Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Time Travel / Tamat
Popularitas:509.4k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.

Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.

Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.

Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?

_____________

"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANGAT BERANI

Sora yang berdiri di belakang bahkan lngsung menutupi mulutnya sendiri dengan kedua tangan karena saking syoknya.

Nico mengusap tengkuknya yang terasa dingin, pria kepercayaan Kaisar itu benar-benar kehabisan kata-kata menghadapi keangkuhan calon ibu negara kekaisaran ini.

"L-Lady Aura... Anda yakin ingin saya menyampaikan kalimat kasar itu pada Yang Mulia Kaisar?" tanya Nico memastikan dengan wajah meringis.

"Tentu saja," jawab Aura santai.

"Sampaikan tanpa ada satu kata pun yang dikurangi, kalau perlu, tambahkan bahwa saya sangat membenci pria yang sok berkuasa seperti dia," lanjut Aura tersenyum dingin.

Nico menghela napas pasrah, akhirnya membungkuk hormat, pria itu sadar bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan gadis berkepala batu ini.

"Baik, Lady Aura. Perintah Anda akan saya sampaikan," ucap Nico pasrah.

Nico lalu berbalik menatap para prajurit pengawal yang berdiri di belakangnya.

"Tutup kembali semua petinya dan angkut ke dalam kereta!" perintah Nico tegas.

"Baik, Tuan!" jawab para prajurit cepat-cepat menutup peti kayu berukir emas itu dan membawanya keluar dari kediaman Duke Luminar.

Setelah para pengawal istana menghilang dari pintu utama, suasana di ruang tamu mendadak sepi.

Duke Daren langsung menghampiri putrinya dengan raut wajah sangat cemas.

"Aura, kamu benar-benar nekat, Nak!" bisik Duke Daren tegang.

"Bagaimana kalau Kaisar Zane emosi lalu mengirim pasukan untuk menyerang kediaman kita?" tanya Duke Daren khawatir.

Aura menyandarkan tubuhnya santai pada pinggiran sofa, menyunggingkan senyum tipis nya, penuh percaya diri.

"Ayah tenang saja," jawab Aura santai.

"Pria tua kaku itu tidak akan marah cuma karena ditolak, justru semakin kita menantangnya, dia akan semakin penasaran," lanjut Aura dengan kilatan cerdik di matanya.

Duchess Clara mengelus dadanya yang terasa naik turun menahan rasa kaget.

"Aura... kamu ini sebenarnya punya rencana apa?" tanya ibunya bingung.

Aura menoleh pada ibunya, tersenyum manis tanpa dosa.

"Aku tidak punya rencana apa-apa, Ibu," jawab Aura tersenyum licik.

"Aku cuma tidak suka ada pria yang bertindak seolah-olah bisa membeli ku, mau dia Kaisar atau dewa sekalipun, aku tidak peduli," lanjut Aura penuh harga diri.

Sora mendekat pelan, berbisik di samping telinga majikannya.

"Nona... tapi kalau boleh jujur, Kaisar Zane itu sangat tampan lho. Hadiahnya juga tidak tanggung-tanggung, sayang sekali Anda menolak nya," goda Sora polos.

Aura langsung melayangkan tatapan tajam pada pelayannya itu.

"Sora, kamu mau saya suruh menyapu gedung tua belakang bersama Rian?" ancam Aura halus.

Sora langsung membungkam mulutnya rapat-rapat dan menggelengkan kepala secepat kilat.

"T-tidak, Nona! Saya bercanda!" cicit Sora takut.

Aura mendengus pelan, merapikan gaun birunya yang tampak berkibar anggun.

"Ayah, Ibu, aku mau balik ke kamar dulu. Kepala ku agak pusing melayani kelakuan orang-orang gila hari ini," pamit Aura melangkah kembali menuju tangga utama.

"I-iya, Nak, istirahatlah," jawab Duchess Clara memandangi punggung putrinya yang makin menjauh dengan rasa heran sekaligus bangga.

Aura berjalan menuju kamarnya, sementara Sora masih setia mengekor tepat di belakangnya dengan langkah tergesa-gesa.

Begitu pintu kamar tertutup rapat, Sora langsung bersandar di balik pintu sambil menghela napas panjang penuh kelegaan.

"Fiuh... jantungku hampir copot tadi, Nona," ucap Sora memegangi dadanya yang masih berdegup kencang.

Aura mendengus pelan, melepas sarung tangan kainnya satu per satu lalu melemparnya sembarangan ke atas meja rias.

"Kenapa harus copot? Memangnya Tuan Nico mau memakan mu?" sindir Aura santai, berjalan menuju sofa di sudut kamar.

"Bukannya begitu, Nona! Tapi itu tadi utusan khusus Kaisar! Kalau tadi Kaisar mendadak berubah pikiran lalu mengirim pasukan pembunuh bayaran ke rumah ini bagaimana?" ucap Sora, cemas.

Aura duduk dengan anggun, menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kiri.

"Kalau dia mau mengirim pembunuh bayaran, dia tidak akan repot-repot mengirim tiga peti harta, lebih dulu, Sora," jawab Aura tenang.

Sora menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir melihat ketenangan luar biasa di wajah sang majikan.

"Tapi, Nona... kata-kata Anda tadi ke Tuan Nico itu benar-benar kejam sekali," ucap Sora dengan nada berbisik.

"Menyuruh Kaisar mencari wanita lain karena Anda bukan barang yang bisa dibeli... wah, berani sekali mulut itu berkata seperti itu," puji Sora kagum sekaligus ngeri.

Aura mendengus angkuh, menopang dagunya dengan sebelah tangan.

"Kenapa harus takut? Memangnya kenyataannya begitu, kan?" ucap Aura tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Aku bukan gadis naif yang gampang luluh cuma karena di kasih harta melimpah oleh pria berkuasa, apa lagi setelah apa yang ku lalui selama ini," lanjut Aura dengan sorot mata yang mendadak mendingin.

Sora mengangguk-angguk kecil membenarkan perkataan majikannya.

"Benar juga, sih, setelah disakiti dan di khianati oleh Pangeran Luis, wajar kalau Anda jadi tidak percaya lagi pada pria di istana," ucap Sora prihatin.

Aura memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap langit sore yang mulai berubah warna menjadi kemerahan, bukan karena sedih dengan ucapan Sora, justru dia sedang mengutuk Aura asli yang dulu sangat mencintai pria seperti Luis.

"Luis dan Kaisar Zane itu beda tipis, Sora," gumam Aura pelan, suaranya terdengar sangat serius.

"Sama-sama merasa diri mereka adalah pusat dunia dan bisa mempermainkan orang lain sesuka hati," lanjut Aura tajam.

Sora yang mendengar nada suara majikannya mulai berubah serius langsung terdiam, tidak berani lagi mengeluarkan komentar sembarangan.

"Tapi tenang saja..." ucap Aura tiba-tiba kembali tersenyum miring.

"Permainan baru saja dimulai, dan aku tidak punya niat sedikit pun untuk kalah dari mereka," lanjut Aura penuh percaya diri.

Tok

Tok

Tok

Tiba-tiba suara ketukan pintu kembali terdengar dari luar kamar, membuat Sora tersentak kaget untuk kedua kalinya hari ini.

"Aduh... siapa lagi itu?!" gerutu Sora cemas, melangkah pelan mendekati pintu.

Sora menarik napas dalam-dalam sebelum perlahan-lahan memutar gagang pintu dan membukanya sedikit.

Seorang pelayan senior kediaman Duke Luminar berdiri di luar dengan postur tubuh membungkuk hormat.

"Ada apa? Jangan bilang ada utusan istana datang lagi!" tanya Sora, panik.

Pelayan paruh baya itu menggeleng cepat, lalu menunjuk ke arah ujung koridor dengan ekspresi canggung.

"B-bukan, Sora, ini bukan dari istana, tapi... di ruang tamu ada seseorang yang ingin menemui Lady Aura," jawab pelayan itu gugup.

Aura yang mendengar percakapan itu dari dalam sofa langsung mengangkat sebelah alisnya.

"Siapa yang datang sore-sore begini, Sora?" tanya Aura bersuara cukup keras, melipat kedua tangannya di dada.

Pelayan itu bergegas masuk beberapa langkah ke dalam kamar, lalu membungkuk hormat ke arah Aura.

"Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Lady Aura, tapi tamu di bawah ini mengaku sebagai kenalan lama Anda," lapor pelayan senior, sopan.

1
Dwi Wahyu
harusnya dibunuh saja dari batu
Erna Masliana
terus kenapa gak bertindak tol**
Erna Masliana
ya karena kalian para pejabat dan para orang tua tolol yang gampang dibodohi... Raja terdahulu juga termasuk tolol
Erna Masliana
lah kamu sendiri pelayan rendahan yang ngimpi naik tahta
Erna Masliana
rencana yang gampang kebaca sebenarnya
Erna Masliana
meningkatkan keamanan saja tidak cukup kalo dalangnya dibiarkan hidup
Erna Masliana
ya iyalah... kamu lelet ngatasi musuh ya musuh bertindak duluan lah
Erna Masliana
langsung ajalah.. gak usah ngasih celah musuh
Erna Masliana
lah karena bukan anaknya
Erna Masliana
nah ini salah satu kelemahan Zein tidak menumpas tuntas ibu Luis dan Luis sendiri.. sekuat apa sih mereka hingga Zein tidak berkutik kalah dg wanita rendahan yg jebak dg ngaku ngaku doang
Erna Masliana
iya itu padahal jalan terbaik... apalagi Kaisar gak ada selir gak ada teman masa kecil atau maen ke rumah bordil
Erna Masliana
tapi tidak berbuat apapun sampe Luis dewasa...bikin skenario di racun atau dibunuh bandit pun tidak.. bukankah itu terlihat lemah.. mengatasi hal seperti ini saja mengandalkan Aura jiwa masa depan yang bertindak dulu
Erna Masliana
belum
Erna Masliana
harusnya di racun ye
Tika
baru gabung Thor 🤭
Omah Tien
kirain benaran g adu aku sampai sedih ya gmn anak nya kan ms kecil
Omah Tien
salah nya musuh g di matinin
Omah Tien
sy sk anak kembar ada jg ya
Omah Tien
kalau crt kerajaan ky nya g pernah ada anak kembar ya tau ada g
Omah Tien
kadang bc lihat aura sok sobong nya selagit tua nanti jg jd suami kamu jg dsr sbg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!