Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Daniel kembali ke rumah besar Wijaya dengan membawa setumpuk dokumen dan wajah yang penuh harapan. Setelah kejadian dengan Victor dan Marissa, dia menyadari bahwa satu-satunya cara untuk mengungkap seluruh konspirasi adalah dengan bantuan Adeline. Gadis kecil itu telah membuktikan kemampuannya berkali-kali, dan sekarang saatnya menggunakannya dengan lebih terstruktur.

Adeline duduk di ruang kerja ayahnya bersama Daniel. Adrian dan Elena duduk di sampingnya, memberikan dukungan penuh. Nathan juga ikut hadir, berdiri di belakang kursi adiknya dengan tatapan waspada.

"Adeline, aku butuh bantuanmu," kata Daniel dengan suara lembut. "Aku punya daftar nama karyawan yang mungkin terlibat dalam manipulasi dokumen. Aku tidak bisa menuduh mereka tanpa bukti. Tapi jika kamu bisa mendengar suara hati mereka, mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk."

Adeline mengangguk dengan serius. "Aku akan mencoba, Paman Daniel. Tapi Clara bilang aku harus berhati-hati. Tidak semua suara hati yang keras berarti orang itu jahat. Kadang orang hanya takut atau bingung."

Daniel tersenyum kagum mendengar kebijaksanaan gadis kecil itu. "Kamu benar, Adeline. Itulah mengapa kita harus bekerja sama dengan hati-hati. Kamu akan memberitahuku jika kamu mendengar sesuatu yang mencurigakan, dan aku akan menyelidiki lebih lanjut sebelum mengambil tindakan."

Adrian menggenggam tangan putrinya. "Kamu tidak harus melakukan ini jika kamu tidak mau, Sayang. Ayah tidak mau kamu terbebani."

Adeline menatap ayahnya dengan mata penuh ketegasan. "Aku mau, Ayah. Aku ingin membantu keluarga kita. Aku tidak takut."

Selama beberapa hari berikutnya, Adeline dan Daniel bekerja sama dengan cermat. Daniel membawa Adeline ke kantor Wijaya Corporation dan memperkenalkannya sebagai keponakan yang ingin melihat tempat kerja ayahnya. Sambil berjalan-jalan di sekitar kantor, Adeline secara diam-diam mendengarkan suara hati para karyawan yang mereka temui.

Adeline belajar membedakan berbagai jenis suara hati. Ada suara hati yang tenang dan damai, milik orang-orang yang jujur dan tidak menyembunyikan apapun. Ada suara hati yang gelisah, milik orang-orang yang sedang mengalami masalah pribadi tetapi tidak terlibat dalam kejahatan. Dan ada suara hati yang gelap dan penuh kebohongan, milik orang-orang yang benar-benar bersalah.

"Paman Daniel," bisik Adeline setelah mereka meninggalkan ruangan seorang karyawan. "Orang itu bersih. Dia hanya khawatir tentang anaknya yang sakit."

Daniel mencatat dengan cepat. "Baik, kita coret dia dari daftar."

Mereka melanjutkan penyelidikan mereka. Adeline mendengarkan dengan sabar, mencoba menangkap setiap bisikan hati yang mencurigakan. Kadang dia mendengar hal-hal yang membuatnya sedih. Seorang wanita yang selalu tersenyum ternyata sedang berjuang melawan penyakit suaminya. Seorang pria yang terlihat kasar ternyata sangat peduli pada ibunya yang sudah tua.

"Aku tidak suka mendengar kesedihan orang," kata Adeline pelan pada Daniel di suatu sore. "Mereka menyembunyikannya di balik senyum, tapi aku bisa mendengar tangisan di dalam hati mereka."

Daniel mengusap rambut Adeline dengan lembut. "Itulah mengapa kamu istimewa, Adeline. Kamu tidak hanya mendengar kebohongan, tapi juga merasakan penderitaan orang lain. Itu membuatmu lebih bijaksana daripada kebanyakan orang dewasa."

Akhirnya, setelah beberapa hari menyelidiki, Adeline mendengar suara hati yang membuatnya berhenti. Mereka sedang berada di ruang arsip ketika seorang pria paruh baya bernama Hendra masuk untuk mengambil beberapa dokumen. Pria itu tersenyum ramah pada Daniel dan Adeline, tetapi suara hatinya berbicara dengan sangat keras.

Mereka pasti tidak tahu apa-apa. Aku sudah sangat berhati-hati. Tidak ada yang akan menemukan jejakku. Aku hanya perlu bertahan beberapa minggu lagi sampai semuanya selesai.

Adeline menegang. Dia menatap Hendra dengan mata waspada. Pria itu tampak begitu normal, begitu bersahabat. Tetapi suara hatinya mengatakan sesuatu yang sama sekali berbeda.

Daniel yang merasakan perubahan pada Adeline, segera bertanya, "Ada apa?"

Adeline menarik lengan Daniel dan berbisik, "Paman Daniel, orang itu. Namanya Hendra. Suara hatinya mengatakan bahwa dia menyembunyikan sesuatu. Dia pikir kita tidak akan menemukan jejaknya."

Daniel menatap Hendra yang sedang sibuk mencari dokumen di rak arsip. "Apa kamu yakin?"

Adeline mengangguk mantap. "Aku yakin, Paman. Tapi suaranya tidak sekeras orang jahat yang lain. Aku pikir dia hanya pelaku kecil. Mungkin dia disuruh oleh seseorang."

Daniel mengangguk. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan cepat kepada Adrian. "Aku akan menyelidiki Hendra lebih dalam. Tapi aku tidak akan langsung menuduhnya. Kita butuh bukti yang lebih kuat."

Adeline tersenyum kecil. "Aku bisa membantu, Paman. Aku bisa terus mendengarkan suara hatinya setiap kali kita bertemu. Mungkin suatu hari dia akan memikirkan sesuatu yang bisa menjadi bukti."

Daniel menatap gadis kecil itu dengan penuh kekaguman. "Kamu luar biasa, Adeline. Benar-benar luar biasa."

Malam itu, ketika mereka kembali ke rumah besar Wijaya, Adeline merasa lelah tetapi puas. Dia telah menggunakan kemampuannya dengan bijak, tanpa menyakiti orang yang tidak bersalah. Dia mulai memahami bahwa mendengar hati seseorang tidak selalu berarti mengetahui seluruh kebenaran. Kadang dia hanya mendengar satu bagian dari cerita yang lebih besar.

Adrian memeluk putrinya erat ketika dia tiba di rumah. "Ayah sangat bangga padamu, Sayang. Kamu melakukan hal yang luar biasa."

Adeline tersenyum dan menempelkan kepalanya di dada ayahnya. "Aku hanya ingin membantu, Ayah. Aku ingin keluarga kita aman."

Malam itu, ketika Adeline berbaring di tempat tidurnya, dia merenungkan semua yang telah dia pelajari. Kemampuannya bukanlah senjata untuk menyerang orang lain, tetapi alat untuk menemukan kebenaran. Dan kebenaran itu harus digunakan dengan bijak, dengan kasih sayang, dan dengan kehati-hatian. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah menyalahgunakan kemampuannya. Dia akan menjadi pendengar yang baik, bukan hakim yang kejam.

Di luar jendela, bintang-bintang bersinar terang. Rumah besar Wijaya terasa lebih aman dari sebelumnya. Dan di dalam kamarnya, seorang gadis kecil tertidur dengan damai, mengetahui bahwa dia telah melakukan hal yang benar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!