Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Kring.
Suara lonceng pintu berbunyi nyaring saat Bayu dan Anya melangkah masuk ke dalam sebuah kafe kecil di sudut kota.
Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut tubuh mereka yang masih basah oleh keringat pelarian.
"Kita aman di sini, kafe ini jarang dikunjungi orang pada jam sibuk begini," ucap Anya sambil mengatur napasnya yang masih sedikit tersengal.
Gadis berkacamata itu melangkah masuk dan memilih meja di sudut paling gelap yang jauh dari pantauan jendela kaca.
Bayu langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi sofa empuk dan menyandarkan kepalanya dengan sangat lemas.
"Aku pesan es teh manis saja, kepalaku rasanya mau pecah kalau minum kopi sekarang," keluh Bayu sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.
Anya mengangguk pelan lalu berjalan ke meja kasir untuk memesan minuman mereka berdua.
Srak.
Anya kembali ke meja dan langsung mengeluarkan map merah serta buku hitam dari dalam tas selempangnya.
"Nah, sekarang mari kita lihat rahasia sebesar apa yang membuat nyawa kita berdua nyaris melayang tadi," kata Anya dengan mata berbinar penasaran.
Bayu menggeser duduknya mendekat agar bisa melihat isi dokumen curian itu bersama-sama di atas meja.
Anya membuka halaman pertama buku catatan hitam tebal itu dengan sangat hati-hati layaknya seorang detektif.
"Ini bukan sekadar catatan hutang piutang preman biasa, Bayu," gumam Anya membaca deretan angka yang nominalnya sangat fantastis.
"Lihat daftar nama di kolom sebelah kanan ini, semuanya adalah inisial pejabat tinggi di pemerintahan kota kita." Bayu menyipitkan matanya tajam membaca inisial-inisial yang ditunjuk oleh telunjuk ramping Anya.
"Jadi PT Kobra Mandiri ini sebenarnya cuma perusahaan bodong untuk mencuci uang suap para pejabat korup itu?" tanya Bayu mulai menyimpulkan.
"Tepat sekali, dan alasan mereka sangat mengincar tanah kakekmu juga tertulis jelas di halaman berikutnya," jawab Anya sambil membalik kertas tebal itu.
"Tanah kakekmu berada persis di tengah titik pusat rencana pembangunan jalan tol swasta yang baru." Bayu mendecakkan lidahnya pelan merasa muak dengan kelicikan orang-orang berjas rapi tersebut.
"Mereka membuat kontrak hutang palsu lima ratus juta agar bisa menyita tanah itu secara paksa dengan alasan hukum," geram Bayu menahan emosinya.
"Ayahku pasti tidak sengaja menemukan rencana kotor ini saat mengurus sertifikat tanah di kantor kelurahan bulan lalu."
Anya menutup buku hitam itu pelan dan menatap Bayu dengan sorot mata yang penuh simpati.
"Itu sebabnya mereka menyewa pembunuh bayaran menakutkan tadi untuk membungkam keluargamu selamanya," simpul Anya dengan suara pelan namun menusuk.
Bayu mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih pucat.
"Aku akan membuat mereka semua membayar mahal atas hilangnya nyawa kedua orang tuaku," janji Bayu dalam hatinya dengan tekad yang sudah bulat.
Ting.
[Sistem Batu Waktu mendeteksi anomali energi di sekitar pengguna.]
Layar biru transparan tiba-tiba muncul berkedip tepat melayang di depan pandangan wajah Bayu.
[Energi Waktu: 2/10]
[Pemulihan energi berjalan sangat lambat akibat trauma fisik paksaan entropi pada penggunaan sebelumnya.]
"Sial, energiku baru terisi satu poin, ini tidak akan cukup kalau si pembunuh bertopeng itu berhasil melacak kita sampai ke sini," batin Bayu cemas.
"Kamu kenapa tiba-tiba melamun lagi dengan wajah tegang begitu?" tegur Anya yang terus memperhatikan perubahan raut wajah Bayu.
"Orang bertopeng tadi, dia pasti sedang mencari kita ke seluruh penjuru kota sekarang juga," jawab Bayu mencari alasan yang logis.
"Dia mengira aku punya kecepatan super, jadi dia pasti mempersempit pencariannya pada orang-orang pelari cepat atau pengguna kendaraan."
Anya membetulkan letak kacamatanya sambil tersenyum penuh teka-teki yang misterius.
"Kalau begitu, kamu beruntung karena aku punya kenalan yang bisa membantu kita bersembunyi aman dari radar mereka," ucap Anya sangat santai.
Bayu menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan tingkat kepercayaan diri mahasiswi fisika di depannya ini.
"Kenalan? Jangan bilang kamu mau membawa preman terminal untuk melawan pembunuh bayaran berkekuatan monster itu," sindir Bayu tidak yakin.
Tak tak tak.
Suara ketukan langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekati meja mereka berdua dari arah pintu masuk kafe.
"Siapa yang kamu panggil preman terminal, cowok udik?" sapa sebuah suara wanita yang sangat merdu namun terdengar ketus dan sinis.
Bayu mendongak kaget dan melihat seorang gadis cantik berambut merah sebahu berdiri tepat memandanginya di samping meja.
Gadis itu memakai jaket kulit hitam ketat dan celana jins robek-robek yang sengaja memperlihatkan kulit putihnya.
Di sudut bibir bawahnya terdapat tindik kecil berbentuk cincin perak yang membuatnya terlihat sangat nakal dan berjiwa pemberontak.