elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Yang Membuatnya Terjaga Semalaman
Tautan pendamping pasien itu tetap terbuka di layar ponsel sampai malam.
Nan Shin tidak langsung menekan tombol pendaftaran. Ia membaca setiap kalimat dalam pengumuman, lalu mencari arti pekerjaan tersebut dari beberapa sumber. Hasil pencarian menampilkan orang-orang yang menemani pasien lanjut usia, mengambil nomor antrean, membantu registrasi, mencatat instruksi dokter, mengambil obat, dan memberi kabar kepada keluarga.
Sebagian tugas terdengar sangat dekat dengan hal yang dilakukannya selama dua belas tahun. Bedanya, seorang pendamping tidak bekerja sebagai perawat rumah sakit dan tidak boleh mengambil keputusan medis.
Nan Shin menulis batas itu di buku catatan biru.
Pendamping bukan dokter.
Pendamping bukan wali hukum pasien.
Pendamping tidak mengubah dosis obat.
Pendamping membantu pasien memahami alur, bukan menjanjikan hasil.
Ia membaca ulasan pengguna. Ada keluarga yang berterima kasih karena orang tuanya tidak lagi kebingungan berpindah loket. Ada pula keluhan tentang pendamping yang terlambat, tidak mencatat hasil konsultasi, atau meninggalkan pasien sebelum obat selesai.
Nan Shin mencatat keluhan lebih banyak daripada pujian. Dari sana ia melihat kebutuhan sebenarnya: datang tepat waktu, mengenali dokumen, sabar mengulang informasi, dan tidak membuat keluarga menebak-nebak.
Pukul sembilan, Yi Ming masuk ke kamar sambil membawa buku latihan.
“Mama, tanda tangan di sini.”
Nan Shin membaca catatan guru, memeriksa tugasnya, lalu menandatangani halaman tersebut. “Besok ada kuis?”
“Matematika.”
“Sudah siapkan pensil?”
“Sudah.” Yi Ming menunjuk layar ponselnya. “Itu pekerjaan baru?”
“Belum. Mama sedang belajar dulu.”
“Kalau Mama menemani orang sakit, Mama jadi perawat lagi?”
“Bukan perawat rumah sakit. Mama membantu mereka selama berobat.”
“Seperti waktu Mama temani aku ke dokter?”
“Mirip, tapi orang lain membayar waktu dan bantuan Mama.”
Yi Ming memikirkan jawaban itu. “Berarti nanti orang mau dengar Mama?”
Nan Shin menegang. Anak itu pasti pernah melihat kalimat dalam buku catatan yang terbuka.
“Semua orang punya suara, meski tidak punya uang,” katanya. “Mama hanya sedang berusaha punya pilihan sendiri.”
“Aku boleh bantu?”
“Boleh. Tidur tepat waktu supaya besok Mama tidak perlu membangunkan lima kali.”
“Aku juga bisa siapkan botol minum sendiri.”
“Itu tanggung jawabmu sendiri, jadi boleh.”
“Kalau Mama dapat pasien, Mama pergi pagi?”
“Hanya kalau jadwalnya cocok dan Mama menerima pesanannya.”
Yi Ming mengangguk. “Berarti Mama bisa bilang tidak?”
Nan Shin tersenyum kecil. “Iya. Itu salah satu hal yang sedang Mama pelajari.”
Yi Ming tersenyum, lalu kembali ke kamar anak.
Sesudah pintu tertutup, Nan Shin memindahkan buku catatan ke laci. Ia tidak ingin anak menyerap kesimpulan pahit yang ditulisnya untuk diri sendiri.
Cheng An masuk beberapa menit kemudian untuk mengambil kemeja. Sejak pertengkaran, ia masih tidur di ruang kerja.
“Mama bilang kamu pergi wawancara,” katanya.
“Iya.”
“Bagaimana?”
“Mereka menilai umur dan status keluarga sebelum menguji kemampuan.”
“Rumah sakit swasta memang pilih-pilih.”
Nan Shin menunggu kalimat lain, tetapi Cheng An hanya membuka lemari.
“Aku sedang mempertimbangkan pendamping pasien,” katanya.
“Kerjanya apa?”
“Menemani orang berobat, mengurus alur administrasi, mencatat penjelasan dokter, membantu keluarga.”
“Semacam jasa antre?”
“Lebih dari itu kalau dilakukan dengan benar.”
“Pasiennya siapa saja?”
“Biasanya orang yang membutuhkan bantuan mengikuti alur berobat ketika keluarga tidak bisa mendampingi.”
“Kamu masuk ruang pemeriksaan?”
“Hanya dengan persetujuan pasien. Saya mencatat penjelasan, bukan membuat keputusan.”
“Kalau pasien jatuh atau kondisinya memburuk?”
“Saya panggil tenaga medis di lokasi dan menghubungi keluarga. Saya tidak menggantikan dokter.”
Cheng An melirik ponselnya. “Kamu sudah cek perlindungan kalau keluarga menuduh sesuatu?”
“Saya sedang membaca kebijakan, pencatatan pesanan, dan prosedur pengaduannya.”
“Honor satu pesanan berapa?”
“Tergantung durasi dan kebutuhan.”
“Belum tentu sebanding dengan risikonya.”
“Karena itu saya menghitung transportasi, waktu tunggu, batas tugas, dan bukti komunikasi sebelum mendaftar.”
“Kamu bicara seolah ini pekerjaan profesional.”
Nan Shin menahan tatapannya. “Kalau orang membayar saya untuk menjaga proses berobatnya, saya harus memperlakukannya secara profesional.”
Cheng An mengambil kemejanya. “Jangan pakai namaku atau rumah sakit untuk promosi.”
Nan Shin menatap punggungnya. “Aku tidak berniat begitu.”
“Aku cuma mengingatkan.”
Pintu tertutup lagi. Bahkan sebelum ia mulai, Cheng An lebih memikirkan apakah pekerjaannya akan mengganggu nama suami daripada apakah pekerjaan itu aman untuknya.
Pukul sebelas, seluruh rumah sunyi. Nan Shin mengirim pesan kepada perempuan muda yang memberinya tautan.
Terima kasih atas informasinya. Apakah ini platform resmi?
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Saya belum pernah ambil pesanan di sana, Bu. Teman saya pernah. Katanya identitas dan pengalaman diperiksa. Ibu baca syaratnya dulu, ya.
Nan Shin menjawab terima kasih, lalu membuka halaman utama SehatTemani. Logo hijau sederhana muncul di atas kalimat Teman Berobat Saat Keluarga Tak Bisa Mendampingi.
Pesan lain masuk sebelum ia menutup percakapan.
“Ibu juga cek apakah pembayaran masuk lewat platform. Jangan terima kalau keluarga minta bayar diam-diam.”
Nan Shin mengetik balasan. “Baik. Kalau ada permintaan di luar aplikasi, saya akan menolak.”
“Dan jangan kasih foto KTP lewat chat pribadi, Bu.”
“Saya hanya akan unggah lewat halaman verifikasi resmi setelah alamat dan kebijakannya cocok.”
“Ibu teliti sekali.”
“Data pasien dan data saya sama-sama tidak boleh diperlakukan sembarangan.”
Platform itu meminta mitra mengunggah KTP, foto diri, rekening atas nama sendiri, riwayat pengalaman, dan surat pendukung jika memiliki latar kesehatan. Ada pemeriksaan profil sebelum pesanan dibuka. Pembayaran masuk melalui platform setelah pendampingan ditandai selesai oleh kedua pihak.
Nan Shin tidak berhenti pada halaman promosi. Ia membuka kebijakan privasi, alamat layanan bantuan, dan prosedur pengaduan. Nomor keluarga pasien hanya akan terlihat setelah pesanan diterima. Pendamping dapat menolak permintaan di luar layanan, mengakhiri tugas bila keselamatan terancam, dan melaporkan pelecehan melalui tombol darurat.
Ia membuka percakapan dengan layanan bantuan sebelum mengunggah identitas.
“Selamat malam. Apakah nomor pasien terlihat sebelum mitra menerima pesanan?”
“Tidak, Bu. Kontak baru terbuka setelah pesanan diterima.”
“Kalau keluarga meminta tindakan di luar pendampingan?”
“Mitra berhak menolak dan melaporkannya melalui aplikasi.”
“Apakah pendamping boleh meninggalkan lokasi kalau merasa tidak aman?”
“Boleh setelah menghubungi layanan bantuan dan memastikan kondisi pasien diserahkan kepada keluarga atau petugas yang berwenang.”
“Bagaimana kalau keluarga memperpanjang waktu secara lisan?”
“Minta mereka mengajukan tambahan waktu melalui aplikasi agar durasi dan pembayaran tercatat.”
“Dokumen pasien boleh saya foto untuk dikirim kepada keluarga?”
“Hanya dengan izin pasien atau pihak yang berwenang. Jangan simpan salinan setelah tugas selesai.”
Nan Shin mengetik pertanyaan terakhir. “Kalau kondisi pasien tiba-tiba memburuk?”
“Hubungi tenaga medis di lokasi lebih dulu, lalu keluarga. Pendamping tidak boleh menggantikan keputusan dokter atau wali pasien.”
Ia mengambil tangkapan layar semua aturan itu. Pekerjaan fleksibel tidak boleh berarti orang lain bebas memanggilnya kapan saja atau meminta tugas apa saja. Sebelum menerima pesanan pertama, ia ingin tahu letak pintu keluar.
Pada halaman tarif, durasi dasar dihitung per beberapa jam. Waktu tambahan harus disetujui melalui aplikasi. Biaya parkir dan obat tidak boleh dicampur dengan honor pendamping. Nan Shin menuliskannya di buku agar uang pasien tidak pernah bercampur dengan uangnya.
Nan Shin membaca ketentuan biaya layanan dua kali. Ia menghitung ongkos transportasi, waktu tunggu, dan kemungkinan pesanan dibatalkan. Penghasilannya tidak akan langsung besar. Bahkan mungkin tidak ada pesanan selama beberapa hari.
Ia menerima ketidakpastian itu karena keputusan menerima atau menolak pesanan tetap berada di tangannya sendiri.
Namun ada satu perbedaan penting dibanding pekerjaan rumah di kulkas.
Waktunya memiliki nilai yang tercantum.
Ia membuka daftar risiko. Mitra wajib menjaga data pasien, tidak boleh memotret dokumen tanpa izin, dan harus segera menghubungi keluarga atau tenaga medis jika kondisi pasien berubah. Semua aturan itu masuk akal baginya.
Yang membuat Nan Shin terjaga bukan keraguan apakah ia mampu. Ia justru mulai melihat terlalu banyak hal yang bisa dilakukan lebih baik.
Ia dapat membuat daftar dokumen sebelum pasien berangkat. Ia dapat mencatat pertanyaan keluarga agar konsultasi tidak terlewat. Ia dapat menulis ringkasan waktu minum obat tanpa mengubah instruksi dokter. Ia tahu pasien lansia sering mengangguk meski tidak mendengar jelas.
Pukul dua belas lewat tiga puluh, Nan Shin membuka map profesi. Ia memotret STR dengan pencahayaan lebih terang, menutup nomor sensitif yang tidak diminta pada salinan pendukung, lalu menyiapkan surat pengalaman kerja.
Pada kolom keahlian, ia tidak menulis bisa mengerjakan semua hal. Ia memilih lima kemampuan yang dapat dipertanggungjawabkan: memahami alur layanan, berkomunikasi dengan pasien lanjut usia, mencatat informasi medis secara akurat, mengenali perubahan kondisi yang perlu segera dilaporkan, dan mendampingi keluarga dalam situasi tegang.
Pada kolom jadwal, ia memilih pagi hingga sore pada hari kerja. Jempolnya berhenti sebelum menekan lanjut. Jadwal kulkas, penjemputan anak, dan kemungkinan kemarahan Ibu Kho muncul bersamaan di kepalanya.
Nan Shin kembali ke buku catatan biru. Ia mencoret kalimat waktu yang bisa dipakai, lalu menggantinya.
Waktu yang saya tetapkan untuk bekerja.
Ia membuka lagi halaman SehatTemani. Formulir pendaftaran masih menunggu, belum dikirim.
Nan Shin mengetik pada kolom pertama.
Nama lengkap: Nan Shin Sim.