Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Mulai Hari Ini, Kita Tinggal Bareng
Nathan datang ke rumah sakit saat matahari terbit dengan dua tas besar dan sebuah buku panduan kehamilan.
"Kamu pindah ke sini?" tanya Karina.
"Aku bawa kebutuhanmu. Baju, charger, sandal, sama makanan yang diizinkan perawat."
"Dari mana kamu dapat bajuku?"
"Aku ambil di apartemen. Tetanggamu menemani, jadi aku nggak mengacak-acak."
Dia menunjukkan foto lemari sebelum dan sesudah dibuka sebagai bukti. Karina tidak tahu harus kesal atau kagum.
Dokter mengizinkan pulang setelah hasil darah stabil dan pendarahan berhenti. Instruksinya jelas: minum obat, istirahat, tidak naik turun enam lantai, dan kembali jika muncul tanda bahaya.
"Aku bisa tinggal di hotel beberapa hari," kata Karina.
"Sendirian?"
"Josie bisa datang."
"Josie punya pekerjaan. Aku yang tinggal bersamamu."
Karina menatapnya. "Kamu tinggal di kos bersama Kevin. Kalau kamu tiba-tiba hilang, dia akan bertanya."
"Aku bilang ada proyek kampus."
"Berbohong kepada adikku bukan awal yang baik."
"Membiarkan ibu dari tiga anakku naik enam lantai lebih buruk."
Karina menutup mata. Setiap kali Nathan menyebut tiga anak, realitas itu terasa baru.
Mereka kembali ke apartemen menggunakan mobil Nathan. Untuk sekali ini, Karina tidak bertanya siapa pemiliknya. Nathan naik lebih dulu membawa obat dan tas, lalu turun lagi untuk menopang Karina di setiap bordes. Perjalanan enam lantai memakan waktu hampir dua puluh menit.
Begitu sampai, Nathan menunjuk sofa. "Mulai sekarang kamu duduk."
"Aku masih punya kaki."
"Tiga bayi kita juga punya tiga denyut. Jangan diuji."
Dia membuka jendela, membersihkan pecahan gelas yang belum sempat dibereskan, lalu memindahkan kebutuhan Karina ke meja dekat sofa. Botol air, obat, biskuit tawar, tisu, kantong sampah, dan bel kecil disusun seperti stasiun perawatan.
Belanjaan berikutnya datang lewat kurir. Susu, telur, sayuran, buah, termometer, sandal antiselip, dan bantal tambahan memenuhi ruang sempit. Nathan memeriksa daftar dari rumah sakit, lalu menempel jadwal obat di pintu kulkas.
"Kamu beli satu supermarket?"
"Aku nggak tahu bayi suka apa."
"Mereka belum bisa memilih makanan."
"Makanya ibunya yang makan."
Karina menemukan tiga pasang kaus kaki bayi di dasar kantong. Warnanya putih, kuning, dan hijau. Nathan tampak salah tingkah ketika dia mengangkatnya.
"Katanya belum boleh beli perlengkapan terlalu cepat," ujar Karina.
"Itu cuma kaus kaki."
"Tiga pasang."
"Diskon."
Karina tahu harganya bahkan tidak cukup untuk membuat Nathan peduli pada diskon. Dia melipat kaus kaki itu dan menyimpannya di laci yang sama dengan kartu rak.
Josie melakukan panggilan video sore hari. Karina hanya mengatakan dirinya sakit dan butuh istirahat. Nathan lewat di belakang kamera membawa semangkuk sup.
"Tunggu," kata Josie. "Kenapa nomor iseng ada di rumahmu?"
"Dia membantu."
"Membantu apa?"
Karina belum siap mengatakan soal kehamilan. Nathan menangkap tatapannya dan menjawab santai, "Dia hampir jatuh di tangga. Aku memastikan nggak terulang."
Josie menatap mereka bergantian. "Karin, kirim pesan setelah dia pergi. Kalau dia nggak pergi, kirim satu titik."
"Aku bisa dengar," protes Nathan.
"Memang sengaja."
Setelah sambungan berakhir, Nathan menyerahkan sup. "Temanmu galak."
"Dia menjaga aku."
"Bagus. Berarti kalau aku sedang kuliah, ada orang lain yang bisa datang."
Karina menatapnya. Nathan sudah memikirkan jadwal, bukan sekadar tinggal karena dorongan sesaat.
"Bel ini untuk apa?"
"Panggil aku."
"Aku bisa menelepon."
"Bel lebih romantis."
Karina melempar bantal kecil. Nathan menangkapnya dan meletakkan kembali di belakang punggungnya.
Siang itu, Nathan membaca buku kehamilan sambil mengerutkan kening. Dia menandai halaman tentang mual, nutrisi, dan tanda keguguran dengan kertas warna-warni.
"Kamu mengerti?" tanya Karina.
"Nggak semua. Tapi aku bisa belajar."
"Kuliahmu bagaimana?"
"Kelas bisa kuatur."
"Hidupmu tidak boleh berhenti hanya karena ini."
Nathan menutup buku. "Ini bukan gangguan dalam hidupku, Kak. Ini hidupku juga."
Kalimat itu membuat Karina terdiam.
Nathan membuka aplikasi kalender. Dia memasukkan jam obat, jadwal kontrol, dan nomor UGD. Kemudian dia memotret semua resep dan menyimpan salinannya.
"Kalau pendarahan muncul lagi, kita langsung berangkat," katanya. "Tas rumah sakit tetap dekat pintu. KTP dan kartu asuransimu di kantong depan."
"Kamu terdengar seperti perawat."
"Perawat lebih sabar. Aku akan memarahimu kalau nekat."
"Siapa yang memberimu hak?"
"Belum ada. Aku sedang melamar posisi."
Karina menggeleng, tetapi membiarkan jadwal itu ditempel.
Menjelang sore, mual menyerangnya. Nathan memegangi rambutnya di kamar mandi, lalu membersihkan lantai tanpa menunjukkan jijik. Setelahnya dia menyodorkan air hangat dan biskuit.
"Kamu boleh menyesal," kata Karina.
"Soal apa?"
"Tiga anak di umur dua puluh. Tinggal dengan perempuan yang sepuluh tahun lebih tua. Berbohong kepada teman sekamar."
Nathan berjongkok di depannya. "Aku menyesal satu hal."
Karina menunggu.
"Apartemenmu nggak punya lift."
Karina tertawa lemah. Nathan menyentuh dahinya untuk memastikan tidak demam.
Malam datang. Nathan menggelar kasur lipat di ruang tamu. Karina berdiri di pintu kamar dengan tangan terlipat.
"Kamu benar-benar mau tinggal?"
"Mulai hari ini, kita tinggal bareng."
"Aku belum setuju."
"Dokter setuju kamu butuh pendamping."
"Dokter tidak menunjukmu."
"Tiga anak ini menunjukku."
Dia menempelkan telapak tangan ke perut Karina setelah mendapat anggukan. Gerakannya selalu berubah lembut saat menyentuh tempat tiga kehidupan itu berada.
Ponsel Karina berbunyi. Andri menanyakan jadwal sidang dan meminta bertemu. Nathan melihat nama di layar, tetapi tidak merebut atau berkomentar.
"Kamu mau jawab?" tanyanya.
"Lewat pengacara saja."
Karina meneruskan pesan kepada kuasa hukum lalu mematikan layar. Nathan tersenyum tipis.
"Jangan senang dulu. Aku melakukan ini untuk diriku sendiri, bukan kamu."
"Aku tetap senang."
Pukul dua dini hari, Karina terbangun karena mual. Sebelum sempat mengambil bel, Nathan sudah berdiri di ambang pintu dengan mata setengah tertutup dan segelas air.
"Kamu dengar?"
"Aku belum tidur nyenyak."
"Kenapa?"
"Takut kamu berdarah lagi."
Nathan duduk di lantai dekat ranjang sampai mualnya reda. Karina melihat kepala abu-abunya bersandar pada kasur, lalu tanpa sadar mengusap rambutnya.
Nathan membuka satu mata. "Kalau begini terus, aku bisa salah paham."
"Salah paham apa?"
"Kamu mulai nyaman ada aku."
Karina ingin menyangkal, tetapi ruang sempit itu memang tidak terasa sesepi kemarin. Ada jaket Nathan di sandaran kursi, buku kehamilan di meja, dan dua cangkir bekas teh di wastafel. Tanpa izin, kehidupan pemuda itu mulai mengisi celah-celah rumah barunya.
Karina menarik tangan, tetapi Nathan menangkapnya dan meletakkan kembali di kepalanya.
"Aku calon ipar sah nanti," katanya mengantuk. "Kamu harus pelan-pelan terbiasa."
Karina tidak menjawab. Jemarinya tetap di rambut Nathan sampai napas pemuda itu berubah teratur dan pagi yang pucat mulai menyusup perlahan melalui celah tirai kamar.