Indonesia
NovelToon NovelToon
HALAMAN TERAKHIR

HALAMAN TERAKHIR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: T.K. OKVIANDI

Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.

Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.

Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN DUA

"Mobilnya kenapa lagi sih, Yah? Tempo hari mobil yang dibawa Mang Yanto yang mogok, hari ini giliran mobil Ayah yang mogok. Heran deh, punya banyak mobil hobi banget bermasalah!” Rindu merengut seraya mengeluarkan kepalanya dari jendela. “Masa iya aku harus naik ojek lagi, Yah?”

"Ayah juga nggak tau kenapa bisa kebetulan gini mobilnya mogok. Sebentar ya, Rindu. Ini Ayah lagi coba menghubungi bengkel langganan ayah, tapi belum diangkat." ujar ayah Rindu.

“Ini baru jam setengah 7, Ayah. Bengkel mana yang udah buka pagi-pagi gini? Mang Yanto juga pakai acara sakit segala sih," Rindu tak hentinya mengomel.

Tiba-tiba Rindu tersentak kaget. "Wait! What?! Ini udah jam setengah 7? Mati gue! Bisa telat lagi kalau gini caranya!" Saat dirinya diliputi kebingungan dan rasa cemas karena takut terlambat, tanpa sengaja dia melihat Langit yang mengendarai motornya melintasi mobil Rindu. Tiba-tiba, Langit yang sempat melihat Surya, kemudian memutuskan untuk berhenti beberapa meter di depan mobilnya. Langit turun dari motornya, dan mulai berjalan menghampiri Surya.

“Mobilnya kenapa, Pak? Mungkin saya bisa bantu. Sedikit banyak saya mengerti tentang otomotif.” Langit mencoba untuk menawarkan bantuan.

“Saya kurang paham, Nak. Semalam saya pakai untuk pulang kerja masih baik-baik saja.” Surya menjelaskan pada Langit.

“Boleh saya bantu cek, Pak?” Langit segera memeriksa keadaan mesin mobil. Tak lama kemudian, Langit menemukan penyebab mogoknya mobil tersebut. "Wah, sepertinya ini radiatornya kering, akinya juga udah agak soak ini Pak. Ada baiknya segera dibawa ke bengkel," lanjut Langit.

Langit kemudian mengeluarkan ponsel dari tasnya. “Sebentar ya, Pak. Saya bantu hubungi teman saya yang punya bengkel. Kebetulan bengkelnya tidak jauh dari sini. Kalau bengkel lain, jam segini belum ada yang buka, Pak.” Tak lama kemudian Langit menelpon temannya dan memintanya untuk datang ketempat dimana mobil itu mogok.

“Teman saya bisa datang kesini buat bawa peralatan bengkelnya, Pak. Kurang lebih 15 menit-an lagi sampai sini. Bapak lagi nggak buru-buru kan?”

“Kalau saya sih, tidak sedang buru-buru, Nak. Tapi anak saya harus segera berangkat ke sekolah. Daritadi saya perhatikan, hampir tidak ada taksi yang melintas.” Surya melirik kedalam mobil. Dia baru menyadari bahwa seragam yang digunakan pemuda ini, sama dengan seragam yang dikenakan oleh putrinya.

“Maaf, Nak. Boleh tahu namanya siapa?” tanya Surya.

“Langit, Pak.” Langit menyodorkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya.

“Kamu sekolah di SMA Merah Putih juga ya?” Surya kembali bertanya pada Langit.

“Betul sekali, Pak. Saya murid pindahan.”

“Wah, kebetulan sekali anak Om juga sekolah di SMA yang sama.”

“Oh, anak Bapak sekolah di SMA Merah Putih juga? Kalau begitu berangkat bareng saya saja Pak. Kebetulan saya juga bawa dua buah helm. Daripada terlambat sampai sekolah karena harus menunggu mobilnya diperbaiki.” Langit kembali menawarkan bantuan. “Oh iya, boleh saya tahu siapa nama anak Bapak? Siapa tahu saya kenal.”

“Nama anak saya Rindu. Rindu Setia Wiratman. Kelas 12 IPA 2. Nak Langit kenal dengan Rindu? Nak Langit kelas berapa sekarang.” Sambil bertanya, Surya mengetuk kaca mobilnya. “Rindu, keluar dari mobil, Nak. Ini ada teman satu sekolahmu. Kamu bisa berangkat bareng dia supaya nggak terlambat sampai di sekolah.”

Di dalam mobil Rindu tampak gelisah dan mencoba menutup wajah nya dengan saputangan. Mampus gue! Kenapa segala ada cowok itu sih! Rindu sedikit panik. Denga berat hati, akhirnya Rindu keluar dari mobilnya sambil terus berusaha menutupi wajahnya dengan saputangan.

“Ini anak saya, Rindu. Nak Langit kenal?” tanya Surya. Melihat anaknya menutupi wajahnya dengan saputangan, dia segera menarik tangan Rindu agar wajahnya terlihat oleh Langit.

“Loh! Ini kan cewek yang kena bola gue kemarin, cewek rese itu!” ucap Langit dalam hatinya. "Kalau kenal sih belum, Pak. Tapi pas hari pertama saya masuk sekolah, tidak sengaja tangannya terkena lemparan bola basket saat saya sedang bermain di lapangan. Maaf ya, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja.” Langit menjelaskan sejauh mana dia mengetahui tentang Rindu.

"Oh, hahaha, begitu toh. Ya, namanya juga nggak sengaja kan. Ya udah kalian sana segera berangkat. Titip anak saya ya Nak Langit. Kamu lelaki yang bisa dipercaya kan?” Surya bertanya sambil mengangkat sebelah alisnya. Berusaha meyakinkan diri bahwa anaknya akan baik-baik saja jika berangkat ke sekolah bersama Langit.

“Beres, Pak! Saya jamin saya anak baik-baik kok Pak. Kalau saya macam-macam, nanti saya ditangkap oleh Ayah saya sendiri. Oh iya Pak, teman saya yang akan datang kesini namanya Heru ya Pak. Saya udah shareluc tempat ini.” Langit akhirnya berpamitan pada Surya.

“Baik, Nak Langit. Saya benar-benar berterimakasih ya atas bantuannya hari ini. Baik soal bengkel, maupun soal tumpangan untuk Rindu.” ujar Surya sambil tersenyum tulus.

Langit dan Rindu berjalan bersama menuju motor yang terparkir sekitar 10 meter di depan. “Ayo, buruan! Nanti telat!” Langit menyodorkan helm pada Rindu begitu dia menaiki motornya. Segera setelah memakai hel yang disodorkan padanya, Rindu bergegas menaiki motor Langit. Langit lalu menaiki motornya, "Ayo buruan tar telat nih,” ucap Langit sambil menyodorkan helm kepada Rindu.

Demi mengejar waktu agar tidak terlambat, Langit memacu motornya dengan cepat. Hal ini membuat Rindu ketakutan. "Pelan-pelan bisa nggak sih? Gue masih muda oi! Masih pengen hidup!” Rindu berbicara dengan agak kencang untuk mengalahkan suara mesin motor.

"Diam lu! nggak usah bawel! Lu mau kalau kita sampai terlambat? Kalau gue sih ogah! Kata ‘terlambat’ nggak pernah ada dalam kamus hidup gue sejak kecil!” sahut Langit.

Langit semakin memacu sepeda motornya lebih cepat, sehingga membuat Rindu tanpa sengaja memeluk pinggang Langit. Sepeda motornya pun melaju dengan cepat di jalan yang lumayan sepi. "Nanti gue turunnya nggak di depan sekolah persis ya! Anggak jauhan dikit, daripada nanti gue dikira ada apa-apa sama lu." pinta Rindu pada Langit.

"Tenang aja, gue juga nggak mau nurunin lu di parkiran sekolah, gue tadi nggak enak aja sama bokap lu" sahut Langit.

Beberapa ratus meter sebelum tiba di sekolah, tepatnya di depan sebuah tanah lapang yang jauh dari pangkalan ojek, Langit menepikan sepeda motornya dan berhenti kemudian mematikan mesin motornya.

"Kenapa berhenti disini? Ini kan masih jauh dari sekolah! Lu mau macam-macam ya sama gue?!" Rindu sedikit panik ketika Langit menepikan motornya. Bagaimana tidak, di sekolah yang notabenenya banyak orang saja, dia berani bersikap kurang ajar, apalagi ini ditempat yang cukup sepi. “Awas lu ya macam-macam sama gue! Gue telepon bokap sekarang juga!”

"Yeh! nggak usah kegeeran deh Lu! nggak minat gue buat ngapa-ngapain lu,” Langit tertawa sinis.

“Sekarang lu buka dulu helmnya biar nanti gampang. Gue menepi karena gue haus banget. Sana beliin gue minuman, itung-itung lu bayar ongkos ke gue. Beliin gue air putih aja, di warung itu tuh," Langit menunjuk sebuah warung yang tak jauh dari tempat mereka berhenti.

“Lu tuh benar-benar ngeselin tahu nggak! Jadi cowok nggak ada lembut-lembutnya sama sekali!” Rindu turun dari motor dan segera melepas helmnya. “Nih! Tunggu disini, gue beliin lu minuman dulu.” Rindu menyerahkan helm pada Langit.

Rindu bergegas berjalan menuju warung. Belum sampai warung yang dituju, tiba-tiba Langit menyalakan mesin motornya, lalu memacunya meninggalkan Rindu. Menyadari bahwa dirinya ditinggal begitu saja oleh Langit, Rindu langsung meneriakinya. “Woi, tengil! Lu tuh emang bener-bener nyebelin ya!!” Tapi percuma saja Rindu berteriak, Langit bahkan sudah menghilang dari pandangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!