Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.
Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.
Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Canggungnya Realita dan Air yang Membasuh Kesombongan
Cahaya matahari pagi akhirnya berhasil menembus celah awan kelabu, mengirimkan seberkas sinar keemasan yang menembus jendela kaca berdebu di ruangan kontrakan berukuran tiga kali empat meter tersebut. Hujan badai yang mengamuk semalaman telah reda, menyisakan genangan air kotor di jalanan gang dan suara tetesan air dari sisa-sisa embun di atap seng.
Arga Danendra membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa kaku dan berat, bagaikan dihimpit berton-ton batu karang. Sisa-sisa adrenalin dari pertarungan berdarah semalam telah sepenuhnya menguap, meninggalkan rasa sakit yang berdenyut hebat di area pinggang kirinya.
Namun, ada hal lain yang saat ini jauh lebih menyiksa sang CEO perfeksionis tersebut dibandingkan luka tusuknya.
Rasa lengket.
Sebagai seorang miliarder yang memiliki sedikit kecenderungan mysophobia (ketakutan pada kotoran atau kuman), Arga terbiasa hidup dalam lingkungan yang sangat steril. Kamar mandinya di penthouse dilapisi marmer Italia anti-bakteri, dengan sistem sirkulasi udara pintar dan air hangat yang diatur pada suhu presisi. Seprai tempat tidurnya diganti setiap hari, terbuat dari sutra Mesir yang paling halus.
Kini, ia berbaring di atas kasur busa tipis, tubuh bagian atasnya bertelanjang dada, dan kulitnya dilapisi oleh keringat dingin, debu jalanan, serta sisa-sisa darah yang telah mengering dan mengerak. Aroma tubuhnya sendiri membuatnya nyaris mual. Kemeja mahalnya sudah dipotong paksa semalam untuk menghentikan pendarahan, meninggalkannya dalam kondisi setengah telanjang yang sangat tidak nyaman.
Arga menoleh. Di sudut ruangan, Senja tampak sedang berjongkok membelakanginya. Gadis itu mengenakan kaus yang sama seperti semalam, rambutnya diikat asal-asalan menjadi cepol yang berantakan. Terdengar suara gemercik air dan gesekan spons. Senja sedang mencuci dua mangkuk plastik bekas bubur mereka tadi di dalam sebuah baskom merah yang pinggirannya sudah retak.
"Senja," panggil Arga. Suaranya serak dan berat.
Gadis itu terkesiap pelan, bahunya sedikit melompat. Ia segera membilas tangannya dengan air, mengeringkannya pada celemek usang yang entah dari mana ia dapatkan, lalu berbalik dengan senyum cerah yang seolah menjadi seragam wajibnya setiap hari.
"Ya, Kak Arga? Ada yang sakit? Lukanya berdarah lagi?" tanyanya beruntun, langkah kakinya bergegas menghampiri sisi kasur. Mata bulatnya memancarkan kekhawatiran yang begitu polos.
Arga menggeleng pelan, menahan ringisan saat ia memaksa tubuhnya untuk duduk bersandar pada dinding yang lembap. "Tidak. Tapi aku harus mandi. Badanku terasa seperti habis dicelupkan ke dalam lumpur."
Mata Senja melebar. Gadis itu langsung melambaikan kedua tangannya dengan panik. "M-Mandi?! Tidak boleh, Kak! Luka tusuk Kakak itu sangat dalam. Kalau terkena air mentah, lukanya bisa infeksi parah dan membusuk! Dokter di panti dulu bilang orang yang lukanya belum kering tidak boleh mandi air dingin!"
"Aku tidak bisa diam saja dengan tubuh lengket seperti ini," balas Arga keras kepala. Nada bicaranya tanpa sadar kembali ke mode arogan seorang bos yang terbiasa memberi perintah mutlak. "Aku hanya butuh air. Aku bisa membersihkan diriku sendiri tanpa mengenai lukanya. Di mana kamar mandinya?"
Senja tampak ragu-ragu. Ia memilin ujung bajunya, kebiasaan yang Arga sadari selalu gadis itu lakukan saat sedang gugup. "Kamar mandinya... ada di belakang, Kak. Tapi..."
Senja menghentikan ucapannya, menggigit bibir bawahnya. Ia menunduk menatap lantai semen, merasa malu.
Namun, Arga yang keras kepala tidak memedulikan keraguan gadis itu. Dengan mengertakkan gigi menahan perih yang menyengat, ia menyingkap selimut motif bunga yang melingkupinya dan memaksa kakinya turun ke lantai yang dingin. Tubuh besarnya terhuyung sesaat.
Melihat hal itu, insting Senja bergerak lebih cepat dari keraguannya. Gadis itu melesat maju, menyelipkan bahu kecilnya di bawah lengan Arga yang kekar untuk menopang beban tubuh pria itu.
"Hati-hati, Kak!" omel Senja pelan, setengah mati-matian menahan bobot Arga. "Dasar keras kepala. Sudah dibilang jangan banyak bergerak dulu."
Bagi Arga, omelan itu seharusnya terdengar menyebalkan. Namun anehnya, ia justru membiarkan dirinya ditopang oleh tubuh mungil yang tingginya hanya sebatas dadanya itu. Aroma sabun cuci murah dan wangi vanila yang menguar dari rambut Senja kembali menyapu indra penciumannya, menetralkan bau amis darah yang sejak semalam menghantuinya.
Senja memapah Arga berjalan tertatih-tatih melewati dapur kecil yang hanya berisi kompor gas satu tungku, menuju sebuah pintu kayu lapuk di bagian paling belakang rumah kontrakan tersebut. Pintu itu bagian bawahnya sudah keropos dimakan rayap dan lapuk karena air.
"Ini... kamar mandinya, Kak," ucap Senja pelan. Suaranya mengecil, penuh dengan rasa tidak percaya diri. Ia mendorong pintu kayu itu hingga berderit nyaring.
Langkah Arga terhenti seketika di ambang pintu. Mata elangnya mengerjap perlahan, mencoba memproses pemandangan di hadapannya.
Otak sang CEO miliarder itu mengalami semacam korsleting sesaat.
Ruangan di balik pintu itu berukuran tidak lebih dari satu setengah meter persegi. Tidak ada ubin keramik, apalagi pualam marmer. Lantainya hanya berupa plesteran semen kasar yang sebagian besar sudah ditumbuhi lumut hijau licin. Dindingnya adalah susunan batu bata yang hanya disemen setengah jadi, menyisakan rongga-rongga kecil tempat angin dingin berembus masuk. Tidak ada atap yang tertutup rapat, hanya seng tua yang celahnya membiarkan rintik sisa hujan menetes ke dalam.
Dan fasilitas mandinya...
Di sudut ruangan yang temaram, terdapat sebuah bak mandi yang terbuat dari drum plastik biru bekas yang dipotong setengah. Drum itu dipenuhi oleh air yang tampaknya ditimba secara manual dari sumur di luar. Di sebelahnya, tergeletak sebuah sabun batangan berwarna hijau yang sudah menipis dan retak-retak di atas tempat sabun plastik yang pinggirannya sompel.
Benda paling 'canggih' di ruangan itu hanyalah sebuah gayung (ciduk air) berwarna merah muda yang gagangnya sudah patah dan disambung paksa menggunakan karet gelang dan tali rafia.
Arga menatap gayung bertali rafia itu dengan ekspresi kosong.
Ia terbiasa dengan bak mandi berlapis emas murni di hotel bintang tujuh Dubai. Ia terbiasa dengan shower yang menyemburkan air hangat dengan tekanan yang bisa memijat otot-otot punggungnya. Ia bahkan tidak pernah melihat benda bernama drum plastik bekas sejak ia sukses membangun kerajaannya tujuh tahun lalu.
Melihat Arga terdiam mematung dengan rahang mengeras, Senja menundukkan kepalanya semakin dalam. Wajahnya memerah karena rasa malu yang luar biasa menyiksa. Rasa rendah diri yang selama ini ia tekan kuat-kuat, tiba-tiba menyeruak keluar.
"M-Maaf, Kak," cicit Senja, suaranya bergetar menahan tangis. "Fasilitasnya sangat jelek. Pasti Kakak kaget, ya? Airnya juga sangat dingin karena tidak ada pemanas. Dulu waktu Kakak belum dirampok... Kakak pasti terbiasa hidup enak. Maafkan aku, aku tidak bisa memberikan tempat yang layak untuk tamu..."
Mendengar suara bergetar itu, lamunan Arga buyar. Ia menoleh ke bawah, menatap puncak kepala gadis yang bahunya kini bergetar halus menahan malu.
Sebuah tamparan tak kasat mata menghantam nurani Arga.
Gadis ini menyalahkan dirinya sendiri karena kemiskinannya. Ia meminta maaf karena tidak bisa memberikan fasilitas mewah pada orang asing yang ia pungut dari jalanan.
Di sinilah letak ironinya. Saat Senja menunduk malu karena merasa tidak berharga, Arga justru melihat gadis itu sebagai manusia yang memiliki nilai jauh di atas siapa pun yang pernah ia temui di dunia bisnis kelas atas.
[Pesan Tersembunyi untuk Pembaca:]
(Dalam heningnya pengamatan Arga, tersembunyi sebuah filosofi kehidupan yang jarang kita sadari. Kita sering kali menilai kelayakan seorang manusia dari seberapa indah wadah yang mereka miliki—seberapa mewah rumah mereka, seberapa mahal pakaian mereka, seberapa canggih fasilitas hidup mereka. Kita lupa bahwa air yang paling jernih dan menyegarkan terkadang tidak disajikan dalam gelas kristal yang berkilau, melainkan di dalam gayung plastik yang retak dan diikat tali rafia.
Gayung patah Senja adalah cerminan dari hidupnya: hancur, miskin, dan penuh keterbatasan. Namun air yang ada di dalamnya—ketulusan, kasih sayang, dan pengorbanannya—jauh lebih murni daripada sampanye termahal di meja para miliarder. Wadah tidak pernah mendefinisikan isi. Kemewahan sejati bukanlah marmer di dindingmu, melainkan seberapa besar kehangatan tanganmu saat membasuh luka orang lain ketika kau sendiri tidak memiliki apa-apa.)
Arga menarik napas panjang, menekan dalam-dalam seluruh keangkuhan dan standar tinggi yang selama ini melekat pada identitas CEO-nya.
"Apa yang kau bicarakan?" suara Arga terdengar tenang, tanpa nada menghakimi sedikit pun. Ia melepaskan rangkulan bahu Senja, memaksakan dirinya untuk berdiri tegak dengan sebelah tangannya berpegangan pada kusen pintu lapuk.
"Ini lebih dari cukup," lanjut Arga, menatap mata Senja yang berkaca-kaca. "Air adalah air. Ia tetap membersihkan, tidak peduli apa wadahnya. Jangan pernah meminta maaf atas sesuatu yang telah menyelamatkan nyawa orang lain."
Senja mendongak, matanya yang bulat mengerjap lambat. Air mata yang sempat menggenang di pelupuknya perlahan surut. Ia melihat tidak ada rasa jijik atau merendahkan di mata pria berwajah keras itu. Yang ada hanyalah sebuah penerimaan yang tenang.
"Sekarang," Arga berdeham kecil, mencoba mengalihkan suasana yang tiba-tiba menjadi sangat emosional. Ia melirik ke sekeliling tubuhnya. "Bagaimana caranya aku mandi tanpa membuat luka di pinggangku ini basah?"
Senja tersadar dari lamunannya. Wajahnya yang pucat tiba-tiba kembali merona merah, namun kali ini bukan karena malu akan kemiskinannya, melainkan menyadari situasi yang ada di depan mata.
Pria ini... sangat besar. Otot dadanya terbentuk sempurna, dengan perut six-pack yang mengeras meski terdapat beberapa memar kebiruan akibat pukulan tongkat bisbol. Luka tusuk di pinggangnya yang dibebat dengan robekan kaus putih milik Senja tampak sangat kontras dengan kulit sawo matang pria itu. Dan yang paling membuat Senja salah tingkah, pria ini tidak bisa bebas bergerak.
"Ehm... a-aku punya handuk kecil bersih," Senja terbata-bata, membuang pandangannya ke arah dinding berlumut. "Kakak duduk saja di bangku plastik kecil di sudut itu. A-Aku akan membasahi handuknya dengan air dan... mengusapkannya ke punggung dan dada Kakak. Kalau Kakak mandi sendiri pakai gayung, airnya pasti akan mengalir ke luka bebatannya."
Arga terdiam. Sudut bibirnya nyaris berkedut menahan senyum tipis melihat kegugupan gadis itu. Gadis yang semalam dengan sangat berani merobek bajunya berlumuran darah, memapahnya di tengah badai, dan menekan lukanya dengan tangan kosong, kini justru tersipu malu seperti anak sekolah dasar hanya karena harus membantunya membersihkan diri.
"Baiklah. Lakukan," jawab Arga singkat, menjaga nada suaranya tetap datar.
Ia melangkah masuk dengan sangat hati-hati agar tidak terpeleset di lantai berlumut, lalu duduk di atas bangku plastik pendek yang tingginya bahkan tidak sampai selututnya. Postur tubuh Arga yang menjulang tinggi membuat posisi duduknya terlihat sangat canggung dan lucu di ruangan sempit itu. Kakinya yang panjang harus ditekuk rapat-rapat.
Senja menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat bak genderang perang. Ia mengambil handuk kecil dari jemuran kawat di luar, mencelupkannya ke dalam air di drum biru, dan memerasnya kuat-kuat.
Gadis itu berdiri di belakang Arga. Ruangan yang sempit membuat tubuh mereka berada dalam jarak yang sangat dekat. Arga bisa merasakan hawa hangat dari tubuh Senja di belakang punggungnya yang telanjang.
"A-Aku mulai ya, Kak. Kalau terlalu dingin atau menekan lukanya, bilang saja," bisik Senja.
Handuk basah yang dingin itu menyentuh punggung lebar Arga. Sang CEO sedikit tersentak karena perbedaan suhu, namun tangan Senja bergerak dengan sangat luar biasa lembut. Gadis itu mengusap sisa-sisa darah kering dan debu jalanan dari punggung Arga perlahan-lahan, bagaikan sedang membersihkan sebuah porselen kuno yang sangat rapuh.
Keheningan yang canggung melingkupi keduanya. Hanya suara perasan air dan napas mereka yang terdengar di ruangan kecil tersebut.
Saat Senja mengusap area belikat Arga, gerakan tangannya terhenti sesaat. Mata bulat Senja membesar. Di bawah cahaya remang-remang kamar mandi, ia melihat dengan jelas apa yang sebelumnya tertutup oleh debu dan darah.
Punggung pria ini... dipenuhi oleh bekas luka lama.
Ada garis-garis putih bekas sayatan benda tajam yang menyilang di bahu kanannya, dan sebuah luka bakar berbentuk bulat yang sudah memudar di dekat tulang rusuk belakangnya. Ini bukan punggung seorang pria kantoran biasa. Ini adalah kanvas rasa sakit dari masa lalu yang sangat kelam.
"Kak..." suara Senja nyaris tak terdengar. Ujung jarinya yang bergetar tanpa sadar menyentuh pelan salah satu bekas luka sayatan yang memanjang itu. "Luka-luka ini... apa dari perampok yang semalam juga?"
Arga menegang. Sentuhan jari Senja di bekas lukanya mengirimkan sengatan listrik aneh yang mengalir langsung ke pangkal lehernya. Bekas luka itu adalah kenang-kenangan dari masa mudanya yang keras, saat ia harus bertarung di jalanan sebagai petarung ilegal demi mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit ibunya sebelum ia sukses membangun perusahaannya. Tidak ada yang pernah mempertanyakan bekas luka itu, karena tidak ada yang berani.
"Bukan," jawab Arga pelan, pandangannya tertuju pada tetesan air di lantai semen. "Itu luka lama. Dari masa ketika aku... belum memiliki apa-apa, dan dunia terus memukulku agar aku tetap berada di bawah."
Senja terdiam. Ia tidak bertanya lebih lanjut, sebuah kedewasaan yang membuat Arga merasa sangat dihargai. Alih-alih mengasihani dengan kata-kata kosong, Senja kembali melanjutkan usapannya dengan jauh lebih lembut dari sebelumnya.
"Dunia memang sering kali tidak adil, Kak," gumam Senja sambil membilas handuknya. "Tapi Kakak hebat karena masih hidup sampai hari ini. Bekas luka ini bukan tanda kelemahan... ini adalah medali yang membuktikan bahwa Kakak lebih kuat dari rasa sakit itu sendiri."
Mata Arga terpejam. Dadanya bergemuruh hebat. Untuk seorang pria yang selalu dikelilingi oleh negosiator ulung dan penjilat kelas kakap, kata-kata sederhana dari seorang gadis pembuat roti pinggiran ini adalah validasi paling indah yang pernah ia dengar seumur hidupnya.
Selesai dengan punggung, Senja beralih ke depan. Arga menatap wajah gadis itu yang kini berada sangat dekat dengannya. Senja menunduk, matanya fokus pada dada dan lengan Arga, dengan rona merah yang masih menjalar hingga ke telinganya. Napas Senja yang hangat sesekali menyapu kulit leher Arga, membuat sang tiran bisnis itu harus mengerahkan seluruh konsentrasinya agar tidak menelan ludah terlalu keras.
Setelah perjuangan canggung yang terasa seperti berjam-jam, proses pembersihan itu pun selesai.
"Sudah, Kak," Senja mundur selangkah, menghela napas lega seperti baru saja menyelesaikan ujian negara.
Ia mengambil sebuah kaus lengan panjang berwarna abu-abu yang sudah lecek dan pudar dari luar pintu, lalu menyodorkannya pada Arga. "Ini... baju peninggalan tetangga sebelah yang sudah pindah. Kebetulan ukurannya besar. Bajuku tidak ada yang muat di badan Kakak. Kakak pakai ini dulu ya, sambil menunggu aku mencuci dan menjemur celana panjang Kakak yang berdarah semalam."
Arga menerima kaus usang itu. Bahannya kasar, terbuat dari poliester murah yang membuat kulitnya sedikit gatal. Namun, aroma deterjen lemon murahan yang melekat pada kaus itu entah mengapa terasa lebih menenangkan daripada parfum Bvlgari yang biasa ia pakai.
Dengan susah payah, ia mengenakan kaus tersebut. Celana panjang kain mewahnya yang sudah penuh sobekan dan noda darah terpaksa harus ia lepaskan dan diganti dengan celana training kebesaran berlubang di bagian lututnya yang disodorkan Senja.
Arga Danendra, CEO Danendra Group yang nilai asetnya mampu membeli separuh distrik ini, kini berdiri di depan cermin retak di luar kamar mandi, mengenakan kaus rombengan dan celana training bolong. Jika Raka melihatnya sekarang, sahabat sintingnya itu pasti akan memotretnya dan menjadikannya baliho di tengah kota.
Namun anehnya, Arga tidak merasa marah. Ia justru menatap pantulannya dengan perasaan yang aneh. Ia merasa lebih... manusiawi.
Setelah sesi pembersihan diri yang emosional itu, mereka duduk berhadapan di atas tikar anyaman di ruang tengah. Suasana canggung perlahan mulai mencair, digantikan oleh ritme kehidupan domestik yang sangat asing bagi Arga.
Senja sibuk menyeduh air panas di atas kompor gas kecilnya.
"Aku belum gajian, jadi aku tidak bisa membelikan sarapan lagi. Tapi aku punya teh celup," ucap Senja riang, mencoba memecah keheningan. Ia menuangkan air panas ke dalam dua gelas kaleng yang sama seperti tadi pagi, menyelupkan satu kantong teh murah secara bergantian ke dua gelas tersebut karena berhemat.
"Tidak perlu repot-repot," kata Arga, bersandar hati-hati pada dinding. Matanya tak lepas mengikuti setiap pergerakan gadis itu.
Senja membawa kedua gelas itu, menyerahkan satu pada Arga, dan duduk bersila di hadapannya. Ia menyesap teh tawar panasnya sambil memejamkan mata, seolah-olah cairan bening kecokelatan itu adalah minuman para dewa di Olympus.
"Jadi... Kak Arga," Senja memulai percakapan, menatap pria besar di depannya dengan penuh rasa ingin tahu namun tetap sopan. "Sambil menunggu ingatan Kakak kembali, apa rencana Kakak? Maksudku, Kakak butuh istirahat total setidaknya selama satu minggu sampai lukanya kering."
Arga meletakkan gelas kalengnya, menatap Senja dengan ekspresi datar yang menyembunyikan pikiran jeniusnya. Ia harus menciptakan latar belakang yang solid untuk mempertahankan kebohongannya dan tetap berada di sini tanpa dicurigai.
"Aku akan mencari kerja serabutan begitu aku bisa berdiri," bohong Arga dengan sangat lancar. "Tapi untuk saat ini, sepertinya aku hanya akan menjadi beban untukmu. Mengingat aku tidak punya uang sepeser pun untuk membayar biaya makan dan tempat tinggal."
"Jangan bicara begitu!" Senja merengut, sebuah ekspresi lucu yang membuat Arga nyaris tertawa. "Siapa yang bilang Kakak beban? Aku sudah terbiasa hidup sendiri dan serba kekurangan. Tambahan satu orang tidak akan membuatku mati kelaparan. Kita bisa makan seadanya. Nanti kalau aku sudah gajian dari kedai roti, aku akan membelikan Kakak telur rebus agar cepat sembuh!"
Mendengar janji tulus tentang sebutir telur rebus itu, Arga merasakan hatinya kembali diiris. Di perusahaannya, ia menjanjikan bonus miliaran rupiah kepada direkturnya, namun mereka masih saja mengkhianatinya dengan menggelapkan dana demi utang judi. Di ruangan kumuh ini, seorang gadis kelaparan menjanjikannya sebutir telur rebus, dan ia tahu gadis itu akan menepatinya bahkan jika ia harus mempertaruhkan nyawanya.
"Di mana kau bekerja?" tanya Arga, mulai menggali informasi tentang kehidupan gadis itu untuk digunakan nanti.
"Di Kedai Roti 'Harum Manis', di dekat persimpangan jalan besar. Gajiku lumayan, dan pemiliknya, Pak Yanto, sangat baik padaku," cerita Senja dengan mata berbinar. "Tugasku membersihkan meja dan kadang membantu mengaduk adonan. Mimpiku adalah menjadi pembuat roti utama di sana suatu hari nanti!"
Kedai Roti Harum Manis. Pak Yanto. Arga mengukir nama-nama itu di dalam ingatannya dengan sangat dalam. Tanpa Senja ketahui, nasib masa depan kedai roti sederhana tersebut baru saja berubah secara drastis dalam hitungan detik di kepala sang CEO.
"Lalu orang tuamu? Keluarga?" Arga melanjutkan pertanyaannya dengan sangat hati-hati, sebuah pertanyaan pantangan yang sering kali ia hindari dalam negosiasi bisnis.
Senyum ceria Senja sedikit meredup, tergantikan oleh tatapan melankolis yang tenang. Gadis itu menunduk, menatap pantulan dirinya di permukaan teh tawar yang tenang.
"Mereka sudah tenang di surga, Kak. Sejak aku berumur sepuluh tahun," jawab Senja pelan. "Kecelakaan bus antar kota. Aku sempat tinggal dengan kerabat sebentar, lalu dipindahkan ke panti asuhan. Begitu usiaku delapan belas tahun dan harus lulus dari panti, aku menyewa tempat ini dan hidup mandiri sampai sekarang."
Gadis ini sebatang kara. Sama seperti Arga yang merasa sendirian di tengah keramaian dunianya, Senja benar-benar berdiri sendiri menghadapi kejamnya dunia nyata.
Arga tidak merespons dengan kata-kata kasihan. Ia tahu bahwa orang yang kuat membenci rasa kasihan. Sebaliknya, ia menatap mata Senja, memberikan penghormatan tanpa suara yang biasa ia berikan hanya kepada rival bisnis yang tangguh.
"Kau gadis yang hebat, Senja," ucap Arga tulus. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, nada suaranya sama sekali tidak memiliki lapisan sarkasme atau kepalsuan. "Orang tuamu pasti sangat bangga melihat putrinya tumbuh menjadi manusia sekuat ini."
Mendengar pujian yang diucapkan dengan suara bariton yang begitu dalam dan tulus itu, rona merah kembali menyerang wajah Senja. Gadis itu salah tingkah, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu buru-buru berdiri.
"A-Aku harus mencuci bajumu yang berdarah, Kak! Waktunya cuci baju!" seru Senja panik, mengalihkan pembicaraan, lalu berlari kecil menuju ember di sudut dapur.
Arga memandangi punggung kecil yang sibuk mengucek noda darahnya di atas papan gilasan kayu itu. Udara dingin di ruangan canggung itu perlahan-lahan menguap, digantikan oleh kehangatan dari rutinitas domestik yang asing. Arga menyandarkan kepalanya, memejamkan mata, dan mendengarkan suara gesekan sikat cucian itu layaknya melodi pengantar tidur yang paling menenangkan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Arga Danendra si Iblis Korporat, ia merasa bahwa terkurung di dalam penjara kemiskinan bersama malaikat kecil ini, mungkin adalah takdir terbaik yang pernah dunia berikan padanya.