Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SENTUHAN PERTAMA DAN BATAS YANG RETAK

Sentuhan ibu jari Raymond yang mengusap sudut bibirku terasa bagaikan sengatan api yang membakar seluruh lapisan kesadaranku.

Rasa hangat, sedikit kasar, dan pekat dari ibu jarinya menekan perlahan kulit wajahku, mengusap sisa-sisa titik air hujan dengan gerakan yang teramat presisi sebelum akhirnya meluncur turun secara lambat melewati garis rahangku yang tirus.

Jarinya tidak berhenti di sana; jemari berurat itu terus merambat pelan menuju leher jenjangku yang terbuka bebas, meninggalkan jejak kehangatan yang kontras dengan dinginnya suasana malam usai didera hujan.

Napas yang semula terkunci rapat di dalam tenggorokanku mendadak berhamburan menjadi hembusan yang terengah-engah dan tidak beraturan.

Seluruh tubuhku membeku di tempat, tetapi reaksi itu sama sekali bukan karena rasa takut atau intimidasi.

Ada arus listrik liar yang bergelombang cepat dari setiap titik sentuhan jarinya, menjalar lurus menuju pusat dada dan membuat jantungku berdetak dengan irama gila yang belum pernah kurasakan sepanjang hidupku.

Keberanian yang semula kubangun sebagai topeng kini diuji oleh intensitas nyata dari pria dewasa yang berada di hadapanku.

Raymond tidak melangkah mundur sama sekali.

Pria berusia 35 tahun itu berdiri kokoh dan tegap bagai benteng batu yang tak tergoyahkan, menundukkan kepalanya hingga hembusan napas hangatnya yang beraroma samar wiski mahal dan tembakau halus menyapu halus permukaan kulit leherku.

Manik mata hazel-nya yang pekat mendadak menggelap secara signifikan, memancarkan aura dominasi maskulin yang begitu kental, pekat, dan membahayakan.

Tidak ada lagi raut pria dingin yang tak tersentuh; yang tersisa di matanya adalah tatapan seorang pemburu yang sedang menilai mangsanya dari jarak yang sangat dekat.

"Kamu ingin aku menghentikannya sekarang, Clarissa?" bisik Raymond dengan suara bass yang sangat rendah, parau, dan bergetar halus.

Suara berat itu bergema tepat di samping telingaku, membuat bulu-bulu halus di sekujur tubuhku meremang seketika dari tengkuk hingga ke ujung kaki.

"Atau kamu justru memang sedang menunggu momen terlarang ini terjadi di antara kita?"

Aku mengepalkan kedua jemari tanganku di samping tubuh, menancapkan kuku-kukuku dengan kuat ke telapak tangan hingga terasa perih hanya untuk mempertahankan sisa-sisa kesadaran dan kontrol diriku.

Bayangan wajah pias dan pucat almarhum Ayah yang terbaring lemah di atas kasur tipis kontrakan kumuh tiba-tiba melintas cepat di dalam benakku.

Wajah Ayah yang penuh rasa sakit akibat penderitaan dan pengkhianatan Ibu kembali membakar jiwaku, seketika mengikis habis keraguan yang sempat membayangi dadaku beberapa detik lalu.

Ini bukan saatnya untuk goyah atau bersikap lemah.

Ini adalah saat yang paling tepat untuk menarik pria ini lebih dalam lagi ke dalam jurang perangkap pembalasan dendam yang sudah kusiapkan secara matang.

"Kalau aku memang sengaja menunggunya..." jawabku penuh keberanian yang liar, menyuarakan bisikan yang sangat halus, serak, dan penuh godaan dari balik tenggorokan.

Aku memberanikan diri mengangkat kedua tanganku yang gemetar halus, membiarkan jemariku yang lentik bertengger pelan di atas dada bidang kemeja hitamnya yang terikat rapi.

"Apa yang sebenarnya akan kamu lakukan padaku, Raymond?"

Aku dapat merasakan secara langsung bagaimana otot-otot di dada tegap Raymond mendadak mengencang keras di bawah tekanan halus telapak tanganku.

Keheningan yang mencengkeram ruang tengah mansion itu mendadak begitu intens dan tebal, hingga suara gemericik sisa air hujan yang menghantam kaca jendela raksasa di sudut ruangan seolah lenyap sepenuhnya dari pendengaranku.

Hanya ada suara deru napas kami yang saling beradu dalam jarak yang kian terkikis.

Tangan kanan Raymond yang tadinya berada di leherku perlahan merambat turun dengan gerakan yang pasti.

Jarinya yang berurat dan kokoh menyusuri garis bahuku, mengusap bahan kain gaun gadingku yang tipis, lalu mendarat tepat di pinggang rampingku yang melelekuk.

Dengan satu hentakan perlahan namun sarat akan tenaga yang kuat, pria itu menarik tubuhku mendekat hingga tak ada lagi celah udara yang tersisa di antara kami berdua.

Dada tegapnya yang berotot menekan lembut ke arah dadaku.

Lekuk tubuhku yang membentuk gitar Spanyol terbingkai sempurna dalam cengkeraman tangannya yang hangat di pinggangku.

Perbedaan tinggi badan kami yang pas membuat kepalaku harus sedikit mendongak ke atas untuk bisa menantang manik mata hazel-nya yang tajam.

"Kamu terlalu berbahaya untuk dibiarkan bermain-main sendirian di mansion ini, Clarissa," gumam Raymond parau, pandangan matanya mengunci penuh pada bibir merah alamiku yang sedikit terbuka menahan napas.

"Satu langkah salah lagi darimu... dan kamu tidak akan pernah bisa kembali lagi ke kehidupanmu yang dulu."

"Aku tidak pernah berniat untuk kembali ke masa lalu, Raymond," balasku lirih, menatap lurus ke dalam manik matanya tanpa menunjukkan rasa gentar sedikit pun.

Aku menundukkan kepalaku sedikit, membiarkan helai rambut hitam bergelombangku yang wangi menyapu permukaan dada bidang kemeja hitamnya.

"Aku sudah tidak punya apa-apa lagi di dunia ini untuk dipertahankan... kecuali rasa ingin tahuku tentang sejauh mana pria sekuat dan sedingin dirimu bisa bertahan dari godaan."

Sudut bibir tipis Raymond terangkat samar, menciptakan garis senyuman dingin yang sangat menawan sekaligus mengintimidasi.

Ibu jarinya di pinggangku menekan sedikit lebih dalam ke permukaan kain gaunku, mengirimkan gelombang kehangatan baru yang merayap cepat ke seluruh pembuluh nadiku.

Namun, sebelum batas-batas terlarang di antara kami benar-benar hancur malam ini, sebuah suara ketukan keras dan derit kayu dari arah lantai dua mendadak memecah ketegangan yang membakar di antara kami.

CEKLEK.

Suara pintu kamar utama di lantai atas terdorong terbuka dengan agak kasar.

Langkah kaki yang tidak stabil melangkah keluar ke arah koridor balkon dalam, diikuti suara erangan pelan dari wanita yang sangat kami kenal.

"Raymond...?

Kamu masih di bawah, Sayang?" suara Ibu terdengar parau dan agak serak, khas nada suara seseorang yang baru saja terbangun dari efek obat tidur yang dikonsumsinya.

"Raymond... kepalaku pusing lagi... kenapa kamu belum juga naik ke kamar?"

Cengkeraman tangan Raymond di pinggang rampingku mendadak mengendur secara bertahap.

Namun, pria mature itu tidak menunjukkan sedikit pun riak panik, keterkejutan, atau kebingungan di wajah tampannya.

Ia melangkah mundur satu senti dengan gerakan yang sangat tenang, terkontrol, dan elegan, melepaskan cengkeramannya dari tubuhku secara perlahan namun pasti tanpa menimbulkan suara mencurigakan.

Mata hazel-nya menatapku untuk terakhir kalinya malam ini sebuah tatapan pekat yang sarat akan pesan terselubung bahwa permainan terlarang di antara kami baru saja memasuki tingkatan yang jauh lebih panas, rumit, dan berbahaya dari yang pernah kubayangkan.

"Aku masih di bawah, Siska.

Sedang mengambil air minum hangat," jawab Raymond dengan suara bass-nya yang mendadak kembali datar dan tenang, tanpa ada sedikit pun getaran gugup atau celah kebohongan yang bisa tertangkap.

Ia memutar tubuhnya perlahan dengan ketenangan mutlak, melangkah menuju meja bar untuk meraih gelas kristalnya, seolah-olah tidak ada adegan panas dan provokatif yang baru saja terjadi beberapa detik lalu di sudut ruangan yang gelap ini.

Aku berdiri membeku di tempatku, menarik napas dalam-dalam berulang kali untuk menetralkan detak jantungku yang masih bergemuruh hebat di dalam dada.

Aku melirik ke arah tangga lantai dua, memperlihatkan sosok Ibu yang berdiri menyandar di dekat pembatas balkon dengan gaun tidur sutranya, menatap ke arah ruang tengah dengan mata yang masih samar-samar akibat kantuk.

Ibu sama sekali tidak menyadari bahwa di bawah sana, dalam kegelapan yang tertutup pendar lampu gantung yang redup, suami mudanya baru saja memeluk erat anak perempuannya dengan cengkeraman penuh gairah dan ancaman terlarang.

Aku menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin di balik kegelapan ruangan.

Aku merapikan gaun putih tipisku yang agak kusut di bagian pinggang bekas cengkeraman erat tangan Raymond, lalu melangkah perlahan namun pasti menuju anak tangga untuk kembali ke kamarku sendiri.

Saat melintas di dekat bagian bawah tangga, mataku sempat berpapasan kembali dengan pandangan Raymond yang sedang berjalan menuju lantai atas menghampiri Ibu.

Pria itu menyunggingkan senyum tipisnya yang tersembunyi dari pandangan Ibu sebuah tanda tak kasat mata bahwa benteng es sang taipan kini resmi retak, dan aku hanya perlu menunggunya runtuh sepenuhnya hingga tak tersisa.

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!