Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Insiatif yang tidak di minta
"Siapa dia sebenarnya?" tanya Gregor, matanya masih menatap foto Lauren di layar laptop, suaranya rendah dan penuh perhitungan.
Pria berbekas luka di pipinya, yang duduk di samping laptop itu, membuka map kecil berisi hasil penyelidikan mereka. "Namanya Lauren Varles, Pak. Setahu kami, dia karyawan biasa di Nozer Holdings. Belum banyak yang bisa kami gali lebih dalam, akses kami ke sistem internal mereka masih terbatas."
Gregor mengangguk pelan, jarinya mengetuk meja, matanya masih tidak lepas dari layar. "Terus gali. Aku ingin tahu lebih banyak sebelum kita bergerak lebih jauh."
"Ada satu hal lagi, Pak," lanjut pria itu, suaranya sedikit ragu, seolah tidak yakin harus melaporkannya atau tidak.
"Katakan," desak Gregor, nadanya mulai tidak sabar.
"Salah satu orang kami sudah bergerak duluan, Pak. Tanpa perintah langsung dari Anda," jawab pria itu, cepat-cepat melanjutkan sebelum Gregor sempat bereaksi. "Dia kirim paket bunga ke apartemen wanita itu, disertai telepon peringatan. Katanya untuk menguji reaksi targetnya."
Wajah Gregor mengeras seketika, matanya berkilat marah. "Siapa yang memberi izin untuk itu?"
Ruangan itu hening sejenak, tidak ada yang berani menjawab.
"Panggil dia ke sini. Sekarang," perintah Gregor, suaranya turun menjadi bisikan dingin yang jauh lebih mengancam dibanding teriakan sekalipun.
Tidak lama kemudian, seorang pria muda dengan tubuh kekar melangkah masuk, wajahnya sedikit pucat begitu melihat ekspresi Gregor yang menunggunya.
"Kau bergerak tanpa izinku," kata Gregor, berdiri dari kursinya, melangkah mendekati pria itu dengan langkah tenang yang justru terasa lebih mengancam dibanding kemarahan yang meledak-ledak. "Kau pikir aku menyusun rencana selama berminggu-minggu hanya supaya kau bisa merusaknya dengan inisiatif bodohmu sendiri?"
"Saya pikir itu akan mempercepat proses, Pak," jawab pria itu, suaranya bergetar. "Membuatnya takut lebih dulu, supaya lebih mudah didekati nanti."
Gregor mendengus, mengulang kata-kata bawahannya sendiri dengan nada mengejek. "Kau pikir tindakanmu akan mempercepat semuanya." Ia mendekat selangkah, suaranya semakin tajam. "Kau bukan dibayar untuk berpikir. Kau dibayar untuk mengikuti perintah."
Pria itu menunduk, tidak berani lagi membantah.
"Sekarang, karena kebodohanmu, targetnya sudah waspada," lanjut Gregor, rahangnya mengeras. "Dan kalau Alex sampai tahu ada yang mengancam wanita itu, dia akan memperketat semua pengamanannya. Kau baru saja membuat pekerjaan kita sepuluh kali lebih sulit."
Ruangan itu hening, semua orang menahan napas menunggu keputusan Gregor selanjutnya.
"Mulai sekarang," kata Gregor akhirnya, suaranya kembali dingin dan terkendali, "tidak ada pergerakan apa pun tanpa perintah langsung dariku. Aku tidak peduli seberapa kecil, seberapa sepele kelihatannya. Kalian bergerak kalau aku bilang bergerak, dan diam kalau aku bilang diam."
"Baik, Pak," jawab semua orang di ruangan itu serempak, suara mereka rendah dan patuh.
Gregor kembali menatap layar laptop, foto Lauren masih terpampang di sana, ekspresi wajahnya kini jauh lebih hati-hati, menyadari bahwa satu kesalahan kecil sudah cukup untuk mengacaukan rencana yang sudah ia susun matang-matang.
"Kita mulai dari awal," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Kali ini, tidak ada ruang untuk kesalahan lagi."
*****
Lauren memutuskan keluar sebentar dari apartemen, bosan terus-menerus terkurung di dalam apartement. Ia melangkah pelan dengan bantuan kruk, menyusuri trotoar menuju kedai kopi kecil tempat ia dulu bekerja, jaraknya tidak terlalu jauh dari apartemennya, cukup untuk dijangkau meski dengan langkah yang masih pincang.
Bel kecil di atas pintu berdenting begitu ia mendorongnya masuk, suara yang begitu familiar, membawa kembali kenangan dua tahun yang pernah ia habiskan di tempat ini. Aroma kopi segar langsung menyambutnya, bercampur wangi kayu manis dari kue-kue di etalase kaca dekat kasir.
"Lauren?" Pemilik kedai, perempuan paruh baya yang dulu menganggapnya seperti keponakan sendiri, langsung menoleh dari balik meja kasir, matanya membelalak kaget melihat kruk yang menopang langkah Lauren. "Astaga, kakimu kenapa?"
"Kecelakaan kecil di kantor," jawab Lauren, tersenyum menenangkan, melangkah pelan menuju meja kasir. "Sudah agak mendingan, cuma masih perlu bantuan jalan sementara."
Pemilik kedai buru-buru keluar dari balik meja, memapah Lauren menuju kursi terdekat, mengabaikan protes kecil Lauren yang bilang ia bisa berjalan sendiri. "Duduk dulu, biar aku buatkan minuman hangat."
Lauren duduk, menatap sekeliling kedai yang tidak banyak berubah sejak terakhir kali ia berdiri di balik kasir itu. Beberapa pelanggan lama masih terlihat familiar, duduk di sudut yang sama seperti biasa, seolah waktu berhenti di tempat ini meski hidupnya sendiri sudah berubah begitu jauh.
"Bagaimana kabarmu di tempat kerja baru?" tanya pemilik kedai, kembali dengan secangkir cokelat panas, meletakkannya di depan Lauren.
"Ramai. Banyak yang harus dipelajari," jawab Lauren, menyesap cokelat itu perlahan, rasa hangatnya membawa kenyamanan yang sudah lama tidak ia rasakan. "Tapi aku senang di sana."
"Syukurlah," kata pemilik kedai, tersenyum lega. "Aku sempat khawatir, mengingat perusahaan sebesar itu, kadang orang-orang di sana bisa jadi dingin dan tidak peduli."
Lauren tersenyum kecil, tidak menjelaskan lebih jauh soal semua kerumitan yang sebenarnya mewarnai pekerjaan barunya, memilih menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri. "Tidak seburuk itu, kok. Aku baik-baik saja."
Mereka mengobrol sebentar, membahas hal-hal ringan, pelanggan-pelanggan lama yang masih sering datang, resep menu baru yang sedang dicoba kedai itu. Lauren baru saja hendak menghabiskan sisa cokelat panasnya ketika bel kecil di atas pintu kembali berdenting, menandakan seseorang baru saja masuk.
Lauren menoleh sekilas ke arah pintu, dan seketika senyum di wajahnya memudar, tangannya berhenti di udara memegang cangkir yang belum sempat ia angkat lagi.
***
Di sisi lain kota London, Zara baru saja tiba di galeri seni kecil di distrik Mayfair, tempat pameran lukisan kontemporer yang sudah lama ia rencanakan untuk dikunjungi bersama teman-temannya.
Camilla, Beatrice, dan Sophie sudah menunggu di depan pintu masuk, masing-masing mengenakan busana kasual namun tetap elegan khas kalangan mereka.
"Akhirnya kau datang," kata Camilla, memeluk Zara sebentar. "Kami hampir menyerah menunggumu."
"Maaf, membuat kalian menunggu." jawab Zara, tersenyum, meski jauh di dalam hatinya pikirannya masih sedikit melayang ke percakapan singkat dengan Alex tadi.
Mereka berempat melangkah masuk bersama, disambut suasana galeri yang tenang, lukisan-lukisan besar tergantung rapi di dinding putih, pencahayaan lembut menonjolkan setiap detail warna dan tekstur karya seni di sana.
"Lihat yang ini," kata Beatrice, menunjuk sebuah lukisan abstrak besar berwarna biru dan emas. "Cocok sekali untuk ruang tamu barumu, Zara."
"Terlalu mahal untuk sekadar dekorasi," kata Zara, tertawa kecil, meski matanya tetap mengagumi keindahan warna yang berpadu di kanvas itu.
"Kau selalu bilang begitu, tapi akhirnya beli juga," goda Sophie, membuat mereka semua tertawa bersama.
Mereka menghabiskan waktu berjalan mengelilingi galeri, sesekali berhenti mengagumi karya tertentu, berdiskusi ringan soal seni dan gaya masing-masing pelukis, suasana yang begitu santai dan jauh dari segala tekanan yang belakangan ini mulai menghimpit hidup Zara.
Mereka berempat berhenti di depan sebuah lukisan potret besar, sosok wanita dengan gaun merah menyala, latar belakangnya dipenuhi guratan kuas kasar yang seolah menggambarkan badai.
Camilla mencondongkan tubuhnya, membaca keterangan kecil di samping bingkai.
"Katanya ini terinspirasi dari kisah seorang bangsawan yang menolak dijodohkan," kata Camilla, alisnya terangkat jenaka. "Cocok sekali untukmu, Zara."
"Sangat lucu," balas Zara, memutar bola matanya, meski sudut bibirnya tertarik menahan senyum.
"Aku serius," lanjut Camilla, masih menatap lukisan itu. "Kau tidak pernah cerita banyak soal Alex belakangan ini. Semua baik-baik saja?"
Zara terdiam sejenak, menatap lukisan itu lebih lama dari yang seharusnya, mencoba menyusun jawaban yang cukup meyakinkan. "Semuanya baik. Cuma sibuk saja, kau tahu sendiri bagaimana jadwalnya."
"Kalau kau bilang begitu," kata Beatrice, ikut mendekat, tidak sepenuhnya percaya tapi memilih tidak mendesak. "Yang penting kau bahagia."
"Aku bahagia," jawab Zara cepat, mungkin terlalu cepat, membuat Sophie melirik ke arahnya dengan tatapan menyelidik sebelum akhirnya memilih mengalihkan topik.
"Sudah lihat koleksi di ruang sebelah?" tanya Sophie, menunjuk ke arah lorong lain galeri itu. "Katanya ada instalasi cahaya yang cukup terkenal, banyak orang antre untuk berfoto di sana."
Mereka berempat melangkah menuju ruang berikutnya, disambut cahaya warna-warni yang menari di dinding gelap, instalasi seni modern yang memantulkan bayangan mereka dalam berbagai bentuk yang terdistorsi.
Zara berdiri sejenak di tengah ruangan itu, membiarkan cahaya biru dan ungu menyapu wajahnya, untuk sesaat melupakan segala beban yang belakangan ini terus membebani pikirannya.
"Ayo foto bertiga," ajak Beatrice, sudah menyiapkan ponselnya.
"Berempat," koreksi Camilla, menarik Zara mendekat.
Mereka berpose bersama, tawa kecil pecah di antara mereka saat mencoba beberapa gaya berbeda, momen ringan yang jarang sekali bisa dinikmati Zara tanpa harus memikirkan tanggung jawab keluarga atau tekanan pertunangannya.
Untuk sesaat, ia hanya menjadi seorang wanita muda yang menikmati waktu bersama sahabat-sahabatnya, jauh dari segala intrik yang mengelilingi hidupnya.
Setelah puas berkeliling galeri, mereka berempat memutuskan untuk duduk sejenak di kafe kecil di dalam gedung yang sama, memesan teh sore dan beberapa potong kue, melanjutkan obrolan ringan yang jauh dari topik berat apa pun.
*****
Lauren masih menatap ke arah pintu, tangannya berhenti di udara memegang cangkir yang belum sempat ia angkat lagi. Namun begitu sosok itu melangkah lebih dekat, ia baru menyadari itu hanya seorang pelanggan biasa, seorang pria tua yang sering datang membeli kopi setiap sore, bukan siapa pun yang perlu ia khawatirkan.
Lauren menghela napas lega, meletakkan kembali cangkirnya, mencoba menertawakan kegugupannya sendiri dalam hati.
Hari sudah beranjak sore ketika Lauren akhirnya memutuskan untuk pulang, langit di luar jendela kedai mulai berubah warna keemasan. Ia berdiri perlahan, meraih kruknya.
"Aku pamit dulu, ya," kata Lauren, menghampiri meja kasir tempat pemilik kedai masih sibuk melayani pelanggan lain. "Sudah harus pulang sebelum terlalu gelap."
"Biar kupanggilkan taksi," tawar pemilik kedai, sudah mengeluarkan ponselnya. "Jangan jalan sendirian dengan kaki begitu."
"Tidak usah repot-repot," jawab Lauren, tersenyum menenangkan. "Apartemenku kan dekat, cuma beberapa blok. Aku bisa jalan pelan-pelan."
"Kau yakin?" tanya pemilik kedai, masih ragu.
"Yakin," jawab Lauren, melangkah menuju pintu. "Terima kasih untuk cokelat panasnya."
Ia melangkah keluar dari kedai itu, bel kecil di atas pintu berdenting menandai kepergiannya, udara sore yang mulai sejuk menyambutnya begitu ia melangkah ke trotoar. Kruknya berdecit pelan setiap kali menyentuh permukaan jalan, langkahnya masih agak lambat, tapi cukup nyaman untuk jarak sedekat ini.
Baru beberapa langkah ia berjalan, ponsel di sakunya bergetar, menampilkan pesan masuk dari Ivy.
Lauren berhenti sejenak di tepi trotoar, membuka pesan itu dengan tangan yang masih menyeimbangkan kruknya, matanya membaca deretan kata yang membuat langkahnya seketika membeku di tempat.