Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Grandma’s hug
Deru mesin motor sport milik Leo perlahan memudar, berganti dengan kesunyian malam yang menyelimuti halaman rumah megah milik Oma Aera. Cahaya lampu taman yang temaram memantul di permukaan cat mobil mewah yang terparkir rapi, menciptakan suasana yang tenang namun kontras dengan gejolak batin yang tengah dirasakan Aera saat ini.
"Udah sampai, Ra," ujar Leo singkat, memecah lamunan Aera. Leo turun dari motornya, memberikan helm yang baru saja dilepas Aera, lalu menatap gadis itu dengan tatapan lembut yang berbeda dari saat dia bersama teman-temannya di basecamp tadi.
Aera menapakkan kakinya ke tanah, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin perjalanan. "Makasih ya, Leo. Makasih udah mau repot-repot jemput dan antar gue, makasih juga buat liburannya," ucap Aera tulus.
Leo tersenyum tipis, tangannya terangkat secara alami untuk mengusap puncak kepala Aera sebelum akhirnya berpamitan.
Setelah memastikan Aera sudah berada di balik pagar besi yang kokoh, Leo memacu motornya kembali ke jalanan kota, meninggalkan Aera yang kini berdiri sendirian di teras luas.
Aera menatap rumah itu lekat-lekat. Bangunan dengan arsitektur klasik yang mewah ini tidak kalah megahnya dengan rumah yang dulu ia tinggali bersama ayah kandungnya. Namun, kemewahan itu terasa kosong. Ingatannya seketika melayang pada sosok ayahnya. Apa kabar Papa di sana? batin Aera bertanya-tanya. Apakah Papa makan dengan teratur? Apakah Papa ingat kalau aku sangat merindukannya?
Sebuah tarikan napas panjang keluar dari bibir Aera. Perasaan rindu itu perlahan tertutup oleh awan kelabu kemarahan saat wajah Belva, ibu tirinya yang pengkhianat, muncul di benaknya. Belva, wanita yang dengan licik merebut posisi ibu kandungnya dan menguasai harta ayahnya, tidak boleh terus hidup tenang di istana yang seharusnya tidak ia miliki itu.
Belva harus segera disingkirkan, tekad Aera dalam hati.
Tangannya mengepal kuat di balik saku jaketnya. Ia merasa seperti pion yang sedang mengatur strategi di papan catur, ia harus sabar, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang balik dan memastikan wanita itu kehilangan segalanya, sebagaimana ia merampas kebahagiaan keluarga kecil Aera dulu.
Saat Aera melangkah masuk melalui pintu utama, aroma harum bunga melati yang menjadi ciri khas rumah Oma segera menyambutnya. Sosok wanita tua dengan wajah yang masih memancarkan kecantikan di masa mudanya berdiri di ruang tengah, menunggunya dengan senyuman hangat yang selalu berhasil mencairkan kekakuan di hati Aera.
"Oma," sapa Aera, lalu menghambur memeluk wanita itu.
Oma membalas pelukan cucunya dengan lembut, mengelus punggung Aera penuh kasih sayang. "Sudah pulang, sayang? Bagaimana perjalanannya? Ceritakan pada Oma, apa saja yang kamu lakukan di Puncak bersama Leo?"
Mereka berdua berjalan menuju sofa empuk di ruang tamu. Aera duduk di samping Oma, menyandarkan kepalanya di bahu wanita yang telah menjadi sandaran utamanya selama ini. Di sini, Aera merasa aman.
"Puncaknya indah, Oma. Dingin, tapi menenangkan," jawab Aera pelan. "Leo... dia ternyata tidak seseram penampilannya. Dia menjaga kami dengan baik, meskipun teman-temannya sangat berisik dan konyol."
Oma tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti alunan melodi yang menenangkan bagi Aera. "Leo adalah pemuda yang baik, Aera. Oma senang kamu punya teman yang bisa menjagamu di luar sana. Tapi, wajahmu... ada beban yang sepertinya tidak kamu bawa saat berangkat tadi. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Aera terdiam sejenak. Ia tahu Oma sangat peka terhadap setiap perubahan ekspresinya. "Oma, apa menurut Oma... seseorang yang sudah melakukan kesalahan besar, bisa mendapatkan kembali ketenangannya tanpa pernah membayar harganya?"
Oma menatap cucunya dengan pandangan yang dalam. "Setiap perbuatan memiliki konsekuensi, Aera. Tuhan tidak pernah tidur. Jika seseorang melakukan ketidakadilan, maka cepat atau lambat, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
Aera menunduk, menatap jemarinya sendiri. "Aku hanya sedang memikirkan Papa. Dan... tentang Belva."
Mendengar nama itu, ekspresi Oma berubah sedikit lebih serius, meski ia tetap mempertahankan nada suaranya yang lembut. Ia tahu betapa dalamnya luka yang ditinggalkan oleh ibu tiri Aera. Oma mengerti bahwa kebencian yang dipendam Aera bukanlah sekadar rasa dendam remaja, melainkan rasa sakit karena dikhianati oleh orang yang seharusnya mereka percayai.
"Aera," suara Oma mengalun berat. "Jangan biarkan dirimu terbakar oleh dendam. Kamu punya masa depan yang jauh lebih berharga daripada hanya menghabiskan waktumu memikirkan wanita itu. Namun, jika kamu merasa perlu untuk memperjuangkan apa yang menjadi hakmu dan hak ayahmu, Oma akan selalu mendukungmu. Tapi ingat, lakukan dengan bijak. Jangan sampai niat baikmu untuk membersihkan nama keluargamu justru merusak dirimu sendiri."
Aera mengangguk pelan. Nasihat Oma selalu terasa seperti kompas baginya. Ia tahu bahwa ia harus bersabar. Menyingkirkan Belva bukan berarti ia harus melakukan tindakan gegabah yang merugikan dirinya. Ia harus menyusun langkah, mengumpulkan bukti, dan memastikan bahwa saat waktunya tiba, Belva tidak akan memiliki celah untuk lari.
"Aku mengerti, Oma. Aku hanya ingin keadilan," bisik Aera.
"Keadilan itu akan datang, Aera. Tugasmu sekarang adalah menjadi kuat dan tetaplah menjadi gadis yang cerdas seperti ibumu," ujar Oma sambil mencium kening Aera.
Malam semakin larut, namun perbincangan mereka terus berlanjut. Aera merasa sedikit lebih lega. Beban yang tadi mencekik dadanya perlahan terangkat. Ia memandangi dekorasi rumah Oma, setiap sudutnya mengingatkannya pada masa kecilnya yang indah. Ia sadar, selama ia masih memiliki rumah ini, selama ia memiliki Oma, dan selama ia memiliki orang-orang di sekitarnya yang peduli, ia tidak akan pernah benar-benar kalah.
Aera mulai menceritakan lebih detail tentang bagaimana Leo dan anak-anak Alaxtar memaksanya menjadi bunda geng mereka. Oma tertawa lepas hingga matanya berair, menanggapi cerita itu dengan antusias. Ruang tamu yang tadi terasa dingin oleh gejolak amarah Aera, kini perlahan kembali hangat oleh tawa dan canda.
Aera bersyukur. Di tengah misi pribadinya untuk mengungkap kebusukan Belva dan mencari kepastian kondisi ayahnya, ia masih memiliki tempat untuk pulang. Dan besok, saat matahari kembali terbit, Aera tahu ia harus kembali menjadi Aera yang siap menghadapi dunia, dengan kepala tegak, dan hati yang sudah siap untuk berperang demi kebenaran.
Ia tidak akan membiarkan Belva terus berdiri di atas istana yang bukan miliknya. Aera akan merebut kembali semuanya, potongan demi potongan, hingga tidak ada lagi tempat bagi wanita pengkhianat itu untuk bersembunyi.
"Sekarang, pergilah istirahat," ucap Oma akhirnya, sambil menepuk pundak Aera. "Kamu sudah lelah setelah perjalanan panjang tadi."
Aera bangkit dari sofa, memeluk Oma sekali lagi sebelum melangkah menuju kamarnya di lantai atas. Ia melewati cermin besar di lorong, menatap pantulan dirinya sendiri. Ia melihat seorang gadis muda dengan mata yang tajam, penuh tekad, dan tidak lagi takut.
Tunggu saja, Belva, gumamnya lirih saat menutup pintu kamar. Waktumu sudah tidak lama lagi.
Malam itu, Aera tidur dengan perasaan yang lebih tenang. Perjalanan dari Puncak bukan hanya sekadar liburan, melainkan sebuah jeda yang memberinya energi baru untuk memulai rencana besarnya. Ayahnya akan ia temukan, dan Belva akan ia hancurkan. Oma menjadi saksi bahwa Aera bukan lagi gadis kecil yang dulu mudah ditindas. Ia adalah Aera, dan dia akan kembali untuk mengambil apa yang menjadi haknya.