Tawanan Sang Capo

Tawanan Sang Capo

Pengantin yang Dirampas

Alessia Castelli

Aku memaksakan senyum sementara Mama menyisir rambutku.

"Boleh Mama bilang kamu cantik sekali?" tanyanya, matanya yang biru nyaris kelabu mulai berkaca-kaca.

"Tentu saja boleh, Ma. Malah, aku menuntut Mama mengatakannya," ujarku, memaksakan setiap kata.

Ketika senyum muncul di wajah cantiknya, beban hari ini terasa sedikit lebih ringan… walau hanya sesaat.

"Mama kenal dia?" tanyaku.

"Tidak. Lucio tidak pernah mengenalkannya pada Mama. Kalau ayahmu masih hidup, dia tidak akan pernah membiarkanmu menikahi lelaki yang belum pernah kamu lihat… apalagi di usia delapan belas tahun."

Aku menatap kedua tanganku yang saling meremas.

"Papa tidak akan pernah menjodohkanku dengan siapa pun."

Mama tertawa. Tawa lembut, tawa sungguhan, seperti dulu sebelum Papa meninggal.

"Ayahmu lebih rela mengirimmu ke biara daripada menuntunmu menyusuri lorong gereja… Dia memujamu, Alessia. Dia rela mencabut jantungnya sendiri sebelum menyakitimu."

"Aku tahu," kataku, tersenyum mengingat pelukan dan suara beratnya. "Tapi sekarang yang berkuasa adalah Lucio… dan kita harus menurut."

Mama meletakkan sisir ke samping lalu memelukku.

"Mama tidak percaya kakakmu tega melakukan ini padamu… Mama benci kamu terlahir di La Sagrada Familia."

Keningku berkerut. "Kenapa Mama bilang begitu?"

Mama membelai pipiku.

"Aturan-aturan kita begitu kuno… Mama tidak pernah memikirkannya, sampai hari ini, saat Mama harus menyerahkan putrinya pada lelaki yang tidak dikenalnya…" Suaranya pecah. "Ciuman pertamamu akan terjadi di depan semua orang, dengan lelaki yang belum pernah kamu lihat seumur hidupmu."

Wajahku memerah membayangkannya.

"Dan malam ini… kamu diharapkan untuk…" Aku tak melanjutkan, lalu mengusap keringat di telapak tanganku ke gaun pengantinku.

"Mama berharap suamimu memperlakukanmu dengan hormat, seperti ayahmu memperlakukan Mama, sayang. Mama tidak mengenalnya, tapi dia lembut pada Mama dan berusaha agar itu jadi pengalaman yang baik untuk Mama… Mama berharap suamimu memperlakukanmu sama."

"Pasti begitu," kataku, sama-sama untuk meyakinkan Mama dan meyakinkan diriku sendiri. "Ada saran?"

Mama merapikan sehelai rambutku. "Santai saja, sayang… Kalau kamu tegang, malah akan lebih menyakitkan. Setelah itu membaik, Mama bersumpah."

"Untuk Mama begitu?"

Mama tersenyum. "Ya, begitu. Mama mencintai ayahmu dan ayahmu mencintai Mama… Baru hari ini Mama sadar betapa beruntungnya Mama."

"Soal seprai itu benar?" tanyaku, merasakan seluruh warna meninggalkan wajahku.

"Ya, Nak. Maafkan Mama."

"Aku mengerti," kataku, lalu berpaling menatap wajah pucatku sendiri di cermin.

Besok pagi suamiku harus menunjukkan pada semua tamu pernikahan seprai tempat kami menyempurnakan pernikahan kami. Seprai yang bernoda bukti kesucianku.

"Memang kuno sekali," ujarku, memaksakan diri tertawa supaya Mama tenang.

"Memang."

"Apa Papa menunjukkan seprai di pernikahan kalian?"

Mama tersenyum. "Ayahmu adalah Sang Capo, sayang… Dia menyatakan, siapa pun yang ingin melihat seprai itu harus membunuhnya lebih dulu… Tidak ada yang berani menuntut apa pun."

"Mungkin suamiku…"

"Dia hanya seorang kapten, sayang. Kakakmu yang berkuasa, dan kamu tahu sendiri betapa dia menjunjung tradisi."

Wajahku mengerut saat teringat seprai di pernikahan kakakku… sebulan yang lalu. Istrinya gemetar sementara semua orang bertepuk tangan menyaksikan pemandangan itu.

Aku tidak pernah bertanya padanya, karena kakakku tidak mengizinkannya berkunjung kalau ia tidak ada di sana, tapi tanpa perlu bertanya pun aku yakin sepenuhnya bahwa itu pasti menyakitkan.

Aku menegakkan bahu lalu berdiri.

"Sudah waktunya," kataku sambil tersenyum. "Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Greco."

Mama mengangguk.

Bagus. Setidaknya aku tidak lupa nama belakang calon suamiku.

Kurasa setidaknya bisa dibilang aku memulai dengan langkah yang benar.

Mama menautkan lengannya ke lenganku, dan kami berdua keluar dari kamarku dengan dagu terangkat, seolah tak ada yang bisa melukai kami.

Padahal tidak begitu. Tentu saja tidak.

Dan kurasa malam ini aku akan mengerti bahwa aku tak lagi berada di bawah perlindungan orang tuaku.

Ketika kami turun, Lucio sudah menunggu di kaki tangga.

Matanya yang kelabu dan dingin nyaris tak sudi memandangku.

Aku menegang di samping ibuku.

Aku tidak percaya lelaki yang sama, yang beberapa tahun lalu bermain kejar-kejaran denganku di seluruh rumah, kini menyerahkanku pada pria yang belum pernah kulihat seumur hidupku.

"Sudah siap?"

"Menurutmu bagaimana?" balasku ketus.

Tangannya terangkat, hendak menampar wajahku.

"Lucio!" ibuku menegur.

"Aku Sang Capo sekarang… Kalian berdua sebaiknya mengingat itu," katanya sambil mencengkeram lenganku dengan kasar. Ia menyeretku keluar rumah dan mendorongku masuk ke dalam limusin yang menunggu di luar. "Kalau kamu coba kabur, adik kecil," ancamnya, "Mama yang akan menanggung akibatnya," desisnya.

Aku jatuh berlutut ketika pintu dibanting keras.

Aku mengutuk kakakku sambil berdoa semoga suamiku tidak sepertinya. Lelaki yang kehilangan dirinya sendiri saat kekuasaan mengetuk pintunya.

Limusin mulai melaju sementara aku menarik-narik kain gaunku supaya bisa duduk.

Aku menyingkap kerudung dari wajahku saat mulai merasa udara di sekelilingku terlalu menipis.

"Semua akan baik-baik saja," kataku pada diriku sendiri. "Tak ada yang bisa sedingin dan sekejam kakakku."

Kuletakkan tangan di dada dan memaksa diriku bernapas.

"Semua akan baik-baik saja," ulangku.

Aku memikirkan Papa, senyumnya, suara beratnya, dan perlahan detak jantungku mulai stabil.

Saat aku pulih, aku sadar limusin melaju kencang sekali.

"Bisa pelan sedikit?" tanyaku pada sopir. "Aku tidak terburu-buru untuk sampai."

Sepasang mata yang benar-benar hitam menatapku dari kaca spion selama yang terasa seperti keabadian.

"Kamu dengar aku?" tanyaku ketika ia justru menambah kecepatan alih-alih menguranginya.

Ia membelok tajam di sebuah tikungan, dan aku terjatuh ke samping.

"Dasar bodoh!" seruku marah sambil bangkit. "Hentikan limusin ini sekarang juga!" tuntutku.

Limusin berhenti begitu mendadak hingga tubuhku terlempar ke depan dan aku kembali jatuh.

Satu hal kalau kakakku membenciku, lain lagi kalau ia sampai menyewa sopir terburuk sepanjang sejarah.

"Dasar tolol," gerutuku sambil bangkit.

Sopir itu berbalik dengan senyum menyebalkan sebelum memasang masker di wajahnya.

"Apa…?" aku mulai bertanya, tapi terdiam ketika asap kelabu menyelimutiku.

Sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun, semuanya menjadi gelap.

Episodes
1 Pengantin yang Dirampas
2 Wilayah Musuh
3 Barang Bekas
4 Korban Terburuk Sepanjang Sejarah
5 Itu Bukan Kamu
6 Pakaian Sang Capo
7 Sebuah Fatamorgana Kebebasan
8 Tubuhku
9 Bukan Karena Tomatnya
10 Menggelikan Betapa Seksinya
11 Tetap pada Rencana
12 Yang Seharusnya Kuinginkan
13 Pengganggu Kecilku
14 Guru yang sempurna
15 Pertarungan yang sudah kalah
16 Tempat untuk Pulang
17 Terakhir Kalinya
18 Aku Takut pada Diriku Sendiri (+18)
19 Tidak Selama Kamu Belum Bebas (+18)
20 Rasa penasaran ilmiah
21 Sindrom Stockholm terbalik
22 Ketiadaannya
23 Hal yang Benar
24 Mencabut Jantungku
25 Aku Tak Pernah Menjadi Tawanannya
26 Belahan Diriku
27 Kehilangan Segalanya
28 Saudara yang Kami Pilih
29 Terlambat
30 Sebelum Neraka
31 Penantian yang Mengerikan
32 Kembali Percaya (+18)
33 Momen Terpenting dalam Hidupku (+18)
34 Wajahku
35 Lebih dari Sekadar Keluarga
36 Rasa Kebebasan (+18)
37 Seolah Dia Milikmu
38 Yang Tak Kulihat
39 Dua Kebenaran
40 Di Dalam Tubuhku
41 Dia Akan Datang Menjemputnya
42 Castelli Macam Apa yang Ingin Kujadi
43 Aku Sudah Berusaha
44 Kesepakatan
45 Apa pun yang dia putuskan
46 Bisa Pergi
47 Menopangnya
48 Darah terkontaminasi
49 Aku takkan jadi dia
50 Itu Dia
51 Menjemput Hidupnya
52 Absurd Secara Statistik
53 Apa yang Menjadi Milikmu
54 Betapa Kelirunya Mereka
55 Aku Memilih Tinggal
56 Epilog
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Pengantin yang Dirampas
2
Wilayah Musuh
3
Barang Bekas
4
Korban Terburuk Sepanjang Sejarah
5
Itu Bukan Kamu
6
Pakaian Sang Capo
7
Sebuah Fatamorgana Kebebasan
8
Tubuhku
9
Bukan Karena Tomatnya
10
Menggelikan Betapa Seksinya
11
Tetap pada Rencana
12
Yang Seharusnya Kuinginkan
13
Pengganggu Kecilku
14
Guru yang sempurna
15
Pertarungan yang sudah kalah
16
Tempat untuk Pulang
17
Terakhir Kalinya
18
Aku Takut pada Diriku Sendiri (+18)
19
Tidak Selama Kamu Belum Bebas (+18)
20
Rasa penasaran ilmiah
21
Sindrom Stockholm terbalik
22
Ketiadaannya
23
Hal yang Benar
24
Mencabut Jantungku
25
Aku Tak Pernah Menjadi Tawanannya
26
Belahan Diriku
27
Kehilangan Segalanya
28
Saudara yang Kami Pilih
29
Terlambat
30
Sebelum Neraka
31
Penantian yang Mengerikan
32
Kembali Percaya (+18)
33
Momen Terpenting dalam Hidupku (+18)
34
Wajahku
35
Lebih dari Sekadar Keluarga
36
Rasa Kebebasan (+18)
37
Seolah Dia Milikmu
38
Yang Tak Kulihat
39
Dua Kebenaran
40
Di Dalam Tubuhku
41
Dia Akan Datang Menjemputnya
42
Castelli Macam Apa yang Ingin Kujadi
43
Aku Sudah Berusaha
44
Kesepakatan
45
Apa pun yang dia putuskan
46
Bisa Pergi
47
Menopangnya
48
Darah terkontaminasi
49
Aku takkan jadi dia
50
Itu Dia
51
Menjemput Hidupnya
52
Absurd Secara Statistik
53
Apa yang Menjadi Milikmu
54
Betapa Kelirunya Mereka
55
Aku Memilih Tinggal
56
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!