Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Alya masuk lewat pintu belakang restoran La Luna. Bau tumisan bumbu, uap panas, dan aroma amis sisa makanan langsung tercium
Restoran ini selalu penuh sesak setiap hari hingga malam, dan di sinilah Alya kini berada, yaitu mencuci piring.
Dulu, jemari lentik itu hanya perlu menarik picu senjata atau menggerakkan jari untuk menghabisi musuh dan mengendalikan kerajaan bisnis gelap.
Ia adalah seorang ratu mafia, osok dingin yang ditakuti di dunia hitam. Namun kini, tangannya yang sama harus bergelimang air dingin dan busa sabun.
Srrr...
Ia menyalakan keran. Tanpa mengeluh, tanpa bersuara, Alya mulai menggosok piring satu persatu.
Matanya tumpul dan lelah, berpura-pura menjadi wanita lemah yang tak berdaya.
Tak jauh dari tempat Alya berdiri, dua karyawan dapur, Wiwin dan Ratna, sedang nyantai. Namun, mata mereka terus melirik sinis ke arah Alya.
"Hey Ratna, Alya itu tidak banyak bicara dan pendiam, dan tidak mau bicara dengan orang," kata Wiwin menunjuk dengan mulutnya.
"Dan dia terlihat sombong, tidak mau berbicara dengan orang lain," sahut Ratna sambil mencibir licik. "Mungkin dia mikir tempat ini di bawah derajatnya. Lihat tuh cara berdirinya, sok keibuan tapi pucat kayak mayat!"
Seketika mereka berdua saling berpandangan dan tersenyum licik.
"Kita kerjain yuk," kata Wiwin.
"Ha ha ha, ayo gas!" sahut Ratna dengan tawa pelan yang penuh niat buruk. "Nanti aku yang pancing, kamu yang eksekusi."
Ratna sengaja melangkah menghampiri area cuci piring sambil membawa nampan berisi mangkuk-mangkuk bekas sup minyak yang licin.
Brak!
Ratna menumpukkan mangkuk-mangkuk itu secara kasar tepat di samping tangan Alya hingga tumpukannya goyah.
"Duh, Alya! Ini tumpukannya masih kurang tinggi ya? Kerjamu lambat banget sih!" seru Ratna bernada tinggi, sengaja memancing perhatian.
Alya menghentikan gerakannya sejenak. Ia menghela napas pelan, mengontrol refleks membunuhnya yang sempat terpicu secara otomatis. Dengan suara sepelan mungkin, ia menunduk. "Terima kasih... taruh saja di situ. Nanti saya selesaikan."
"Suaramu ke mana, Alya? Nggak punya mulut ya buat ngomong yang jelas?" celetuk Wiwin yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Ratna dengan tangan bersedekap.
"Maaf... saya cuma mau fokus kerja," sahut Alya tenang, meski sorot matanya yang tertutup poni menyembunyikan tatapan matanya yang berbahaya.
"Fokus kerja atau sok jual mahal?" potong Ratna tajam. "Di sini itu kita tim! Jangan kayak patung hidup! Kamu pikir kamu siapa, hah? Putri raja yang terdampar?"
"Saya hanya orang biasa yang butuh pekerjaan ini. Tolong, biarkan saya bekerja," kata Alya lembut, menyembunyikan kenyataan bahwa ia bisa mematahkan leher kedua wanita ini dalam hitungan detik jika ia mau.
Tapi demi Alisya, ia harus menahannya.
"Wah, dengar tuh, Win! Dia bilang kita ganggu!" seru Ratna berpura-pura kaget.
"Duh, berani juga ya," kekeh Wiwin. "Ya udah deh, karena kamu rajin banget... ini ada hadiah!"
PRANG!
Dengan sengaja, lengan Wiwin menyenggol tumpukan piring keramik bersih yang baru saja selesai dikeringkan oleh Alya. Keramik-keramik mahal itu jatuh berserakan di lantai, pecah menjadi serpihan tajam.
Alya mematung. Matanya tertuju pada pecahan keramik di bawah kakinya.
Wiwin membungkuk sedikit, berbisik tepat di dekat telinga Alya dengan nada meremehkan, "Ups! Maaf ya... sengaja!"
Ratna dan Wiwin terkekeh puas. Namun sebelum tawa mereka reda...
"Ada apa ini?!"
Suara bentakan keras menggema dari arah pintu dapur. Pak Herman, kepala koki yang terkenal pemarah, berjalan cepat dengan wajah merah padam.
"Pak Herman! Ini Alya, Pak!" potong Ratna cepat dengan wajah pura-pura panik. "Dia ceroboh banget! Piring-piring bersih yang baru dikeringkan malah disenggol sampai pecah semua!"
"Iya, Pak! Kami tadi udah ingetin baik-baik biar hati-hati, tapi dia malah emosi dan nyenggol piringnya," tambah Wiwin menyudutkan.
Pak Herman menatap Alya dengan napas memburu. "Alya! Kamu baru kerja belum. setahun di sini sudah bikin rugi! Beresin semuanya sekarang! Kalau ada satu serpihan tersisa, gaji mu saya potong habis!"
Alya mendongak pelan. Untuk sepersekian detik, aura intimidasi yang begitu pekat dan mematikan memancar dari matanya, membuat Pak Herman mendadak merinding dan terdiam kaku tanpa tahu sebabnya.
Namun, bayangan senyum manis Alisya membuat ia meredakan tatapan tajam itu.
"Baik, Pak. Maafkan saya... saya akan bersihkan semuanya," jawab Alya pelan.
"Hmph! Beresin cepat!" gertak Pak Herman, berusaha menutupi rasa takut aneh tadi, lalu berbalik pergi.
Wiwin dan Ratna melambaikan tangan mengejek ke arah Alya sebelum kembali ke meja mereka sambil tertawa puas tanpa rasa bersalah.
Alya berlutut sendirian di atas lantai dingin. Jemarinya mulai memunguti satu per satu pecahan keramik tajam itu.
Ujung serpihan keramik sempat menggores kulit jarinya hingga meneteskan darah segar.
Alya menatap darah di jarinya, lalu tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh bahaya.
"Nikmatilah permainan kecil kalian," bisik Alya dalam hati sambil mengusap darah di jarinya. "Selama kalian tidak menyentuh putriku... aku akan tetap berpura-pura menjadi domba yang lemah."