Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AJARAN PEDANG SANG PAHLAWAN
Sore hari di Hutan Kelam menyuguhkan pemandangan yang begitu menenangkan. Sinar matahari keemasan menerobos celah-celah dedaunan pohon pinus, menyinari pekarangan rumah kayu dua lantai milik Kayy. Aroma harum masakan berpadu dengan wangi bunga lavender yang mekar di sekitar teras, menciptakan atmosfer yang sangat damai dan menenteramkan jiwa siapa pun yang merasakannya.
Di tengah rumput pekarangan yang hijau, Pahlawan Arthur sedang berdiri dengan kuda-kuda tegap. Mengenakan kemeja putih sederhana tanpa zirah beratnya, ia memegang sebilah ranting kayu lurus di tangan kanannya sebagai pengganti pedang latihan. Di hadapannya, Elena anak perempuan berusia lima tahun yang mengenakan topi jerami kecil dan membawa pedang kayu hasil buatan Kayy berdiri dengan postur menirukan Arthur, meski terlihat sangat menggemaskan dan mungil.
"Nah, Elena. Pegang gagangnya erat-erat begini. Lalu saat mengayun, fokuskan tenaga dari bahu, bukan dari siku," ajak Arthur dengan nada lembut, layaknya seorang instruktur pedang profesional yang sedang melatih seorang ksatria muda.
Elena mengangguk serius, kening mungilnya berkerut lucu. "Bahu ya, Paman?"
"Benar. Coba ayunkan pelan-pelan ke arah angin depan," instruksi Arthur dengan penuh kesabaran.
Elena mengayunkan pedang kayu buatan Kayy ke depan dengan segenap tenaga kecilnya. SWING!
Meskipun gerakannya terlihat polos dan santai, karena di dalam tubuh kecil Elena mengalir kekuatan fisik mutlak dari sang ayah, ayunan angin kecil yang dihasilkan pedang kayu itu mendadak melesat tajam, membelah udara dan menciptakan hembusan angin kencang yang langsung menerbangkan topi jerami Arthur hingga melayang tinggi dan tersangkut di dahan pohon pinus paling atas!
Arthur terdiam kaku. Matanya menatap kosong ke atas pohon, melihat topi jerami kebanggaannya tergantung mengenaskan di sana.
Di dekat mereka, Shiro serigala es raksasa setinggi tiga meter mengeluarkan suara dengkuran yang terdengar sangat mirip dengan suara tertawa mengejek. Monster A-Rank itu menoleh sekilas ke arah Arthur dengan tatapan seolah berkata, "Sudah kubilang, jangan cari gara-gara dengan anak bos besar."
"Wwahh! Topi Paman Pahlawan terbang!" seru Elena polos sambil bertepuk tangan riang, sama sekali tidak menyadari badai kecil yang baru saja ia ciptakan lewat ayunan tangannya.
Arthur mengusap wajahnya yang mendadak keringat dingin. Anak ini benar-benar... Monster kecil dalam wujud malaikat, batin sang Pahlawan pasrah sambil melompat sedikit dengan ringan untuk mengambil topinya kembali dari dahan pohon.
Dari arah teras lantai satu, suara tawa renyah Alya terdengar merdu. Mantan Saintess itu sedang merapikan piring-piring kayu di atas meja makan panjang yang diletakkan persis di halaman luar. Di sampingnya, Kayy sedang sibuk menyelesaikan menu makan malam istimewa untuk merayakan hasil panen pasar dan selesainya renovasi rumah dua lantai mereka.
Kayy sedang memanggang daging panggang rempah hutan dengan bumbu rahasia berenergi Celestial, membuat aromanya menyebar ke seluruh penjuru Hutan Kelam, bahkan membuat burung-burung sihir di kejauhan berkumpul di dahan-dahan terdekat karena tergiur.
"Latihan pedangnya sudah dulu ya, Elena! Makan malamnya sudah siap!" panggil Kayy dengan suara nyaring yang hangat dan penuh kasih sayang.
Mendengar kata makanan, mata Elena langsung berbinar-binar terang. Ia berlari kencang meninggalkan Arthur, menghampiri meja makan dengan langkah riang, diikuti oleh Arthur yang berjalan gontai sambil mengelus dadanya karena masih takjub dengan tenaga fisik absurd Elena, serta Shiro yang langsung duduk manis di samping meja dengan lidah menjulur panjang.
Mereka semua duduk mengelilingi meja kayu yang indah di bawah naungan cahaya sore yang temaram. Di atas meja tersaji hidangan yang sangat lezat dan menggugah selera: sup sayur segar beraroma harum, daging panggang madu emas yang berkilau, serta roti mentega hangat buatan Alya.
"Wahhh! Bau dagingnya harum sekali! Bau surga!" seru Elena girang, langsung mengambil garpu kecilnya dengan tidak sabar.
"Silakan dimakan. Ini menu spesial untuk merayakan rumah baru kita dan kunjungan Arthur hari ini," ucap Kayy ramah sambil meletakkan sepiring besar daging panggang di tengah meja.
Arthur mengambil sepotong kecil daging panggang itu menggunakan garpunya, lalu memasukkannya perlahan ke dalam mulut. Seketika, mata sang Pahlawan membelalak lebar. Rasa gurih yang mendalam, manis madu hutan yang pas, dan kelezatan daging yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya meledak di lidahnya. Bukan cuma itu, kelelahan fisik dari patroli perbatasan dan ketegangannya mengajari Elena tadi mendadak lenyap tanpa sisa, digantikan oleh aliran mana hangat yang menyegarkan seluruh sel di tubuhnya.
"K-Kayy... Masakanmu ini... Rasanya luar biasa! Ini bukan masakan biasa!" puji Arthur takjub, langsung melahap suapan berikutnya dengan sangat lahap, melupakan citranya sebagai Pahlawan terkuat Kerajaan.
Alya tersenyum hangat melihat suaminya dipuji begitu rupa. "Kayy memang selalu tahu cara membuat makanan yang membuat siapa pun merasa nyaman dan tenang di rumah."
Suasana makan malam di pekarangan Hutan Kelam itu dipenuhi oleh gelak tawa dan kehangatan yang tulus. Elena terus berceloteh menceritakan pengalamannya pergi ke pasar kota kemarin, sementara Shiro sesekali mengeluarkan suara guk pelan seolah ikut mengobrol menanggapi cerita bocah perempuan itu. Arthur yang dulunya dikenal sebagai Pahlawan yang dingin, kaku, dan penuh beban kini tampak begitu lepas, menikmati kehangatan keluarga sederhana yang tidak pernah ia temukan di balik dinding dingin istana Kerajaan.
Saat malam mulai tiba dan langit Hutan Kelam berubah gelap, lentera-lentera sihir kecil yang memancarkan cahaya biru lembut menyala otomatis di sekeliling dinding rumah dua lantai, menerangi pekarangan dengan keindahan yang begitu magis.
Arthur meneguk sisa teh hangat di cangkirnya, lalu menatap Kayy dan Alya dengan pandangan yang tulus. "Aku benar-benar iri pada kalian, Kayy. Tinggal jauh dari hiruk-pikuk politik Kerajaan, memiliki keluarga yang hangat, dan tempat tinggal seindah ini..."
Kayy tersenyum tipis, merangkul bahu Alya dengan penuh kelembutan. "Kedamaian ini bukan datang begitu saja, Arthur. Tapi siapa pun berhak mendapatkannya, asalkan mereka tahu apa yang benar-benar harus dijaga dan dilindungi dengan sepenuh hati."
Alya menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, memandang putri kecil mereka yang kini sudah tertidur pulas di dekat pelukan Shiro karena kekenyangan setelah makan malam yang lezat.
Di bawah naungan bintang-bintang Hutan Kelam yang cerah, rumah kayu dua lantai itu berdiri dengan megah, memancarkan kehangatan abadi yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh istana termegah mana pun di dunia.