Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:748.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10 - Sari Datang

Sari masuk seperti orang yang dipaksa berjalan menuju panggung.

Padahal tidak ada yang memaksanya datang.

Ia sendiri yang berdiri di depan pintu Ratna, membawa air mata, membawa suara gemetar, membawa wajah perempuan terluka yang seolah-olah selama ini ia tidak ikut menggali lubang di rumah orang lain.

Ratna mempersilakannya duduk.

Sari duduk di kursi dekat pintu. Bambang berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya kacau. Ia tampak ingin mendekat, tetapi sadar anak-anaknya sedang menatap.

Raka berdiri di samping lemari, lengan bersilang. Dimas duduk dengan buku catatan masih terbuka. Melati menutup wajahnya, seperti malu melihat adegan itu. Yuni membawa anaknya ke kamar agar tidak mendengar. Rizal tetap di sudut, kaku seperti tamu yang salah alamat.

Ratna duduk kembali di kursinya.

"Kamu bilang ingin minta maaf," kata Ratna. "Silakan."

Sari mengangkat wajah. Air matanya sudah mengalir.

"Bu Ratna, saya minta maaf. Saya sungguh tidak berniat membuat keluarga Ibu hancur."

Raka tertawa pendek.

Sari menoleh, tersentak.

Ratna tidak menegur Raka. Ia hanya berkata, "Lanjutkan."

"Saya dan Bang Bambang memang punya masa lalu. Saya tahu itu tidak bisa menjadi alasan. Tapi kami... kami hanya saling menguatkan. Saya sendirian. Dia juga sering merasa tidak didengar di rumah."

Melati menatap ayahnya.

Dimas menghela napas.

Ratna bertanya, "Kamu datang untuk minta maaf atau menjelaskan bahwa kalian punya alasan?"

Sari menggigit bibir.

"Saya cuma ingin Ibu tahu, hubungan kami bukan sesuatu yang kotor."

Raka langsung menegakkan tubuh. "Bukan kotor? Berhubungan dengan suami orang sepuluh tahun, minta dibelikan rumah, pesan makam bersama, itu bersih?"

Sari memucat. "Saya tidak minta dibelikan rumah."

Dimas mengangkat fotokopi perjanjian. "Tapi nama pembeli rumah itu nama Ibu."

"Bang Bambang yang menawarkan."

Semua mata berpindah ke Bambang.

Bambang langsung berkata, "Sari butuh tempat tinggal. Aku hanya membantu."

Raka bertepuk tangan sekali, pelan. "Hebat. Ibu kami butuh suami setia, Bapak bantu siapa?"

"Raka!" Melati menangis.

"Aku salah?"

Melati tidak menjawab.

Sari menatap Ratna dengan air mata makin deras.

"Bu, kalau Ibu mau marah, marahlah pada saya. Jangan pada Bang Bambang. Dia tidak pernah berniat meninggalkan Ibu."

Ratna menatap perempuan itu.

Kalimatnya terdengar seperti membela Bambang, tetapi di dalamnya ada jarum. Bambang tidak pernah berniat meninggalkan Ratna. Artinya, selama ini Sari tahu posisinya. Ia tahu Bambang tetap pulang kepada istri. Ia tetap menunggu.

"Kamu tahu dia tidak berniat meninggalkanku, tapi kamu tetap bertahan?"

Sari terdiam.

Bambang berkata, "Ratna, jangan memojokkan dia."

Ratna menoleh pelan. "Aku memojokkan dia?"

"Dia sudah datang baik-baik."

Raka tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Pak, Ibuku adalah istrimu. Kenapa Bapak lebih takut Sari tersinggung?"

Bambang membentak, "Karena kalian semua menyerangnya!"

Dimas berkata dingin, "Dia datang ke rumah istri sah laki-laki yang sepuluh tahun berselingkuh dengannya. Kalau tidak siap ditanya, untuk apa datang?"

Sari menangis terisak.

"Saya memang salah. Saya tahu. Tapi saya mencintai Bang Bambang. Dari muda sampai sekarang. Saya tidak pernah benar-benar bahagia dengan suami saya dulu. Setelah dia meninggal, saya pikir hidup saya selesai. Lalu Bang Bambang datang lagi. Saya merasa Tuhan memberi kesempatan kedua."

Ratna menatapnya tanpa berkedip.

Tuhan.

Betapa mudahnya orang membawa nama Tuhan untuk membungkus keinginan sendiri.

"Kesempatan kedua untukmu," kata Ratna pelan. "Lalu untukku apa? Kesempatan menjadi perempuan bodoh?"

Sari menggeleng cepat. "Bukan begitu."

"Lalu bagaimana?"

"Saya... saya pikir Ibu dan Bang Bambang sudah tidak seperti suami istri. Usia kalian sudah..."

Sari berhenti, tetapi semua orang mengerti.

Usia mereka sudah tua.

Seolah orang tua tidak punya perasaan. Seolah pernikahan di usia enam puluh hanya soal satu atap, bukan lagi soal kesetiaan.

Ratna bertanya, "Karena aku tua, aku bisa dikhianati?"

Sari menunduk. "Saya salah bicara."

"Tidak. Kamu bicara apa yang kamu pikir."

Bambang berkata, "Ratna, sudah."

"Belum."

Ratna berdiri. Ia mengambil foto lama Bambang dan Sari, lalu meletakkannya di depan Sari.

"Ini kalian waktu muda. Cantik. Tampan. Dunia mungkin terasa tidak adil karena kalian tidak jadi menikah."

Sari menatap foto itu, air matanya jatuh ke pipi.

Ratna meletakkan foto pernikahannya dan Bambang di sebelahnya.

"Ini aku dan Bambang. Aku tidak datang merebut dia darimu. Aku menikah karena keluarga mengatur, karena zaman itu anak perempuan tidak banyak bicara. Setelah menikah, aku menjalani bagianku. Aku melahirkan anak-anaknya. Aku bekerja. Aku merawat orang tuanya. Aku mendampingi saat dia sakit. Aku tidak punya waktu meratapi cinta yang tidak jadi."

Ruangan sunyi.

Ratna melanjutkan, "Kalau kalian merasa cinta kalian begitu besar, seharusnya Bambang menceraikanku dulu sebelum datang padamu. Seharusnya kamu menolak sebelum dia menyelesaikan rumah tangganya."

Sari menangis lebih keras. "Saya takut kehilangan dia lagi."

"Dan aku kehilangan apa?"

Sari tidak mampu menjawab.

Melati tiba-tiba berkata pelan, "Bu Sari, kenapa datang hari ini?"

Semua menoleh.

Melati menghapus air mata. "Kalau benar mau minta maaf, kenapa tidak dari dulu? Kenapa setelah Ibu tahu? Kenapa setelah rumah dan makam ketahuan?"

Sari tampak terpojok. "Saya..."

Melati menatap ayahnya. "Pak, Bapak bilang apa ke Bu Sari? Bapak janji akan menikahi dia?"

Bambang diam.

Ratna menatap Melati. Ada rasa sakit, tetapi juga sedikit lega. Akhirnya anak perempuannya bertanya pada arah yang benar.

Sari menangis sambil berkata, "Bang Bambang bilang suatu hari semua akan jelas."

Raka langsung menatap ayahnya. "Jelas bagaimana?"

Bambang mengepalkan tangan. "Aku tidak tahu. Saat itu aku hanya..."

"Hanya apa?" desak Dimas.

"Hanya ingin menenangkan dia."

Sari mengangkat wajah, terluka. "Menenangkan?"

Bambang tersentak. Ia sadar salah bicara.

Ratna duduk kembali.

Di sinilah semuanya terbuka.

Bambang memberi Ratna pernikahan tanpa cinta penuh.

Bambang memberi Sari janji tanpa keberanian.

Dua perempuan menanggung akibat dari laki-laki yang ingin semua tetap ada untuknya.

Sari berdiri, wajahnya pucat.

"Bang, kamu bilang setelah anak-anak besar, kamu akan bicara."

Bambang menghindari tatapannya.

"Kamu bilang kamu tidak bahagia."

"Sari..."

"Kamu bilang rumah itu untuk masa tua kita."

Melati menutup mulut.

Dimas memejamkan mata.

Raka bergumam, "Lengkap."

Sari menatap Ratna, kali ini tidak lagi lembut. Ada kepahitan, ada ketakutan.

"Bu Ratna, saya memang salah. Tapi Bang Bambang juga memberi saya harapan. Saya tidak mungkin menunggu kalau dia tidak pernah datang."

Ratna mengangguk.

"Aku tahu."

Bambang terlihat panik. "Ratna, jangan dengarkan semua itu. Dia sedang emosi."

Ratna menatap Bambang.

"Justru akhirnya aku mendengar yang benar."

Bambang berdiri. "Kamu mau apa sekarang?"

Ratna belum menjawab.

Sari sudah berkata lebih dulu, suaranya pecah, "Bang, kalau kamu memang mencintaiku, katakan di depan mereka. Katakan kamu memilihku."

Ruangan seperti berhenti bernapas.

Bambang menatap Sari, lalu Ratna, lalu anak-anaknya.

Wajahnya berkeringat.

Ratna tidak membantu. Tidak menunduk. Tidak menangis.

Ia hanya menunggu.

Bambang akhirnya berkata dengan suara rendah, "Sari, jangan paksa aku."

Sari seperti ditampar.

Ratna menutup mata sebentar.

Jawaban itu lebih jelas dari apa pun.

Bambang tidak memilih Ratna.

Tapi ia juga tidak berani memilih Sari.

Ia hanya memilih dirinya sendiri.

Ratna membuka mata.

"Cukup," katanya.

Semua menoleh.

"Sari, kamu boleh pulang."

Sari menatapnya, bingung.

"Urusan uang dan rumah akan kuselesaikan dengan Bambang. Kalau namamu tetap ada dalam transaksi harta bersama, kamu akan ikut kupanggil secara hukum."

Sari pucat.

"Bu Ratna..."

"Pulang."

Sari menatap Bambang sekali lagi, berharap laki-laki itu menahannya.

Bambang tidak bergerak.

Akhirnya Sari mengambil tasnya dan berjalan keluar dengan air mata. Di teras, beberapa tetangga cepat-cepat berpura-pura menyapu dan menata pot bunga.

Pintu tertutup.

Ratna menatap Bambang.

"Sekarang giliranmu."

Bambang menatap pintu yang baru saja tertutup.

Selama bertahun-tahun, ia merasa bisa membagi hidupnya tanpa kehilangan apa pun. Ratna di rumah, Sari di kenangan, anak-anak tetap hormat, tetangga tetap menyapa.

Siang itu, pembagian itu runtuh di depan matanya.

Yang paling membuatnya takut bukan tangis Sari, bukan tatapan Raka, bukan map bukti di tangan Dimas. Yang paling membuatnya takut adalah wajah Ratna yang tenang.

Ia tidak lagi melihat istri yang bisa ditenangkan dengan satu kalimat, "Sudahlah, jangan ribut."

1
Anonim
awal cerita masih masuk nalar, tp mulai ketemu Arman dan Sari selalu tau gerak gerik Ratna, cerita mulai agak aneh…, setiap ada kejadian pd Ratna, Arman sll ada begitu jg dg Sari sll tau apa gerak gerik Ratna kaya pd punya CCTV sendiri…😂
Anonim
kok Sari bisa langsung tau sih ? katanya Sari tinggal nya di kampung sebelah, kok semua tentang Ratna si Sari langsung tau ya ? aneeh….
Anonim
diusia 60 thn adlh usia pensiun, dari kerja kantoran (kecuali dokter, pengacara) krn diusia itu fisik kita jg sdh tdk muda lg, tinggal menikmati hsl kerja dan menikmati hari tua dg bahagia, tp seperti dr Ratna kasus nya beda, masa tua bersama pasangan (suami) yg sehrs nya menikmati kebahagiaan, malah menjd masa tua yg menyakitkan, lbh ikhlas ditinggal mati pasangan drpd ditinggal krn perselingkuhan dan perceraian 😢
Tien Tien
merasakan rasaaanya .masuk banget ..kita ditinggal atw juta meninggalkan .semoga yg tersisa kebaikan. dan tidak ada penyesalan .
dwi sulastri
episode sebelumnya bu ratna pakai jilbab, ini kok disanggul ya
Wirly Pena
Semangat thor, karya yang bagus 👍

halo temen2, dukung dan baca " aku istrimu, bukan babu mu "

terimakasih 🙏
AlviAlva
coba kamu Mita ke bapakmu Mel
Amarilys
dari muda sampai tua masih plin plan seperti itu?? /Drowsy/
echa purin
👍👍👍
ceyee
bahasanya kayak terjemahan. apa ini novel terjemahan? berarti copas
Rochsdha Andriani
nah itu dia...
Sabrina Sheron
novel paling bagus yg pernah saya baca.
semua ada di kisah nyata bukan khayalan layaknya dunia novel biasa. semangat buat penulisnya💪
Rochsdha Andriani
kebaya ?
Surati
Bagus ceritanya
Mama lilik Lilik
ceritanya bagus dan seperti real banget,cuma kadang alamat rumah kadang pindah² semula diklinik lalu pindah ,ke rumah sewa tiba² di klinik dekat kampung cempaka, terakhir ke apartemen, tetap semangat KK dn terimakasih 🙏
Zakia Ulfa
ayolooohhh Bu dokter calon jodohmu dataaaaang
Zakia Ulfa
kereeeennn Lo ceritanya
Aji Priatun
suka banget alur ceritanya, keren Author, terima kasih
Kukun Sabarno
kenapa pemikiran nelati terlalu jauh tentang pak arman,seakan memanfaatkan kesempatan ya. apa aku salah??
Ema Susanti
sama seperti mantan suamiku. semoga Allah berikan jodoh yang baik dan tepat., 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!