Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta Dan Janji

Pagi itu, taman kota tampak begitu damai. Sinar matahari pagi menembus celah-celah daun pepohonan, menciptakan bintik-bintik cahaya keemasan di atas rumput hijau yang masih basah oleh embun. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, menggerakkan dedaunan pelan-pelan, seakan ikut menanti jawaban yang begitu penting bagi dua hati yang sedang berdiri di sana.

Rina berdiri tak jauh dari bangku taman, tangannya meremas ujung tas dengan gemetar halus. Ia menatap pria di hadapannya sahabat sekaligus orang yang paling ia cintai di dunia ini dan dengan napas yang ditarik perlahan, ia menyampaikan apa yang selama ini ia simpan dalam rencananya.

"Dimas... aku mau melanjutkan S2 di Amerika"

Dimas tertegun sejenak, seakan belum mampu mencerna kata-kata itu. Matanya membelalak pelan, menatap Rina dengan tatapan tak percaya.

"Ri... kamu mau melanjutkan S2 di Amerika?" ulangnya kembali, memastikan bahwa telinganya tidak salah mendengar.

"Iya" sahut Rina singkat, namun matanya tak lepas dari wajah pria itu, penuh harap sekaligus cemas.

Hening sejenak. Dimas menunduk pelan, mencoba menata perasaannya yang tiba-tiba berkecamuk. Lalu ia kembali mendongak, menatap Rina dengan tatapan yang dalam dan penuh pertanyaan.

"Lalu bagaimana dengan aku?" tanyanya lembut namun tegas.

Rina terdiam. Kata-kata itu begitu sederhana namun begitu berat untuk dijawab. Ia menatap Dimas, matanya berbicara lebih banyak daripada kata-kata yang bisa diucapkannya.

"Aku ingin menikahimu, Rina. Tapi kamu malah mau pergi" ucap Dimas, nada bicaranya sedikit menunjukkan ketidaksukaan sekaligus kepedihan yang mendalam.

Rina mengerjap pelan, jantungnya berdegup kencang.

"Apa kamu sungguh-sungguh?" tanyanya, ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

"Apa aku terlihat sedang bercanda?" sahut Dimas tegas, lalu ia berjalan perlahan dan duduk di bangku taman itu, sementara Rina masih berdiri tak jauh darinya, membiarkan jarak itu tetap ada di antara mereka.

Suasana kembali hening, hanya terdengar suara burung berkicau dan desiran angin yang berhembus lembut di antara pepohonan.

"Bukannya aku tidak mendukung keputusanmu, tapi..." Dimas memulai, suaranya terdengar lebih tenang namun masih menyimpan emosi yang kuat.

"Aku berangkat dua bulan lagi kok" potong Rina pelan, memberi jeda waktu yang ternyata tidak sesingkat yang Dimas kira.

Mendengar itu, Dimas mendongak menatap Rina, matanya mulai berbinar dengan harapan baru. Ia segera beranjak berdiri, berdiri tegak tepat di hadapan wanita yang dicintainya itu.

"Kalau begitu, kita segera selesaikan semua ini" ucapnya mantap, suaranya penuh keyakinan.

"Dan setelah itu... kita menikah. Lalu kita sama-sama pergi ke sana"

Rina tertegun sejenak, matanya berkaca-kaca mendengar keputusan itu. Ia tak menyangka justru keinginannya untuk pergi yang membuat Dimas semakin yakin untuk menyatukan mereka.

"Tapi bagaimana pekerjaanmu... dan Papa?" tanya Rina, khawatir akan segala hal yang harus diurus dan ditinggalkan.

"Itu bisa diatur" jawab Dimas dengan tenang dan yakin.

"Lagipula... Mama sama Papa justru memintaku untuk segera menikahimu"

Mendengar itu, senyum tipis perlahan terukir di bibir Rina senyum yang begitu tulus, begitu bahagia, senyum yang selama ini tertahan oleh rahasia dan keraguan. Air mata bahagia hampir jatuh di pelupuk matanya. Semua keraguan, semua beban yang ia pikul sendirian, seketika terasa jauh lebih ringan. Karena ia tidak sendirian. Ada Dimas. Dan Dimas mau berjuang bersamanya, ke mana pun itu.

Keesokan harinya...

Cahaya matahari pagi menyelinap lembut masuk melalui jendela besar kafe itu, menembus kaca yang sedikit berembun, lalu menciptakan bintik-bintik cahaya keemasan yang jatuh bertebaran di atas meja kayu berwarna cokelat tua yang hangat dan halus. Ruangan itu terasa begitu damai, dihiasi dinding berwarna krem yang memantulkan cahaya dengan lembut, serta rak-rak kayu berisi buku-buku tua yang menambah kesan tenang dan akrab. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan manisnya kue vanila, melayang di udara dan menyelimuti setiap sudut ruangan itu, seakan alam sendiri sedang merayakan momen yang begitu istimewa di antara dua orang yang kini duduk berhadapan di sudut yang paling tenang.

Di sana, di bawah cahaya pagi yang begitu lembut, duduk Rina dan Dimas. Sahabat sejak lama sahabat yang selalu ada di saat susah maupun senang, yang saling mendukung tanpa pernah bertanya alasan. Namun pagi ini, sesuatu yang berbeda telah terjadi.

Sesuatu yang selama ini mereka simpan dalam hati, takut untuk diucapkan, takut untuk diakui, akhirnya terungkap. Dan kini, mereka resmi menjalin kasih. Tidak ada lagi keraguan yang menyelimuti hati, tidak ada lagi jarak yang memisahkan dua jiwa yang saling mencari. Hanya dua orang yang akhirnya berani berkata: kau milikku, dan aku milikmu.

Di atas meja itu, berdiri dua cangkir cokelat panas yang masih mengepulkan uap putih halus. Uap itu naik perlahan, membelah udara yang tenang, seakan menjadi jembatan halus di antara mereka berdua. Jari-jari mereka perlahan saling bertemu di tengah meja, menyentuh dengan lembut, lalu perlahan membentuk lengkungan hati yang sempurna sederhana sekali, namun penuh dengan janji yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata. Sentuhan itu begitu lembut, penuh rasa syukur yang mendalam, seakan keduanya takut jika terlepas sejenak saja, semuanya hanyalah mimpi yang akan lenyap begitu saja.

"Siapa sangka..." bisik Rina pelan, suaranya terdengar lembut namun penuh keyakinan yang membuat setiap kata itu terasa begitu nyata dan bermakna.

Matanya menatap pria di hadapannya itu mata yang selama ini ia kenal baik, mata yang selalu menjadi tempat ia pulang, namun kini terlihat berbeda. Lebih dekat. Lebih miliknya. Lebih hangat dari sebelumnya.

"Dari sekian lama kita bersama, saling mendukung, saling ada satu sama lain di setiap masa... akhirnya kita sampai di titik ini. Titik yang dulu kuanggap mustahil untuk ku capai"

Dimas tersenyum lembut senyum yang selalu mampu menenangkan hati Rina, senyum yang tulus dan murni tanpa kepura-puraan sedikit pun. Jemarinya yang hangat perlahan mengusap punggung tangan Rina dengan penuh kasih sayang, seakan ingin menghafal setiap lekukan, setiap garis, setiap bagian kecil dari tangan wanita itu, agar tak ada satu pun yang terlewat dari ingatannya.

"Aku juga, Ri" ucapnya pelan, namun setiap kata itu terdengar begitu tegas dan meyakinkan.

"Hanya saja... aku butuh waktu untuk berani mengatakannya. Aku takut. Takut jika aku berkata, semuanya akan berubah. Takut aku akan kehilanganmu sebagai sahabat padahal ternyata, dengan diam saja, aku justru hampir kehilanganmu sebagai cinta sejatiku"

Rina menatapnya, dan perlahan senyum itu melebar di bibirnya. Ada rasa lega yang begitu besar menyapu seluruh hatinya, seakan beban berat yang selama ini ia pikul sendirian akhirnya terangkat.

"Aku juga takut, Dimas. Aku takut kau hanya menganggapku sebagai sahabat, dan perasaanku ini hanya satu arah saja. Setiap kali kau ada di sampingku, setiap kali kau tersenyum padaku... hatiku selalu berdebar, tapi aku selalu menahannya. Aku takut merusak apa yang sudah kita miliki"

"Kau tidak akan pernah merusak apa pun, Ri" potong Dimas lembut namun tegas, menatap mata Rina dengan dalam.

"Justru karena kau, semuanya menjadi bermakna. Selama ini kau adalah bagian terbaik dari setiap hariku. Tanpa kau, hari-hariku hanyalah berjalan tanpa arah"

Rina tersenyum bahagia, dan hatinya terasa penuh hingga sesak oleh rasa syukur yang begitu dalam. Matanya mulai berkaca-kaca, namun itu bukan air mata kesedihan itu air mata bahagia, air mata karena akhirnya ia menemukan apa yang selama ini ia cari tanpa sadar.

"Kita tidak perlu takut lagi, Dimas. Sekarang kita saling punya. Dan itu sudah lebih dari cukup. Apa pun yang terjadi ke depannya, apa pun rintangan yang datang, kita hadapi bersama. Kau dan aku. Selamanya"

Dimas mengangguk dalam, dan genggamannya di tangan Rina sedikit mengerat bukan menahan, bukan memaksa, melainkan menegaskan janji yang baru saja diucapkan. "Bersama. Selamanya. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, Ri... Tidak ada apa pun"

Keheningan yang damai kembali menyelimuti meja mereka, namun kali ini bukan keheningan yang kosong keheningan yang penuh, penuh dengan perasaan yang tak perlu dijelaskan dengan kata-kata.

Di luar jendela, orang-orang berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing, tak ada yang tahu bahwa di dalam kafe kecil itu, dua hati baru saja bersatu dalam janji yang paling tulus dan abadi. Cahaya matahari semakin terang, menyinari wajah mereka berdua, seakan langit sendiri sedang memberkati hubungan yang baru saja dimulai.

Rina menatap cangkir cokelat panas di depannya, lalu kembali menatap Dimas.

"Dulu aku berpikir, pergi ke Amerika adalah satu-satunya jalan untuk menemukan masa depan. Bahwa aku harus pergi sendirian, membangun hidupku sendiri, dan melupakan semuanya yang ada di sini. Tapi sekarang... semuanya berubah. Sekarang aku tahu, ke mana pun aku pergi, selama kau ada di sampingku, di sanalah rumahku"

Dimas tersenyum lembut, dan jemarinya kembali mengusap punggung tangan Rina dengan penuh kasih sayang.

"Kita akan pergi bersama. Kita pergi ke Amerika bersama, membangun masa depan bersama, dan menciptakan rumah kita di mana pun kita berada. Tidak ada lagi 'aku' dan 'kamu' — mulai sekarang, hanya ada 'kita'"

Rina mengangguk pelan, air mata bahagia akhirnya jatuh membasahi pipinya.

"Kita" ucapnya lembut, menikmati kata itu di bibirnya.

"Kita"

Di kafe kecil itu, di bawah cahaya pagi yang hangat dan lembut, dua hati yang selama ini saling mencari akhirnya bersatu. Bukan karena kebetulan, bukan karena paksaan melainkan karena mereka memang ditakdirkan untuk saling melengkapi, dari sahabat menjadi cinta, dari masa lalu menuju masa depan yang baru.

Dan di dalam hati mereka berdua, keduanya tahu dengan pasti: langkah pertama ini adalah yang paling penting. Karena dari sini, semuanya dimulai. Dari sini, kisah mereka benar-benar bermula. Dan apa pun yang terjadi nanti, mereka telah berjanji untuk menghadapinya bersama.

Dua hari kemudian....

Siang itu, restoran Narira tampak begitu ramai hingga setiap sudut ruangan dipenuhi suara tawa dan percakapan pengunjung yang datang untuk menikmati hidangan. Aroma masakan yang lezat berbaur dengan kehangatan ruangan yang tertata rapi, menciptakan suasana yang hidup dan penuh semangat.

Di antara keramaian itu, Rania bergerak dengan sigap, melayani tamu satu per satu dengan senyum yang selalu ia jaga tetap ramah dan tulus. Ia berjalan ke sana kemari, mengantarkan pesanan, mencatat permintaan, dan memastikan setiap pengunjung merasa nyaman seakan ia adalah nyawa dari tempat itu sendiri.

Bagi Rania, bekerja di restoran ini bukan sekadar mencari nafkah ini adalah tempat di mana ia merasa dibutuhkan, tempat di mana ia bisa berdiri tegak dan menunjukkan bahwa ia mampu.

Namun di balik kesibukannya itu, ada satu hal yang tak pernah lepas dari pikirannya yaitu dimas. Setiap kali ada pria yang melangkah masuk melalui pintu kaca itu, jantungnya selalu berdegup kencang, berharap dan berdoa agar itu adalah Dimas. Dan hari ini, harapannya itu seolah terkabul.

Pintu restoran terbuka perlahan, dan sosok pria yang selama ini ia rindukan muncul di sana. Dimas berdiri di ambang pintu, tampak rapi dan tenang, seakan kehadirannya itu membawa udara yang berbeda ke dalam ruangan itu. Cahaya matahari siang yang masuk dari belakangnya menyinari siluet tubuhnya, membuatnya tampak bagaikan pahlawan yang datang menemui seseorang yang ia cintai.

Rania seketika berhenti bergerak. Piring di tangannya hampir terlepas, namun ia segera menyadarinya dan menegakkan tubuh, menyisir rambutnya dengan jari dengan gerakan cepat namun malu-malu. Senyum terukir di bibirnya senyum yang berusaha terlihat biasa saja, padahal di dalam dadanya, jantungnya berpacu begitu cepat hingga ia hampir tak bisa bernapas.

Dia datang... Dimas datang menemuiku, batinnya, rasa bahagia meluap-luap tak mampu ia tahan.

"Dia datang ke sini, di jam makan siang, di saat aku sedang bekerja. Pasti dia merindukanku, sama seperti aku merindukannya"

Dengan langkah yang dipercepat namun berusaha tetap anggun, Rania segera menghampiri pria itu. Ia menyambutnya dengan senyum paling hangat yang ia miliki, matanya berbinar penuh harap dan kasih sayang.

"Kak Dimas..." sapa Rania lembut, suaranya terdengar ramah sekaligus menyembunyikan kegembiraan yang luar biasa.

"Selamat siang. Ayo masuk, Kak. Mau duduk di mana? Hari ini cukup ramai, tapi aku usahakan tempat yang nyaman untuk Kakak"

Dimas tersenyum tipis senyum yang sopan, namun tidak sehangat yang diharapkan Rania.

"Selamat siang, Rania. Terima kasih. Tapi aku tidak makan di sini. Aku... ingin menemui seseorang"

Jantung Rania sempat berhenti berdetak sejenak, lalu kembali berpacu lebih cepat. Seseorang... apakah itu aku? pikirnya. Namun ia tetap tersenyum, berusaha tetap tenang. "Oh, begitu. Siapa yang Kakak cari? Biar aku panggilkan"

Dimas menatap sekeliling ruangan sebentar, lalu kembali menatap Rania.

"Aku ingin menemui pemilik restoran ini. Apakah beliau ada?"

Seketika, senyum di bibir Rania sedikit memudar, meski ia berusaha menyembunyikannya. Ia mengira Dimas datang untuknya, untuk menemui dirinya. Namun ternyata... ia datang untuk menemui bos-nya. Rania berusaha menelan kekecewaan itu, lalu menjawab dengan nada yang tetap berusaha terdengar ramah.

"Kak... pemilik restoran ini jarang sekali datang ke sini. Sejak aku bekerja di sini, aku hampir tidak pernah melihatnya. Dan hari ini... aku yakin beliau tidak ada. Beliau memang seperti itu, Kak selalu sibuk dengan urusan lain, dan restoran ini dibiarkan berjalan tanpa kehadirannya. Jadi rasanya Kakak tidak akan menemukannya hari ini"

Rania berkata begitu dengan yakin, karena memang sejak pagi ia sibuk melayani pengunjung, dan tak pernah melihat Rina datang. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Rina memang datang pagi tadi, namun sengaja tidak menampakkan dirinya. Rina memilih masuk melalui pintu samping, langsung menuju ruang kerjanya di lantai atas, dan meminta semua staf untuk tidak memberitahu siapa dirinya terutama kepada Rania.

Rina ingin Rania bekerja dengan tenang, tanpa merasa terbebani karena tahu bahwa kakaknya sendiri adalah pemilik tempat ia bekerja. Ia ingin Rania merasakan kemandiriannya, merasa bahwa ia mendapatkan posisi itu karena kemampuannya sendiri, bukan karena hubungan keluarga. Dan karena itu, Rania tak pernah tahu bahwa sosok pemilik yang ia bicarakan itu adalah kakak kandungnya sendiri.

Mendengar jawaban Rania, Dimas mengangguk pelan, seakan tidak terlalu terkejut namun tetap terlihat sedikit kecewa.

"Oh... begitu. Baiklah kalau begitu. Mungkin lain kali saja"

"Tunggu, Kak Dimas..." Rania memanggil pelan, tak ingin melihatnya pergi begitu saja.

"Kakak datang jauh-jauh ke sini hanya untuk menemui beliau? Tidak ada hal lain? Tidak... tidak ada untukku?"tanya rania.

Dimas menatapnya, ada rasa iba namun tetap sopan di matanya.

"Maaf, Rania. Aku memang ada urusan dengan pemilik restoran ini. Kalau beliau tidak ada, aku harus pergi. Sampai jumpa ya"

Tanpa menunggu jawaban, Dimas berbalik badan dan melangkah keluar dari restoran itu. Pintu kaca terbuka dan tertutup kembali, dan sosoknya perlahan menghilang di balik kaca yang memantulkan cahaya matahari siang. Rania berdiri terpaku di tempatnya, tangan yang tadi siap menyambutnya kini terkulai lemah di sisi tubuhnya.

Ia menatap ke arah parkiran, melihat mobil Dimas mulai bergerak perlahan menjauh, meninggalkan tempat itu. Hatinya terasa perih, bukan hanya karena Dimas pergi tapi karena ia menyadari sesuatu yang baru saja terlintas di benaknya, sesuatu yang membuatnya semakin cemburu sekaligus semakin bertekad.

"Pemilik restoran ini... Ibu Rosita Wijaya" batin Rania, bibirnya menyebut nama itu dengan penuh rasa tidak suka.

"Selama ini Kak Dimas tidak pernah datang ke sini tanpa alasan. Dan hari ini, ia datang khusus untuk menemui Ibu Rosita Wijaya... bos-ku sendiri. Apakah... apakah Kak Dimas menyukainya?" Gumamnya dalam hati.

Pikiran itu masuk begitu saja, dan sekali masuk, ia tak bisa lagi diusir. Rania teringat betapa seringnya Dimas menanyakan kabar pemilik restoran itu, betapa ia selalu tertarik pada hal-hal yang berhubungan dengan restoran ini. Dan sekarang... ia datang langsung ke sini, di jam makan siang, hanya untuk menemui wanita itu.

Tangan Rania terkepal erat di sisi tubuhnya, kuku menancap lembut di telapak tangan tanpa ia rasakan. Matanya menatap tajam ke arah mobil Dimas yang semakin menjauh, dan di dalam hatinya, tumbuhlah tekad yang keras dan buta, seperti api yang mulai membakar segala sesuatu di dalam dirinya.

"Tidak... tidak boleh seperti itu" gumamnya pelan, hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.

"Kak Dimas milikku. Dan dia hanya akan menjadi milikku. Tidak peduli siapa wanita itu, tidak peduli dia bosku atau siapa pun... aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya dariku. Apalagi wanita yang sudah berumur seperti Ibu Rosita Wijaya itu. Dia tidak pantas untuk Kak Dimas. Hanya aku yang pantas"

Rania menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya, namun tatapannya tetap tajam dan penuh tekad. Ia berbalik badan kembali ke dalam restoran, kembali di antara keramaian dan suara pengunjung namun sesuatu di dalam dirinya telah berubah.

Harapan yang tadi sempat mekar kini berubah menjadi keinginan yang kuat untuk mengambil apa yang ia anggap miliknya. Ia tidak tahu bahwa wanita yang ia anggap saingannya itu adalah kakak kandungnya sendiri. Ia tidak tahu bahwa Dimas datang bukan hanya karena menyukai pemilik restoran itu melainkan karena pemilik itu adalah Rina, wanita yang ia cintai dan akan segera dinikahinya.

Dan ketidaktahuan itu, ditambah dengan cinta yang buta dan keinginan untuk memiliki, perlahan-lahan menjadi benih dari sesuatu yang kelak akan menghancurkan kebahagiaan mereka semua.

"Kak Dimas... tunggu aku. Aku akan merebutmu kembali. Dan tidak ada siapa pun yang bisa menghalangiku" batin Rania, seraya kembali tersenyum kepada pengunjung yang memanggilnya, senyum yang sama ramahnya, namun di baliknya, ada hati yang mulai merencanakan cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, dengan cara apa pun.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!