Indonesia
NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Capo

Tawanan Sang Capo

Status: tamat
Genre:Mafia / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Yesenia Stefany Bello González

Di dunia mafia Italia, putri seorang Capo tidak pernah berhak memilih.

Di hari pernikahannya—dengan pria yang belum pernah ia lihat—Alessia Castelli justru diculik. Bukan oleh perampok jalanan, melainkan oleh Fabiano Conti, Capo La Corona yang paling ditakuti di seluruh negeri. Bagi Fabiano, Alessia hanyalah kartu tawar: satu-satunya cara merebut kembali saudari kembarnya dari tangan kakak Alessia yang kejam.

Tapi ada yang salah dengan penculikan ini.

Pintu kamarnya tak dikunci. Tak ada yang memaksanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berkata bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri—keputusannya sendiri. Lelaki paling berbahaya yang pernah ia temui ternyata memperlakukannya jauh lebih lembut daripada keluarganya sendiri.

Alessia tahu ia seharusnya membenci penculiknya. Ia tahu ia seharusnya melarikan diri. Jadi kenapa, di wilayah musuh, untuk pertama kalinya ia justru merasa aman?

Namun perang antar-klan tak mengenal cinta. Ketika pertukaran tak terhindarkan dan darah mulai tumpah, Alessia harus memilih antara keluarga tempatnya dilahirkan dan pria yang mengajarinya arti kebebasan—sementara Fabiano bersumpah akan membakar seluruh Italia sebelum membiarkan seorang pun merenggutnya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Momen Terpenting dalam Hidupku (+18)

Fabiano

Aku memandanginya beberapa detik.

Aku melihat lebih dari sekadar hasrat. Aku melihat kepercayaan.

Dan beban kepercayaan itu nyaris menghancurkanku.

Selama sedetik aku membenci Adriano Greco bahkan lebih dari kebencianku pada Lucio. Karena ia berhasil melakukan sesuatu yang tak pernah kukira akan kubiarkan… Membuat Alessia percaya bahwa ia harus bergegas.

Bahwa ia harus menyerahkan dirinya padaku hari ini.

Seolah besok akan terlambat. Seolah ia perlu membuktikan sesuatu padaku.

Tidak.

Aku tak butuh apa pun.

Aku hanya membutuhkan dia.

Ia gemetar.

Ia bilang sudah siap. Tapi kurang dari sejam lalu ia menangis dalam pelukanku.

Apakah ia menginginkanku…?

Atau ia hanya butuh menghapus kenangan tentang Adriano?

"Kamu tak harus melakukan ini demi aku, Less."

Ia tersenyum. Senyum yang cantik.

"Ini bukan demi kamu, bodoh, ini demi aku. Aku menginginkan ini untuk diriku sendiri. Kamu cuma sarana untuk mencapai tujuan," tambahnya lalu tertawa.

Suara itu membawa pergi semua kekhawatiranku.

Less menginginkan ini.

Ia menginginkanku.

"Sarana untuk mencapai tujuan, ya?" tanyaku sambil mengangkat kakinya agar bisa kembali membelai kewanitaannya yang lezat.

Jari-jarinya menghunjam lenganku.

"Ya… kamu cuma sarana untuk mencapai tujuan."

"Yakin?" tanyaku saat menyentuh titik yang membuatnya terisak.

"Fabi?"

"Ya, cantik?"

"Bercinta saja denganku," pintanya dengan mata membara oleh kebutuhan.

Aku tersenyum.

Alessia tak pernah mengucapkan kata-kata kasar.

Kurasa selalu ada kali pertama untuk segalanya.

Aku menciumnya sambil mengarahkan milikku ke kewanitaannya yang manis.

Jari-jarinya membelit rambutku sementara kakinya menyilang di pinggulku, membuka lebih lebar untukku.

Mulutnya terbuka dalam desahan tanpa suara saat aku mendorong beberapa sentimeter.

"Kamu tak apa?"

Ia menggigit bibir bawahnya dan mengangguk.

Kukunya menancap di pinggulku sementara ia mengangkat bokongnya menyambutku.

"Pelan-pelan," perintahku saat keningnya berkerut menahan tak nyaman. "Kita punya waktu, Castelli kecil."

Memang benar-benar kecil.

Tapi ya Tuhan, betapa aku mencintai kesempitannya.

Kugigit bibir bawahnya sebelum mengisapnya lembut.

Aku meluncur beberapa sentimeter lebih dalam.

"Fabi!" ia merintih dengan sentuhan ketakutan dalam suaranya.

"Kamu tak apa?"

"Peluk aku lebih erat," pintanya, dan kuturuti.

Kupeluk ia dan kuciumi seluruh lekuk wajahnya sebelum kembali ke bibirnya.

Aku melawan naluri untuk membenamkan diri di dalamnya. Aku melawan dengan sekuat tenaga.

Kuberi tubuhnya waktu sebelum terus mendorong. Aku ingin ini menyenangkan baginya.

Aku ingin ia menikmati setiap detik.

Kucium puncak dadanya, dan tubuhnya perlahan mengendur.

Kutangkup wajahnya dalam tanganku dan kutawan bibirnya sebelum mendorong dan menjadi lelaki pertama yang ia pilih dengan bebas.

Jari-jarinya menegang di punggung bawahku.

Aku diam tak bergerak.

Aku tak bernapas.

Aku tak bicara.

Kubiarkan ia meresapi momen ini.

Kuberi tubuhnya waktu untuk terbiasa dengan kehadiranku di dalamnya.

"Oh… Wow," bisiknya setelah beberapa detik.

"Kamu tak apa?"

"Aku… kurasa iya."

"Sakit?"

"Cuma sedikit."

"Kamu mengatakan yang sebenarnya?"

"Tidak," ucapnya lalu tertawa.

Tawa kecil. Bahagia.

Aku mengembuskan napas lega.

"Alessia Castelli… kamu kehancuranku," ucapku sebelum menciumnya dan mulai bergerak.

Kukatupkan gigiku saat sensasi kehangatannya yang menyelubungiku terasa terlalu berat bagi akal sehatku.

Tak pernah ada seorang pun yang terasa sebegini nikmat di sekeliling milikku.

Tak pernah kurasa aku begitu utuh berada di suatu tempat.

Alessia, seingin tahu sifatnya, bergerak mencari iramanya sendiri sambil menancapkan jarinya di bokongku.

"Oh, ya, tepat di situ," bisiknya di bahuku dalam ekstase sempurna.

Matanya berkilat panas sementara mulutnya terbuka membentuk huruf O yang tak pernah menutup.

Kutempelkan keningku ke keningnya dan kuserap tiap gerak, tiap desah, tiap hal kecil.

"Oh, Tuhan," bisiknya saat kucondongkan pinggulku sebelum kembali membenamkan diri. "Oh, Fabi… ini luar biasa."

Sesuatu hancur dan tersusun kembali di dalam dadaku pada saat yang sama.

Rasanya menyakitkan.

Aku selalu menyukai seks. Aku selalu suka melihat perempuan menikmati diriku di ranjang.

Tapi ini… ini benar-benar berbeda.

Aku menggeram saat kewanitaannya meremasku kuat, menarik keluar erangan dariku ketika kenikmatan yang kurasa mengaburkan seluruh indraku.

"Fabi… Fabi… Fabi!" ia merintih saat aku mempercepat gerakan.

Aku butuh lebih banyak darinya.

Aku akan selalu butuh lebih banyak darinya.

Jari-jarinya membelit rambut di tengkukku dan mata birunya menghunjam mataku, memberiku segalanya, tak menyisakan apa pun untuk dirinya.

Aku bisa melihat kenikmatan di matanya di setiap gerakan.

Aku bisa melihat kepercayaan itu.

Aku bisa melihat semua yang ia rasakan untukku… dan itu memabukkan.

"Kamu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku, Castelli kecil," bisikku di atas bibirnya.

Alessia menegang sebelum melepaskan dirinya dalam desahan yang bergema ke seluruh ruangan.

Sementara tubuhnya berkejang di bawahku, aku pun melepaskan diriku. Dan rasanya begitu nikmat… hingga seluruh tenagaku hilang dan aku ambruk di atas tubuhnya.

Kami saling memandang sambil berusaha memulihkan napas.

Aku bergeser sampai kami berbaring menyamping, tanpa berhenti saling menatap, tanpa berhenti saling tersenyum.

"Apakah seperti yang kamu bayangkan?" tanyaku sambil menyelipkan seuntai rambut pirangnya ke belakang telinga.

"Tidak… Jauh lebih baik."

Kutarik ia untuk sebuah ciuman.

Aku sepenuhnya setuju.

Ia mengira baru saja menyerahkan kali pertamanya padaku.

Tapi kenyataannya lain.

Dialah yang baru saja memberiku momen terpenting dalam seluruh hidupku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!