Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GELAK TAWA DI SELATAN
Jauh di kedalaman benteng Istana Kristal Hitam Obsidion, bola kristal sihir kuno di tengah Aula Tahta memancarkan pendar cahaya keemasan dan keunguan yang saling bertabrakan. Gambaran hancurnya segel bawah tanah Kerajaan Granvalia dan bangkitnya Pahlawan Neon terpampang sangat jelas di hadapan sang Penguasa Selatan.
Melihat fenomena tersebut, Raja Iblis Vaelor mendongakkan kepalanya, lalu melepaskan tawa membahana yang menggetarkan pilar-pilar batu obsidian.
"Hahaha! Dasar manusia-manusia Granvalia yang bodoh!" tawa Vaelor menggelegar penuh penghinaan. "Beraninya mereka melepaskan segel monster itu! Mereka sama sekali tidak sadar... jika cahaya keseimbangan pahlawan itu hilang, benua ini bisa hancur seketika oleh ledakan kegelapannya!"
Para petinggi dan Jenderal Iblis di sekeliling aula ikut tertawa kencang, mengejek kebodohan Raja Granvalia yang nekat melepas pemicu kehancuran kerajaannya sendiri demi ambisi buta.
"Tapi ini sungguh tontonan yang sangat menarik," lanjut Vaelor seraya menyandarkan tubuhnya yang kekar di singgasana batu. "Biarkan Neon bertarung melawan Solaria. Ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk mengukur sejauh mana batas kekuatan sebenarnya dari kerajaan Utara dan para pahlawan mereka, hahaha!"
Di tengah gelak tawa para pejabat iblis, Jenderal Iblis ber-Level 2.500 yang mengenakan zirah berduri—Lufas—melangkah maju dengan mata merah bertaut tajam. Hawa membunuh yang pekat memancar mendidih dari tubuhnya.
"Baginda Raja Vaelor!" seru Lufas dengan nada menuntut dan buas. "Pahlawan Kayy adalah mangsaku! Aku tidak mau dia mati di tangan Neon sebelum aku sendiri yang memenggal kepalanya!"
Vaelor mengibaskan tangannya pelan, menatap Lufas dengan pandangan dingin yang penuh kalkulasi. "Tenanglah, Lufas. Pahlawan Kayy tidak akan mati semudah itu. Biarpun Neon memiliki statistik Level 4.000 yang tinggi dan perlindungan anti-otoritas, mereka akan bertarung di domain kawasan Utara."
Vaelor menatap tajam ke arah langit-langit hall, suaranya mendadak berubah menjadi amat serius. "Kayy tidak akan gugur... karena kita sama sekali tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Penguasa Utara itu."
Lufas menaikkan sebelah alisnya. "Maksud Baginda... Penguasa bernama Alan itu?"
Vaelor mengangguk pelan, sepasang matanya memancarkan kecurigaan mendalam yang telah ia simpan rapat-rapat. "Aku telah mengamati pergerakannya dari jauh. Aku yakin... Alan bukan orang sembarangan. Dia bahkan bukan berasal dari dunia ini."
DEG!
Pernyataan Vaelor seketika membuat seluruh aula istana bungkam total! Gelak tawa para petinggi iblis terhenti secara mendadak. Lufas yang ber-Level 2.500 pun berdiri mematung dengan mata membelalak kaget.
"B-Bukan dari dunia ini...?" gumam Lufas terbata-bata, tak sanggup membayangkan implikasi dari ucapan rajanya.
"Lihat bagaimana dia mendirikan kerajaan raksasa berbenteng marmer murni hanya dalam hitungan hari di tengah Hutan Monster," tutur Vaelor dengan nada amat berbobot. "Sistemnya, teknologinya, hingga caranya menundukkan dua naga kuno sekaligus... semua itu berada di luar nalar sihir dunia ini. Entitas seperti dia adalah variabel asing yang terlampau berbahaya."
Vaelor menyunggingkan senyum licik, memecah keheningan yang sempat mencekam.
"Namun, justru karena itulah situasi ini menjadi sangat menarik," sela Vaelor dengan sudut bibir terangkat tinggi. Ia lalu menatap ke arah barisan Panglima Iblis di depannya.
"Dengar perintahku!" seru Vaelor dengan suara tegas. "Begitu pertarungan besar antara Granvalia dan Solaria pecah di Utara, kirim sepuluh ribu armada iblis secara rahasia menuju Kerajaan Arcania!"
Para Panglima Iblis mencongak, menyimak instruksi raja mereka dengan cermat.
"Tugas kalian adalah merebut Inti Sihir Purba yang tersimpan di bawah benteng Arcania!" perintah Vaelor jahat. "Saat perang pecah, Kerajaan Utara itu dipastikan akan sibuk meladeni serangan Neon dan Granvalia, sehingga mereka tidak akan sempat mengirimkan bantuan untuk kedua kalinya ke Arcania."
"Siasat yang sangat jenius, Baginda!" seru Lufas seraya berlutut penuh kepatuhan, diikuti oleh seluruh Panglima Iblis di aula. "Kerajaan Arcania akan jatuh ke tangan kita tanpa campur tangan Solaria!"
"Bergeraklah dalam bayangan," pungkas Vaelor seraya mengepalkan tangannya. "Biarkan manusia-manusia di Utara saling membantai, sementara kita memetik buah kemenangan di Tengah!"
Sementara itu, di puncak tertinggi Istana Utama Kerajaan Solaria...
Angin sore berembus lembut menyapu jubah kebangsaan Alan yang sedang berdiri santai di balkon pribadi. Di sisinya, Yumi berdiri memegang nampan teh, sementara Melodina terus bekerja di balik layar penglihatannya.
WUSHHH.
[Pemberitahuan Sistem: Deteksi Pergerakan Gelombang Mana Spesial,] suara Melodina bergema jernih di dalam benak Alan.
[Laporan Analisis Otoritas:] tutur Melodina memaparkan data tiga dimensi. [Sistem mendeteksi dua peristiwa bersamaan: Pertama, Kerajaan Granvalia telah melepaskan pahlawan terlarang bernama Neon ber-Level 4.000 dengan status Anti-Otoritas. Kedua, Kerajaan Iblis Obsidion menyusun rencana rahasia untuk menyerang Kerajaan Arcania dengan sepuluh ribu armada saat perang Utara berlangsung.]
Alan mendengar laporan panjang dari Melodina seraya menyunggingkan senyum tipis yang amat tenang. Ia mengambil cangkir tehnya, menyesapnya perlahan.
"Pahlawan Level 4.000 dengan Anti-Otoritas..." gumam Alan santai. "Dan Raja Iblis yang berpikir bisa menyelinap ke Arcania di saat aku sedang sibuk?"
Alan melirik angka status mutlak milik dirinya yang bertengger abadi di Level 99.999 dengan Otoritas Pencipta Tak Terbatas. Baginya, angka 4.000 maupun taktik sepuluh ribu pasukan iblis hanyalah riak kecil di dalam lautan luas.
"Mereka semua terlalu banyak berasumsi," tutur Alan dingin seraya menatap ke arah horizon. "Melodina, biarkan Neon melangkah mendekat. Aku ingin melihat sejauh mana pahlawan kesayangan Granvalia itu bertahan di hadapanku."