Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!
Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!
IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembok Gengsi yang Mulai Runtuh
Siapa sangka, seorang ketua geng motor yang ditakuti seantero kampus bisa bertekuk lutut di hadapan dua bocah berusia lima tahun?
Jika ada yang menceritakan hal ini padaku seminggu yang lalu, aku pasti akan tertawa keras dan menganggapnya gila. Namun malam ini, pemandangan absurd itu tersaji nyata tepat di depan mataku.
“Koko, ayo main sama Gwen!” ajak Gwen merengek. Tangan mungilnya memegang erat dan menggoyangkan tangan kanan Varro dengan penuh semangat.
Tidak mau kalah dari kembarannya, Glenn ikut berlari menghampiri pria tinggi itu. “Main sama Glenn juga! Glenn ada pistol-pistolan baru di dalam kamar! Nanti Koko Varro yang jadi penjahatnya, ya?” seru Glenn dengan mata berbinar antusias.
Aku berdiri mematung di ambang pintu ruang tamu, menatap ngeri pada jaket kulit mahal Varro yang kini ditarik-tarik oleh kedua adik kembarku. “Gwen, Glenn... dengerin Cici, ya. Ini udah malam. Koko Varro harus pulang ke rumahnya sekarang. Koko Varro pasti capek,” kataku melangkah maju, berusaha menyelamatkan Varro dari serbuan dua balita yang hiperaktif ini.
“Tapi Gwen masih mau main sama Koko Varro...” sahut Gwen memelas. Bibir kecilnya mengerucut, menatapku dan Varro bergantian dengan tatapan memohon andalannya yang biasanya tak pernah gagal meluluhkan hati siapa pun.
“Glenn juga mau main!” seru Glenn tak mau kalah, ikut memasang wajah memelas layaknya anak anjing yang minta dipungut.
Aku menghela napas panjang, menatap Varro dengan rasa tidak enak hati. “Tapi, Koko Varro besok harus-”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimat pengusiranku, Varro mendadak menggeser posisinya. Pria itu menundukkan tubuh jangkungnya hingga berjongkok sejajar dengan Gwen dan Glenn. Tangan kirinya terulur, menahan lengan kananku dengan sentuhan yang sangat pelan dan hangat, mengisyaratkan agar aku berhenti bicara.
Varro mengalihkan pandangannya pada kedua adikku, lalu mengulas sebuah senyuman. Bukan senyuman menyeringai arogan yang biasa ia pamerkan di kampus, melainkan senyum yang begitu tulus.
“Gwen, Glenn... Koko minta maaf ya, Koko gak bisa temenin kalian main malam ini,” ucap Varro dengan nada suara bariton yang sengaja dilembutkan. “Tapi Koko janji, Koko pasti bakal temenin kalian main lain kali. Oke?”
Gwen memiringkan kepalanya yang dihiasi jepit rambut stroberi. “Lain kali itu kapannya, Koko?”
Varro tampak berpikir sejenak, lalu ia mendongak dan menatap tepat ke dalam kedua bola mataku dengan tatapan jahil yang tertahan. “Um... coba kamu tanya sama Cici kamu. Kapannya tergantung Cici Gisel.”
Aku membelalakkan mata, refleks memukul pelan bahunya karena pria ini dengan sengaja melempar tanggung jawab padaku. Melihat Gwen dan Glenn kini menatapku penuh harap, aku hanya bisa menjawab seadanya. “L-lain kali itu... nanti kalau Koko Varro datang ke sini lagi, Gwen.”
Mendengar jawabanku, wajah Gwen langsung semringah kembali. Gadis kecil itu tersenyum sangat lebar hingga memperlihatkan deretan giginya. Ia lalu mengulurkan jari kelingking mungilnya ke arah Varro. “Koko janji, ya?”
“Iya, Koko janji,” jawab Varro tanpa ragu sedikit pun. Pria yang biasanya memegang kendali atas puluhan motor besar di jalanan ibu kota itu kini menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Gwen, mengunci sebuah janji kekanak-kanakan dengan penuh keseriusan.
Setelah ritual janji itu selesai, Varro melepaskan genggamannya dari lenganku, lalu bangkit berdiri dalam satu gerakan maskulin. Ia merapikan kerah jaketnya sejenak, lalu menatap kami bertiga.
“Koko pergi dulu, ya. Bye,” kata Varro seraya melambaikan tangan kanannya pada si kembar.
“Bye-bye, Koko Varro!” balas Gwen dan Glenn serempak dengan suara melengking riang.
Setelah berpamitan dengan adik-adikku, pandangan Varro beralih menatapku sepenuhnya. Di bawah pendar lampu teras yang agak redup, matanya memancarkan kehangatan yang membuat dadaku tiba-tiba berdesir aneh.
“Bye, Gisel,” ucapnya pelan, suaranya terdengar sedikit serak namun menenangkan.
Aku menelan ludah, berusaha menyembunyikan kegugupanku. “Bye, Varro. Hati-hati di jalan.” balasku seraya melambaikan tangan mengiringi punggung tegapnya yang perlahan menjauh menuju mobil sport mewahnya.
Keesokan paginya, matahari bersinar terik menyinari area kampus. Aku baru saja membelokkan sepeda motor matik tuaku ke area parkir khusus mahasiswa biasa dan mematikan mesinnya. Baru saja aku melepas helm dari kepala, sebuah suara berat yang familiar sudah menyapa indra pendengaranku.
“Hai, Gisel cantik.”
Aku menoleh kaget. Varro sudah berdiri bersandar di tiang beton tak jauh dari tempatku memarkir motor. Pria itu tampak sangat menawan dengan balutan kemeja flanel kasual yang tidak dikancingkan, memperlihatkan kaus putih polos di bagian dalamnya.
“Hai,” balasku singkat, berusaha menahan senyum dan bersikap sebiasa mungkin.
Mata Varro memindai penampilanku dari atas ke bawah, lalu ia tersenyum tipis. “Baju lo hari ini bagus.”
Aku mengerutkan dahi, menatap pakaianku sendiri dengan heran. Pagi ini, aku hanya mengenakan kaus oblong biasa bermotif bunga-bunga kecil yang warnanya bahkan sudah mulai memudar akibat terlalu sering dicuci. Ini sangat aneh. Pria yang terbiasa dikelilingi wanita-wanita dengan pakaian branded bernilai jutaan rupiah ini memuji kaus pasaranku?
“Oh, ya? Makasih,” sahutku canggung.
Di tengah kecanggungan itu, mataku tak sengaja melirik ke arah jam tangan karet di pergelangan tangan kiriku. Mataku seketika membelalak panik. Waktu menunjukkan pukul delapan kurang lima menit!
“Aduh! Gue masuk kelas dulu, ya! Dosen gue killer banget hari ini. Lo juga masuk ke kelas lo sana!” seruku terburu-buru. Tanpa menunggu balasan Varro, aku langsung membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin menuju gedung fakultas bisnis.
Dari kejauhan di belakangku, aku masih bisa mendengar suara tawa Varro yang renyah dan menggoda. “Iya, belajar yang rajin ya, Gisel cantik!”
Siang harinya, jam istirahat membuat seluruh area kantin kampus disesaki lautan manusia. Aroma berbagai macam masakan bercampur baur dengan suara obrolan yang riuh rendah. Aku berjalan pelan menembus keramaian sambil membawa sebuah buku tebal di pelukanku, berniat mencari meja kosong.
Dari arah pintu masuk utama kantin, suasana yang tadinya sekadar bising mendadak berubah menjadi riuh histeris. Varro bersama kedua sahabatnya, Brandon dan Marcel, berjalan membelah kantin. Seperti biasa, karisma ketiga penguasa kampus itu langsung menyedot perhatian. Puluhan mahasiswi terang-terangan berkerumun, saling sikut hanya untuk mencuri pandang atau menyapa mereka.
Varro, yang sangat benci kontak fisik dari orang asing, tampak menahan kekesalannya. Wajah tampannya berubah dingin dan kaku. Ia berusaha menyingkir dan mundur selangkah untuk menghindari tangan seorang mahasiswi agresif yang hendak meraih lengannya.
Namun pergerakan mundurnya yang tiba-tiba itu menjadi petaka.
Bruk!
Punggung tegap Varro menabrak tubuhku dengan cukup keras karena aku kebetulan sedang melintas tepat di belakangnya. Benturan itu membuatku terhuyung ke belakang, buku tebal di dekapanku hampir saja merosot jatuh ke lantai.
“Aduh!” ringisku seraya menahan keseimbangan.
Varro memutar tubuhnya dengan cepat. Begitu melihat siapa yang baru saja ditabraknya, raut wajahnya yang sedingin es seketika berubah panik.
Emosiku yang memang mudah tersulut akibat kelelahan kuliah hari ini langsung meledak. “Varro! Lo sengaja, ya?!” tanyaku dengan nada tinggi yang cukup memancing beberapa pasang mata menoleh ke arah kami.
Varro mengangkat kedua tangannya sejajar dada, wajahnya menyiratkan rasa bersalah yang kentara. “Enggak, Gisel. Sumpah, gue gak sengaja,” jawabnya dengan nada panik, jauh dari kesan arogan yang biasa ia pertontonkan.
Aku mendengus keras, membetulkan letak bukuku dengan emosi. “Lo nabrak gue sekeras ini dan lo bilang lo gak sengaja?!”
“Beneran, Gisel. Gue beneran gak sengaja ketabrak lo,” sahutnya lirih, mencoba mendekat untuk memeriksa keadaanku.
Aku malah mencondongkan tubuhku menantangnya, menumpahkan segala kekesalanku. “Lo tahu gak kenapa sifat lo itu nyebelin banget, hah?”
“Kenapa?” balasnya pasrah.
“Karena lo bisa nabrak orang yang jelas-jelas ada di samping lo dan lo masih bisa beralasan gak lihat!” bentakku tanpa ampun.
Varro mengusap wajahnya kasar, mendesah frustrasi karena merasa tersudut. “Gisel... gue memang salah nabrak lo, tapi itu murni karena gue lagi berusaha ngehindar dari kerumunan cewek-cewek itu. Gue beneran gak lihat ada lo di belakang gue.”
Aku menyipitkan mata, menatapnya sinis. “Oh... jadi maksud lo, lo anggap gue ini terlalu pendek banget sampai cowok setinggi lo gak bisa lihat eksistensi gue? Gitu?!”
Varro membelalakkan matanya, kaget dengan kesimpulan absurdku. “Astaga, bukan itu maksud gue, Gisel...”
“Terus apa maksud lo?!” sahutku cepat, nada suaraku semakin meninggi. Aku tahu aku mungkin terdengar tidak masuk akal sekarang, tapi ini adalah mekanisme pertahananku agar tidak terlihat lemah di depannya.
Varro menatapku lekat-lekat. Mimik wajahnya berubah sangat serius, menghilangkan segala kepanikan sebelumnya. “Oke, gini aja. Gue yang salah. Sekarang lo mau gue ngapain buat tebus kesalahan gue barusan?”
Aku membuang muka, malas meladeni tatapan matanya yang anehnya bisa membuatku luluh jika ditatap terlalu lama. “Ah, mending lo pergi aja deh jauh-jauh dari muka gue!” bentakku seraya mengulurkan sebelah tangan, mendorong pelan dada bidangnya.
Namun, Varro tidak bergeser seinci pun. Kepanikan yang tadi menderanya kini perlahan berganti dengan ego aslinya yang mulai meronta keluar. “Gue memang salah, tapi lo gak bisa usir gue gitu aja dari sini!” serunya tak terima harga dirinya dijatuhkan di depan banyak orang.
Aku berkacak pinggang, menantangnya. “Kenapa gue gak boleh usir lo? Emang ini kantin punya nenek moyang lo?!”
Varro melipat tangannya di dada, lalu membalas dengan nada angkuh dan santai. “Karena kantin ini hari ini juga udah gue booking.”
Di belakang Varro, Brandon memijat pelipisnya sementara Marcel hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala prihatin mendengar kesombongan yang baru saja terlontar dari mulut sahabat mereka. Varro selalu saja menggunakan kekayaannya sebagai tameng perlindungan di saat ia merasa terpojok.
Aku menatapnya dengan raut wajah jijik, seolah baru saja mendengar lelucon paling tidak lucu di dunia. “Hah? Lo serius?!” teriakku tak percaya.
“Ya iyalah, masa gue bohong?” sahutnya angkuh, meski kilat matanya menyiratkan penyesalan sekian detik setelah ia mengucapkan kalimat itu.
Namun bagiku, itu sudah cukup. Rasa muakku kembali memuncak. Aku sama sekali tidak ingin menghabiskan sisa jam istirahatku dengan manusia sombong ini. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lagi, aku memutar tumitku dan mulai berjalan pergi meninggalkannya.
Melihat reaksiku, kepanikan Varro seketika kembali. Tembok gengsi yang baru saja ia bangun rubuh dalam sekejap. “Eh! Lo mau ke mana, Gisel?!” tanyanya cepat seraya mengejarku dan menahan pergelangan lengan kananku.
Langkahku terhenti. Aku menatap tangannya yang melingkar di lenganku dengan tatapan membunuh. “Gue mau ke mana aja, apa urusannya sama lo?!” tanyaku dingin sembari menghempaskan lengan kananku dengan kuat hingga cengkeramannya terlepas.
Varro terdiam. Ia membiarkan tangannya tergantung di udara sebelum akhirnya ia menurunkannya perlahan. Bahu tegapnya sedikit merosot. Pria itu menatapku dengan sorot mata yang kali ini benar-benar memancarkan ketulusan dan kepasrahan.
“Sorry, Gisel... ucapan gue barusan kelewatan. Tadi itu... gue beneran gak sengaja nabrak lo. Maaf, ya.” kata Varro dengan suara yang sangat lirih, hampir terdengar seperti bisikan memohon.
Mendengar nada suaranya yang melunak drastis, emosi yang meledak-ledak di dadaku perlahan padam bagai disiram air dingin. Aku menghela napas panjang, meredam sisa-sisa amarahku.
“Iya, gak apa-apa kok,” sahutku akhirnya, nadaku kembali normal.
Varro menaikkan pandangannya, menatap tepat ke dalam kedua mataku dengan lekat seolah ingin memastikan kebenarannya. “Lo beneran mau maafin gue, kan?”
Aku balas menatap mata cokelat gelapnya, melihat ada sorot kecemasan yang nyata di sana. “Iya, Varro. Gue maafin,” jawabku seraya menganggukkan kepala pelan.
Keheningan yang damai sempat menyelimuti kami berdua selama beberapa detik, sebelum akhirnya sebuah tepukan keras mendarat di bahu Varro.
“Eh, Bro!” seru Marcel yang tiba-tiba muncul dari belakang dengan senyum menyeringai lebar. “Gue baru tahu lho, ternyata seorang Varro Aldrian Wijaya bisa nunduk dan minta maaf dua kali berturut-turut ke cewek yang sama!”
Wajah Varro seketika memerah, campuran antara rasa malu dan marah karena momennya dihancurkan begitu saja. “Apaan sih lo, Vin? Bacot banget!” sahut Varro cepat, lalu tanpa menatapku lagi, ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan area kantin dengan langkah panjang-panjang.
Brandon hanya tersenyum tipis ke arahku sebagai tanda pamit, lalu ia dan Marcel segera menyusul langkah Varro yang sudah lebih dulu menjauh. Aku berdiri di sana, menatap punggung tegap Varro yang kian menghilang, menyadari perlahan bahwa tembok gengsi di antara kami berdua mungkin tidak setebal yang aku kira.
Bersambung......