Kebencian adalah awal dari kehancuran yg akan ku persembahkan kepada langit, dendam yg terpendam akan ku ukir setajam pedang pusaka, terkadang takdir memang sungguh lucu, dengan sebilah pedang di tangan akan ku tunjukkan kepada langit , dengan sebilah pedang di tangan aku akan menentang takdir langit, dengan sebilah pedang akan ku hancurkan para dewa, dengan sebilah pedang akan ku ukir namaku, dengan sebilah pedang di tangan akan ku ukir namaku sebagai legenda kultivator iblis, kultivator yg paling menakutkan dan paling kejam yg pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusub Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Gadis Salju Kesunyian
Xuan memasuki restoran tebing salju, ia berjalan santai dan masih mengenakan topeng peraknya. Restoran itu hanya dua lantai namun luas. Ratusan pengunjung menikmati hidangan di lantai bawah dan bahkan tidak ada meja yang kosong.
"Tiga koin emas jika anda mau ke lantai dua."
"Baik."
Setelah memberikan tiga koin emas, Xuan Naik kelantai dua dengan pengunjung yang tetap ramai, hanya beberapa meja yang kosong. Lantai dua itu di hibur oleh beberapa wanita dengan musik mengalun indah yang kadang tidak kedengaran.
Ia duduk di dekat jendela dengan menajamkan pendengarannya. Lantai dua restoran tersebut tidak ubahnya seperti pasar tradisional dan sangat berisik. Tidak ada rahasia yang mereka obrolin.
Seorang pelayan datang dan memberikan buku menu sambil mengangkat sebelah alisnya.
Namun Xuan tidak mengambilnya." kenapa kau melihatku seperti itu?" Malah bertanya.
"Anda masih hidup sampai saat ini, itu luar biasa, Tuan."
"Jelaskan!"
"Topeng anda!"
"Apakah menurutmu ada yang sanggup membunuhku di wilayah ini?" sambil menatap tajam.
"Mau pesan apa. Tuan?" sambil mengalihkan perhatian karena ketakutan. Padahal pelayan itu juga adalah seorang kultivator tingkat master.
"Segala jenis masakan paling enak di restoran ini dan juga teh tujuh warna dan Juga." Sambil menatap pelayan itu dengan tatapan membunuh." Yang mengantar hidangan adalah gadis salju kesunyian."
"Baik Tuan, saya akan segera menyiapkan hidangan anda. Saya mohon pamit."
"Xuan hanya menatap pelayan itu sambil memberikan sedikit tekanan membuat gadis itu berjalan sempoyongan."
"Beraninya!"
Xuan kesal, menurutnya pelayan itu sedikit terlalu berani padanya, berkata masih hidup. Jelas-jelas masih hidup karena masih memesan hidangan.
Setalah pelayan itu pergi, ia kembali menajamkan pendengarannya.
"Seperti itu rupanya!"
Ia mendengar semua pengunjung membicarakan tentang gadis salju kesunyian yang akan di jodohkan dengan salah satu sekte di kekaisaran barat. Sekte dari kekaisaran barat itu mengatakan, pihak mereka bisa membuat gadis itu berkultivasi, namun harus menikah dengan putra patriark sekte mereka.
Para pengunjung restoran itu menduga bahwa putra patriark sekte dari kekaisaran barat itulah yang lemah. Sepertinya sekte dari kekaisaran barat itu merencanakan sesuatu.
Para pengunjung restoran itu juga mengatakan bahwa gadis salju kesunyian lebih cantik dari bidadari. Mata biru, rambut panjang sampai sepinggang, tubuh tinggi, kulit seputih salju, bibir pucat, namun ada satu kelemahan gadis itu, tidak bisa berkultivasi.
Terbukanya makam leluhur sekte tebing salju ternyata untuk mencari benih salju. Siapapun yang menemukan benih salju di makam leluhur sekte itu maka akan mendapatkan hadiah Lima puluh juta koin emas. Namun hingga kini belum ada yang berhasil menemukan benih salju di makam itu, walaupun makam itu terbuka setiap bulan sabit. Atau, memang tidak ada disana, hanya akal-akalan matrik sekte tebing salju untuk menghibur putrinya.
Tiba-tiba ruangan itu sunyi senyap, saat seorang gadis cantik memakai gaun biru muda berjalan elegan saat mengantar hidangan. Tubuh gadis itu tinggi, mata biru, rambut hitam sampai sepinggang, dan beberapa perhiasan sesuai tempatnya dan beberapa perhiasan menempel di gaun gadis itu.
Semua mata pengunjung terbuka lebar melihat wanita idaman mereka. Siapa yang memesan hidangan sehingga gadis itu harus turun tangan? Mata mereka membulat saat seorang pria duduk dengan santainya memakai topeng perak. Mereka tiba-tiba tersadar dan berbisik-bisik kenapa pria yang memakai topeng itu masih hidup?
Melihat gadis yang datang untuk mengantar pesanannya, Xuan mengalihkan pandangannya keluar jendela tanpa melihat gadis itu. Melirik pun tidak.
"Silahkan di nikmati Tuan, Saya mohon pamit." gadis itu berbalik badan dan akan pergi.
"Duduklah, hidangan ini saya pesan khusus buat kamu."
Xuan juga merasa jantungnya berdebar, jangankan memegang tangan seorang gadis, bahkan Ia tidak pernah berkenalan dengan seorang wanita. Sepuluh tahun menyendiri di lembah terlarang membuatnya menjadi pria paling kaku. Hanya kebaikannya yang membuatnya hangat di mata orang lain.
"Saya tidak berani, Tuan."
'Kamu pikir kamu siapa!'
"Duduklah. apakah kamu takut dengan ku?."
'Kenapa aku jadi begini? Mulai sekarang aku harus diam-diam berkenalan dangan banyak wanita! walau hanya sebatas berkenalan!' Pikir pemuda itu.
"Tidak Tuan, saya tidak takut sama sekali."
'Jelas-jelas takut, sudah tidak kenal, malah nyuruh di temanin makan. Kamu pikir aku wanita dari rumah bordil!' Wanita itu sudah kesal sejak awal karena di suruh mengantar hidangan.
"Apakah karena kamu ingin menikah sehingga tidak mau makan denganku?"
'Pertanyaan apalagi ini!'
" Ti... Ti... Ti ....Tidak Tuan."
'Astaga udah bahas nikah kenalan juga belum tuntas. Pria dari mana lagi ini?'
"Maafkan aku. Mungkin aku terlalu bersemangat datang dari wilayah timur hanya ingin bertemu denganmu, sehingga aku lupa resikonya."
"Maafkan juga aku, Tuan." ucap gadis itu namun masih berdiri di tempatnya. Pikirannya kemana-mana sekarang.
Mendengar orang lain menertawakannya, Xuan bukannya marah, namun ia malu karena mendapat penolakan.
Orang-orang mulai berbisik-bisik tentangnya. Sudah tidak tau malu, berani memakai topeng, apakah wajahnya juga jelek sehingga tidak mau melepas topengnya? Bisikan-bisikan itu bermunculan begitu saja. Padahal pendengaran Xuan sangat tajam, dia bahkan mendengar bisikan itu seperti teriakan.
Xuan membuka topengnya dan mengabaikan semuanya. Lalu ia menyantap hidangan tanpa peduli siapapun. Dia sesekali menenggak arak untuk menenangkan dirinya yang kesal.
Kiyak....!
Apa..!
Pangeran..!
Ini pangeran langit! oh tidak!
"Dia seperti pangeran yang turun dari langit, kita para wanita yang ada di restoran ini juga kedatangan pangeran dari langit ketujuh."
"Seumur hidupku, baru kali ini aku benar-benar melihat pangeran yang tampan, Bahkan pangeran langit pun sepertinya kalah."
"Kita beruntung hari ini berkunjung ke restoran ini."
Para wanita secara terang-terangan mengatakan hal-hal di luar nalar, karena mereka juga sedikit kesal kepada gadis salju kesunyian. Kemana pun mereka pergi hanya gadis itu yang menjadi bahan obrolan.
Sekarang sudah waktunya giliran mereka yang membalas semua tentang gadis salju kesunyian. Mereka heboh karena selama ini gadis seperti mereka tidak dianggap para pemuda.
Para pemuda yang ada disana geram, mereka seolah-olah bukan anak muda sekarang. Mereka semua seolah-olah sudah tua sekarang dan memiliki banyak cucu.
"Rasakan!"
Mendengar hal itu, suasana hati Xuan langsung membaik. Sekarang dia mendukung para wanita itu, yang bahkan menganggap semua pemuda disana selain dia adalah kakek-kakek. Membuat dia tergelak dalam hatinya.
Gadis itu tiba-tiba tersadar dari lamunannya, dan ingin melihat siapa yang di obrolin para wanita di restoran itu. Namun saat dia akan menoleh pada pemuda yang mengajaknya makan, ternyata meja tersebut sudah kosong. Pemuda itu telah pergi dari sana. Hanya menyisakan seratus koin emas tergeletak di atas meja dengan sebuah catatan.
Aku akan menunggumu di bukit hantu, jika kamu tidak datang, maka aku akan kembali ke wilayah timur
"Sial, aku ketinggalan berita. Jelas-jelas berita itu sedang berlangsung di hadapanku, bahkan konferensi pers." gumam wanita itu kesal. Kenapa jadi begini? Apa yang aku pikirkan?
Kamu pikir kamu siapa mengajakku ke bukit hantu, dalam mimpimu pun aku tidak akan datang.
Xuan keluar dari restoran tebing salju lalu pergi kesebuah pusat perbelanjaan khas Utara kekasaran selatan.
"Apakah ada yang bisa kamu bantu Tuan muda?" Beberapa pelayan datang dengan Wajah berbinar-binar. Meraka lupa hari keberuntungan apa ini?
"Apakah ada pakaian khas wilayah ini yang sesuai denganku. Aku datang dari wilayah timur, ini pertama kalinya aku berkunjung ke wilayah ini."
"Tunggu sebentar Tuan Muda kami akan menyiapkannya."
"Baik, silahkan."
Mereka berbisik-bisik kenapa pangeran langit tersebut sangat ramah, bukankah dalam dongeng jika pangeran langit itu tampan namun kejam dan menakutkan seperti iblis dari kedalaman neraka?
Sejak kapan pangeran langit ramah? Dari leluhur mereka selalu diceritakan bahwa, dahulu kala pangeran langit dari klan Dewa datang dan meluluh lantahkan benua itu. Bahkan manusia hampir punah, jika bukan karena Dewa Keadilan datang dan mengusir semua klan Dewa lainnya di pastikan dunia hancur tanpa ada satu manusia disana.
"Apa? Sejak kapan ada dongeng seperti itu, kenapa aku tidak tau?" Gumam Xuan terbata. Bagaimana kuatnya Elang Merah sendirian mengusir puluhan ribu Klan Dewa dengan pedang berlian di tangannya dari dunia tersebut.
" A... A...A .... Apa karena hal itu Elang Merah di hukum langit seribu tahun tanpa bisa merubah wujud menjadi Dewa dan tidak boleh kembali ke alam atas?" gumam Xuan marah. Bahkan sangat marah.
Tubuhnya bergetar, wajahnya memerah.
"Tuan Muda, pesanan anda."
Suara pelayan menyadarkan Xuan dari amarahnya.
Xuan meletakkan cincin penyimpanan dengan seribu koin emas di dalamnya, ia akan sudah mau pergi tanpa sepatah kata pun. Benar juga pikirnya sambi berbalik lagi!
"Tuan muda, ini terlalu banyak, harganya hanya seratus dua puluh koin emas." Tangan tangan wanita pelayan itu bergetar saat menghitung koin-koin emas yang mereka keluarkan dari cincin tersebut.
"Ambillah, itu buat jajan kalian karena menghiburku dengan dongeng yang menakjubkan. Terimakasih atas ceritanya. Aku sedikit menguping." Maafkan aku.
"Apa?"
Para pelayan wanita itu heran, mereka sangat jauh dari pemuda itu namun masih bisa mendengar meraka berbisik-bisik. Mereka bergidik ngeri
"Kalian kan wanita, Jika pemuda jatuh cinta kepada seorang gadis, apa yang harus di beli sebagai hadiah?"
"Apa?" Para pelayan wanita itu kaget, pelanggan baru mereka selalu membicarakan hal-hal di luar nalar.
"Bunga!"
"Kalung!"
"Uang!"
"Uang, belanja gaun-gaun bagus, sambil memegang tangan wanita itu. Mengatakan hal-hal romantis, memuji wanita itu."
"Akhirnya seorang gadis mengatakan hal yang dia bayangkan."
"Terimakasih." sambil berlalu.
Pikiran Xuan sekarang kemana-mana, bagiamana menderitanya Elang Merah selama ini." Aku akan membalas mereka seribu kali lebih menyakitkan dari yang mereka perkirakan." tekad itu sudah bulat.
Xuan sekarang sudah berada di bukit hantu. Dia menatap bukit itu yang begitu indah, namun dia heran kenapa namanya bukit hantu.
Bunga-bunga indah, tanaman-tanaman herbal berbau wangi, angin berhembus pelan, udara sejuk, membuat pikiran tenang ketika duduk bersantai di bukit itu.
Setelah menunggu beberapa jam akhirnya pikiran Xuan tenang namun yang di tunggu tak kunjung datang. Menjelang sore hari saat akan mau kembali, tiba-tiba seorang gadis muncul. Rambut berkibar tertiup angin, langkahnya santai seperti menikmati suasana sore hari.
"Jika kamu terpaksa datang kesini, pulanglah."
Xuan berkata dingin tanpa menoleh
"Tidak, aku terbiasa kesini di waktu sore hari."
'Hahaha... Aku ada alasan. Huh ...? jika bukan karena di paksa, aku tidak akan mau, tapi kenapa tampan sekali? wajah dinginnya mengalahkan ku. Ya Dewa manusia dari mana pemuda ini? Apakah ini kiriman dari MU? Aku bahkan tidak memesan paket!'
"Apakah aku mengganggumu di sini. Sepertinya aku kesasar?"
Xuan bahkan seolah-olah tidak menganggap gadis itu lagi.
"Tidak, tidak, tidak...!"
'Kenapa lagi hati ini, dia tidak suka mulut ini berbohong. Haduh jantungku. Dia bahkan tidak mau kalah.Huh ...!'
"Kenapa kamu mau ketemu denganku, apakah ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranmu?"
Xuan menoleh kearah lain, dia bahkan tidak pernah melirik gadis itu, sejak gadis itu tiba di bukit hantu. Sepertinya pemuda itu masih kesal.
"Awalnya di paksa, aku juga takut karena belum pernah berbicara empat mata bersama seorang pemuda. Semua orang tau bahwa aku tidak bisa berkultivasi. Namun satu hal yang mengganggu pikiranku , Aku selalu menunggu kedatangannya. Apakah dia sepertiku tidak bisa berkultivasi. Apakah hidupnya menderita sepertiku? Setelah aku berpikir dan menunggunya sejauh ini, aku berpikir dia tidak akan datang lagi. Aku juga ingin mengenal lawan jenis, selama Lima belas tahun, aku sering sendirian."
'Dah lah jujur aja sekarang, walaupun dia nggak mau jujur, aku juga masih ragu apakah itu kamu atau tidak? Kenapa dia tidak tertarik dengan gadis secantik aku? kenapa aku jadi yang banyak bicara?'