aman, dan mengalami kelelahan lembur... melihat kebahagiaan dan cinta di mata istri tercintanya membuat sang CEO merasa menjadi pria paling beruntung di muka bumi.