Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 17 - Bagaimana?
Saat ini Ethan benar-benar lupa tentang janji es krimnya pada Ashlyn. Ketika Nadine datang menemuinya tadi, pikiran Ethan hanya sempat terlintas sejenak, selebihnya pikiran Ethan kembali dipenuhi oleh laporan perbatasan, pembahasan bersama Presiden, strategi militer, dan berbagai keputusan yang harus diambil.
Sekarang gadis ini menatapnya dengan mata yang penuh harapan.
"Sander," panggil Ethan kemudian.
"Ya, Jenderal."
"Pergilah untuk membeli es krim."
"Beli es krim, Jenderal?" tanya Sander sedikit bingung, sebab seumur hidupnya pun ia tak pernah membeli benda itu secara langsung.
Ethan mengangguk. "Beli beberapa rasa."
"Baik, Jenderal. Saya akan segera kembali." Setelah memberikan hormat singkat, Sander pun berbalik menuju mobil. Namun baru beberapa langkah, ia kembali mendengar suara Ethan.
"Sander."
Sander menoleh.
"Jangan terlalu lama."
Sander menahan napas. "Baik, Jenderal."
Di dalam hati, Sander hanya bisa menghela napas panjang. Biasanya Jenderal Ethan selalu memintanya bergerak cepat dalam urusan militer. Kini ia diminta bergerak cepat karena seseorang sedang menunggu es krim.
Sander benar-benar tidak pernah membayangkan akan mengalami hari seperti ini.
Namun sebelum Sander masuk ke mobil, tatapannya sempat kembali tertuju pada Ethan dan Ashlyn. Ada sesuatu yang membuatnya merasa aneh. Dulu, Ethan bahkan tidak akan membiarkan seorang wanita berdiri terlalu dekat dengannya. Nadine yang sudah mengenal Ethan selama bertahun-tahun pun tetap mendapatkan jarak yang jelas.
Tetapi Ashlyn jelas sangat berbeda.
Ethan membiarkannya memeluk, bahkan menangis di dadanya. Sekarang Ethan juga rela mengirim orang kepercayaannya hanya untuk membeli makanan sederhana yang sebenarnya bisa saja ditunda.
Sander menggeleng pelan.
Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Jenderalnya. Yang jelas, gadis bernama Ashlyn itu telah membawa perubahan besar yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Sander akhirnya masuk ke mobil dan pergi meninggalkan halaman mansion.
Sementara itu Ethan kembali memperhatikan Ashlyn. Barulah sekarang ia menyadari sesuatu yang membuat alisnya sedikit berkerut.
Satu kaki Ashlyn memang masih mengenakan sandal, sementara kaki yang lain tidak mengenakan apa pun. Telapak kakinya terlihat sedikit kemerahan karena tadi berlari dari teras menuju mobil.
Tatapan Ethan langsung berubah sedikit lebih tajam. "Kenapa berlari tanpa sandal?"
Ashlyn menunduk dan melihat kakinya sendiri. Baru menyadari salah satu sandalnya memang tidak ada.
"Oh," balas Ashlyn singkat, oh yang tiba-tiba keluar begitu saja dari mulutnya.
Ethan menghela napas pelan. "Kenapa kamu tidak menunggu aku di teras?"
"Ashlyn takut Suami pergi lagi."
Jawaban itu membuat Ethan terdiam, Ia tidak bisa memarahi gadis ini. Bahkan jika ingin marah pun rasanya tidak sanggup.
Ethan akhirnya membungkuk sedikit di hadapan Ashlyn. "Ayo."
Ashlyn menatapnya bingung. "Mau ke mana?"
Ethan tidak menjawab. Kedua tangannya justru bergerak, satu menopang punggung Ashlyn dan satu lagi berada di bawah lututnya. Dalam satu gerakan mudah, Ethan mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya.
Ashlyn terkejut. "Ah!"
Kedua tangan Ashlyn refleks melingkar di leher Ethan.
Para pelayan yang berada di sekitar teras kembali membeku. Tidak ada seorang pun yang menyangka akan melihat pemandangan seperti ini.
Jenderal Ethan Harold menggendong Ashlyn. Bukan sekadar membantu berjalan, tetapi benar-benar mengangkat gadis itu seperti seorang suami yang sedang membawa istrinya pulang.
'Astaga.' Kepala pelayan bahkan sampai terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menundukkan kepala. Ia masih belum tahu apa sebenarnya hubungan antara Ethan dan Ashlyn.
Namun satu hal semakin jelas di hadapan matanya. Gadis ini memiliki tempat yang sangat istimewa.
Kalau benar mereka menikah, tentu saja kabar tersebut seharusnya sudah sampai ke keluarga besar Harold dan institusi militer. Pernikahan seorang jenderal tidak mungkin benar-benar disembunyikan dengan mudah.
Tetapi kalau mereka tidak menikah, mengapa Ethan memperlakukan Ashlyn seperti ini?
Tidak ada seorang pun yang memiliki jawabannya. Mereka hanya bisa melihat dan menghormati batasan yang dibuat sang jenderal.
Jika Ethan memperlakukan Ashlyn dengan baik, maka mereka pun akan memperlakukannya dengan baik. Tidak ada yang berani mempertanyakan lebih jauh.
Sementara itu, Ashlyn sama sekali tidak memikirkan hal-hal rumit tersebut. Ia justru merasa sangat bahagia berada di dalam gendongan Ethan.
Kedua lengannya masih melingkar di leher pria itu, sementara kepalanya bersandar nyaman di bahu Ethan.
"Suamiku."
"Hm?"
"Ashlyn suka begini."
Ethan meliriknya sekilas. "Begini bagaimana?"
"Digendong." Ashlyn tersenyum lebar. "Rasanya nyaman."
Ethan kembali menatap lurus ke depan sambil membawa Ashlyn memasuki mansion. "Karena kakimu terluka."
"Ashlyn tahu."
"Jadi jangan berlari seperti tadi."
"Baik." Ashlyn menjawab dengan patuh, tetapi beberapa detik kemudian ia kembali tersenyum. "Kalau begitu Suami boleh menggendong Ashlyn terus."
Ethan menghela napas. "Tidak."
Ashlyn langsung menatap wajah sang suami. "Kenapa?"
"Karena berat."
Ashlyn membelalakkan mata. "Ashlyn berat?"
Ethan hampir tersenyum melihat ekspresi polos itu. "Tidak."
"Jadi Ashlyn berat atau tidak?"
"Tidak."
"Kalau begitu gendong terus."
Ethan menggeleng kecil. "Jangan banyak bicara."
Ashlyn akhirnya tertawa kecil. Ia semakin nyaman berada di dalam pelukan Ethan. Rasanya ingin sekali ia berada dalam gendongan ini lebih lama. Setelah selama hidupnya Ashlyn tak pernah mendapatkan perlakuan lembut dari siapa pun, berada dalam dekapan Ethan membuat hati Ashlyn terasa begitu hangat.
"Rasanya Ashlyn ingin digendong terus," gumamnya jujur.
Ethan tidak menjawab, namun langkahnya juga tidak dipercepat. Ethan tetap membawa Ashlyn dengan hati-hati sampai memasuki ruang tengah mansion.
Barulah Ethan menurunkan tubuh gadis itu perlahan dan mendudukkannya di sofa.
Ashlyn masih tersenyum, Ia bahkan sempat melihat kedua tangannya sendiri seolah masih bisa merasakan hangatnya tubuh Ethan. "Suamiku."
"Hm?"
"Tadi menyenangkan."
"Apa?"
"Digendong."
Ethan mengabaikannya dan berbalik hendak mengambil sandal yang tadi terlepas.
Namun belum sempat ia melangkah jauh, suara Ashlyn kembali terdengar. "Suamiku."
Ethan menoleh. "Apa lagi?"
Ashlyn menatap Ethan dengan wajah polos. "Ashlyn belum mandi sore."
Ethan mengerutkan kening. "Kenapa belum mandi?" tanyanya, akhirnya Ethan juga sadar jika Ashlyn masih menggunakan gaun yang sama seperti pagi tadi.
"Kepala pelayan tadi meminta Ashlyn untuk mandi, tapi Ashlyn tidak mau," jawab Ashlyn jujur, kini kepala pelayan juga sudah ada di belakang mereka.
"Kenapa tidak mau?"
"Karena tadi kan Ashlyn masih menunggu Suami."
Jawaban itu membuat Ethan terdiam lagi, Ia benar-benar tidak menyangka gadis ini akan menunggunya sampai sejauh itu.
Ashlyn kemudian tersenyum seolah baru menemukan sebuah ide yang sangat bagus. "Tapi sekarang Suami sudah pulang."
"Iya."
"Jadi..." Ashlyn berhenti sebentar, kemudian menatap Ethan dengan mata berbinar. "Bagaimana kalau kita mandi bersama?"
Rasakan ya permainan baru saja dimulai ... ini masih awal untuk selanjutnya pasti akan lebih mengejutkan lagi ...
kira kira begitulah yang dirasakan Ethan pada Ashlyn saat perubahan itu ada pada Ashlyn....
aslyn ga kenal anda yah
jadi jangan coba2 mendekati aslyn