Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerjasama

Malam menunjukkan pukul

23.21.

Di puncak salah satu gedung tertinggi di pusat kota, sebuah ruangan luas masih menyala terang di tengah lautan lampu malam. Suasana di dalamnya tenang. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan sesekali bunyi lembaran dokumen yang dibalik.

Seorang pria duduk santai di kursi kerjanya. Kaki disilangkan. Tubuh bersandar malas. Sebatang rokok menyala di sela jemarinya. Asap tipis mengepul perlahan, menciptakan bayangan samar di bawah cahaya lampu.

Altair Varellion.

Pria itu tampak santai.

Namun siapa pun yang mengenalnya tahu bahwa ketenangan Altair justru jauh lebih menakutkan dibanding kemarahannya.

Di hadapannya berdiri Aron.

Tangan kanan sekaligus orang kepercayaannya selama bertahun-tahun. Aron menunggu dengan sabar hingga Altair selesai memeriksa beberapa dokumen penting yang baru dikirimkan malam itu.

Beberapa saat kemudian, Altair menutup salah satu map.

Ia mengembuskan asap rokok perlahan. Matanya tetap tertuju pada dokumen di tangannya.

"Perempuan yang ditemukan di toilet kampus itu... " Suaranya datar. "... kelihatannya mengenaskan?"

Aron segera memahami siapa yang dimaksud. Bukan korban pembunuhan.

Melainkan gadis yang ditemukan pingsan di salah satu bilik toilet. Evelyn Adreena Danesha.

"Benar, Tuan." Aron menjawab tenang. "Menurut laporan dari orang kita di kampus, saat ditemukan kondisinya cukup buruk."

"Darah keluar dari hidungnya. Wajahnya pucat. Dan terlihat lebih seperti korban daripada saksi."

Sudut bibir Altair terangkat sedikit. Senyuman tipis.

Senyuman yang tidak pernah membawa pertanda baik.

"Tidak mengejutkan."

Ia kembali menghisap rokoknya. Dalam benaknya terlintas kembali situasi siang tadi. Sejak awal ia sadar ada orang lain yang bersembunyi di dalam toilet.

Ia kembali menghisap rokoknya. Dalam benaknya terlintas kembali situasi siang tadi. Sejak awal ia sadar ada orang lain yang bersembunyi di dalam toilet.

Ia bahkan sudah mempertimbangkan kemungkinan menjadikan orang itu tersangka. Atau setidaknya kambing hitam yang cukup meyakinkan.

Namun keadaan

berkembang di luar

perkiraannya. Gadis itu justru ditemukan dalam kondisi yang membuatnya tampak seperti korban. Bukan pelaku. Bukan saksi.

'Korban...'

Altair terkekeh pelan. "Cukup cerdik."

Aron tidak bertanya apa maksud perkataan itu. Karena pengalaman mengajarinya satu hal. Jika tuannya itu mulai tertarik pada seseorang, biasanya itu bukan kabar baik.

Aron kemudian menyerahkan map lain. "Kabar berikutnya mengenai Grup Danesha, Tuan."

Altair menerima dokumen tersebut. Membukanya perlahan. Matanya bergerak cepat membaca setiap halaman.

Beberapa detik kemudian, senyum tipis kembali muncul.b"Grup Danesha?"

"Ya. Mereka mengajukan kerja sama dengan Aurelius Consortium." Ucap Aron.

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Aurelius Consortium.

Nama yang mengguncang dunia bisnis. Perusahaan investasi terbesar dan paling berpengaruh di negeri ini.

Menguasai berbagai sektor industri. Teknologi, properti, energi, logistik, keuangan, dan puluhan bidang lainnya.

Namun menariknya, tidak ada satu pun dokumen publik yang menghubungkan perusahaan itu dengan Altair Varellion.

Di atas kertas. Pemiliknya adalah para direktur dan komisaris profesional. Orang-orang terpercaya yang ditempatkan Altair selama bertahun-tahun.

Mereka menjalankan perusahaan. Menghadiri rapat.

Menjadi wajah resmi di depan publik. Sedangkan orang yang sesungguhnya mengendalikan semuanya tetap berada dalam bayangan. Tak terlihat. Tak tersentuh. Tak diketahui.

Altair menutup dokumen itu. "Setujui."

Aron mengangguk. "Baik, Tuan."

Padahal di luar sana, ratusan perusahaan besar berlomba-lomba mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan Aurelius Consortium.

Namun tidak semuanya berhasil. Karena keputusan akhir selalu berada di tangan satu orang. Dan malam ini... orang itu sedang memikirkan dua hal yang sepertinya berkaitan berkaitan. Keluarga Danesha. Dan seorang gadis bernama Evelyn Adreena.

Altair kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya mengarah ke jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota malam. Lampu-lampu gedung tampak seperti bintang yang tersebar di atas bumi. Indah. Rapuh. Dan mudah dihancurkan.

Perlahan ia mematikan puntung rokoknya. Lalu bergumam pelan. "Evelyn Adreena Danesha..." Nama itu terasa asing. Namun entah kenapa... semakin sering ia mendengarnya akhir-akhir ini.

_______

Jam menunjukkan pukul delapan pagi.

Sinar matahari pagi menembus tirai apartemen mewah itu, menghangatkan ruangan yang semalam dipenuhi suara film, camilan, dan obrolan dua gadis yang sama-sama keras kepala.

Evelyn perlahan membuka mata. Untuk pertama kalinya setelah sekian hari dihantui ketakutan dan berbagai kejadian aneh, ia merasa tidur cukup nyenyak.

Sangat nyenyak bahkan. Ia menggeliat malas di atas kasur. Menguap panjang. Lalu menoleh ke samping.

"

Kosong.

"Celine?"

Tidak ada jawaban.

Otaknya masih loading beberapa detik. Kemudian ia duduk perlahan sambil mengacak rambutnya yang berantakan.

"Masa diculik pagi-pagi sih...

Dengan langkah menyeret ala zombie kelaparan, Evelyn keluar dari kamar menuju ruang TV. Dan benar saja. Di sana Celine sudah duduk manis di atas sofa.

Laptop terbuka di pangkuannya. Jemarinya bergerak cepat mengetik sesuatu sambil sesekali membuka beberapa file tugas kuliah.

"Pagi, Cel..."

Evelyn menguap lebar. Celine menoleh sekilas.

"Pagi."

Kemudian matanya menyipit. "Buset, muka lo kusut banget."

"Ini namanya natural beauty." Evelyn

"Ini namanya baru bangun tidur." Celine

Evelyn hanya terkekeh.

Namun beberapa detik kemudian matanya langsung berbinar. Di meja depan mereka sudah berjajar berbagai macam makanan.

Mulai dari roti, ayam goreng, salad, buah-buahan sampai kopi dan jus.

"PESEN MAKANAN?!"

teriaknya seperti menemukan harta karun.

Celine menghela napas.

"Cuci muka dulu. Disiplin dikit napa."

"Baik, Bos."

Lima menit kemudian

Evelyn kembali dengan kecepatan yang bahkan membuat atlet lari malu. Ia langsung duduk. Mengambil roti. Mengambil ayam. Mengambil jus. Lalu mulai makan seperti orang yang baru keluar dari pulau terpencil.

Celine memperhatikannya sambil menggeleng. "Lo tidur nyenyak?"

"Banget." Evelyn mengangguk semangat. "Gue bahkan nggak mimpi aneh-aneh."

Celine langsung mendengus. "Nyenyak katanya."

"Hah?" Evelyn menoleh ke arah Celine.

"Semalem lo tidur kayak helikopter." Ucap Celine.

Evelyn berhenti mengunyah. "Apa?"

"Muter-muter."

"Rebut selimut."

"Nendang gue dua kali."

"Bahkan sekali hampir nyikut muka gue."

Evelyn terdiam. Lalu tertawa canggung. "Hehe maap."

"Hehe kepala lo." Celine melempar tisu ke arahnya.

Evelyn hanya cengengesan tanpa rasa bersalah. Setelah suasana kembali santai, Evelyn mengambil ponselnya.

Ada notifikasi pesan yang masuk sekitar satu jam lalu.

Pengirimnya:

Reon Hartmann Manajer Utama.

"Oh?"

Evelyn membuka pesan tersebut. Matanya bergerak membaca beberapa paragraf panjang. Di bawahnya terdapat beberapa lampiran file. Jadwal rapat. Laporan perusahaan.

Rencana kerja sama. Dan berbagai dokumen yang membuat kepalanya langsung pening.

Isi pesannya berbunyi:

[Nona Evelyn.]

[Selamat pagi.]

[Saya ingin menginformasikan bahwa Aurelius Consortium telah secara resmi menyetujui proposal kerja sama yang diajukan Grup Danesha.]

[Ini merupakan perkembangan yang sangat positif bagi perusahaan.]

[Saya juga telah melampirkan jadwal rapat dan dokumen yang perlu Anda pelajari sebelum pertemuan pertama minggu depan.]

[Selamat atas pencapaian ini, Nona.]

[Mewakili seluruh jajaran manajemen, kami sangat menantikan kepemimpinan Anda.]

Evelyn membaca pesan itu dua kali. Lalu tiga kali. Tetap tidak paham.

"Aurelius apa si?"

Celine yang sedang minum langsung menoleh. "Hm?"

"Katanya perusahaan yang bakal gue pegang diterima kerja samanya sama perusahaan ini."

Ia menyodorkan layar ponselnya.

Celine membaca sekilas.

Lalu-

UHUKKK!

Minuman yang baru saja ia

teguk hampir menyembur keluar.

Evelyn kaget.

"WOI!"

"Cel!"

"Lo kenapa?!"

Celine menunjuk layar ponsel dengan ekspresi tidak percaya. "Tunggu. Sebentar. Ini beneran?"

"Hah?" Evelyn makin bingung. "Ada apa sih?"

Celine mengambil ponsel itu lagi. Memastikan dirinya tidak salah baca. Tidak. Memang benar.

Aurelius Consortium.

Perusahaan paling berpengaruh di negeri ini.

Perusahaan yang hampir semua pebisnis besar ingin ajak bekerja sama. Perusahaan yang terkenal sangat selektif. Dan hampir mustahil ditembus.

"Loh? Evelyn..." Suara Celine mulai aneh. "Lo tau nggak ini perusahaan apa?"

Evelyn menggeleng santai. "Nggak."

"Gue aja masih bingung perusahaan gue jualan apa."

Celine hampir menjambak temannya sendiri. "Ya ampun. Itu Aurelius Consortium!"

"Terus?"

"TERUS KATANYA?!" Celine benar-benar tidak habis pikir.

"Bahkan perusahaan keluarga gue pernah ngajukan kerja sama berkali-kali."

"Ditolak."

lagi." "Tahun berikutnya coba

"Ditolak lagi."

"Dan itu bukan cuma perusahaan keluarga gue."

"Banyak perusahaan besar lain juga begitu."

Evelyn berkedip.

"Oh."

"Oh?!"

teriak Celine. "REAKSI LO CUMA OH?!"

Evelyn mengangkat bahu. "Soalnya gue nggak kenal."

Celine menutup wajahnya.

Kadang-kadang ia merasa temannya ini terlalu santai untuk ukuran manusia normal.

Sementara itu Evelyn kembali membaca pesan dari Reon. Matanya menyipit.

"Berarti ini kabar bagus ya?"

"BAGUS BANGET!"

"Oh."

"AAAAAAA"

Celine melempar bantal ke arahnya. Evelyn tertawa sambil menghindar. Baginya semua itu memang terdengar hebat.

Namun pikirannya masih lebih sibuk memikirkan satu hal.

Bagaimana caranya tetap hidup di dunia novel psikopat ini. Karena baginya... kerja sama miliaran rupiah masih jauh lebih tidak menakutkan dibanding kemungkinan bertemu pembunuh berantai yang sewaktu-waktu bisa muncul di depan pintunya.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!