Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Pertunangan yang Meledak Jadi Akad
Kediaman megah keluarga Dirgantara hari itu disulap menjadi tempat yang luar biasa indah. Halaman belakang berkonsep glass house dihiasi rangkaian bunga mawar putih dan baby’s breath yang merambat anggun. Sesuai kesepakatan privat, hanya ada sekitar dua puluh lima undangan yang hadir—keluarga besar serta orang-orang terdekat.
Rin, Safi, dan Melati berdiri di sudut ruangan dengan mata berbinar-binar. Mereka tampil cantik mengenakan gaun seragam berwarna krem.
"Aiyo... aku tak percaya betul lah," cicit Safi dengan logat Melayu kentalnya sambil menyesap sirup. "Si Botol Yakult kita ni nak tunangan betul-betul dengan CEO kaya raya."
"Mana ganteng banget lagi calonnya," bisik Rin sambil melirik ke arah Exel yang berdiri tegap di dekat panggung kecil. "Gagah, dingin, aura uangnya menembus langit. Alexa menang banyak ini mah."
"Tapi Alexa mana ya? Kok belum turun?" tanya Melati penasaran.
Sementara itu, di dekat area pelaminan kecil, Exel berdiri kaku. Jas navy yang ia kenakan membuatnya tampak luar biasa tampan. Di sampingnya, Achmad bersedekap dada sambil mesem-mesem sendiri.
"Cel, mumpung belum mulai, lu mau napas dulu gak? Muka lu tegang amat kaya mau eksekusi mati," ledek Achmad santai.
"Diam lu, Mad," balas Exel dingin, meski buku-buku jarinya di dalam saku celana saling meremas kaku.
Tiba-tiba, suasana mendadak senyap saat Alexa melangkah masuk didampingi kedua orang tuanya. Gadis mungil itu tampak sangat memesona dalam balutan gaun rose gold. Rambutnya dihiasi tiara kecil, dan wajah cantiknya dipoles riasan alami yang menawan. Pipi kemerahannya yang alami makin terlihat saat semua mata tertuju padanya.
Namun, kejutan besar yang sesungguhnya belum dimulai.
Saat kedua keluarga sudah berkumpul di meja utama, Hendra Dirgantara berdeham keras, memegang mikrofon. Wajah pria tua itu penuh dengan wibawa dan keseriusan yang mendalam.
"Selamat datang untuk seluruh keluarga dan sahabat terdekat," buka Hendra. "Sebelum kita memulai acara tukar cincin pertunangan ini... ada satu keputusan besar yang sudah disepakati oleh saya dan Surya."
Exel menyipitkan matanya. Alexa yang berdiri di seberangnya mendadak merasa perasaannya tidak enak.
"Mengingat janji besar mendiang Kakek kalian, serta menghindari fitnah dan masa pacaran yang tak berguna..." Hendra melirik ke arah seorang pria paruh baya bersetelan batik yang duduk santai di sudut meja—seorang Penghulu. "Hari ini, kita tidak hanya melangsungkan pertunangan. Hari ini... kita langsung melaksanakan Ijab Kabul!"
DUARRR!
Seketika itu juga, bagaikan dihantam petir di siang bolong, Alexa melotot sempurna.
"APA?!!!" jerit Alexa reflek dengan suara cemprengnya yang melengking, memecah kesakralan ruangan. "IJAB KABUL?!"
Exel yang biasanya selalu tenang bagaikan es batu, kali ini ikut terhenyak. Rahangnya mengeras kaku, matanya menatap sang Papa tak percaya. "Papa! Ini tidak ada di dalam rencana!"
"Keputusan orang tua tidak bisa diganggu gugat, Exel," potong Surya Pramudya tenang seraya tersenyum. "Semua berkas pernikahan resmi sudah kami urus secara sah. Kamu pria bertanggung jawab, kan?"
"T-tapi Pa! Alexa masih sekolah!" jerit Alexa heboh, tangannya bertengger di pinggang dengan muka panik setengah mati. "Masa Alexa sekolah statusnya udah jadi istri om-om?!"
"Acaranya privat, Alexa Sayang. Di sekolah tidak akan ada yang tahu," sahut Sarah manis tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Di sudut ruangan, ketiga sahabat Alexa langsung saling berpandangan dengan mulut terbuka lebar.
"GILA! PLOT TWIST-NYA GA NGOTAK!" bisik Rin histeris seraya menutupi mulutnya.
"Gokil... Si Botol Yakult langsung sah hari ini juga!" tambah Melati terkekeh gemas.
Safi memegangi dadanya. "Aiyo, mak! Pengantin ekspres betul ni!"
Prosesi dadakan itu berlangsung cepat tanpa bisa ditolak. Exel yang menjunjung tinggi rasa hormat pada orang tuanya akhirnya menghela napas panjang. Pria itu duduk di hadapan Penghulu dan Surya Pramudya. Dengan satu tarikan napas yang mantap, lantang, dan sangat tegas, nada suara Exel menggema di seluruh ruangan:
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Alexa Pramudya binti Surya Pramudya dengan mas kawin tersebut, dibayar TUNAI!"
"Saaaaah!" seru seluruh saksi di ruangan itu dengan heboh.
Saat tumpukan doa selesai dibacakan, giliran Alexa yang dituntun duduk di samping Exel untuk memasangkan cincin dan menyalami suaminya—ya, suaminya.
Tangan mungil Alexa gemetar hebat saat meraih tangan kanan Exel. Saat bibir tipis Alexa menyentuh punggung tangan hangat milik Exel, sebuah sengatan aneh menjalar ke seluruh tubuh mereka berdua. Exel menunduk, menatap puncak kepala istri mungilnya yang sangat harum aroma stroberi.
Dan penderitaan rasa malu Alexa yang sesungguhnya baru saja dimulai saat acara ramah tamah.
Achmad melangkah mendekati pasangan pengantin baru itu sambil membawa dua gelas minuman. Cengiran di wajahnya sudah mencapai tingkat paling menyebalkan.
"Selamat ya, Bapak CEO dan Nyonya CEO!" goda Achmad setengah berteriak. "Gimana rasanya, Cel? Berangkat dari rumah statusnya single, pulang-pulang udah punya istri mungil?"
Exel melempar pandangan membunuh pada Achmad. "Achmad, lu mau gua lempar ke kolam renang sekarang juga?"
"Eits, jangan galak-galak, Bos! Nanti istrinya takut tuh!" ledek Achmad lagi. Ia beralih menatap Alexa yang berdiri Kaku di sebelah Exel. "Selamat ya, Dek Alexa... eh, Nyonya Dirgantara! Gimana rasanya dapet 'Kanebo Kering' sah?"
Belum sempat Alexa membalas ledekan Achmad, ketiga sahabatnya—Rin, Safi, dan Melati—sudah merangsek maju mengepungnya.
"Cieeee... Nyonya Exel Dirgantara!" goda Rin sambil mencubit pelan pinggang mungil Alexa. "Yang katanya benci banget sama Om Es Batu, sekarang malah salimnya mesra banget!"
"Betul tu!" timpal Safi sambil menaik-turunkan alisnya penuh arti. "Muka kau tu, Ca... merah sangat! Dah macam kepiting rebus kena kuah pedas!"
"Iya ih, pipinya merah banget sampai ke telinga!" tambah Melati sambil tertawa halus bersama yang lain.
Wajah Alexa yang memang sudah hangat mendadak membara hebat. Merah padam dari ujung dahi hingga ke lehernya! Pipi tembamnya mengembung drastis karena salah tingkah yang luar biasa. Ia menyembunyikan wajah panasnya di balik kedua telapak tangan mungilnya.
"Aaaaa! Kalian semua jahat banget!" jerit Alexa cempreng sambil menghentak-hentakkan kaki mungilnya di atas karpet. "Jangan digodain terus! Alexa mau pingsan aja rasanya!"
Exel yang berdiri di sampingnya melirik ke arah gadis mungil yang sedang sangat salah tingkah itu. Melihat warna merah padam di pipi Alexa serta tingkah hebohnya yang menggemaskan, sudut bibir Exel yang biasanya kaku dan dingin mendadak terangkat tipis. Sebuah senyuman samar—yang sangat langka—terukir di wajah sang CEO.
Achmad yang menangkap momen langka itu langsung menepuk dadanya heboh. "ANJIR! EXEL SENYUM! WARGA JAKARTA HARUS TAHU EXEL DIRGANTARA BISA SENYUM GARA-GARA ISTRINYA SALAH TINGKAH!"
"ACHMAD!" bentak Exel kaku, seketika menghapus senyumannya dan kembali memasang muka datar, walau rona tipis ikut muncul di telinganya.
Sore itu, di tengah gelak tawa, godaan tiada henti, dan wajah merah padam Alexa yang bak kepiting rebus, takdir telah resmi mengikat si CEO dingin dan gadis mungil cempreng itu dalam sebuah pernikahan ikatan sah yang penuh kejutan.