Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Di luar ruang tindakan, seorang perawat bergegas mendekati Adrian.
Melihat jejak darah pekat yang terus menetes dari telapak kaki pria itu ke atas lantai rumah sakit, sang perawat mendesak Adrian untuk segera ditangani sebelum kehabisan darah atau mengalami infeksi parah.
"Pak, mari duduk di sini dulu. Kaki Anda terluka cukup dalam dan harus segera dibersihkan!" desak perawat tersebut seraya menuntun Adrian ke kursi pemeriksaan terdekat.
Perawat dengan cekatan mengambil peralatan medis, lalu mulai mencabut serpihan kaca tajam yang menancap di telapak kaki Adrian.
Dengan perlahan, ia membersihkan darah segar, mengoleskan cairan antiseptik pada luka robek yang cukup dalam, dan melilitkan perban tebal untuk menghentikan pendarahan.
Namun, Adrian hanya diam terpaku. Wajahnya pucat pasi, tatapannya kosong membentur lantai marmer yang dingin.
Pria itu sama sekali tak meringis atau mengabaikan rasa perih luar biasa yang menyengat di kakinya.
Rasa sakit fisik itu tak ada artinya berbanding terbalik dengan rasa bersalah yang terus menggerogoti dadanya.
Fokusnya sepenuhnya tertuju pada pintu rapat bertuliskan 'Ruang Tindakan' di mana Sasi sedang bertaruh nyawa.
Setiap kali lampu indikator di atas pintu berkedip, jantung Adrian berdegup kencang ketakutan.
Penyesalan makin dalam membakar batinnya—menyadari bahwa monster sebenarnya yang baru saja menghancurkan Sasi bukan lagi bayangan masa lalu, melainkan dirinya sendiri.
Setengah jam kemudian, Dokter Maya keluar dari ruang tindakan dengan raut wajah lelah dan mengusap peluh di dahinya.
Ia melangkah menghampiri Adrian yang langsung berdiri terseok-seok mengabaikan balutan perban tebal di kakinya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Adrian dengan suara parau bercampur cemas yang luar biasa.
Dokter Maya menghela napas panjang, menatap Adrian dengan sorot mata yang penuh keharuan sekaligus kekecewaan mendalam.
"Pecahan kaca di pinggangnya cukup dalam dan membutuhkan delapan jahitan untuk menghentikan pendarahannya. Luka-luka memar dan lecutan di tubuhnya sudah kami tangani dan beri salep antiseptik," jelas Dokter Maya dengan nada bicara berat.
"Fisiknya sangat lemah, Adrian. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi psikologisnya. Tingkat kecemasannya melonjak drastis. Dia mengalami trauma beruntun."
Dokter Maya menepuk bahu Adrian pelan, memberikan jeda sejenak sebelum berbisik lirih penuh penekanan, "Lindungi dia, Adrian. Adrian yang aku kenal dulu tidak sekejam ini."
Adrian tertunduk dalam. Kalimat itu menancap tepat di dadanya, terasa lebih menyakitkan daripada tusukan kaca di kakinya.
Sasi dipindahkan ke ruang perawatan pribadi setelah luka di pinggangnya selesai dijahit dan diperban.
Suasana kamar VIP itu begitu hening, hanya terisi oleh suara teratur dari monitor detak jantung.
Sasi perlahan membuka matanya. Pandangannya yang awalnya samar perlahan menyesuaikan dengan cahaya lampu kamar.
Hal pertama yang ia dapati adalah Adrian yang duduk di samping tempat tidurnya, tertunduk dengan raut wajah hancur dan penyesalan yang membayang jelas.
Tatapan mata Sasi terpaku dingin pada Adrian—bukan lagi sekadar takut, melainkan penuh luka, kecewa, dan keasingan yang merasuk hingga ke tulang.
Tidak ada lagi sisa kepasrahan di matanya, hanya keheningan yang membekukan.
Menyadari penderitaan yang ia sebabkan, Sasi dengan susah payah memiringkan tubuhnya yang sudah terbalut perban rapat di bagian pinggang.
Meski menahan perih luar biasa pada luka jahitannya, ia terus beringsut memunggungi Adrian untuk menghindari tatapan pria itu sepenuhnya.
Pintu kamar terbuka; seorang perawat masuk membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat dan obat-obatan yang harus diminum Sasi.
Dengan hening, Adrian berdiri dan mengambil alih nampan tersebut dari tangan perawat.
Setelah perawat berpamitan keluar, Adrian kembali duduk di sisi tempat tidur.
Pria itu meniup perlahan sendok berisi bubur hangat, mencoba bersikap selembut mungkin untuk mengikis jarak yang membeku di antara mereka.
"Sasi, makan sedikit ya? Kamu harus minum obat," bisik Adrian dengan nada paling halus yang bisa ia keluarkan.
Namun, Sasi tetap diam membisu. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menolak suapan bubur tersebut tanpa menoleh sedikit pun.
Tubuhnya yang terbungkus piyama rumah sakit tetap berposisi memunggungi Adrian, kaku seperti patung.
Melihat penolakan dingin itu, dada Adrian terasa seperti diremas kuat-kuat.
Dengan suara parau dan mata yang memerah menahan air mata, Adrian meletakkan kembali sendoknya ke atas mangkuk, menatap punggung Sasi yang kaku, lalu berbisik sarat penyesalan,
"Aku minta maaf, Sasi."
Keheningan sempat menguasai ruangan selama beberapa detik, sebelum akhirnya bahu Sasi bergetar pelan.
Suara isak tangis yang begitu parau dan tertahan pecah dari bibir wanita itu.
"S-sebenarnya di sini aku menjadi apa, Adrian?" tanya Sasi lirih, suaranya gemetar hebat menahan rasa sakit fisik dan batin yang bertumpuk.
Air mata Sasi menetes merembes membasahi bantal hospital itu.
Tanpa membalikkan badan, ia melanjutkan rentetan pertanyaan yang menyayat hati:
"Istri? Budak? Atau cuma mesin cetak anak untukmu dan Fitria?"
Pertanyaan itu meluncur bagai sembilu tajam yang menembus dada Adrian, membungkam pria itu sepenuhnya.
"Kenapa hidupku seperti ini.?" bisik Sasi di akhir kalimatnya, menyisakan kesedihan mendalam yang menggantung berat di dalam kamar perawatan yang dingin tersebut.
Adrian terpaku di tempatnya berdiri, mendengarkan isak tangis Sasi yang terdengar begitu hancur.
Suara tangisan itu bukan lagi sekadar luapan emosi, melainkan jeritan keputusasaan dari jiwa yang sudah tidak sanggup lagi menahan beban.
"Sasi, aku mohon, maafkan aku," bisik Adrian, dadanya bergemuruh hebat disergap rasa bersalah yang teramat sangat.
Tangannya yang bergetar coba terulur meraih bahu Sasi, namun ia urungkan, takut sentuhannya justru memperparah luka wanita itu.
Sasi menangis sesenggukan, dadanya naik turun dengan napas yang terengah dan terputus-putus.
Air matanya terus merembes tanpa bisa ditahan, membasahi bantal yang ia peluk erat.
"Jika neraka tidak ada, mungkin aku sudah bunuh diri sejak lama," ucap Sasi lirih, suaranya parau dan dingin bagai hembusan angin malam.
"Setiap hari aku cuma ingin mati,"
Adrian membeku, matanya membelalak menatap punggung Sasi yang gemetar.
"Setelah Hendrik, dan sekarang kamu, Adrian," lanjut Sasi dengan nada penuh kehancuran mendalam.
"Kalian berdua sama saja."
Mendengar nama itu terucap dari bibir Sasi, jantung Adrian seketika berdegup kencang secara tidak teratur. Darahnya terasa membeku dalam sekejap.
Hendrik?
Selama ini Adrian hanya mengetahui bahwa Sasi menjadi korban kejahatan keji dari seorang pria yang merenggut kesuciannya, namun ia tak pernah tahu identitas pasti pria jahanam itu.
Sasi selalu menutup rapat nama tersebut karena trauma yang mendalam.
"Hendrik?" Adrian berbisik, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan.
Matanya menyala oleh kombinasi antara terkejut, amarah, dan ketakutan yang merayap.
"Hendrik Prasetyo?"
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruang perawatan, Sasi menoleh ke arah Adrian.
Wajah Sasi yang pucat pasi kini sepenuhnya menghadap Adrian.
Sisa-sisa air mata masih mengalir di pipinya, memantulkan sinar lampu kamar rumah sakit yang temaram.
Tatapan Sasi yang redup dan terluka mengunci pandangan Adrian, seolah mengonfirmasi kebenaran di balik nama yang baru saja terucap.